Blind Love

Blind Love
Episode 43



“Mama!” Virgo masuk ke dalam rumahnya dan mencari-cari ibunya untuk menanyakan kebenaran yang tidak dia ketahui. Rasa penasarannya sudah memuncak dan dia ingin segera mengakhiri perasaan seperti itu agar otaknya tak merasa pening hanya karena satu masalah.


Perempuan itu sedang sibuk di dalam dapur, badannya berbalik dan bertanya, “Kenapa?” tanyanya dengan tenang. Tangannya masih mengaduk masakannya di dalam wajan. Virgo mendekat dan mendekatkan wajahnya di atas masakan yang masih mengepul karena panas.


“Makan enak ini mah,” begitu komentarnya sambil tersenyum, “Thank you, Mama.” Dan mencium pipi perempuan paruh baya itu.


“Kalau begitu, masuk kamar dulu, bersihin itu badan.” Ibu Virgo mendorong putranya agar keluar dari ruangan dapur. Dan tak ada perlawanan sama sekali.


Virgo memang ‘kehilangan’ perempuan yang dicintainya, tapi digantikan dengan kedua orang tuanya yang memiliki jam kerja yang normal. Jika dulu mereka selalu berada di luar kota, maka sekarang tidak lagi.


“Aku mau Mama menceritakan sesuatu ke aku,” Virgo sudah mulai mengunyah makanannya dan langsung menembakkan kalimat itu kepada ibunya untuk pemberitahuan.


“Tentang apa?” tanya ibunya.


“Tentang om Ardi, ayah Libra.” Jawabnya langsung, dan lagi-lagi mencoba membaca raut wajah ibunya mungkin ada perubahan di sana.


Dan kini dia berhasil. Wajah perempuan itu agak berubah ekspresinya, dan Virgo semakin penasaran akan hal itu.


“Kenapa tiba-tiba?” ibu Virgo menatap putranya dengan kening berkerut.


“Karena papa bilang ada sesuatu yang harus Mama ceritakan ke aku terkait masalah ini,”


“Kenapa bukan dia aja yang bercerita, kenapa harus mama?” sepertinya perempuan itu tak rela diumpankan oleh suaminya terkait masalah Ardi, “Kan dia juga tahu semua masalahnya.” Kalimat terakhir itu dikatakan dengan pelan.


Virgo menatap ibunya dengan pikiran yang melayang entah kemana. Kedua orang tuanya sepertinya saling tak rela jika harus mengungkapkan fakta tentang ayah Libra.


Maka ketika malam tiba, ayah dan ibunya ada di rumah, dan mereka bersantai di ruang keluarga, Virgo beraksi. “Jadi, Papa akan menceritakan apa ke aku?” awalnya dengan santai namun ada kesungguhan dalam ucapannya, “Aku udah penasaran, lho ini.” Lanjutnya ada nada bercanda di dalam suaranya.


Firman – ayah Virgo itu menyamankan duduknya dan menatap istrinya untuk memberi kode agar dia lebih dulu mengatakan sesuatu, “Cerita aja lah sendiri,” jutek ibu Virgo. Dan mendapatkan kekehan dari Firman. Lelaki itu menggelitiki kaki istrinya agar perempuan itu tak terlalu tegang dan cemberut.


Meskipun decakan itu terdengar di telinga Virgo tapi lelaki itu tahu jika ibunya tak benar-benar marah. Karena ada kekehan juga di sana, “Kalau nggak mau cerita ya udah, nggak usah manyun juga dong. Lagian yang dianggap brengsek sama Ardi kan aku, sedangkan kamu kesayangannya.” Sindiran itu menimbulkan kernyitan di dahi Virgo.


“Ardi nggak suka sama kamu karena kamu adalah anak papa, kamu sudah tahu itu kan?” Virgo mengangguk karena ayahnya juga mengatakan hal yang sama siang tadi, “Ardi membenci kamu karena dia juga membenci papa.” Firman duduk dengan tenang dengan pandangan menatap depan tanpa ekspresi.


“Dulu__ dulu sekali, dia adalah teman ibumu.” Firman melirik istrinya sebentar kemudian kembali menatap ke depan.


