Blind Love

Blind Love
Seri 20



‘Curhatan’ yang dilakukan sore tadi benar-benar membuahkan hasil yang sangat baik bagi kedua orang yang sedang bertengkar itu. Mbak Gendis dan Bang Ridho akhirnya berbaikan dan akan membicarakan masalah kelanjutan hubungan mereka.


Virgo yang masih betah di rumah kini ‘bertapa’ di dalam kamarnya sambil tiduran di ayunan kain yang diletakkan di balkon kamarnya. Angin segar menerpa kulitnya. Nyaman sekali rasanya.


Otaknya mencerna tentang ucapan Bang Ridho tadi ketika mereka membicarakan masalahtanda-tanda orang jatuh cinta. Sebulan masih agak lama berakhir, dan Virgo masih saja mencari tahu tentang tiga kata yang benar yang dia rasakan kepada Libra.


Kalau dalam jangka waktu satu bulan itu dia tak mendapatkan jawabannya, entah apa yang akan di lakukan.


Libra juga melakukan hal yang sama.Beberapa kali dia memikirkan tetang dirinya dan juga Virgo. Jika Virgo buta akan masalah cinta, maka Libra tidak. Meskipun tak ahli dan paham sekali dengan ini, dia masih bisa memahami jika di dalam hatinya ini adalah ketertarikan yang luar biasa dan juga rasa sayang itu mulai ada.


Dulu dia yang merasa jika ketidak adilan itu memang dirasakannya ketika keluarganya merencanakan perjodohan ini. Tapi sekarang, dia merasa jika mungkin dengan perjodohan itulah cara Tuhan mendekatkan dirinya dengan Virgo.


Kembali membuka novelnya, dia membaca lagi. Ada banyak hal yang bisa diambil dari kisah yang di bacanya di dalam buku tersebut. Kedua orang yang ada di dalam buku tersebut menceritakan bagaimana kisahnya dengan sudut pandang mereka. Sehingga bisa mengetahui bagaimana perasaan dua orang itu dengan sangat baik.


‘Aku mendapatkan hatinya dengan usaha keras. Aku mencintainya dengan pupuk terbaik sehingga cinta itu selalu tumbuh dan mengembang dengan baik pula. Kalau aku ditanya bagaimana aku mencurahkan rasa cinta itu kepadanya, maka mudah saja. Aku menunjukkan secukupnya meskipun hatiku memproduksi banyak, agar dia juga tak merasa berlebihan, kemudian kekenyangan, akhirnya di muntahkan’


Libra tersenyum membaca kalimat dari isi hati lelaki di dalam novel tersebut. Memang benar, sesuatu hal memang tak baik jika sampai berlebihan. Dia suka dengan karakter seseorang yang seperti itu. mencintai tapi tak mengekang, membebaskan tapi diikat.


“Satu bulan ini akan menjadi penentuan antara hubungan aku sama Virgo. Kalau memang Tuhan mengijinkan, aku mau sama dia dan menjalin hubungan dengannya. Kalau memang enggak, Tuhan pasti menyiapkan seseorang yang lebih baik dari dia.” Libra mengatakannya dalam keheningan malam. Berharap angin malam yang berhembus mendengarkannya, langit beserta bintang menjadi saksinya.


Kekehan itu terdengar ketika dia menyadari jika dia dangdut sekali mengatakan itu. Tapi biarlah, toh tak ada orang yang tahu juga kan?


*.*


Virgo mengatakan semuanyakepada Aksa. Dia mencurahkan isi hatinya kepada kakaknya itu.


“Itu keputusan yang kalian buat, bukan masalah kalau begitu. Yang penting setelah itu kebingungan kalian terjawab.” Sambung Aksa.


“Kalau menurutku, kamu itu emang udah cinta sama dia. Apalagi istilahnya kalau bukanitu?” Love menaikkan alis kanannya.


“Kakak sok tahu.”


“Aku emang tahu.” Tak lupa pelototan itu diberikan kepada Virgo oleh Love. “Kamu pengen ketemu dia waktu itu tanpa ada alasan yang pas. Itu adalah reflek hatimu karena dia memang gadissatu-satunya yang terngiang di dalam pikiranmu.” Lanjutan ucapan Love. “Itu adalah kebenaran.”


