
Rifa benar-benar merealisasikan janjinya semalam. Bahkan sebelum pukul 06:00 ia sudah tiba di rumahku. Berdialog ringan bersama Mama, Papa, Nenek, dan Jono seraya menikmati sarapan. Aku yang masuk ke ruang makan paling akhir berjengit kaget melihat keberadaannya di sana.
“Lihat, Nak Rifa,” kata Mama menunjukku. “Alexa memang pemalas. Jam segini masih berantakan.”
Tak kuhiraukan ejekan Mama. Perhatianku fokus sepenuhnya pada Rifa. “Kamu kok, ada di sini, Fa?” tanyaku ragu. Rasanya mustahil ia benar-benar datang kemari hanya untuk menjemputku ke sekolah.
“Barusan Rifaldi minta izin untuk mengantar-jemput kamu ke sekolah mulai hari ini,” ujar Papa.
“Iya, dengan begitu kamu gak usah merepotkan Kak Jovano lagi,” timpal Rifa membuat Jono muram. Tentu saja ia sedih telah kehilangan kesempatan untuk menyiksaku.
“Serius?” tanyaku takjub. Papa dan Mama mengangguk kompak. “Lalu keputusannya?”
“Tentu aja boleh,” kata Mama ceria.
Aku berhore keras. Akhirnya, setelah setahun lebih berpacaran, kami akan mulai pulang-pergi ke sekolah bersama-sama seperti ‘pasangan satu sekolah’ lainnya.
Rifa hanya tersenyum sebagai respons, sementara aku mulai sibuk dengan rambutku yang masih berantakan. Begitu duduk di salah satu kursi, kumasukkan sisir ke dalam saku baju lalu mengambil makananku. Tentu tak lupa sambil memperhatikan penampilan Rifa pagi ini.
Setelan kampret—pakaian adat pria di Purwakarta berwarna hitam-hitam. Biasa digunakan petani ke sawah—yang dikenakan Rifa melekat pas di tubuh jangkungnya. Benar-benar serasi dengan kebaya hitam-putih yang juga kukekan. Ini hari Rabu, hari di mana siswa sekolah dan PNS wajib berpakaian adat.
“Rifa, kamu belum sarapan di rumah?” tanyaku tepat ketika cowok itu memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Ia terpaku sejenak, tidak langsung mengunyah makanannya.
“Alexa!” tegur Mama.
“Ups, maaf, Fa,” sesalku.
Rifa terkekeh pelan. “No problem, Sayang.”
Aku menunduk. Tampaknya wajahku merona.
***
Sensei Jeff, guru tertampan di sekolah—dan pernah sangat kusukai—menjelaskan sesuatu di depan kelas. Entah siapa yang memulai, sepanjang pelajaran berlangsung para siswi terus berdecak kagum kala Sensei membuka rahangnya. Dan sebaliknya, para siswa belaga budek. Mereka enggan mengakui daya tarik Sensei yang notabenenya lebih tua dari mereka justru lebih kuat. Tapi sekeren-kerennya Sensei, masih jauh lebih keren Rifa. Setidaknya begitu menurutku dan Rifa Maniac.
“Kamu yang di sana!” seru Sensei tiba-tiba. Aku terkejut, begitu pula anak-anak lain. Tidak biasanya Sensei membentak begitu.
“Kamu Vera, kan?” Semua kontan menoleh ke arah Vera. Tampak cewek itu tertunduk malu sambil menutup buku hitam besar di atas mejanya.
“Maaf, Sensei …,” ujar Vera lirih.
“Perhatikan ketika saya menerangkan. Jangan sibuk sendiri!”
“Saya minta maaf, Sensei.” Suara Vera semakin lirih.
“Memangnya apa yang kamu tulis di buku hitam itu? Bukan penjelasan saya, kan?”
“Maaf ….”
“Sekali lagi saya lihat kamu seperti tadi, silakan tutup pintu kelas dari luar!”
“Iya, Sensei. Maafkan saya ….”
Sensei berbalik memunggungi kami. Ia menarik napas dalam-dalam. Mencoba meredakan emosi yang—tidak biasanya—meledak.
Setahuku Sensei merupakan guru tersabar di sekolah. Ia belum pernah memarahi saat ada yang mengobrol di kelasnya, atau membentak saat ada yang tidak mengumpulkan tugas. Tidak. Tidak pernah.
Mungkin suasana hati Sensei sedang kurang baik hari ini. Lagipula Vera memang salah. Bisa-bisanya ia mengurusi hal lain saat Sensei sedang susah payah menerangkan.
Tapi aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang ia tulis di dalam buku hitam besar itu? Rasanya ia selalu membawa buku tersebut ke mana-mana. Apa mungkin berhubungan dengan ilmu hitam?
Ah, tampaknya si ambisius Vera ingin mengalahkan si genius Yohanes dengan cara licik.
***
Saat paling pas untuk bermalas-malasan adalah Sabtu pagi. Tidak ada sekolah, PR, ulangan, dan puluhan hal lain yang membuat stres.
Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di atas meja belajar bergetar. Ada pesan masuk.
Raka: Alexa, lagi apa? Temanin aku ke pendopo, dong.
Raka? Pendopo? Untuk apa?
Aku: mau ngapain?
Raka: foto2 di sana. air mancurnya kan lucu.
Untuk apa jauh-jauh ke sana hanya untuk berfoto di depan air mancur? Lebih baik diam di rumah. Lagipula, di halaman belakang rumah Raka kan, ada air mancur.
Aku: depan rumah deh, pliss.
Terkirim. Sekarang aku tinggal menanti kedatangan Raka dengan tenang tanpa perlu bersolek di depan cermin. Tak lama cowok itu memanggil namaku dari pintu depan.
