Blind Love

Blind Love
Kisah 33



Virgo berkali-kali menatap ke arah pintu dimana ruangan Ardi berada. Dia tak tahu apa yang terjadi di dalam sana sampai Libra sejak tadi tak kunjung keluar. Tapi sayangnya dia harus menekan keingintahuan di dalam hatinya. Jihan tak lagi ada di sana karena sibuk menyuapi cucu-cucunya kudapan.


Dua bocah aktif itu memang sejak tadi susah sekali diajak makan, karenanya sang nenek harus berusaha keras agar kesayangannya itu tak kelaparan. Sama sekali tak menyadari jika menatunya resah sedari tadi. Entah ketakutan seperti apa yang dirasakan oleh Virgo, tapi dia benar-benar takut jika Ardi akan melakukan hal yang akan kembali melukai istrinya.


Namun keresahan hatinya berakhir ketika Libra keluar. Jantungnya kembali berdentum ketika melihat mata Libra yang memerah dan dia tahu jika perempuan itu baru saja menangis. Virgo berdiri namun tak mengatakan apapun, menunggu Libra mendekat ke arahnya barulah dia akan mengintograsi perempuan itu.


Libra melemparkan dirinya ke pelukan Virgo dan tentu saja tak ada penolakan dari lelaki itu. Virgo berusaha keras menahan agar pertanyaan yang terus menggaung di kepalanya itu tak keluar. Masih di dalam pelukan Virgo, Ardi keluar dengan mata yang memerah.


Virgo dibuat bingung dengan dua orang anak dan bapak ini sekarang. Masih dengan diam dan memeluk Libra, dia menatap Ardi tanpa mengatakan apapun. Tapi Ardi justru sebaliknnya. “Maafkan saya!” katanya dengan wajah yang mencerminkan kesungguhan hatinya.


Virgo jelas saja kaget karena itu. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa keadaan menjadi berbalik sekarang?’ begitulah fikir Virgo.


Libra keluar dari pelukan sang suami dan kembali menyeka air matanya sambil menatap sang suami. Perempuan itu tersenyum dan memberi isyarat kepada lelaki itu dengan kedipan matanya. Namun Ardi semakin mendekat dan mengulangi apa yang tadi dikatakannya.


“Ayah-- minta maaf.” Katanya terbata dan keraguan seperti masih berada di dalam hatinya. Virgo masih tak mempercayai dengan apa yang didengarnya. Dia menatap Ardi dan Libra bergantian.


Libra tersenyum dan mengalungkan lengannya di lengan sang ayah. “Ayah sudah memaafkan kekhilafan kita, Yang.” Begitu kata Libra dengan ringan. Wajah Libra terlalu cerah ketika mengatakan hal itu.


Barulah setelah itu Virgo tersenyum. “Saya minta maaf, Yah. Saya benar-benar menjadi lelaki yang kurang ajar kepada Ayah selama ini.” Virgo tak tinggal diam, dan kembali mengatakan permintaan maafnya.


Ardi tersenyum, dan senyum pertama yang diberikan kepada Virgo selama ini. Lelaki itu mendekap Virgo. memeluk menantunya dengan hati yang tulus. Virgo balas memeluk lelaki itu dengan erat. Libra yang berada di dekat dua lelaki itu hanya sanggup tersenyum dan menangis dengan waktu yang bersamaan. Matanya menatap ibunya yang berada tak jauh dari sana dan tersenyum dengan sama leganya.


Akhirnya mereka sudah berbaikan setelah banyak air mata yang keluar. Apa yang membuat Ardi berubah seperti sekarang? Yang pasti adalah sebuah pemikiran.


Semua manusia diciptakan memiliki pemikiran yang bisa berfungsi dengan baik. Dan Ardi melakukan hal itu. Dia berfikir, kemudian mencerna, dan tak lupa mendengarkan kata hatinya. Otak boleh memiliki pemikiran negative, tapi hati? Dia adalah kebenaran.


Dan hati Ardi mengatakan kebenaran itu sedangkan otaknya menerima dengan baik. Maka inilah yang terjadi sekarang. Lelaki itu menerima dan mengakui jika dia memang bersalah.