“Biar dia putuskan sendiri saja apa yang dia rasakan. Kamu nggak perlu ikut-ikutan.” Aksa menjawab ucapan istrinya dengan santai. “Yang pentingkan kamu udah tahu perasaanmu kalau kamu cinta nyasama aku, dan aku juga mecintaimu. Urusan beres.”


“Uluh, manisnya lah suamiku ini.” Love mencubit pipi suaminya dengan gemas. Menggelikan. Virgo yang melihat itu justru berekspresi jijik. Kemudian menenggelamkan wajahnya di bantal sofa dan berteriak di sana.


“Aku pulang aja.” Berdiri dan berlalu dari sana. Tanpa lagi menoleh meskipun panggilandari Love menggaung di dalam ruangan.


Begitulah orang yang dimabuk cinta. Meskipun anak mereka sudah besar, tapi tak ada sungkan sama sekali menunjukkan rasa cinta keduanya.


“Kasihan banget si Virgo,” Love bersuara ketika orang yang menjadi bahan perbincangan itu sudah tak lagi terlihat. “Perasaan sendiri aja nggak tahu. Udah jelas-jelas kalau dia itu cinta sama Libra, malah nggak paham. Heran.”


“Udahlah, orang kan beda-beda. Namanya masih remaja, baru ngerasaain lagi.” Love mengedikkan bahunya tak acuh dan memiliki ide di kepalanya ketika mereka tak memiliki kegiatan.


“Berkebun yuk, Yang.” Aksa justru merasa heran dengan perempuan di sampingnya itu karena usulan istrinya sangat tak biasa.


“Serius?” Pasalnya, tak pernah sekalipun Love melakukan hal-hal seperti itu sebelumnya. Mungkinkah dia ingin mengerjakan hal yang baru? Entahlah, belum ada yang tahu jawabannya.


“Iya.” Anggukannya semangat sekali.


“Mau nanema pa?”


“Cabe, tomat, apa aja yang bisa dimanfaatkan.” Masih tak menjawab karena Aksa masih tak menyangka jika Love mengusulkan hal tersebut.


“Dapet inspirasi dari mana?” Masih berlanjut saja pertanyaan si Aksa ini.


“Bunda,” Kenya memang sejak dulu suka sekali menanam baham-bahan dapur di belakangr umahnya, dan seperti baru kali ini Love mendapatkan inspirasi untuk melakukan hal yang sama. “Aku kan waktu itu masak sama bunda, dan aku tertarik sama kebun kecil di belakang rumah karena pas waktu masak baru metik, jadinya seger banget.” Ada rasa keinginan besar yang terlihat dari sorot mata Love ketika mengatakan itu.


“Ayo, Yang!” Ditariknya tangan Aksa agar lelaki itu berdiri dan segera melakukan apa yang di mintanya.


“Oke. Aku ganti baju dulu. Kamu juga.” Hormat Love membuat Aksa terkekeh dan keduanya mulai bersiap-siap untuk memulai kegiatannya hari ini.


Bukan hanya Aksa dan Love, Avez dan Ixy juga ikuts erta. Memulai dengan meletakkan tanah dan di beri pupuk, kemudian mulai menanam biji-biji di sana.


Ixy dengan heboh menanam apapun yang ditemukannya di belakang rumahnya. “Adek tanem ini ya.” Love memberikan bibit Bunga yang sudah dipersiapkan agar putrinya tak menanam sembarangan lagi.


Ixy menurut dan menanam bibit bunga yang nanti akan di pindahkan ke halaman depan. Sedangkan Avez sibuk dengan rumput yang tumbuh di belakang rumahnya. Agar terliha trapi, maka dia dan ayahnya mencabuti rumput-rumput tersebut.


“Kok Ibu dan Bapak yang mengambil alih kerjaan saya?” Seorang tukang kebun yang bekerja di sana datang dan protes dengan apa yang dilakukan oleh majikannya.


“Bapak kerjakan yang lain aja. Aa, kuras kolam ikan itu aja, Pak.” Katanya memberi pekerjaan.


“Udah saya kuras kemarin, Buk.”


“Kolam orang?” Yang dimaksud adalah kolam renang yang tak jauh dari tempatnya sekarang.


