
Rigel menemui Liondra di sebuah kafe setelah ajakan itu datang dari gadis tersebut. Hubungan mereka masih jalan di tempat dan tak ada perubahan apapun. Rigel masih berusaha dan terus berusaha untuk menjadi lelaki baik dengan menjadi kekasih yang baik. Meskipun perhatian yang diberikan oleh kekasihnya itu mungkin tak sampai di hati, tapi usaha harus tetap dilakukan.
“Hai!” mendengar sapaan dari kekasihnya, Liondra tersenyum manis dan menggapai tangan Rigel. Rigel menerima. Lelaki itu duduk di depan Liondra masih dengan tangan yang saling mengait.
Liondra tak langsung mengatakan apa yang ingin katakan. Justru hanya terus menatap kekasihnya saja .
“Kenapa?” Rigel yang terus diperhatikan tentu saja bertanya.
“Nggak ada.” Katanya masih dengan senyum. Liondra, terus menggenggam tangan Rigel dengan erat.
“Aku sayang sama kamu.” Tiba-tiba kata itulah yang dikatakan oleh Liondra. Rigel yang tak bisa menjawab hanya mengangguk.
“Terima kasih.” Katanya dengan senyum, “Aku beruntung karena itu.”
“Dan kamu lebih beruntung ketika bukan hanya aku saja yang sayang sama kamu,” Rigel tak memilik ide kemana arah ucapan Liondra kali ini, “El. Aku yakin dia juga menyayangi kamu.”
“Aku tahu.” Jawaban Rigel membuat raut waja Liodra berubah. Namun tak lama setelahnya, dia terkekeh.
“Jadi kamu udah tahu?”
“El memang menyayangi aku selayaknya sahabat. Tidak lebih.” Rigel menambahkan.
“Kamu salah.” Kata Rigel, “Aku sangat paham siapa El, dan sayang itu memang hanya sebatas sayang kepada sahabat. Nggak lebih.” Liondra diam saja merasa tak perlu menyanggah.
“Sebenarnya kamu mau membicarakan masalah apa?” Rigel menggenggam tangan Liondra lebih erat. Entah kenapa dia merasakan sesak yang tidak tahu dari mana datangnya rasa sesak tersebut. Liondra adalah gadis yang baik. Sangat malah, tapi dia menyia-nyiakan gadis itu.
“Salah nggak kalau aku mau kamu tetap sama aku?” Rigel tak langsung menjawab, lelaki itu dengan serius menatap kekasihnya itu dengan serius.
“Aku ingin sekali ketika aku bertanya itu, kamu langsung mengatakan kalau kamu bersedia. Tapi aku tahu memang inilah yang akan terjadi.”
“Li!”
“Biar aku bicara dulu.” Liondra merubahah raut wajahnya dengan sungguh-sungguh. Genggaman tangan mereka sudah terlepas. Rigel diam dan memilih menuruti apa yang Liodra katakan kepadanya.
“Jujur aja aku iri sama El. Dia disayangi sama kamu, dicintai juga. Sedangkan aku? Aku memang pacar kamu, tapi hati kamu bukan sama aku.” Tak ada tangis yang keluar dari netra gadis itu, tapi wajahnya yang terlihat kuyu itu benar-benar menampar Rigel habis-habisan.
“Maaf.” Rigel sepertinya memang tak memiliki kata lain selain itu. Dia memang sudah menyadari kesalahannya dan dia memang brengsek.
“Aku memang yang memaksakan hubungan ini,” Liondra kembali bersuara, “Aku yang nggak tahu diri dengan terus memaksa kamu untuk tetap sama aku.”
“Kamu tahu ucapan kamu itu nggak akan mempengaruhi apapun?” Rigel sepertinya tak mau tinggal dian, “Kamu mau putus? Kemudian kamu mau aku sama El?” itu adalah tebakan yang sepertinya memang tepat sekali. Terbukti dari wajah Liondra yang kaget dibuatnya.
“Kamu memang bisa menebak dengan tepat.” Jawab Liondra. Gadis itu menunduk dan memainkan jari-jarinya karena tak tahu apa yang akan dikatakannya lagi.