“Teman yang baik, setia, dan diam-diam mencintai temannya sendiri.” Virgo menatap kedua orang tuanya bergantian. Ibunya menunduk seolah mengerjakan hal yang sangat penting, sedangkan ayahnya masih berekspresi biasa saja. “Dan aku nggak bisa melanjutkan sampai di sini karena yang mempunyai kisah ini adalah kamu,” pandangan Firman tegas ke arah istrinya.


Keheningan itu terjadi beberapa saat karena tak ada yang bersuara. Ibu Virgo masih diam sedangkan ayah Virgo yang merasa tak memiliki cerita di masa lalu istrinya itu hanya diam saja.


“Oke!” putus perempuan itu, “Aku akan ceritakan semua. Dari awal sampai akhir, tapi dengan satu catatan,” pandangan perempuan itu mengarah ke mata Virgo, “Libra bukanlah perempuan satu-satunya di dunia ini, fokuskan saja apa yang menjadi cita-citamu di masa depan. Kalau kamu sukses, bukan hanya Libra yang bisa kamu dapatkan, tapi perempuan-perempuan juga akan mengantri mendapatkan kamu.”


“Mama kayaknya nggak paham sesuatu,” Virgo menjawab, “Nggak perlu nunggu aku sukses, sekarang pun, kalau aku mau, aku bisa memacari banyak perempuan.” Songongnya yang mendapatkan tawa geli dari ayahnya. “Sayangnya untuk saat ini, Libra adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai. Aku bisa berbuat apa kalau sudah begitu?” sangat menyebalkan sekali wajahnya, dan menambah tawa ayahnya lebih keras.


Sedangkan ibunya hanya mendengus jengkel karena itu, “Tapi Ardi nggak mau kamu sama putrinya.” Dipelototinya Virgo dengan sebal karena membantah perkataannya, “lagian mama yakin kalau itu Cuma cinta monyet.” Ketika mengatakan itu, ibu Virgo semangat sekali seolah dia tahu segalanya. Namun harus terbantahkan oleh jawaban Virgo.


“Siapa bilang cinta monyet? Cinta Virgo ke Libra dong!”


“HEI!” jeritan itu sambil terlemparnya bantal sofa ke kepala putranya. Beginilah ibu Virgo jika di rumah. Akan sangat merindukan putranya ketika ikut dalam perjalanan bisnis suaminya, tapi jika di rumah, hal-hal semacam kekerasan seperti ini pastilah akan terjadi.


“Jadi, kelanjutan kisahnya gimana, Ma? Aku udah nungguin dari tadi lho,” melihat putranya yang dihinggapi rasa penasaran yang tak berujung, maka perempuan itu memutuskan untuk kembali bercerita.


“Pertemanan mama sama Ardi memang lama. Sejak duduk di bangku SMA, dan berlanjut sampai kami bekerja. Dari dia yang hanya menjadi staf biasa sampai dia menjadi seorang manajer.” Pendengaran Virgo sama sekali tak bisa dialihkan oleh apapun sekarang. Bahkan seandainya ada barongsai di luar sana, dia tak akan peduli sama sekali. Karena yang dia inginkan sekarang adalah hanya mendengarkan cerita dari ibunya.


“Dan dia memutuskan mengatakan cinta sama mama ketika dia sudah merasa mapan dan mampu membahagiakan mama,” Virgo pernah memikirkan tentang hal seperti ini sebelumnya. Hubungan asmara di masa lalu, dia hanya beranggapan hal semacam itu hanya ada di dalam sebuah sinetron saja, tapi nyatanya tidak.


“Mama sejak dulu memang hanya menganggap dia sebagai sahabat yang baik dan tidak ada perasaan melebihi itu. Karenanya mama menolak untuk menjalin hubungan yang lebih. Dan ternyata dia memaksa mama untuk mencoba terlebih dahulu. Mama nggak mau, tapi dia tetap memaksa. Karena tak tahan dengan desakannya, maka mama mencoba untuk menerima, dan kami membuat perjanjian.” Bukan hanya Virgo yang mendengarkan dengan seksama, Firman pun juga tak mengabaikannya begitu saja.


“Mama menyerah di bulan ketiga kita menjalin hubungan itu karena mama benar-benar nggak bisa. Mama bilang jika mama nggak bisa melanjutkan karena mama nggak mau terus-terusan membohongi perasaan mama sendiri. Kenapa mama harus membuat orang lain bahagia sedangkan orang itu tak melakukan hal yang sama? Begitulah pikir mama waktu itu. Sayangnya Ardi tak terima.”


