
Peringatan yang disampaikan oleh Aksa melalui social media itu tak membuat Windy lantas mengakui kesalahannya dengan meminta maaf. Justru dia muncul dengan tangisnya dan menuduh Aksa adalah lelaki yang tak bertanggung jawab.
“Aku hanya butuh pengakuan dia kalau memang kami menjalin hubungan. Kami juga sudah menyepakati kalau hubungan ini akan baik-baik saja meskipun Love nggak akan menerima tapi dia akan berusaha.” Kemudian air mata itu mengalir lagi dari matanya seolah dia adalah wanita yang sangat tersakiti.
Love sangat murka dengan ucapan perempuan itu dan meneriakinya di depan layar televise. Bahkan Avez sampai menangis karena kaget. Bocah itu mengira jika sang bunda sedang memarahinya. Dan itu membuat jengkel dan geli bercampur menjadi satu.
“Makanya kalau marah jangan di depan anak.” Begitu kata Aksa kepada perempuan itu dan menggendong putra mereka untuk ditenangkan.
Dan kini, Aksa tak lagi menahan dirinya untuk muncul di depan public untuk membeberkan kebenarannya. Dengan bergandengan tangan dengan Love dan lagi lagi minus Avez, lelaki itu menemui wartawan untuk mengungkapkan
semuanya.
“Peringatan saya benar-benar tak diindahkan olehnya. Jadi dengan sangat terpaksa saya akan mengungkapkan kebenarannya.” Kemudian Aksa mengeluarkan sebuah pena. “Di sini, saya sudah memiliki bukti percakapan saya
dengan perempuan itu ketika dia pertama kali menemui saya di kantor.” Di pencetnya tombol di pena tersebut dan keluarlah suara percakapan yang jelas saja di dominasi oleh suara seorang perempuan.
Apalagi dengan menggunakan mic yang dari wartawan-wartawan itu, suara tersebut cukup jelas untuk di dengarkan. Suasanan ruangan itu hening karena semua orang fokus pada apa yang di dengarkannya. Audio tersebut memang tidak berlangsung lama tapi cukup untuk membuktikan jika apa yang dikatakan oleh Windy selama ini memang hanyalah sebuah fitnah.
“Saya juga membawa ini.” Sebuah kartu memori di letakkan di atas meja. “Di sini ada video di mana dia datang ke kantor saya untuk kedua kalinya dan kebetulan istri saya juga berada di sana.” Tidak ada dari wartawan-wartawan itu yang berani mengambil kartu tersebut karena Aksa belum mengijinkan.
“Dari awal berita ini keluar saya diam saja bukan berarti saya membenarkan apa yang dituduhkan, tapi karena saya menyimpan kebenarannya.” Aksa memanggil Damar yang berada di depan sana dan meminta lelaki itu untuk
memutar video tersebut.
Dan di sanalah mereka tahu kebenaran yang Aksa bawa. “Saya bukan orang yang tidak memiliki pertimbangan untuk menghadapi hal seperti ini.” Suasana kembali hening dan mereka fokus dengan apa yang dilihat dan didengar.
“Apa ini sudah clear?” Aksa kembali berbicara. Menatap mereka dengan intens.
“Boleh kami mengajukan pertanyaan?” salah satu wartawan berbicara. Dan anggukan Aksa membuat lelaki itu melanjutkan.
“Dengan kebenaran yang anda bawa, apakah anda akan melaporkan Mbak Windy atas tuduhan pencemaran nama baik?” Love kini yang memutar bola matanya, dia tahu jika pertanyaan ini akan terlontar.
“Tidak.” Aksa tegas mengatakan itu.
“Kenapa?”
“Karena ini bukan masalah yang harus melibatkan hukum.” Aksa dan Love memberi waktu sepuluh menit untuk pertanyaan-pertanyaan yang dilotarkan kepada mereka. Meskipun terkadang pertanyaan itu menyangkut kehidupan pribadi mereka dan tentu tak akan mendapatkan jawaban.
Menghabiskan waktu selama satu jam memberikan klarifikasi, Aksa dan Love beserta Damar keluar dari tempat itu dengan perasaan lega. Tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi setelah ini karena bisa saja Windy
akan berbuat semakin nekat.
