Blind Love

Blind Love
Episode 52



“Bang Virgo!” panggilan itu membuat dua orang yang sedang saling menatap seketika mengalihkan pandangan mereka. Di sana, ada sesosok bocah cantik yang sedang tersenyum. Di belakangnya ada sosok bocah lelaki yang usianya lebih tua dari gadis kecil itu.


“Adek!" Virgo melambaikan tangannya dan memberi isyarat kepada kedua bocah itu untuk mendekat. Yang dengan cepat ditanggapi oleh Ixy dengan berlari kecil mendekati lelaki itu.


Entah sudah berapa lama dia tak ke rumah Aksa, melihat Ixy dan Avez membuatnya senang sekali.


“Ei! Ngapain kalian?” Love datang sambil membawa pesanannya, Aksa pun ada di sana. Dan sayangnya, Libra menjadi salah fokus melihat Aksa yang terlalu tampan hari ini. Kemeja berlengan pendek kotak-kotak dengan celana pendek berwarna khaki, benar-benar sangat mempesona sekali di matanya. Dan pakaiannya sama dengan yang dikenakan oleh Avez. Sedangkan Ixy mengenakan pakaian yang sama dengan ibunya. Manis sekali bukan?


Terlihat masih sangat muda meskipun kedua anaknya sudah besar-besar.


“Baru berapa hari nggak ketemu ya, Kakak terlihat berbeda sekali sih?” Love sama sekali tak mempan dengan gombalan yang diberikan kepadanya.


“Minta ditabok?” begitu reaksinya dengan datar. Sama sekali tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya yang terdengar berisik sekali bersama ayah mereka, Love justru melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap kedua orang di depannya.


“Kalian pasti balikan lagi. Iya kan?” tembaknya tepat sasaran. Perempuan itu memang suka sekali mengeluarkan isi pikirannya tanpa merasa perlu di filter sama sekali.


“Menurut, Kakak gimana?” berbeda dengan libra yang merasa malu, Virgo justru bermain tebak-tebakan.


“Kalau aku nggak perlu tanya lagi kalau kalian itu memang balikan. Udah kelihatan. Sayangnya tadi itu hanya pertanyaan basa-basi saja.” Super kampret memang betina satu itu. Bahkan setelah mengatakan kalimat penjelasan itu pun dia pergi begitu saja untuk bergabung bersama keluarganya.


Virgo mengulum senyumnya. “Nggak usah diambil hati,” katanya pada Libra, “Kalau kamu berkawan sama dia dan memikirkan setiap ucapannya, bisa kurus kamu karena banyak pikiran.” Kekehan itu kembali terdengar karena merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh Love.


“Aku suka gaya kak Love.” Libra ikut terkekeh, melihat ke arah meja Love dan keluarganya yang terlihat sekali hebohnya entah karena apa. Meja mereka memang agak jauh, jadi tak bisa mendengarkan obrolan keluarga kecil tersebut.


“Tapi kamu lebih suka dengan bang Aksa pasti,” tatapan Virgo menggoda. Dan itu membuat Libra memainkan bibirnya, “Kamu ngelihatnya gitu amat tadi. Terpesona ya?” Libra hanya menatap lelaki itu tanpa menjawab


Tahu saja kalau dia sedang menikmati pemandangan indah. Virgo tak marah. Tak akan marah jika itu adalah Aksa.


“Kamu nanti kalau udah seumuran sama Bang Aksa sekarang, kira-kira bisa semempesona itu nggak?”


“Lebih mempesona aku nanti lah daripada abang. Nanti kamu bisa buktikan.” Libra mencibir lelaki itu karena terlalu percaya diri.


“Kalau aku sama kamu berjodoh ya pasti bisa buktikan, kalau enggak mana bisa?” jawab Libra.


“Kita jodoh-jodohin aja lah kalau gitu.” Entengnya. Terlalu santai. Reaksi yang diberikan kepada Virgo memang tak seperti yang diharapkan, tapi memang begitulah dia.


Mumpung mereka bisa bertemu, maka yang dilakukan keduanya setelah selesai makan adalah pergi berdua. Kendaraan Libra dibiarkan di tempat tersebut dan mereka menggunakan kendaraan Virgo untuk berjalan-jalan.