Keras kepala, memang itulah yang pernah Virgo pikirkan tentang Ardi di awal mendapatkan peringatan untuk tak mendekati Libra, dan memang begitulah sifat lelaki itu.


“Bukan nggak menjelaskan, mama berkali-kali mengatakan jika mama benar-benar nggak bisa menjalin hubungan diluar persahabatan. Dia marah dan berubah menjadi kasar.”


“Kasar?” ibu Virgo menatap Virgo ketika dia berceletuk.


“Iya, bukan kasar dengan memukul ataupun mencelakai mama, tapi ucapannya membuat mama merasa sakit hati. Karena usahanya itu tidak membuahkan hasil dan mama bertahan dengan keputusan mama, maka dia menghilang dan ternyata dia memantau mama dari jauh lewat seseorang.”


Kekehan itu terdengar dari mulut ayah Virgo. Mau tak mau membuat Virgo mengernyitkan keningnya dengan tanda tanya yang lebih besar di atas kepalanya. Tak ada yang lucu sama sekali bukan? Begitulah kira-kira.


“Drama banget,” ucap Virgo tak menyangka. “Aku tahu kelanjutannya. Orang itu pasti Papa, dan endingnya kalian menikah, karena itu Ardi sangat membenci, Papa. Pasti begitu kan?”


“Begitulah,” kata ayahnya dengan santai. “Tapi papa bukan lelaki yang akan manut begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Ardi,” lanjutnya. “Sampai mama menikah sama papa, tak ada rahasia dari awal.”


“Jadi?” Virgo sepertinya sekarang lebih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya di masa lalu.


“Karena mama yang bercerita dari awal, biar mama aja yang melanjutkan,” Firman hampir mengeluarkan ceritanya ketika sang istri membekap mulutnya sambil memicing menatapnya.


“Oke! Oke!” kata Firman mengalah.


“Waktu itu ayahmu datang ketika mama sedang ada di sebuah kafe, sendirian,” berdehem sebentar kemudian melanjutkan, “Dia datang dan tanpa permisi duduk di depan mama dengan tenang dan menatap mama lumayan lama. Mama kira dia orang gila yang keluar dari rumah sakit jiwa. Ternyata bukan. Mama nggak terima dengan apa yang dilakukan oleh papamu dan menegur dia untuk buat dia mencari meja lain. Tapi dia nggak mau.”


Virgo menaikkan kakinya ke atas sofa dengan menekuk kaki itu sambil memeluk bantal sofa. Benar-benar menghayati apapun yang sedang diceritakan oleh ibunya.


“Aku datang karena Ardi,’ itu yang dikatakan papamu waktu itu. Jelas mama diam dan ikut menatap papamu.”


“Dan papa tahu kalau mamamu itu sudah terpikat sama papa di detik itu, iya kan?” bangganya Firman ketika mengatakan itu.


Decakan itu kembali terdengar karena ucapan Firman. Pelakunya tentu saja ibu Virgo. Namun kemudian beliau melanjutkan. “Papamu dengan gamblangnya bilang kalau dia disuruh Ardi buat deketin mama, buat mama jatuh cinta sama dia, kemudian ditinggalkan begitu saja. Dan mama lebih percaya lagi kalau orang bernama Firman ini benar-benar nggak waras.”


Ibu Virgo bahkan menatap putranya itu dengan wajah yang serius mengingat kelakuan suaminya itu di masa lalu. “Sekarang giliran papa yang cerita!” perintahnya kepada lelaki di sampingnya itu.


Firman mengangguk, “Papa nggak mau menjadi laki-laki brengsek yang menghancurkan perasaan perempuan. Karena papa tahu papa bisa melakukannya. Papa bisa membuat perempuan-perempuan mudah sekali jatuh cinta sama papa.”


“Kok, Papa PD banget sih?” Virgo yang bertanya.


“Karena memang begitu faktanya, Vir. Karena kita diciptakan Tuhan dengan wajah yang bukan kaleng-kaleng. Kamu setuju sama papa kan?”


Virgo mengangguk-angguk, “Tapi bener juga sih, Pa.” Setujunya kepada lelaki itu.


