
“Aku ngerasa kalau wajahku udah mulai muncul kerutan loh, Mas.” Malam itu Love mengatakan unek-uneknya. “Aku ngerasa udah melakukan perawatan yang bagus dan menjaga supaya wajahku halus terus.” Entah sudah berapa menit Love duduk di depan meja rias dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Kemudian badannya berbalik untuk menatap sang suami.
“Kalau aku lihat, kayaknya, Mas lebih muda sepuluh tahun deh dibandingkan aku.” Aksa asyik dengan buku di tangannya. Kacamata bertengger di hidungnya. Dan lelaki itu sama sekali tak menganggapi apa yang sang istri katakan.
“Mas.” Love tentu tak mau seperti orang gila yang bicara seorang diri. Karena dia ingin Aksa juga mengomentari apa yang dia ucapkan.
“Hem.” Tanggapan yang sangat sederhana sekali.
“Mas dengar nggak apa yang aku bilang tadi?”
“Dengar.” Cueknya.
“Apa?” Desak Love.
“Kamu terlihat semakin tua dan aku lebih muda lima puluh tahun.” Masih dengan menekuni apa yang dia kerjakan, Aksa sangat biasa saja menanggapi apa yang istrinya itu katakan. Merasa sebal, Love berdiri dan mendekati sang
suami.
Buku yang di ada di tangan Aksa diambilnya, dan ditarik kedua lengan suaminya agar lelaki itu menatap ke arahnya. “Mas, aku ini serius loh. Aku bicara serius demi kelancaran percintaan kita.” Aksa menatap lurus ke mata Love dengan kening mengernyit heran.
“Aku denger loh kamu ngomong apa tadi.” Meskipun lelaki itu fokus dengan buku bacaannya, tapi telinganya masih bisa mendengar dan otaknya bisa mencerna dengan sangat baik.
“Tapi jawaban Mas nggak serius.” Dan Love merasa tak terima diperlakukan seperti itu, sangat berlebihan sekali memang.
“Dari mananya aku nggak serius? Aku serius loh tadi itu.”
“Tapi aku nggak bilang kayak tadi.”
“Tapi intinya sama.” Keduanya diam dan saling mentap satu sama lain. Dan Love yang lebih dulu memutus tatapan mereka.
“Terserah.” Katanya sambil berdiri karena merasa dongkol dengan lelaki itu. Tak lama setelah itu, Aksa menyusul istrinya yang berada di balkon kamar mereka. Memeluk sang istri dari belakang dan menumpukan dagunya di pundak Love.
“Kamu tahu nggak kalau pertanyaan seperti itu harusnya nggak perlu kamu pertanyakan lagi?” mengecup rahang Love, Aksa kembali berbicara. “Mau kamu keriput pun aku masih sayang kamu. Kita kan nggak mungkin muda
terus.” Lanjutnya berusaha menghibur istrinya. “Kalau kamu tahu orang-orang di luar sana itu bahkan banyak yang boros wajah, umurnya masih muda tapi wajahnya udah seperti empat puluh tahun. Jadi, kamu masih unggul banyak sekali dibanding mereka.”
Love masih diam saja tanpa menaggapi apa yang dikatakan oleh sang suami. Tahu jika istrinya sedang merajuk, Aksa mengeratkan pelukannya di pinggan istrinya. “Kalau kamu merasa aku lebih muda dari pada kamu, itu hanya
pemikiran nggak bener. Kamu masih cantik dan itu mutlak. Jadi nggak perlu kamu memusingkan hal seperti itu lagi.” Usia Love masih muda, memang sudah tiga puluhan lebih, tapi wajahnya benar-benar masih terlihat sekali terjaga.
“Aku nggak mau terlihat jelek di mata suami.” Akhirnya Love berbicara. “Banyak para lelaki yang meniggalkan istrinya bersama wanita lain karena istrinya udah nggak cantik lagi.” Love memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Aksa.
“Aku nggak menuduh Mas akan melakukan itu karena itu nggak akan pernah. Aku percaya itu. Tapi sebagai seorang perempuan yang sudah bersuami, penampilan itu harus selalu terjaga di depan suami.”