Pastilah setelah pamit kepada Aksa dan Love, mereka keluar ke restoran cepat saji tersebut.


“Kita mau kemana?” Libra sudah berada di boncengan kekasihnya dan siap untuk menghabiskan waktu bersama. Berada di dekat Virgo seperti ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Libra. Seolah beban yang ada di dalam fikiran gadis itu hilang sama sekali.


Mereka berhenti di sebuah perkumpulan remaja-remaja yang sedang memainkan papan skateboard. Dan Virgo di sambut dengan suka oleh mereka.


“Bang!” begitu kebanyakan dari mereka menyapa, “Lama nggak ketemu. Sibuk apa ini?” melihat Libra yang berdiri di samping Virgo membuat mereka menggoda Virgo dengan candaan.


“Ei! Udah punya gandengan sekarang ya?” katanya sambil tersenyum menggoda ke arah Virgo .


Virgo membalas dengan senyum juga. “Kenalin, Libra. Sekarang masih pacar, nggak tahu kalau beberapa tahun lagi. Mungkin udah bisa jadi mantan pacar.” Libra menoleh ke arah Virgo untuk menatap lelaki itu dengan perubahan wajah yang kaget.


“Dan jadi yang halal.” Tambahnya yang membuat suasana riuh itu terdengar heboh. Dan Libra? Dia semakin menatap Virgo dengan pelototan. Namun arti tatapan itu jelas berbeda, karena kali ini dia lebih kaget dan ekspresi wajahnya malu-malu sambil mengulum senyum.


Virgo menggandeng tangan Libra dan mengajak gadis itu untuk melihat pertunjukan yang akan dilakukan oleh perkumpulan itu.


“Nanti Abang ikut lah,” Dalam hal bermain papan skateboard ini memang Virgo tak semahir itu, tapi dia benar-benar akan membuat orang yang melihat dia meluncur di atas papan itu akan menjadi heboh. Dan itu adalah daya tariknya.


“Bisa dipertimbangkan,” katanya dengan santai. Namun nyatanya dia tetap menunjukkan keahliannya memainkan papan tersebut.


“Aku main dulu ya.” Pamitnya kepada Libra dan dijawab dengan anggukan dari gadis itu. Jika gadis itu sudah sering melihat Virgo berada di lapangan dengan bola basketnya, ini adalah kali pertama dia melihat Virgo berlaga di atas papan skateboard.


Dan itu tak kalah mempesonanya. Virgo terlalu menawan dengan aksinya. Libra bahkan harus menghela napas berkali-kali melihat Virgo yang meluncur di atas besi-besi dengan papan di bawahnya. Meskipun ada rasa ketar-ketir dengan itu, takut jika lelaki itu terpeleset dan cedera.


Virgo memang suka sekali dengan kegiatan berolahraga. Dan Libra bisa melihat itu sekarang.


Selesai dengan aksinya, Virgo kembali duduk di dekat Libra. “Gimana mainku? Oke nggak?” tanyanya sambil memberikan satu botol minuman yang sudah dibukakan tutupnya. Hal-hal sederhana seperti ini memang bisa membuat Libra merasa diperhatikan. Virgo bisa bersikap tak peduli dengan sekitarnya, tapi dia begitu perhatian terhadapnya.


“Oke punya,” Libra mengacungkan ibu jarinya di depan lelaki itu. Virgo tersenyum dan berpindah duduk di depan Libra. Bersila dan menatap gadis itu dengan dalam.


“Seperti inilah dunia aku,” Virgo membuat pola-pola abstrak menggunakan telunjuknya di lutut Libra, “Aku harap kamu bisa memahaminya. Aku bisa melupakan segalanya jika sudah berhadapan dengan apa yang aku sukai.” Libra mendengarkan dengan seksama tanpa mengatakan sesuatu sebelum Virgo menyelesaikan ucapannya.


“Contohnya adalah seperti waktu di kantor kakek. Bahkan aku langsung tenggelam dalam dunia yang aku buat sendiri karena begitu asyiknya aku di sana.” Mengingat itu membuat Libra memanyunkan bibirnya karena merasa sebal yang luar biasa.


“Jadi aku nggak termasuk dalam hal kesukaan kamu sampai aku bisa diabaikan begitu saja?”


“Kamu lebih dari itu,” Virgo menatap mata Libra dengan kesungguhan yang luar biasa.