Masalah dan konflik ini telah selesai. Maka kedamaian inilah yang akan terjadi.


*.*


Libra dan Virgo berada di dalam kamar milik Libra sekarang. Mereka memang memutuskan untuk menginap di kediaman Ardi. Libra yang berbaring dengan memeluk tubuh Virgo itu semakin merapatkan tubuhnya kepada lelaki itu. Senyumnya sejak tadi timbul tenggelam. Kadang dia tersenyum karena merasa hatinya lega, namun tak mungkin juga dia terus-terusan tersenyum seperti orang gila kan?


“Apa ini sudah lengkap sekarang?” tanya Virgo sambil memainkan rambut sang istri.


“Ya. Ini sudah lengkap sekarang.” Jawab Libra sambil menyandarkan kepalanya di dada Virgo. Karena tak puas jika mengobrol tanpa melihat wajah lelaki itu, maka Libra menumpukan dagunya di tangannya, “Ini serasa sempurna sekarang.” Mengembangnya senyum Libra benar-benar menandakan jika perempuan itu bahagia sekali.


“Ada kamu, si kembar, ayah mama, papa mama, kakek nenek, teman-teman kita, itu benar-benar membuat hidup seperti semakin hidup sekarang.” Libra sangat bersemangat ketika mengatakan itu. “Kalau kamu?” tanya balik Libra kepada Virgo.


“Sama,” Virgo memiringkan tubuhnya, “Aku yakin semua kesedihan ini akan berakhir. Hanya saja kenapa kita menunggu kesempurnaan ini terlalu lama? Karena Tuhan mempersiapkan ini di waktu yang tepat. Dan sekaranglah waktu yang tepat itu.” Virgo melarikan tangannya ke puncak kepala Libra dan mengelusnya dengan sayang.


“Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi memikirkan hal yang berat. Kalau kamu takut apa yang terjadi sama kita terjadi sama anak kita, maka kamu jangan memikirkan hal tersebut. Positif saja kamu mikirnya. Kita nanti suruh El belajar silat, biar kalau ada yang mau cium dia, di sleding sama dia.” Terkadang otak Virgo memang sekecil itu.


Libra hanya nyengir tanpa mengatakan apapun lagi. Menarik tangan kiri Virgo, dia tidur di sana dengan telentang. Entah apa yang sedang difikirkan tak ada yang tahu. Matanya menatap langit-langit kamar tapi bibirnya tertutup rapat. Virgo yang merasa sepi akhirnya membuka suara,


“Akan ada perayaan nggak, Yang, nanti?”


“Perayaan apa?”


“Kembalinya ayah ke pelukan kita.” Drama sekali ucapan Virgo ini.


“Memangnya kamu mau buat perayaan?” Virgo tak menjawab. Lelaki itu sepertinya sedang berfikir dan kemudian menjawab,


“Makan-makan di rumah. Sekeluarga. Aku kira itu lebih baik.” Virgo yang tadinya ikut terlentang kini kembali memiringkan tubuhnya meskipun tangan kirinya masih digunakan Libra sebagai bantal, “Selama ini, ayah belum pernah sekalipun datang ke rumah kita mengunjungi kita kan? Karena itu kita harus buat beliau mau datang ke rumah kecil kita.” Sepertinya tak afdhol jika tak mencium istrinya. Karena setelahnya, Virgo dengan nakal mencium perempuan itu.


Libra ikut tidur miring dan menatap suaminya. Memajukan wajahnya untuk mengecup bibir lelaki itu kecil sebelum menanggapi lelaki itu, “Ayah pasti akan bersedia melakukannya. Beliau benar-benar sudah memaafkan kita.” Keyakinan itu tentu saja muncul di hati Libra karena dia melihat ayahnya tadi benar-benar seperti sudah benar-benar berubah dibandingkan beberapa tahun yang lalu.


“Terima kasih kamu sudah membuka jalan sampai ayah benar-benar mau memaafkan kesalahan kita. Kalau kamu tidak melakukan dan gigih meminta maaf, mungkin sampai sekarang kita akan tetap tidak dimaafkan.”