“Aku bahkan udah lihat kamu dalam kondisi jelek.” Potong Aksa. “Jadi apa lagi yang mau kamu tutupi dari aku?” Alis Aksa menukik karena mengejek Love. “Kamu cantik dan aku cinta. Udah, cukup. Nggak ada lagi perdebatan karena keriput.” Love jelas tersenyum mendengar perkataan itu.
Mendekatkan wajahnya ke wajah Aksa, dia kembali bertanya. “Tapi keriputku beneran udah nongol kan, Mas?” Aksa meniup wajah Love yang seketika membuat Love berdecih.
“Serius, ih.” Tanpa banyak omong, Aksa menarik istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar. “Baring sini.” Katanya.
Bukannya menurut, Love diam tanpa menjawab. “Baring sini.” Ulang Aksa lagi. “Masih sore, Yang, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu.” Serius Aksa. “Entar kalau udah agak malaman barulah.” Sepertinya otak Aksa memang sudah agak mulai konslet sekarang.
“Jadi kenapa? Mau apa?”
“Banyak sekali pertanyaan kamu, Yang? Entar malam pasrah-pasarah aja.” Bukan hanya pelan, Love langsung melompat ke tempat tidur untuk membekap mulut Aksa.
“Omongannya sekarang makin ngaco. Udah tahu penulisnya jomblo, ngomongin yang enggak-enggak.” Ya, dan Aksa akhirnya bisa membungkam mulutnya sendiri mendengar teguran dari sang istri.
“Ya udah makanya ke sini. Susah sekali kamu dikasih tahu. Ixy aja penurut, nah ini ibunya tambeng.” Love tak menjawab dan memabaringkan dirinya di bantal yang berada di pangkuan suaminya.
“Mejem.” Perintah Aksa.
“Kenapa lagi?”
“Tanya lagi, ku gigit kamu nanti.” Peringat Aksa. Dan mau tidak mau meskipun Love bingung, diturutinya ucapan sang suami. Dipejamkan matanya dan meunggu apa yang dilakukan oleh sang suami.
Love merasakan Aksa mengoleskan cream ke wajahnya dari bauyang masuk ke dalam hidungnya. Perempuan itu bahkan tersenyum ketika merasakan pijatan di wajahnya ulah dari jari-jari Aksa.
“Hem, enak, Mas.” Komentarnya. “Jadi pijatan ini untuk mengeluarkan keriput dari wajahku ya?”
“Bukan.” Tangan Aksa masih setia dengan pijatannya. “Kalau nanti aku cium kamu wangi.” Celetuknya tanpa berfikir. Tapi kali ini Love tak menyanggah karena lebih menikmati pijatan lembut di wajahnya.
Kepala Love yang berada di antara kaki Aksa memudahkan perempuan itu memeluk kaki suaminya. Aksa benar-benar bekerja dengan sangat baik. Memberi pijatan lembut pada wajah istrinya agar paling tidak dia tak mendengarkan keluhan Love tentang kerutan di wajah perempuan itu.
“Jangan keenakan terus tidur ya, Yang.” Aksa berusaha membuat Love untuk tetap terbangun karena dia tak mau ditinggalkan lebih dulu ke alam mimpi.
“Enggak.” Itu hanya jawaban alibi dari Love, karena jelas-jelas Aksa mendengar napas teratur istrinya.
“Kamu tahu kalau bohong sama suami itu dosa?”
“Aku kan nggak bohong.” Dalih Love
“Awas kalau tidur.” Love tersenyum saja dan membelai kaki Aksa pelan. Berusaha untuk tetep terjaga agar suami itu tak kembali protes. Love sama sekali tak tahu dari mana lelaki itu mendapatkan pengalaman memijat dan memiliki ide malakukan hal seperti yang sekarang dilakukannya.
“Mas dapet ide memanjakan istri kayak gini dari mana?” Love sepertinya memang tak akan memendam lebih lama lagi apa yang dipikirkannya.
“Idenya dari kamu lah, siapa lagi.”
“Kok bisa?”
“Terima kasih, Mas suami. Aku makin cinta aja sama kamu.”