“Menurut Ayang, dia akan terus berakting, atau akan mundur teratur?” suami istri itu saling berdempetan di bangku belakang dengan Damar menyetir mobil.
“Aku nggak mau menebak.” Katanya dengan santai. “Bisa saja dia nekat karena merasa malu?” Aksa pun tak bisa memprediksi juga. Dia bukan cenayang apalagi dukun.
Dan itu pula yang dikatakan kepada Love. “Aku bukan cenayang, apalagi dukun.” Katanya sambil menggenggam tangan istrinya. “Aku hanyalah suami Love dan bapaknya Avez, mana bisa aku menebak yang begituan.”
“ASEM.” Damar yang sedang fokus menyetir itu mengumpat karena mendengar apa yang temannya itu katakan.
“Kenapa lo?” begitu tanya Love. “Nggak bisa lo kaya suami gue? Rayuannya high class dong.”
“Halah, preet.” Damar sepertinya memang gondok melihat bosnya itu bermesraan bersama sang istri. Sedangkan istri Damar sendiri sekarang ini sedang menginap di rumah orang tuanya karena akan ada acara nikahan adiknya
beberapa hari lagi.
“Nggak usah iri kenapa, sama-sama udah punya istri ini.” Dan seolah sedang memanas-manasi Damar, Aksa justru mencium pipi istrinya dengan mesra dan sontak saja mendapatkan umpatan dari sekertarisnya itu.
Dan itu menimbulkan tawa dari kedua Aksa dan Love.
*.*
Setelah pernyataan yang Aksa keluarkan ke publik, Windy hilang bagai di telan bumi. Perempuan itu di buru oleh pemburu berita namun tak ada dari mereka yang bisa menemukannya. Ada banyak pertanyaan di benak orang-orang yang merasakan penasaran di dalam hatinya kemana perginya perempuan itu.
Kini kebenaran itu sudah terlihat dan sudah terbukti. Jadi tak ada lagi yang menghujat Aksa. Perusahaan kembali normal dan tak bermasalah. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengatakan kekagumannya kepada putra Daka
tersebut menyelesaikan masalahnya.
Mungkin bagi Aksa, hal itu hanya hal yang biasa saja, tapi bagi sebagian orang itu hal yang luar biasa. setiap orang memiliki cara sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka. Dan begitulah cara Daka menyelesaikannya.
Masalah selesai, dan ketengangan itu kembali lagi seperti semula. Baik Aksa maupun Love sama-sama tak pernah lagi membahas masalah itu lagi. Mereka menganggap itu hanyalah masa lalu yang hanya bisa dijadikan pelajaran bagi kehidupan mereka kedepannya.
Masih ada beberapa berita tentang mereka, tapi bukan masalah buruk sekarang. Bahkan ketika mereka mengetahui tentang kehamilan anak kedua dari pasangan tersebut, kehebohan kembali terjadi. Tapi sayangnya, tidak ada yang mengambil pusing akan hal itu.
“Jadi, perkiraannya, apa jenis kelaminnya?” Aksa mengelus perut Love yang sudah sedikit menonjol itu dengan lembut.
“Cewek.” Begitu kata Love. “Aku pengen banget bisa dandanin dia.” Avez masih berumur dua tahun dan Love sudah hamil kembali. Karena mereka ingin seperti Aksa dan Kla, jarak umur mereka hanya dua tahun.
Avez pun sama bahagianya ketika dia memahami jika di dalam perut ibunya ada seorang bayi yang disebutnya sebagai adik. Bahkan bocah itu dengan sayang mengelus perut Love dan memanggil ‘adik’ sambil tertawa riang sekali.
“Aku juga ingin anak kedua ini cewek. Kita nggak perlu USG. Biar menjadi kejutan aja.” Begitu kata Aksa. Doa dua orang itu adalah anak kedua mereka ini berjenis kelamin perempuan, dan harapan itu benar-benar melekat di dalam hati mereka.
