
Virgo benar-benar merasakan memiliki sebuah keluarga sekarang. Meskipun Love masih jutek kepadanya, dia bisa merasakan bagaimana perempuan itu benar-benar berperan seperti kakak kandungnya. Dia merasa beruntung ketika dia bertemu dengan keluarga tersebut.
“Kamu udah punya pacar?” Aksa dan kedua anaknya sedang asyik bermain ayunan di samping rumah, dan Love ditinggal bersama Virgo. Aksa sengaja melakukannya.
“Nggak punya.” Love seperti tak mempercayai ucapan dari Virgo. “Masa? Kamu kaya playboy loh, serius. Wajah kamu itu cocok sekali jadi bad boy.” Virgo terkekeh mendengar komentar dari kakak angkatnya itu.
“Kakak orang ke sekian yang bilang aku kayak gitu.” Virgo tak akan tersinggung dengan hal itu. Dia hanya tersenyum saja menanggapinya.
“Tapi kamu ada suka sama seseorang nggak?” Desak Love penasaran.
“Kakak ini drama sekali sih?” Virgo mengernyit geli sambil menatap perempuan itu. Love langsung berdecak ketika Virgo mengatainya..
“Aku itu belum punya pacar karena emang belum ada yang kutaksir, Kak. Kalau udah ada pasti aku langsung kejar dial ah, ngapain juga cuma di pendam di dalam hati.”
“Bravo.” Tadinya Love yang duduk menyeder kini duduk dengan tegak dan menatap Virgo dalam. “Kamu harus begitu memang kalau mau jadi laki-laki gentle. Ngapain pendam cinta di dalam hati, nggak akan jadi daging juga kan.” Ekspresi serius Love benar-benar sangat menarik bagi Virgo.
“Bagaimana tipe cewek yang kamu suka?” Love tak akan berhenti sampai di sini sampai dia mengupas tuntas tentang apapun yang ingin dia ketahui.
Virgo menggeleng. “Sampai detik ini aku nggak punya tipe khusus untuk aku jadikan pacar.” Pikiran Virgo melayang memikirkan sesuatu. “Iya, aku belum ada criteria khusus untuk cewek.” Love mengangguk-angguk mendengar hal itu.
“Kalau kamu menyukai seseorang, kamu bilang ke aku. Biar aku yang selidiki dia.” Kini giliran Virgo yang berdecih.
“Aku bisa selidiki sendiri. Kakak nggak perlu khawatir. Tapi kalau aku berhasil mendapatkan dia, kakak dan abang yang akan aku kenalkan terlebih dahulu kepadanya.” Itu bukan sebuah janji, tapi Virgo memang mengatakan dengan sangat sunggu-sungguh.
Love tersenyum. Senyum pertama yang Virgo dapatkan dari perempuan itu. “Aku setuju. Kamu harus kenalkan dia ke kami dan kami akan menilai seperti apa pacar kamu nanti.”
“Deal.” Virgo menyetujui saja apa yang dikatakan oleh Love kepadanya. Maka dari sanalah Love dan Virgo sudah benar-benar akrab satu sama lain. Meskipun terkadang ucapan Love itu masih begitu jutek kepadanya, tapi Virgo tahu jika memang seperti itulah karakter dari Love.
Bahkan sekarang, Virgo sering sekali datang ke rumah Aksa dibandingkan ke rumahnya sendiri. Dia lebih suka makan masakan Love dibanding makan buatan asisten rumah tangganya. Dia lebih suka bermain dengan Avez dan
mengusili Ixy sampai bocah itu merajuk dibandingkan pergi bersama teman-temannya dan pulang larut malam seperti biasanya.
Virgo yang dulunya hanya islam KTP, sekarang sudah mau menjalankan kewajiban lima waktunya. Bahkan di sekolah pun dia tak pernah meninggalkan ibadahnya dan selalu ikut sholat berjamaah ketika waktunya sholat. Itu adalah perubahan luar biasa. Dia yang selalu melihat bagaimana tentramnya rumah tangga Aksa dan Love semakin suka berada di dalam keluarga tersebut.
“Kamu mau kuliah di mana setelah lulus ini, Vir?” Virgo pun mulai suka dengan cerewetnya Love. Hal sekecil apapun selalu dikejar oleh perempuan itu sampai hal kecil itu tak mengganggu pikirannya.