“Tiga hari lalu saya sudah membersihkan, Bu.” Pekerja Love memang sangat bisa diandalkan. Pekerjaan mereka tak pernah terbengkalai.


“Kalau begitu, Bapak istirahat aja. Tidur aja sana.” Sedikit mengusir lelaki paruh baya itu namun memberi perintah yang siapa saja tak akan menolak.


“Masa Bapak dan Ibu kerja, saya malah tidur.”


“Lah, kan biasanya kalian yang kerja, saya yang tidur.” Lelaki itu hanya tersenyum sopan ketika majikannya mengatakan hal itu.


“Udah nggak papa. Bapak istirahat dulu. Kalau nanti saya butuh sesuatu, saya panggil, Bapak.” Katanya baik hati.


*.*


“Bunda enak.” Ixy berkomentar. Keringat yang tadi masih keluar dari tubuh mereka sekarang sudah kering karena angin yang menerpanya.


“Iya dong. Kan buatan bunda.” Jawaban Love.


“Besok buat lagi ya, Bunda.” Avez pun makan dengan lahap. Dan sejak tadi hanya singkong saja yang di makan. Makanan sangat sederhana tapi menjadi nikmat ketika di makan bersama orang-orang yang kita cintai.


“Abang nggak mau ubi?” Love mendekatkan sepotong ubi goreng di depanAvez agar bocah itu bisa mencobanya.


“Nanti aja, Bunda, abang mau makan ini dulu.” Masih menikmati singkongnya dengan lahap. Kemudian Love berkomentar,


“Ganteng-ganteng sukanya singkong.” Sambil terkekeh.


“Nggak papa ya, Bang, yang penting enak dan halal.” Jawab Aksa. Lelaki itu sudah selesai memakan cemilan yang ada di depannya. Merasa senang melihat anak-anaknya menikmati kebersamaan mereka.


Merebahkan tubuhnya di sana, Aksa menggunakan kedua tangannya untuk bantal. “Nyamannya.” Katanya. Perut kenyang, angin semilir, dan perpaduan itu membuat matanya mengantuk. Di pejamkan matanya, dan tak lama kemudian diikuti oleh kedua anaknya dan istrinya.


Setelahnya mereka tertidur di sana. Bahkan Avez dengan nyamannya kakinya menindih kaki Ixy. Kebersamaan seperti ini yang sangat berharga bagi keluarga. Kehidupan sederhana tak masalah yang terpenting adalah hati mereka bahagia. Dan hal itu yang terjadi kepada keluarga Aksa.


Ketika di jaman sekarang ini banyak orang yang sibuk dengan gadget bahkan ketika bersama keluarga mereka, berbeda dengan Aksa dan Love yang sangat membatasi diri dengan kesenangan sesaat itu. Bahkan baik Avez maupun Ixy juga sama sekali tak pernah berjam-jam membawa ponsel dengan mengakses youtube.


Justru mereka bedua cenderung tak betah membawa benda itu. Pernah suatu hari Love mencoba memberinya ponsel dan dibiarkan anak-anaknya menonton youtube, namun yang terjadi setelahnya adalah mereka mengeluh bosan. Jadi kalau di tanya apa yang mereka lakukan ketika liburan atau mengisi waktu luang? Avez sibuk dengan sketboard, piano, atau drumnya. Sedangkan Ixy sibuk dengan merecoki kegiatan lainnya. Atau kadang merecoki asisten rumah tangganya. Begitulah kehidupan keluarga Aksa dan Love.


“Anak-anak lelap banget tidurnya.” Aksa sudah bangun namun masih berbaring di sana. Pun dengan Love.


“Adem soalnya.” Kedua orang itu menatap kedua anaknya dan merasa kebahagiaan itu menelusup masuk ke dalam hati mereka.


“Yang!” Panggil Love kepada sang suami. “Semoga kita bisa membawa mereka menjadi anak-anak yang hebat ya. Kita selama ini sudah berusaha untuk menanamkan iman di hati mereka agar mereka selalu takut akan Allah. Agar dalam keadaan sesulit apapun mereka tak pernah berpikir sedikit pun akan melanggar garis dan ketentuanNya.”


“Ya. Kita sudah mendidik mereka dengan sangat baik. Yang terpenting sekarang adalah kita bisa memantau pergaulannya. Jangan sampai dia bergaul dengan orang yang salah.” Masih sambil berbaring, Aksa dan Love saling memandang.