Dan tentu saja itu menjadi kenyataan. Seorang bayi perempuan cantik, lahir dengan sempurna menambah kebahaigaan yang tiada tara bagi dua keluarga. Bahkan Avez, yang saja begitu menyayangi bocah itu. Dia ingin selalu tidur bersama adiknya dan mengatakan jika Avez nanti akan mengajaknya mencari semut.
Celotehan anak itu membuat keluarga tertawa. Kegemaran Avez yang suka sekali berburu semut itu membuat geli para orang tua.
“Hai, jagoan.” Aksa terenyum lebar melihat betapa manisnya putranya dengan seragam yang melekat di tubuh putranya itu. Begitu cocok dan rapi sekali.
“Aban sekolah, Yah.” Katanya dengan riang. “Adek sekolah juga?” itu pertanyaan yang diberikan kepada sang adik ketika bocah perempuan gembil berambut panjang itu berlari kearahnya dengan pakaian yang rapi.
“Adek sekolah uga, Ban.” Maksud dari bocah itu adalah abang, karena memang dia belum jelas cara penyampaiannya, jadi memiliki makna yang berbeda.
“Tas, Adek mana?” Avez melihat ke belakang punggung adiknya namun tak menemukan tas yang di sana.
“Ayah, tas adek?” itu Ixy yang bertanya. Namanya Lixy Ankaa Ganendra. Bocah perempuan yang selalu membius orang sekitar untuk menatapnya. Wajahnya begitu cantik dengan kulit putih. Pipi gembilnya pun membuat semua
orang ingin mencubitnya.
Dan yang paling marah ketika ada yang ‘menggoda’ Ixy adalah Avez. Dia akan cemberut dan menarik adiknya untuk menjauh. Protektifnya akan bocah perempuan itu sudah ditunjukkan Avez sejak mereka masih sama-sama kecil.
“Adek belum sekolah, Bang. Kami nanti cuma antarin Abang ke sekolah, terus balik pulang lagi.” Aksa menjelaskan. “Abang berani sendiri kan nanti di sekolah?” Aksa menatap Avez lurus untuk melihat sejauh mana putranya itu memiliki keberanian.
“Berani, Yah.” Begitu katanya dengan tegas. Love yang melihat percakapan itu dari jauh terenyum bahagia. Inilah keluarga kecilnya. Keluarga yang sangat dicintainya.
“Sudah siap?” perempuan itu mendekat ke tempat di mana keluarganya itu berkumpul. Dia pun sudah rapi dan siap untuk mengantarkan putranya.
“Bunda tantik.” Ixy selalu saja memuji sang bunda ketika perempuan itu berdandan.
“Adek juga cantik.” Balas Love sambil tersenyum. “Berangkat sekarang?” ditatapnya Aksa untuk meminta jawaban.
“Ayo.” Putus Aksa dan dengan reflek, diangkatnya Ixy dan digendongnya bocah itu. Diciuminya bocah itu sampai terkikik geli.
Mobil sudah membelah jalan Jakarta. Aksa sendiri yang menyetir dan dia tak akan ketinggalan dengan momen-momen seperti ini.
“Abang nanti kalau di sekolah jangan nakal ya.” Dibandingkan dengan Aksa kecil dulu, Avez memang lebih ‘keras kepala’. Jika di lihat, dia memang mudah sekali bersosoalisasi.
“Apa aturannya, Bang?” Aksa melanjutkan ucapan Love sebelum putranya itu menjawab.
“Kalau salah harus meminta maaf, nggak boleh usil duluan, kalau mau sesuatu harus bilang tolong, dan harus bilang terima kasih.” Penjelasan itu memang tak akan bisa sedetail seperti yang ayahnya katakan setiap hari, tapi Aksa merasa apa yang dikatakan oleh putranya itu cukup untuk dirinya.
“Hebat!” itu Love yang bersuara. Bangga sekali dia dengan putranya itu. Ajaran yang selama ini diberikan kepada Avez benar-benar di cerna baik oleh putranya.
“Bunda,” Ixy yang sejak tadi diam, kini bersuara.
“Ya, Dek.”
“Tolong,” Love yang mendengarkan itu langsung memutar punggungnya untuk bisa melihat putrinya di belakang.
“Adek mau apa?”