“Dengar, Li,” Rigel kembali berbicara, “Hubungan kita ini, memang hanya ada cinta di satu sisi saja, tapi sisi satunya mau berusaha. Aku memang nggak bisa janji apapun dengan kamu dan aku nggak mau berjanji kalau janji itu nantinya nggak bisa aku tepati. Jadi, biarlah semua ini dijalani saja.”
“Kalau kamu aja nggak yakin, gimana sama aku?” Semua ini memang berat untuk dijalani. Mengingat jika kekasih kita mencintai orang lain, sungguh tak akan bisa membuat tenang. Rigel pun tak lagi bisa berkata-kata karena hal ini.
“Aku memang brengsek, Li.”
“Aku tahu,” jawab Liondra dengan tenang namun dengan mata yang sudah mulai mengembun. Gadis itu sepertinya juga merasa sakit karena pengakuan Rigel akan diri lelaki itu.
“Aku nggak bsa lepasin kamu gitu aja, Li.” Rigel juga sepertinya memang merasa sakit juga. Pikirannya becabang kemana-mana. Mengingat El yang mungkin akan disalahkan karena putusnya hubungan mereka, atau hal-hal lain yang bahkan Rigel sendiri saja tak tahu mana satu yang benar-benar dia pikirkna sekarang.
“Kenapa?” Liondra menatap Rigel dengan sayu. Kembali menarik tangan Rigel yang ada di atas meja dan menggenggamnya, “Kamu memang udah nggak bisa jalani ini semua kan?”
“Aku bisa, hanya aku butuh waktu untuk bisa mencintai kamu.”
“Dan itu bahkan mungkin nggak akan pernah terjadi.” Senyum Liondra lagi, “Kamu pasti udah tahu kalau aku pernah berbicara empat mata dengan El dan sedikit keras dengan dia, kamu tenang saja, itu hanyalah gertakan. Toh itu juga sama sekali tak mempan dengan cewek itu kan?”
“Ini bukan masalah El. Tapi aku dan kamu aja.”
“Tapi kita nggak akan bisa nggak ngelibatin dia,” Liondra mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh begitu saja di pipinya, “Aku yakin suatu saat nanti kalian pasti akan bersama.”
“Please! Li.” Kata Rigel memohon.
“Aku mau kamu kejar dia. Kalau memang nggak sekarang kamu bisa berhenti dulu dan mengambil ancang-ancang untuk mendapatkan dia. Masih ada banyak waktu, Gel.” Sejak tadi, memang hanya Liondra yang banyak bicara. Karena Rigel hanya menjadi pihak yang mendengarkan dan menanggapi jika otaknya bisa mencerna ucapan Liondra dengan baik.
“Kamu oke kan?” Liondra benar-benar memastikan Rigel baik-baik saja.
“Aku nggak oke.” jawab Rigel dengan cepat, “Nggak ada orang oke ketika putus dari pacarnya.”
“Tapi aku bangga bisa melepaskan cowok tampan di depan aku ini.” Liondra terkekeh ketika Rigel melototinya.
“Aku pasti akan kangen banget sama kamu.” Katanya dengan tulus, “Aku mundur, karena aku ingin kita sama-sama bahagia. Ini pasti akan sulit buat aku untuk mengatakan kepada diri aku kalau kamu bukan lagi pacar aku. Tapi aku yakin dengan berjalannya waktu, itu semua akan berlalu. Kamu harus bahagia, Gel.” Itu adalah ucapan terakhir yang dikatakan oleh Liondra sebelum mereka sama-sama diam.
Bahkan sampai keduanya keluar dari kafe, Meskipun tangan mereka bergandengan, tapi diantara kedua orang itu tak ada yang berbicara.
“Terima kasih, Gel. Kamu adalah cowok yang baik.” Liondra melepaskan tangannya yang digenggam oleh Rigel dengan pelan.
“Aku harap kita masih tetap bisa berteman.” Rigel menarik Liondra ke dalam pelukannya, dan memeluk gadis itu erat.
“Maafkan aku, Li. Aku benar-benar minta maaf.” Ucapnya di lekukan leher Liondra, “Tolong kamu jangan benci aku.”