Cinta di mata mereka menatang terang-terangan untuk pasangan itu. “I cinta U.” kata Aksa.


“Aku Love kamu juga.” Jawab Love yang membuat keduanya terkekeh bersama dengan kekonyolan yang mereka buat sendiri.


“Bangunin anak-anak. Kita masuk. Udah waktunya dzuhur.” Aksa juga bangun dan ikut melakukan ucapannya sendiri yang tadi di katakan oleh sang istri.


*.*


Skors masih tersisa dua hari lagi. Virgo yang memang tak memiliki kegiatan, kini hanya duduk bengong di depan rumahnya. Dengan secangkir coklat dan ponsel di tangannya seolah semua itu adalah hal yang sangat menyenangkan.


Otaknya bertanya kepada dirinya apa yang harus dialakukan agar dia tak merasa kebosanan. Maka dengan helaan napas Panjang, dia berdiri dan langsung menunggangi motornya, memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya kemudian meluncur ke tempat tujuannya, ke toserba yang pernah dia datangi bersama Avez dan Ixy waktu itu.


Dia akan nongkrong di sana sendirian. Tak masalah dengan itu, toh dia dilahirkan juga sendirian.


Memesan ring chicken, kentang goreng, dengan minuman jus melon, dia mencari kursi agar bisa bersantai di sana. Kembali memainkan ponselnya dengan santai.


“Virgo?” Siapa yang menyangka jika dia akan bertemu dengan orang yang memanggilny aitu.


“Hai.” Katanya. Senyumnya juga terbit entah karena formalitas atau memang tulus melakukan itu.


“Lo nggak sekolah?” Tanyanyakepada Virgo.


Virgo terkekeh. “ Gue di liburkan sama guru BP. Baik sekali emang guru gue.” Tentu saja jawaban itu menimbulkan reaksi bagi Lelaki yang duduk di depan Virgo itu.


“Lo di skors?” Matanya melebar dengan dramatis.


“Biasa aja, elah. Gitu amat,” Santainya Virgo. “Lo sendirikenapa di sini? Nggak sekolah?”


“Pulang pagi.” Virgo mengangguk mengerti dan tak perlu bertanya lebih jauh lagi.


“Nggak pesen?” Pertanyaan Virgo ketika makanan yang di pesannya sudah datang di mejanya.


“Edzard! Gue harus pulang deh. Capek banget.” Virgo dengan reflek menatap ke arah seorang yang baru saja berbicara.


Tak ada kata yang terucap dari bibir Virgo namun ekspresinya menegang. Pun dengan gadis itu.


“Biar gue antar lo pulang.” Edzard berdiri dan menatap gadisitu. Sedangkansi gadis masih terpaku dengan keberadaan Virgo di depannya.


“Vir!” Meskipun merasakan ketidak tenangan dalam hatinya yang tiba-tiba dirasakan, tapi dia menyapa lelaki itu.


“Libra!” Senyum itu kecut namun tak diperlihatkan.


Mereka masih saling menatap. Dan Edzard menginterupsi. “Ayo! Katanya mau balik.” Virgo berdehem untuk mengurai kecanggungan dan duduk kembali.


“Serius nggak mau makan dulu, Ed?” karena pertanyaan sebelumnya belum terjawab, maka Virgo kembali bertanya.


“Enggak. Gue anterin Libra dulu. Takutnya dia kecapekan.” Edzard menarik tangan Libra dan gadis itu tak berontak sama sekali. Itu membuat Virgo merasakan hal lain di dalam hatinya. Dia sama sekali tak suka Libra melakukan itu bersama Edzard. Otaknya memikirkannya juga tak terima.


Sendok yang di pegangnya di genggam dengan kuat. Memejamkan matanya, kemudian menarik napasnya pelan berusaha meredam perasaan ingin marah karena melihat Libra bersama dengan Edzard. Sayangnya hal itu tak berhasil.


Maka entah dorongan dari mana, dia berdiri dan keluar dari tempat itu. Makanannya memang sudah di bayar ketika dia memesan langsung di kasir, jadi dia hanya perlu melangkahkan kakinya lebar untuk menemukan keberadaan Libra dan Edzard.


*.*