“Aku masih belum tahu, Kak. Aku rasanya nggak pengen kuliah.” Lemparan bantal sofa mengenai kepala lelaki itu.
“Kalau sampai kamu nggak kuliah, jangan injakkan kakimu di rumah ini. Aku nggak mau berurusan dengan orang yang malas mikir.” Virgo yang berbaring di sofa sambil memainkan ponsel itu menggukanakan bantal sofa tersebut sebagai guling.
“Aku tidur dulu lah, Kak. Entar malam harus tanding basket.” Tak lagi menaggapi masalah kuliah, Virgo malah memejamkan matanya dan membiarkan Love menggondok karena ulahnya.
“Dasar kampret.” Itulah dua kata terakhir yang didengarkan Virgo karena setelahnya dia terlelap di alam mimpi.
Namun tak urung Love tersenyum melihat bagaimana Virgo tidur dengan damai. Ini memang cara Tuhan untuk memberinya ‘teman’ baru dan ‘keluarga’ baru di dalam kehidupannya. Kalau Avez tak merengek untuk berlatih
sketboard, dia tak akan pernah mengenal Virgo meskipun mereka tinggal di satu komplek.
*.*
“Tumben Virgo nggak datang?” Aksa yang bertanya kepada Love. Biasanya di jam sekarang ini, Virgo akan datang dengan rambut acak-acakan dan meminta makan kepada Love. Dan ketika hari ini dia tak ada, jelas saja Aksa merasa heran.
“Tanding basket katanya tadi.” Aksa mengangguk anggukkan kepalanya mengerti. “Nggak ada capeknya orang itu.” Yang Aksa tahu jika Virgo memang memiliki banyak kegiatan yang entah apa saja dia pun tak mengerti.
“Bagus lah dari pada dia bengong di rumah kan?” Love memang pernah mengatakan kepada Virgo agar jika lelaki itu lebih baik datang ke rumahnya dan bermain bersama anak-anaknya daripada harus sendirian di rumah hanya berteman dengan sepi.
Karena itu, Virgo selalu menyempatkan untuk datang walaupun sebentar. Dan sudah menjadi kebiasaan juga bagi Aksa dan Love akan menanyakan Virgo jika lelaki itu tak kelihatan batang hidungnya.
“Kita dapat undangan pesta ulang tahun pernikahan dari Pak Wondo malam minggu nanti.” Bukan sebuah senyum sebagai jawaban dari berita yang disampaikan oleh Aksa.
“Kalau nggak ada kewajiban untuk datang, aku akan dengan senang hati menolak.” Love memang malas sekali menghadiri pesta-pesta seperti itu. Karena dia paham betul jika akan ada banyak penjilat yang akan dia temui di sana. Orang-orang bermuka dua, orang-orang munafik, atau apapun sebutannya.
“Sayangnya kita harus datang ke sana. Kita hanya perlu bermain cantik saja seperti yang selalu kamu perankan ketika berhadapan dengan mereka.” Menghadapi orang-orang seperti itu memang tak perlu tenaga besar. Kelancaran berbahasa dengan kosakata yang tepat, sudah membuat mereka cukup tahu diri. Dan itulah yang memang selalu dilakukan oleh Love.
“Ya, aku paham.” Menghadiri undangan pesta seperti itu memang wajib bagi siapapun kecuali ada hal yang mendesak dan sangatlah penting. Kalau boleh berharap, Love ingin sekali jika nanti ada acara lain yang mengharuskan untuk datang sehingga dia tak perlu datang ke acara ulang tahun pernikahan orang tersebut.
Tapi tentu itu hanya harapan kosong yang tak terkabul sama sekali. Karena ketika hari H, dia tetap datang bersama Aksa untuk memenuhi undangan yang dikirimkan untunya dan sang suami.
Ketika dia sudah sampai ke hall acara, sudah banyak sekali orang yang datang dengan penampilan ‘wah’ mereka, riasan yang begitu menawan, dan pembicaran yang tak jauh dari kehidupan glamour dan mewah sosolita. Telinga
Love yang menangkap itu membuat dia memutar bola matanya malas. Dia yang menggandeng lengan suaminya semakin erat semakin memeluk lengan tersebut sambil tersenyum karena sapaan-sapaan dari orang-orang yang mengenalnya.