“Gimana aku bisa kamu, Gel. Sedangkan aku sayang banget sama kamu.” Rigel benar-benar ditampar habis-habisan oleh Liondra meskipun dengan tidak langsung.
Malam ini adalah malam yang berat bagi keduanya. Meskipun Rigel tidak mencintai gadis itu, putus tetaplah putus. Hati keduanya sama-sama sakit dan hancur.
*.*
“Al?” ada nada tanya di dalam suaranya karena Al memang menunduk dan Hoshi sepertinya tak yakin jika yang dilihatnya memang adalah kekasih adiknya.
“Bang!” Al tak lupa dengan wajah lelaki itu karena memang dia sudah merekam wajah tersebut di ingatannya sejak pertama kali bertemu.
Tanpa diminta, Hoshi duduk satu meja dengan Al dan saling berhadapan. “Sendirian?” tanyanya kepada Al.
“Nggak mungkin gue minta temen nyokap gue.” Jawab Al santai.
“Siapa tahu lo sama Odel kan?”
“Enggak lah. Kasihan kalau diminta temenin ke tempat beginian. Kotor.” Hoshi mengangguk dan melanjutkan pertanyaannya. Lelaki itu sepertinya memang sedang ingin mencoba untuk mengintograsi Al kali ini.
“Emang kenapa, kan ruang tunggunya ini bersih. Apa jangan-jangan lo nggak mau kelihatan punya cewek ya kalau bawa Odel?”
“Gue malah seneng sebetulnya kalau Odel sama gue, biar gue nggak perlu dilirik-lirik dari tadi sama mereka.” Al memberi isyarat dengan alisnya untuk melihat beberapa gadis yang memang sedang diam-diam melihatnya. Hoshi menurut dan merasa kaget ketika kekasih adiknya itu memang menjadi perhatian beberapa remaja di sana.
“Terus kenapa lo nggak aja dia aja?” pandangannya kembali pada Al.
“Kenapa Abang jadi sibuk pengen tahu alasan gue?” Al tentu tak akan mudah memberikan jawaban atas pertanyaan yang baginya memang tak penting sama sekali.
“Ya karena gue yang menjadi orang yang sayang sama Odel, gue hanya pengen tahu aja. Orang-orang itu aja bawa pacarnya, kenapa elo enggak?”
“Nggak semua hal harus dilakukan bareng sama pacar, Bang.” Gelengan kepala Al terlihat.
“Bukannya lebih menyenangkan kalau sama pacar?” Hoshi sepertinya memang belum menyerah. Al mendengus saja mendengar desakan dari lelaki di depannya. Namun tak ayal dia tetap menjawab.
“Sekarang realistis aja lah, Bang.” Kata Al, tempat ini sama rumah gue itu deket. Nggak mungkin hanya service motor aja jemput Odel dulu ke rumahnya yang membutuhkan waktu hampir satu jam hanya untuk nemenin gue service motor. Waktu sejam itu, bisa buat gue antri dan motor gue bisa segera ditangani.”
“Lo kayaknya malas banget emang jemput Odel.” Kata Hoshi lagi. Yang membuat Al menghela napas panjang.
“Serah lo lah, Bang. Gue bukan tipe orang yang akan mengajak orang yang gue sayang kelelahan hanya karena hal yang sepele dan itu bahkan nggak membuat dia senang. Buat apa.” Katanya tak peduli lagi dengan reaksi Hoshi.
Hoshi tak lagi mendebat, tapi lelaki itu hanya menatap Al tanpa terputus. Al yang abai saja akan hal itu membuat Hoshi kemudian barulah mengalihkan tatapannya. Lelaki itu menyerah dengan Al. Remaja itu memang tidak akan bisa diintimidasi dengan mudah.
Al berdiri ketika namnya dipanggil karena service motornya sudah selesai dan dia harus membayar. “Gue balik dulu, Bang.” Pamitnya. Hoshi hanya mengangguk dan membiarkan Al pergi begitu saja. Dia tak mungkin kembali berulah dengan mengatakan yang tidak-tidak kepada bocah itu.