“Papa bilang sama mama kalau dia nggak berhak mendapatkan perlakuan yang seperti itu dari Ardi. Karena itu kita mulai berpura-pura dan membuat Ardi yakin jika papa berhasil melakukannya. Sayangnya seperti yang kamu bilang tadi, drama banget, papa jatuh cinta sama mama. Pun sebaliknya. Papa bilang dengan jujur dan meyakinkan mama kalau papa benar-benar serius dengan apa yang papa ucapkan__ dengan menikahi dia.”


“Karena itu, Om Ardi, marah sama Papa?”


“Ya, karena Om Ardi menganggap papa berkhianat. Dia masih mencintai mama kamu dan dia tak ingin jika pernikahan itu berlangsung lama. Sayangnya dari segala usahanya tak ada yang berhasil. Karena papa merasa dia harusnya berhenti bertindak lebih jauh, maka papa yang mengirimkan seseorang untuk bisa menaklukkan hati kerasnya.”


“Tante Jihan?”


“Anak papa memang jempolan,” Firman mengacungkan jempolnya kepada Virgo ketika dia menyebutkan nama ibu Libra.


“Benar, tante Jihan adalah teman baik papa. Sayangnya dia bukan seperti om Ardi yang mencintai sahabatnya sendiri ya,” ayah Virgo itu bahkan harus terkekeh dengan ucapannya sendiri.


“Tapi, Libra pernah cerita sama aku kalau Om Ardi itu kelihatan sekali sayang banget sama istrinya, Pa? keluar kota aja tante Jihan harus ikut serta.” Virgo memang dulu ketika masih bersama Libra, mereka saling menceritakan orang tua mereka masing-masing.


“Ya karena memang om Ardi itu benar-benar takluk sama tante Jihan. Sekerasnya om Ardi, akan tetap lemah kalau tante Jihan sudah menunjukkan ‘kekuasaannya’ akan sesuatu.” Obrolan ini memang terdengar seru bagi Virgo dan juga panjang.


“Memangnya apa yang dilakukan tante Jihan sampai bisa menaklukkan om Ardi?” Virgo kembali bertanya.


“Papa nggak tahu,” jawabnya enteng, “Karena itu bukan lagi urusan papa. Papa sudah memiliki keluarga kecil sendiri dan itu sudah cukup, tak perlu lagi mengurusi masalah orang lain.” Sejauh Firman bercerita, ibu Virgo bahkan hanya diam mendengarkan.


Tapi setelah namanya disebut oleh sang suami, barulah dia kembali bersuara. “Hei, wahai Sintya, kenapa diam saja?” begitu katanya dengan wajah yang sangat menyebalkan, “Kamu nggak mau menambahi ceritanya?”


“Cerita itu sudah berakhir, nggak ada lagi kelanjutannya. Sekarang Virgo paham kan siapa yang licik dari dua orang ini? Ardi, atau Firman? Virgo pasti bisa menilai.”


Virgo menyenderkan kepalanya di kepala sofa dengan menarik nafas panjang sambil menatap langit-langit ruangan tersebut. Dia sama sekali tak menyangka jika ada cerita yang seperti ini di kehidupan nyata. Biasanya dia hanya mendengar itu dari sebuah FTV yang menjadi tontonan asisten rumahnya.


“Jadi setelah itu hubungan kalian putus sama sekali?”


“Hanya berbicara seperlunya saja. Karena bagaimanapun kita adalah partner bisnis. Kamu pasti nggak akan lupa dengan persahabatan antara kakekmu dan juga kakek Libra bukan?”


Virgo mengangguk, “Ya, aku paham. Tapi, Pa, om Ardi sepertinya sangat menghormati sekali dengan kakek?” Virgo tak akan melupakan bagaimana sikap ayah Libra itu kepada kakeknya sepengetahuannya.


“Itu pun benar,” jawab ayah Virgo, “Karena ketika ayah Ardi meninggal dan perusahaannya sempat terpuruk, hanya kakekmu lah orang satu-satunya yang berdiri dengan tegak membantu perusahaan itu agar tetap berdiri kokoh. Dan kakekmu jelas berhasil.”


Dan lagi-lagi Virgo paham akan situasi kali ini. Bibirnya menyeringai ketika dia lagi-lagi memiliki senjata baru untuk ‘melawan’ Ardi jika memang diperlukan.


*.*