“Udah ah, Yang, capek jariku ngurut wajah kamu.” Kemudian badannya dijatuhkan ke ranjang dengan terlentang. Love membuka matanya dan menyamakan tubuhnya dengan Aksa.
“Cuma segitu aja, Yang cintamu ke aku?” Love tengkurap dengan dagu di senderkan di atas dada sang suami. “Katanya cinta, tapi cukup gitu aja pijatnya.” Aksa tak langsung bereaksi bahkan Love menganggap jika suaminya itu hampir terlelap.
“Mending aku peluk kamu dari malam sampai pagi.” Kekehan Love terdengar.
“Gombalannya Oke banget. Padahal kalau aku minta peluk terus Mas capek pun nggak mau nurutin.” Itu hanya bualan dari seorang Love saja sebetulnya, karena bagaimanapun, Aksa akan memenuhi apapun yang istrinya itu
inginkan dari dirinya.
“Jangankan pelukan nggak aku kasih ke kamu, Yang. Ginjalku kamu mintapun aku kasih.” Dan itu kebenaran, bukan hanya bualan semata. Karena menurut Aksa, tugasnya sekarang adalah membahagiakan keluarganya.
“Uh, cintanya aku sama suamiku ini.” Sepertinya Love juga tak mau kalah dengan suaminya karena gombalan yang suaminya itu lontarkan kepadanya.
“Itu mah dari dulu kamu kayak gitu. Cinta mati sama aku.” Love mencubit perut suaminya.
“Iya, aku emang kaya gitu. Kenapa emang?” begitulah tantang Love kepada sang suami. Perempuan itu ikut berbaring terlentang dan menatap langit-langit kamar. “Mas tahu, seandainya aku ditinggalkan oleh suamiku, aku
mungkin akan gila, ujung-ujungnya mati.” Love memang tak pernah mengijinkan otaknya menghayal yang tidak-tidak. Tapi ketika terkadang terbesit pikiran aneh-aneh, dia merasakan sedih tanpa ada sebab.
“Emang kenapa aku harus tinggalin kamu? Toh kita ini kan udah jadi satu, kalau aku pergi kemanapun aku akan membawa kamu ikut serta.” Astaga, sepertinya jiwa gombalan Aksa kali ini benar-benar sudah keluar dari kandangnya. Bisa sekali membuat anak orang senyum-senyum tak jelas.
“Bisa banget buat orang nggak jadi marah.” Begitu kata Love dengan bahagia. “Mas tahu nggak kalau gombalan Mas itu buat orang pengen jungkir balik aja.” Bahkan tak lupa, Love mencubit pipi sang suami gemas. Mereka benar-benar berlagak seperti bocah ABG yang baru saja mendapatkan cinta pertamanya.
“Jungkir balik lah,” mengatakan hal itu, Aksa berguling ke kanan dan memeluk Love erat. Kaki kanannya menumpu di kaki kiri Love. “Kamu sekarang wangi banget, nanti kalau umur enam puluh tahun, masih wangi kaya gini nggak ya?” Aksa memang selalu memiliki pertanyaan yang membuat Love kelabakan.
Tapi tak urung perempuan itu terkekeh. “kalau aku ajukan pertanyaan yang sama, apa jawaban, Mas?”
Lama lelaki itu tak menjawab dan tetap memeluk istrinya dengan erat. “Mas!” panggilan itu tak membuat Aksa kemudian membuka suaranya. Tapi tak lama, Aksa menjawab. “Kalau aku nggak wangi pun pasti kamu juga tetep
nempel.”
“Emang kalau kita udah berumur enam puluh tahun kita masih tetap kayak gini, Mas? Paling malu sama cucu.” Di usia tua seperti itu memang tak jarang ada pasang suami istri yang masih berlaku manis satu sama lain. Tapi ada juga yang sebaliknya.
“Harus lah. Kita kan pasangan sejagat.” Sepertinya Aksa memang sedang mabuk. Karena ada-ada saja kosakata yang di keluarkan kali ini.
“Terserah lah.” Jawaban Love itu kemudian mengakhiri hal aneh malam ini karena kedua orang itu terlelap dan melalang ke alam mimpi.
*.*
“Bunda!” itu adalah suara Ixy yang sedang membahana di ruang keluarga. Bocah itu sedang bahagia sekali sepertinya.