“Kamu yang membuat aku kuat melakukannya. Kata-kata kamu yang seperti seorang motivator itulah yang membuat aku terus kuat dan berfikir jika menyerah adalah perbuatan seorang pecundang.” Virgo menyeringai mendengar apa yang dikatakan oleh Libra.


“Cinta kamu. Banget, sekali, banyak-banyak.” Tambah Libra sambil menelusup masuk ke dalam pelukan suaminya.


“Nggak perlu aku kasih jawaban kan, Yang?” begitu kata Virgo tak tahu diri.


Keesokan harinya, ketika Virgo harusnya pulang dan bekerja, harus tertahan di tempat mertuanya karena obrolannya bersama Ardi. Setelah mereka sarapan, entah kenapa apa yang mereka bicarakan sepertinya memang tak ada habisnya. Dan Virgo pun tak mempermasalahkan hal tersebut.


Kalau saja Virgo tak mendapatkan telpon dari Edo, maka mungkin dia akan tetap di sana.


“Weekend ini ayah akan ke tempat kamu.” Mereka sudah membahas ini tadi, dan Ardi menyetujuinya.


Libra tersenyum, “Kami akan menunggu Ayah datang. Rumah kami selalu terbuka untuk Ayah.” Katanya.


Ardi ikut tersenyum, hatinya terasa ringan karena masalah yang terjadi selama bertahun-tahun itu akhirnya selesai juga. Dan dia bersyukur akan hal itu. Tuhan begitu baik memberinya kesempatan untuk kembali bersama anak dan cucu-cucunya.


Seperginya Libra dari rumah ayahnya, Ardi duduk di ruang keluarga diikuti oleh sang istri. Perempuan itu tiba-tiba memeluk suaminya sampai membuat sang suami terkaget.


“Terima kasih sudah membuat akhir yang bahagia.” Katanya masih dengan menyenderkan kepalanya di pundak Ardi, “Aku yakin mereka sekarang sama leganya dengan kita.” Lanjut Jihan.


“Aku juga minta maaf karena sudah membuat kamu darah tinggi terus selama ini.” Ardi ikut menyenderkan kepalanya ke atas kepala sang istri dan tangannya mengusap lembut lengan Jihan.


“Jujur aku benci sekali sama kamu waktu itu. Tapi ketika melihat kamu yang seperti ini sekarang, seolah semua hal yang pernah kamu lakukan, tindakan kamu yang menyebalkan itu seperti sudah musnah tanpa aku membuangnya.” Ardi mengangguk. Lelaki paruh baya itu memang sudah menyadari kesalahan yang dilakukannya kepada keluarganya.


Istri dan anaknya dibuat tak bisa berkutik karena kekeras kepalanya yang melebihi batu. Dan itupun Ardi sudah menyadarinya. Apa ini adalah ending yang sempurna? Mungkin saja, karena akhir bahagia adalah ending dari kisah yang selalu di buru oleh semua orang.


*.*


“Al!” jeritan itu dari El. Bocah yang dulunya kecil dan lucu itu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dengan rambut tergerai indah. Gadis itu sekarang sudah berusia 17 tahun dan sudah duduk di bangku sekolah SMA di tingkat kedua.


Hobinya mengomel jika ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya, dan laki-laki favoritnya adalah Al, kembarannya. Kenapa bukan Virgo yang jelas-jelas adalah ayahnya. Lelaki hebat menurut Al? Maka tak ada jawaban akan hal itu. El hanya akan mengedikkan bahunya tak acuh ketika mendapatkan pertanyaan tersebut.


Sedangkan, Al yang menuruni hobi ayahnya, suka sekali dengan basket dan hampir menjadi kapten basket kalau saja dia tak menolak. Jika dulu Virgo menjadi kapten basket sekolahnya dan selalu membawa trofi kemenangan setelah bertanding, maka Al melakukan hal yang sama namun jabatan sebagai kapten itu tak tersemat di namanya.