Aku bergegas menghampirinya. Kami mengambil tempat di bawah pohon rindang di halaman rumahku. Di sana bersih dan kering. Sangat nyaman jika mau berlama-lama ngobrol. “Ada apa, Ka?” tanyaku kemudian.
Sebelum menjawab, terlebih dahulu Raka memamerkan senyum andalannya. Jika sikapnya manis begini, mau tak mau hatiku melunak juga, sama seperti saat ibu Raka membelikanku bacang tempo hari.
“Aku mau nanya sesuatu sama kamu,” ujar Raka ragu.
“Asalkan kamu gak nembak aku, kamu boleh nanya apa aja kok,” candaku garing.
Raka tertawa renyah.
Deg!
Mataku terbelalak, merasakan bumi seperti berhenti berputar. Kebisingan di rumah tetangga tiba-tiba menguap entah ke mana. Perlahan, pemandangan di sekitarku memburam. Semakin buram hingga sesuatu menyeret tubuhku ke dalam lubang hitam.
Masa lalu. Itu yang kupikirkan kala melihat Raka justru tertawa setelah rumah-rumahan pasir jelek miliknya tak sengaja kuhancurkan. Tampak Raka kecil tertawa lepas, memamerkan deretan gigi-super-bersih-ala-iklan-di-televisinya. Suara hahaha-hihihi yang tercipta begitu nyaman didengar. Sangat renyah. Aku terkesima sebelum akhirnya mengembalikan rohku ke masa kini. Tawa riang lain segera menyambut indera pendengar dan penglihatku. Seketika aku tersadar tawa tersebut masih tetap sama. Suara, ekspresi, dan lengsung pipi yang terbentuk masih serupa dengan milik bocah imut dua belas tahun silam. Ya ampun, berapa lama aku mengabaikan teman kecilku ini?
“Bukan, kok. Aku kan, udah move on. Aku cuma mau minta pendapat kamu tentang sesuatu,” kata Raka masih tersenyum.
“Sesuatu? Apa itu?” Aku penasaran.
“Tentang teman sekelas kamu.”
“Jadinya seseorang, dong? Siapa? Cilla?” tanyaku ragu.
“Kok Cilla?” Ia menatap heran. “Ini mengenai teman sekelas kamu yang suka bawa buku hitam ke mana-mana itu, lho.”
Wajah dingin Vera segera membayang di benakku. Dari sekian banyak ekspresi yang biasa ditunjukkannya, entah mengapa kesan dingin ini yang pertama tertangkap otakku. “Ada apa dengan Vera?”
“Sebenarnya, orang seperti apakah dia?”
Keningku berkerut. “Ih, kamu aneh, Ka. Kamu kan tahu aku cuma deket sama Cilla di kelas. Tapi sih, menurut aku dia cewek yang … aneh.”
“Aneh?”
“Iya. Semua orang tahu dia anak yang haus prestasi. Segala cara dilakoninya agar bisa mengalahkan Yohanes dan Rifa. Dia belajar sangat keras, hingga tampak terlalu ambisius.”
“Dia berhasil?”
“Nggak—ya, hampir. Maksudku, dia hampir berhasil. Dia berkutat di tiga besar sekarang.”
Hening. Kebisuan yang Raka ciptakan membuatku bertanya-tanya ada apa gerangan dengannya.
“Kamu suka Vera?” tembakku akhirnya. Jika ia sampai sepenasaran itu mengenai seseorang, pastilah ada alasan kuat di balik semua itu.
Raka sedikit gelagapan mendengar tebakan tanpa tadeng aling-alingku. “Ada-ada aja kamu!”
“Terus kenapa dong, nanya-nanya tentang dia?”
“Kamu cemburu?” godanya.
Aku mengerucutkan bibir. Merajuk. “Gak asik, ah. Main rahasia-rahasiaan segala.”
Ia tertawa sambil mengacak-acak rambutku. “Dia anak teman Papa. Makanya aku mau tahu sedikit tentang dia.”
“Oh, ya? Berarti Vera anak orang kaya, dong? Ayahnya pebisnis juga?” Aku tahu pertanyaanku terbilang norak. Tapi penampilan Vera terlalu sederhana untuk ukuran anak pebisnis sekelas ayah Raka. Sungguh sulit dipercaya.
“Keluarganya emang kaya raya, tapi ayahnya bukan pebisnis. Dia pengacara. Papa kenal dia di SMA. Dulu mereka teman dekat.”
“Pengacara? Apa dia pengacara kondang macam Hotman Paris?”
“Haha, bukan.” Raka tertawa. “Beberapa hari yang lalu dia datang ke sini, ke rumah aku. Dia menceritakan banyak hal waktu itu. Termasuk tentang kekalahannya di persidangan kasus korupsi. Istri dan anak-anaknya ada di Purwakarta, sedangkan dia tinggal di Jakarta.
“Waktu Mama memamerkan prestasiku sejak elementary school, tiba-tiba wajahnya berubah muram. Dia bilang putrinya sangat mengecewakan. Berbeda jauh dengan kakaknya yang selalu menjadi bintang kelas.
“Belakangan aku tahu ternyata orang yang dimaksud adalah Vera dari kelas IPA 5. Dan menurut aku, ucapan ayahnya salah besar. Vera cerdas, ayahnya pun tahu itu.”
“Emang iya.” Aku membenarkan. “Terus kenapa ayahnya bisa kecewa gitu?”
“Ayahnya hanya tidak rela,” bisik Raka mendadak formal. Ia menatap ke kejauhan dengan rahang mengeras. Aku tidak yakin apakah ia masih berbicara kepadaku atau tidak. “Benar-benar tidak rela anak musuhnya lebih unggul dari anaknya sendiri.”