“Tapi kamu nggak bisa tenggelam dalam duniamu sendiri ketika sama aku.”


“Kata siapa?”


“Nyatanya aku bisa sambil memikirkan kamu ketika aku tenggelam dalam duniaku dengan kegiatan yang aku suka, tapi aku nggak bisa memikirkan hal lain ketika sama kamu. Hanya ada kamu dan kamu.” Libra mengedipkan matanya pelan dan mengulum senyumnya.


Karena merasa malu tiba-tiba, Libra mengulurkan kedua tangannya dan mengalungkan ke leher lelaki itu kemudian menenggelamkan wajahnya di Pundak Virgo. Virgo tersenyum dengan sikap manja gadisnya. Mengelus punggung gadis itu dan menepuknya pelan. Mengabaikan orang-orang di sana yang menatap ke arah mereka bahkan banyak yang berdehem karena menggoda.


*.*


Virgo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya ketika melihat orang-orang di sana yang semuanya menggunakan pakaian-pakaian mewah yang dimilikinya. Otaknya berpikir, sebenarnya selain nantinya mereka akan pamer kekuasaan, apa lagi yang akan mereka lakukan? Seperti tidak ada. Banyak penjilat, banyak orang munafik, meskipun tak jarang pula orang baik.


“Papa cariin kamu kemana-mana ngapain di pojokan begini?” Virgo tersenyum melihat ayahnya.


“Nggak ada. Kayanya di sini udara segar bisa membantu paru-paruku sehat.” Ayah Virgo berdecak geli mendengar jawaban putranya. Kalau kata orang, Virgo adalah fotokopi dari Firman ketika masih muda dulu. Ya, memang bukannya pepatah sudah mengatakan, jika buah tak akan jauh jatuh dari pohonnya? Karenanya itu adalah hal yang wajar.


“Masuk! Sejak tadi kamu dicari orang-orang karena mau nyapa kamu. Heish!” Ayah Virgo menggeleng- gelengkan kepalanya, “Kenapa kamu terkenal di kalangan mereka? Heran papa.” Kini giliran Virgo yang terkekeh geli melihat ayahnya.


“Bagus lah, kan Papa jadi punya anak pemes.” Jawabnya yang mendapatkan tawa dari sang ayah.


“Ayo!” ajak sang ayah untuk masuk kembali ke dalam ruangan yang sudah penuh dengan pengusaha-pengusaha.


“Waw!” seorang lelaki mungkin seumuran dengan ayah Virgo mendekat dan menatap ayah dan anak itu dengan senyum, “Kalian memang fotokopian.” Begitu katanya. Firman terkekeh dan bersalaman kepada lelaki tersebut.


“Bagaimana kabarnya?” ayah Virgo bertanya kepada lelaki tersebut.


“Sangat bagus.” Katanya dengan senyum mengembang yang tak tanggung-tanggung dikeluarkan, “Sepertinya, Honey akan senang melihat Virgo ada di sini.” Lanjutnya sambil menatap Virgo dalam dan tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan.


“Honey?” tanya ayah Virgo.


“Putriku.” Lelaki itu tersenyum, “Aku pernah bercerita tentang hacker yang menyerang kalian, dan Virgo menjadi penyelamatnya. Dia sepertinya tertarik untuk bertemu dengannya, sampai dia mau datang kesini yang biasanya selalu menolak.”


Firman mengangguk-angguk dan menanggapi santai saja, “Mungkin dia bisa bertemu dengan Virgo sekarang,”


“Tentu__” belum selesai dengan perkataanya, satu keluarga mendekat ke arah mereka, dan menyapanya.


“Wilman!” dan kedua orang itu saling menyapa dengan heboh. Namun tatapan Virgo bukan kepada kedua orang lelaki paruh baya yang ada di depannya itu, namun putri dari keluarga yang baru datang tersebut.


Menatap anak gadis mereka dalam-dalam namun tentu tak saling sapa.


“Kenapa berkumpul di sini?” begitu tanya Ardi kepada Wilman dan tatapannya menatap ke arah Firman namun hanya sekilas. Berbeda dengan Jihan yang tersenyum lebar melihat Firman di depannya.