Ah,,,, kembali lagi kepada El yang menjerit memanggil Al ketika Al sedang asyik dengan teman-temannya di ruang keluarga.


“Kenapa sih, El?” secerewenya El, tidak akan membuat Al pusing dibuatnya. Tapi jangan tanya jika itu adalah orang lain, dia bisa mengeluarkan kalimat yang tak terduga untuk membungkam mulut orang tersebut.


“Kamu ingat kan peraturan pasal pertama?” gadis itu berkacak pinggang dengan mimic wajah serius. Al menghela napas sebelum mengangguk.


“Iya, aku beresin.” El adalah pecinta kebersihan, maka tak ada kotoran yang sanggup membuat matanya sakit ketika melihatnya. Dan ketika ada kumpulan Al dan teman-temannya seperti sekarang ini, maka ada beberapa barang yang berserakan dan tak terletak di tempatnya. Karena itu El murka.


“Baiklah saudara-saudara, kalau kalian masih betah dan mau tetap ada disini, maka jangan buat keributan apalagi ada sampah yang bercecer. Kalau kalian masih melakukannya, aku nggak akan sungkan meminta kalian angkat kaki dari rumah ini.” Wajahnya polos ketika mengatakan itu, tatapannya biasa, namun meskipun ekspresinya seperti itu, tak akan ada yang berani membantahnya.


“Iya, kami nanti beresin, El.” Begitu kata Al dengan sabar. Namun bukan El kalau menerima begitu saja.


“Bukan nanti, Al. Tapi sekarang. Nggak baik menunda pekerjaan kalau memang sudah bisa dilakukan sekarang.” Begitu bantahnya kepada kembarannya yang membuat lelaki itu menyerah. Dan membereskan keonaran yang dibuat adalah yang dilakukan sekarang.


“Udah kan?” tanyanya setelah selesai melakukannya.


Bukannya langsung menyetujui, El melihat sekeliling untuk mengecek apakah sudah benar-benar bersih atau belum. Dan anggukannya membuat Al lega.


“Oke. Udah keren. Jangan di kotorin lagi. Kasihan Mbak yang seharian udah bersihin.” Tak ada yang mengajarkan hal itu, tapi El memang benar-benar melihat bagaimana asisten rumah tangganya yang bekerja dengan baik sampai kalau bisa tidak ada debu yang menempel, dan mereka akan mengotori sesuka hatinya. Itu jelas akan mendapatkan tentangan darinya.


“El beneran ngeri ya, Al.” Salah satu teman Al yang berbicara, “Nggak cuma di sekolah lho dia kayak gitu, di rumah juga sama?” Lelaki itu mengungkapkan keheranannya.


Al terkekeh. “Nggak usah kaget. Dia emang kaya gitu.”


“Pantesan yang suka sama lo nggak bar-bar ya, Al, pawang lo aja kayak gitu.” Yang lainnya menimpali, membuat semuanya terkekeh.


Apa yang dikatakan oleh teman-teman Al memang benar. Siapapun perempuan yang akan mendekati Al jelas segan dengan El. Dia bisa sangat mengerikan ketika tahu ada yang menyukai kakaknya itu. Dia akan menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut, menatap wajahnya lama, kemudian mengatakan, “Jangan terlalu berlebihan menanggapi perasaanmu kepada Al, carilah cowok lain.” Itu adalah pertanda jika gadis itu harus mundur dan jangan lagi mengejar cinta Al.


Dan itu sangat mempan. Karena mereka tak akan mengambil resiko untuk berhadapan dengan El. Bising dan tajam. Bahkan ada yang memberinya panggilan seperti itu di sekolah. Namun ada juga yang masih nekat mengejar Al, dan jika itu sudah terjadi, Al yang merasa terganggu akan menjadi kloningan El mengenai ucapannya.


Karena itu, si kembar ini bisa benar-benar membuat orang mati kutu dibuatnya. Jika kedua orang itu sudah bertindak, maka itu bisa mengerikan bagi yang lain. Jadi, yang tidak ingin berurusan lebih panjang lagi dengan si kembar, maka hanya perlu menjauh dari mereka. Karena itu lebih baik.


*.*