“Nenen.” Tak perlu berpikir ribuan kali untuk mengatakan itu. Dan mendengar itu, tawa orang tua muda itu pecah seketika. Ixy memang dalam tahap melepas ***** karena umurnya yang hampir dua tahun. Dan digantikan dengan susu formula. Karena itu, bocah itu seperti ngebet sekali minta *****.
“Nanti boleh? Bunda bawain Adek susu coklat. Mau?” itu adalah bujukan yang selalu Love berikan kepada anak kecil itu.
“Nenen, Bunda.” Berbeda dengan Avez yang dulu masih cadel ketika memanggil ‘Bunda’ ketika seumuran Ixy, adiknya itu justru jelas sekali memanggil sang bunda.
“Eh, udah sampai loh kita di sekolah abang. Turun dulu ya, nenennya nanti aja.” Suara Aksa terdengar. Karena memang mereka sudah masuk ke halaman sekolah Avez. Sekolah TK elit dengan bayaran yang mahal tentu saja.
Mereka semua keluar dari mobil dan di sana sudah banyak orang tua yang mengantar anak mereka. Tak hanya itu, bahkan anak-anak seumuran Avez itu ada juga yang merajuk dengan mata berkaca-kaca karena mungkin asing dengan lingkungan sekolah.
Avez menatap sekeliling dengan ekspresi tak bisa ditebak. Wajahnya terlalu datar untuk anak seumuran dirinya. “Ini sekolah, Abang.” Aksa berjongkok untuk menyamankan tingginya dengan sang putra. “Abang akan mendapatkan ilmu di sini. Akan ada ibu guru yang mengajari, Abang.” Bocah itu menatap ayahnya serius dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. “Jangan membantah apa yang ibu guru bilang nanti ya. Abang anak yang pintar dan hebat. Betul?”
“Ya.” Jawabnya dengan senyum.
“Good boy.” Aksa mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala sang putra. “Kita temui guru Abang.” Mereka kemudian berjalan beriringan untuk menemui guru Avez. Mereka ingin ‘menitipkan’ putra mereka untuk di bimbing.
Aksa bahkan tak langsung ke kantor karena lelaki itu ingin melihat bagaimana putranya itu bersosialisasi. Dia juga ingin melihat bagaimana putranya itu akan mendapatkan teman pertamanya.
“Gimana rasanya?” Pertanyaan itu dilontarkan oleh Love kepada Aksa. “Melihat Avez yang sudah mulai bersekolah, buat aku senang dan sedih secara bersamaan.” Mereka duduk melihat Avez yang duduk melingkar bersama
teman-temannya. Bocah itu terlihat menonjol sekali diantara yang lainnya. Aura kepemimpinannya seolah keluar diatara anak-anak lain.
“Waktu terlalu cepat berlalu.” Lanjut Love. “Dia dulu yang suka sekali berburu semut di pojokan, sekarang sudah sekolah.” Mata Love berkaca-kaca.
Aksa memeluk pinggang sang istri. “Jangan nangis di sini, nanti kata orang kamu aku apa-apain lagi.” Si perusak suasana sedang beraksi sekarang. Love dalam mode serius dan diambyarkan begitu saja oleh sang suami.
“Viral lagi nanti kita.” Love mencubit perut suaminya dan mendumel.
“Bisa serius nggak sih? Aku lagi serius loh ini.” Inginnya Love memelototi Aksa, tapi apa daya, mereka sedang tak ada di rumah.
Kekehan Aksa membuat sang istri mengerucutkan bibirnya. Tapi lelaki itu tetap menanggapi apa yang dikatakan oleh Love.
“Perasaan kita memang sama. Aku pun merasakan hal yang kamu rasakan. Tapi inilah hidup, terus berjalan. Jadi, kita hanya perlu menjalani scenario hidup kita dengan santai saja. Jangan terlalu memikirkan hal yang
sulit.”
“Baiklah suami.” Kedunya kemudian lebih menatap di mana Avez sedang bertepuk tangan sambil tersenyum. Sedangkan Ixy, sendiri sedang sibuk dengan ibu-ibu yang lain yang sedang mengerumuninya karena gemas.
*.*