“Karena saya harus menghadang anak lelaki Firman,” Ardi mengernyit. Tak ingin membuat Ardi bingung, Wilman melanjutkan. “Kalau dia mau, mau saya jadikan mantu,” tawa Wilmam keluar dengan renyah, “Putri saya sepertinya tertarik dengan Virgo.”


Bukan hanya boom yang meledak di kepala Libra mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki yang bahkan tak dikenalnya itu, tapi sambaran petir yang maha dahsyat yang seolah bisa meluluh lantakkan hatinya. Dia meneguk ludahnya berkali-kali agar badannya yang tiba-tiba panas dingin itu tak membuat tubuhnya limbung.


Dan yang dilakukan Ardi seketika adalah dengan menatap putrinya untuk melihat ekspresi gadis itu, yang benar saja, dia bisa melihat gadis itu pucat pasi. Namun ketika melihat Virgo, ekspresi lelaki itu biasa saja seolah tak terpengaruh sama sekali.


“A, itu dia,” belum hilang keterkejutan yang dikatakan, lelaki itu memanggil putrinya.


“Honey!” Wilman menaikkan lengannya dan melambaikan tangannya agar nama seorang gadis yang baru saja dipanggilnya itu bisa melihatnya.


Dan benar saja, gadis itu mendekat. “Papa, aku cariin kemana-mana juga.” Tak ada yang menyangkal kecantikan gadis itu. Gadis yang memakai gaun berwarna hitam dengan heels dan clutch di tangannya itu memang menawan. Feminim dan sepertinya dewasa.


Hancur adalah kata yang tepat untuk memberikan perumpamaan buat hati Libra sekarang. Jangan lupakan Firman yang meskipun sejak tadi hanya diam saja, lelaki itu mengamati perubahan dari ekspresi yang dikeluarkan oleh orang-orang di sana. Libra yang pucat, Jihan yang tiba-tiba wajahnya terlihat mendung, Ardi yang terlihat tak suka, dan Virgo yang memasang wajah biasa saja.


Lelaki itu menyeringai dan memahami kondisi tersebut dengan cepat. Sayangnya dia memilih bungkam.


“Papa mencarikan Virgo buat kamu, kamu ingin ketemu sama dia kan?” mata Wilman mengerling menggoda anak gadisnya dan di balas malu-malu, namun dengan cepat bisa menguasai keadaan.


Honey menatap Virgo meskipun jelas sekali terlihat rona merah di wajahnya, kemudian menatap ayahnya. Dia bilang, “Papa kenapa terus terang sekali? Aku kan malu jadinya.” Yang dibalas tawa dari ayahnya.


“Nak Virgo, kenalkan ini putri om, Honey. Dan Honey, dia Virgo.” Begitu caranya memperkenalkan dua orang yang belum saling kenal tersebut.


Virgo tentu tak akan membuat orang tuanya malu dengan bersikap cuek dan dingin, maka dia mengulurkan tangannya, dan dengan ramah memperkenalkan dirinya sendiri.


“Virgo.” Katanya dan diikuti senyum tipisnya.


“Honey.” Balas gadis tersebut dengan wajah meronanya.


“Virgo nggak keberatan kan kalau mengobrol berdua dengan Honey? Biar kami para orang tua mengobrolkan hal lain.” Wilman sepertinya memang mahir sekali mengendalikan keadaan. Karena dia bisa membuat orang-orang yang menggerombol di sana pun terdiam tak bisa berkutik.


Firman bukannya tak bisa melakukan sesuatu, tapi ketika dia melihat Ardi yang tak bisa melakukan apapun itu, ingin dia menertawakan lelaki itu. Bukannya dia jahat, tapi percaya atau tidak, hal itu benar-benar membuatnya puas.


“Boleh, Om!” katanya dengan sopan. Virgo dan Honey berjalan beriringan dengan pelan.


Dan menambah kesan dramatis adalah ketika Virgo tiba-tiba menarik Honey sampai membentur dadanya karena gadis itu hampir tertabrak oleh seorang anak lelaki yang berlari membawa coklat. Benar-benar menghancurkan hati seseorang.


Kesakitan yang dirasakan oleh seorang anak, maka dengan pasti akan berpengaruh pula kepada sang ayah. Dan itulah yang terjadi pada Ardi. Hatinya tak tahu kenapa merasa nyeri yang luar biasa. Dan itulah akibat dari keegoisannya.


*.*