Al memang sama sekali tak curiga dengan Hoshi. Dia percaya saja kalau memang lelaki itu adalah orang lain dan menyukai kekasihnya itu.
Sampai rumah sayup-sayup dia mendengar suara El mengobrol dengan seseorang di kamarnya. Dia mengenali suara-suara tersebut. Dengan senyum, Al membuka kamar El dan mendapati Odel ada di sana. Berbaring terlentang di kasur El dengan memainkan ponselnya.
Baik El maupun Odel memang belum menyadari jika ada Al di sana karena memang lelaki itu membuka pintu kamar El sangat pelan dan berusaha untuk tak menimbulkan bunyi.
“Emang lo kalau si Al gimana pacarannya?” entah sedang membicarakan apa betina du aitu, Al hanya akan mendengarkannya saja.
“Pacaran yang wajah aja lah, El. Emang lo kira gimana?”
“Lo udah pernah ciuman belum sama dia?” jadi begini, posisi El sekarang memang ada di meja belajar. Dan meja belajar El ada di dekat diding kaca yang membelakangi pintu. Jadi El pun tak menyadari jika Al ada di kamarnya.
“Sembarangan aja lo,” Odel mengatakan itu, tapi wajahnya bersemu merah. Mungkin otaknya sedang membayangkan yang tidak-tidak sekarang. “Ya enggak lah.” Lanjutnya lagi.
“Lo emang nggak mau ciuman sama dia? Ngomong-ngomong lo udah pernah ciuman belum?” El sedang melihat kunang-kunang yang diletakkan di toples cantik dan dia masih suka melihat serangga tersebut.
Al yang mendengar pertanyaan El untuk kekasihnya itu mendengarkan dan menunggu jawabannya.
“Gue nggak pernah. Waktu itu hampir,”
“Sama si bedebah itu?” El langsung memotong ucapan Odel.
“Iya. Untungnya gue ngelak dan nggak jadi.”
“Kalau menurut lo, ciuman pas masih pacarana itu gimana, Del?”
“Kalau bisa jangan lah, El.” El merubah posisinya dengan miring ketika dia kaget dibuatnya karena Al ada di sana dengan bersender di dinding dan bersidekap.
“Kamu sejak kapan di sana?” El juga memutar kursinya karena reflek Odel yang bersuara keras
“Sejak tadi.” Jawab Al dengan santai, “Sebelum kalian bahas ciuman.” Al menggelengkan kepalanya dengan dramatis. “Pembahasan kalian ini benar-benar berat. “ Al mendekati Odel yang sekarang sudah duduk di atas kasur El dan ikut duduk di pinggir ranjang.
“Untungnya kamu belum pernah ciuman. Biar bibir itu buat aku aja nanti, kalau kita berjodoh.” Katanya dengan menyeringai. Membuat Odel malu dibuatnya.
Teriakan El kemudian membuat Al mengalihkan adegan tatap-tatapan antara Odel dan El.
“Kamu kebiasaan ya, Al, kalau masuk ke kamar orang itu selalu saja nggak pernah ketuk pintu. Nyolong aja.” El berkacak pinggang di depan kembarannya sambil melotot. “Untung Odel nggak telanjang, kalau sempat telanjang tadi, malu lah dia.”
“EL!” teriak Odel karena mengatakan yang tidak-tidak.
“Omongan lo itu artinya ambigu banget sih? Sejak kapan gue suka telanjang kalau di kamar lo? Ngapain juga gue harus telanjang. Kampret lo.”
“Keluar sana, kami ini sedang curhat-curhatan. Laki-laki nggak boleh dengar.” El menarik tangan Al agar lelaki itu bisa segera berdiri dan keluar dari kamarnya dan tak mengganggu acara ‘girl’s talk’ nya. Karena kalau sudah seperti ini, mereka bisa membahas apapun, jadi Al tentu bukan orang yang harus ada di sana dan mendengarkan pebahasan mereka.
Al menghela nafas dan menuruti apa yang dikatakan oleh El. “Jangan bahas yang macam-macam.” Peringatnya kepada dua gadis itu dan El tanpa menjawab setelah lelaki itu keluar dari kamarnya, El menutup pintu dan menguncinya.
*.*