“Aku lama-lama enek denger ini, Mas.” Bisiknya di telinga Aksa.
“Muntahnya di rumah aja ya, biar aku bisa kasih pijatan ke kamu. Plus-plus lagi.” Aksa semakin lama sepertinya otak pintarnya sudah berpindah ke lutut. Ada-ada saja pembahasannya, dan selalu mengarah yang tidak-tidak.
“Aku serius, ih.”
“Aku jug serius. Mana ada bercanda.” Sambil berbicara sambil tersenyum menyapa orang-orang tersebut.
“Hai!” Hanya reaksi biasa saja yang ditunjukkan kepada mereka yang memanggilnya. Iya, mereka. Yang memanggil pasangan tersebut memang hanya satu orang, tapi gerombolannya benar-benar membuatnya sakit kepala mendadak.
“Masih luar biasa.” Itu salah satu lagi yang berkomentar. “Luar biasa cantik, tapi juga masih sangat jutek.” Dikatai secara blak-blakan seperti itu tak membuat Love merasa sakit hati. Bukan rahasia umum lagi jika keturunan dari Marvel Nareswara dan Shanika itu memiliki sifat yang ‘tak bersahabat’. Jadi tak jarang, jika diantara mereka juga bersikap blak-blakan terhadapnya.
“Terima kasih atas pujiannya.” Jawabannya dengan nada tenang. “Tapi maaf, saya tidak bisa berpura-pura di depan kalian.” Senyum itu tipis dan terlihat sinis.
“Jadi, bisa kita mengobrol sebentar sesama perempuan?” Itu artinya mereka ingin jika Love tetap bersama mereka tapi tanpa Aksa. “Aksa benar-benar menawan sekali ya.” Lanjutan berupa pujian itu membuat Love ingin menyiramkan sebaskom air es ke wajah perempuan itu.
“Terima kasih.” Rasanya tak baik jika mendapatkan pujian tapi tapi tak berterima kasih kepada yang memuji. “Tapi maaf, saya tidak bisa meninggalkan istrinya saya tanpa saya. Kalian bersenang-senanglah, kami pamit dulu.” Dibandingkan Love yang akan mengatakan kalimat pedas kepada mereka, Aksa memilih untuk lebih dulu ‘memisahkan’ istrinya itu dengan perempuan-peremuan tersebut agar tak terjadi keributan.
“Ah, kalian mah nggak asyik. Kita ini kan jarang sekali bertemu, masa iya nggak ada cerita-cerita barang sebentar aja.” Salah satu dari mereka menimpali.
“Maaf ya, mungkin lain kali.” Tak menunggu lebih lama, Aksa membimbing sang istri untuk meninggalkan gerombolan tersebut. Meskipun suara-suara sumbang langsung terdengar jika mereka mengatai pasangan tersebut
sombong, keduanya tak peduli.
“Kita akan di sini sampai kapan sih, Mas?” Aksa dan Love sudah berhasil keluar dari kerumunan dan berdiri jauh dari para tamu yang lain.
“Sampai kita bertemu dengan pemilik acara.” Hembusan nafas lelah itu keluar dari bibir Love.
“Capek aku rasanya.” Keluhan itu entah berapa kali keluar dari bibir istri Aksa tersebut.
Aksa memeluk pinggang Love. “Ayo kita cari pemilik acaranya.” Kemudian mengajak kembali Love untuk berjalan memasuki kerumunan orang-orang itu lagi. Love sudah mengulur kesabarannya sampai panjang sekali. Dia berharap bisa lebih mengulur lebih panjang lagi.
“Kalian datang?” Seorang pria tua yang rambutnya sudah berwarna putih itu memeluk Aksa dengan tawa yang terdengar bahagia sekali. “Ini dia yang saya tunggu dari tadi.” Lelaki itu menggelengkan kepalanya. “Luar
biasa sekali anak muda satu ini. Kamu semakin tampan saja, Nak. Dan lihatlah istrimu,” Kini tatapannya beralih menatap Love, “Dia juga sangat cantik.” Love tersenyum tanpa mengatakan apapun.