Love datang dengan penuh pertanyaan di kepalanya karena panggilan putrinya yang tak biasa. Tapi seketika tersenyum melebar melihat apa yang Ixy bawa di tangannya.
“Adek dapet ini, Bunda.” Masih pukul lima sore ketika keriuhan itu terjadi.
“Adek hebat sekali sih.” Mata Love melihat ke sekitar dan tak menemukan Avez di sana. “Abang mana?” pertanyaan itu muncul seketika.
“Abang lihat orang main papan, Bunda.” Kening Love mengkerut mendengar itu, tapi dia tak langsung meminta penjelasan masalah itu dulu karena dia kembali tersenyum melihat piala yang dibawa putrinya.
“Adek dapat juara berapa ini?” pancing Love kepada Ixy karena dia ingin mengetahui apakah putrinya itu mengerti atau tidak.
“Satu dong, Bunda.” Bangganya Ixy mendapat piala pertamanya di semester pertama dia mengaji. Bocah itu selalu senang sekali ketika sang kakak mendapatkan benda seperti itu dan dia juga berkeinginan mendapatkan hal yang sama dengan kakaknya. Dan sekarang dia mendapatkannya juga.
Love tersenyum dan mencium putrinya dengan sayang. “Adek sekarang udah dapat piala juga, adek nggak boleh malas belajar, adek harus semakin giat belajarnya kalau nggak mau piala itu nanti di kasih ke teman Adek.”
“Nggak mau.” Ixy memeluk piala itu seoalah piala tersebut akan diberikan kepada orang lain.
“Makanya, Adek harus rajin belajar ya.” Anggukan itu diberikan kepada Love sebagai jawaban. Bahkan Love tak repot-repot merevisi arti ucapannya agar putrinya mengerti.
“Ayah pasti akan seneng nanti.” Perempuan itu menatap putrinya yang sedang mengelus piala yang baru saja di terimanya dari Ustadzahnya. Betapa bangganya dia dengan anak-anaknya.
Kemudian dia mengingat jika Ixy mendapat piala, Avez juga pasti mendapatkannya. Jadi dia menanyakan kepada Ixy. “Abang dapat piala juga, Dek?”
Mengangguk. “Iya, Bunda. Tapi Abang adek ajak pulang nggak mau, adek di suruh pulang lebih dulu.” Adunya kepada sang bunda.
“Adek tadi bilang kalau abang sedang melihat orang main papan maksudnya gimana?”
“Yang naik di atas papan itu loh, Bunda.” Dan Love paham apa yang dimaksud oleh putrinya. Padahal dirinya sudah memberi nasehat kepada anak-anaknya agar mereka tak mampir kemanapun ketika dari sekolah ataupun dari
pulang mengaji. Tapi sepertinya Avez sedang ingin melanggarnya, jadi dia akan menegurnya nanti.
“Ya udah, kalau gitu adek ganti baju ya. Sini pialanya biar bunda pajang.” Ixy memberikan piala itu dengan suka cita dan berlari naik ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Love memajang piala yang di dapatkan oleh anak-anaknya di lemari kaca dan ditata dengan rapi. Avez sudah mendapatkan piala lumayan banyak, dan itu mendatangkan kebanggaan yang luar biasa bagi Aksa dan Love.
“Assalamualaikum.” Avez datang dengan wajah biasa saja seolah dia barus saja tidak melakukan kesalahan. Di tangannya juga membawa piala seperti ketika adiknya pulang tadi.
“Waalikum salam.” Pandangan Love menatap lurus putranyabtanpa memberikan sambutan seperti biasanya dengan tujuan agar bocah itu paham jika sebentar lagi akan terjadi sesuatu.
Tapi sayangnya itu tak terjadi. Masih seperti rutinitas biasanya, Avez mendekati sang bunda, kemudian mencium tangannya, dan menyerahkan piala itu kepada Love. “Abang dapat lagi, Bunda.” Hanya seperti itu saja tanpa ada senyum atau ekspresi senang karena mendapatkan piala seperti yang dilakukan adiknya tadi, seolah hal itu bukan hal yang membanggakan.
*.*