“Anda ini terlalu memuji saya, Pak.” Aksa tersenyum sopan. Bahkan istrinya yang berdiri di sampingnya juga ikut tersenyum melihat sang suami yang terlihat bahagia sekali bertemu sepasang suami istri di depan mereka.
“Dimana anak-anak kalian?” Pak Wondo melihat di sekitar Aksa dan tak menemukan bocah-bocah kecil ikut bersamanya.
“Mereka ada di rumah, Pak. Saya tidak mengajaknya.” Aksa tak akan membiarkan anak-anaknya berada di dalam acara seperti ini, maka dia menitipkannya di rumah kedua orang tuanya.
“Saya mengundang orang tua kalian, tapi mereka sedang ada di luar kota, jadi mereka tak bisa datang.” Daka dan Marvel juga mendapatkan undangan yang serupa dengan Aksa, tapi mereka memang sedang pergi bersama, jadi
mereka absen datang di acara tersebut.
“Selamat ulang tahun pernikahan, semoga kalian selalu mendapatkan kebahagiaan dan kesehatan.” Love memberikan kado kepada Ny. Wondo berupa kotak kecil yang di dalamnya berisi sebuah benda kecil yang berharga.
“Terima kasih, Sayang.” Bahkan tak sungkan, perempuan tua itu mencium Love seperti putrinya sendiri.
“Sama-sama, Bu.” Kemudian mereka saling mengobrol satu sama lain, dan tak lama setelahnya acara tiup lilin dimulai.
Dan yang lebih mengejutkan bagi Love adalah keberadaan Virgo yang dengan santainya berdiri di belakang Pak Wondo dan sang istri. “Virgo, Mas?” Itu yang sanggup Love katakan kepada suaminya melihat pria yang selalu
membuat Ixy menangis itu.
“Iya tahu. Aku kan juga melek, nggak merem.” Disaat seperti ini, Love ingin Aksa memberinya jawaban yang serius dan bukan malah seenaknya.
“Maksud aku, ngapain dia ke sini? Jangan-jangan dia cucu mereka ya?” Orang-orang tengah sibuk menyanyi dan bertepuk tangan, tapi Love sibuk berbisik di telinga Aksa.
“Bisa jadi. Aku kan juga belum tahu.”
“Tapi kan Mas menyelidikinya waktu itu.” Kukuh Love mendesak sang suami.
Aksa tak menjawab dan dia tetap menatap ke depan melihat adegan dua orang tua itu meniup lilin. Seperti bocah saja, itulah yang dipikirkan oleh otak Aksa.
“Terima kasih kepada para tamu undangan yang hadir,” Pak Wondo memulai. “Selain saya tengah berbahagia karena hari ini adalah ulang tahun pernikahan saya dan istri, saya juga tengah berbahagia karena cucu saya satu-satunya ini tak lama lagi akan bertunangan dengan putri dari salah satu kolega saya yang sudah seperti saudara
bagi keluarga kami.” Pak Wondo menarik lengan Virgo dan memperkenalkannya kepada tamu di sana.
“Virgo Adyasta.” Semua orang bertepuk tangan kecuali Love. “Dan Libra Hirmawan.” Seorang perempuan muda datang dengan gaun yang cantik dan wajah yang tak kalah cantiknya. Terlihat tegas. Gadis itu tersenyum kepada
kedua orang tua di depannya dan menunduk kepada para tamu undangan.
“Aku beneran nggak percaya sama ini semua, Mas.” Setelah melihat adegan di depannya Love baru bisa mengatakan sesuatu untuk berkomentar.
“Kalau gitu nggak usah percaya.” Tanggapan Aksa ringan tanpa beban sedikitpun. “Ekspresi Virgo beneran mau di tendang.” Lanjutan kalimat Aksa membuat Love memperhatikan ke depan kembali.
“Awas aja dia kalau nanti ke rumah, ku goreng bolak-balik dia.” Sepertinya Love memendam rasa kesal kepada Virgo entah karena apa.
“Kalau udah matang, kasih kecap sama cabe ya biar enak.” Love mencubit perut suaminya karena lelaki itu yang begitu santainya menanggapi apapun yang dikatakan. Lagi pula apa yang harus dipikirkan, toh itu bukan urusan Aksa. Seperti itulah pikir Aksa.
*.*