Blind Love

Blind Love
Kisah 42



Al menyeringai ketika dia melihat El yang berjalan ke arah gerombolan pemain basket setelah selesai pertandingan. Meskipun salah satu tim mengalami kekalahan, tapi tak ada yang merasa sakit hati, mereka berkumpul menjadi satu dan saling bercanda.


El berkacak pinggang sembari menatap Al. “Seneng lo bisa ngalahin kelas gue?” tanyanya dengan wajah songongnya.


“Biasa aja.” Jawab Al dengan santai. Kemudian matanya beralih menatap Odel, “Hai, Del. Tadi support siapa lo?” dan itu benar-benar membuat El mendengus.


Tak mau kalah, dia duduk tepat di samping Rigel sambil masih menatap Odel yang masih berdiri. “Support kalian berdua.” Jawab Odel tak perlu mengambil pusing karena jebakan tersebut, “Kalau kelas kami yang menang ya syukur, kalau kelas Al yang menang ya udah.” Jawabnya. Kemudian ikut duduk di samping El. Menatap Rigel yang sudah mulai gontok-gontokan dengan El.


Sejak ucapan ceplas-ceplos El, dua orang itu memang sering sekali sekarang beradu mulut. Bahkan kadang hal sekecil apapun dibahas dan menjadi panjang. Memang bukan berakhir dengan pertengkaran, bahkan setelah mereka adu mulut saja, setelahnya mereka akur kembali.


Selesai Al dan Rigel membersihkan tubuhnya dari keringat, mereka berempat keluar dari gedung dan berjalan menuju kantin. Orang-orang yang melihat itu jelas saja merasa penasaran karena mereka pasti tahu apa yang tadi dikatakan oleh El mengenai adik dan kakak ipar.


Ada yang beranggapan jika memang El menginginkan Al bersama sahabatnya, Odel. Namun ada juga yang memiliki pemikiran lain terkait hal tersebut.


Dan tak ada yang peduli dengan pemikiran dari orang-orang. Pendapat orang lain sama sekali tak penting bagi mereka.


“Nanti malam kita berangkat bareng aja.” Al memberi ide setelah menyesap minuman yang ada di depannya. Mereka sudah berada di kantin dan menyantap makanan.


“Siapa yang jemput?” Rigel menanggapi.


“Kami.” kata Al, “Kalian siap-siap aja.”


“Acaranya jam delapan, menurut lo nggak kelamaan kalau harus jemput kami dulu?” Rigel menjawab lagi. Rumah Al dan Rigel memang tidak terlalu jauh, hanya saja kadang waktu yang dibutuhkan masih agak lama karena macet.


“Karena itu, para cewek kalau dandan yang cepat biar nggak lama.” Tatapan itu diberikan Al kepada El yang ada di depannya. Karena lelaki itu tahu, kembarannya itu bisa membutuhkan waktu lama jika sudah ada di depan cermin.


“Gue kan perlu tanya dulu kepada cermin ajaib siapa cewek yang paling cantik. Sebelum dia menjawab ‘El’ gue nggak mau beranjak dari kursi meja rias gue.” Konyol, hanya itulah kata yang pantas dengan apa yang dikatakan oleh El.


“Ya, ya. Terserah lo aja.” Jawab Al dengan ringan. Meladeni El yang sedang kumat, akan berbuntut panjang. Karena itulah semuanya diam tak menanggapi. Rigel diam, Odel pun sama.


Dan ketika waktunya tiba menghadiri puncak dari ulang tahun sekolahnya, semua siswa benar-benar saling berlomba-lomba untuk menggunakan pakaian yang bagus, makeup yang yang cantik, dan akan berjalan di karpet merah yang terbentang dari depan gedung serbaguna besar di sekolahnya sampai tempat mereka nanti akan dipotret seolah mereka semua adalah artis papan atas.


Empat orang datang dan keluar mobil. Jika dalam gerakan slow motion, mungkin hal ini akan terlihat keren sekali.


El mengenakan gaun selutut berwarna hitam dengan campuran ungu di beberapa bagian. Clutch yang dibawanya berwarna ungu, sepatu hitam, anting panjang, dan rambutnya di gerai begitu saja dengan curly di bagian bawahnya. Cantik sekali.


Rigel? karena ancaman dari El yang harus menggunakan pakaian yang senada dengan dirinya, maka lelaki itu mengenakan kemeja berwarna ungu, dan jas berwarna hitam. Tak ada dasi yang digunakan, dan ungu benar-benar cocok dengan Rigel. Bahkan Odel pun sempat memuji lelaki itu tadi.


Sedangkan Al dan Odel menggunakan pakaian bernuansa hitam putih. Odel yang mengenakan gaun berwarna putih, Al juga mengenakan kemeja berwarna putih pula. Hanya saja, Al lebih lengkap dalam berdandan. Ada dasi yang menggantung di lehernya.


Cahaya kamera menyorot ke arah mereka untuk mengambil gambar mereka. El mengalungkan tangannya ke lengan Rigel sambil berpose seolah dia sedang mendalami perannya sebagai seorang artis papan atas. Kemudian setelah selesai dengan red carpet, mereka berempat masuk ke dalam gedung yang sudah dihias sedemikian rupa dengan banyak makanan berjejer di sana.


Keempat remaja itu masuk ke sana, semua mata sontak menatap ke arah mereka. Perhatian benar-benar mengarah kepada Al Odel, dan El Rigel.


Al, sepertinya akan mencatat sejarah baru karena datang dengan menggandeng seorang perempuan dan itu jelas hal langka sekali. Rambut yang tertata rapi, membuat kesan dewasa terlihat nyata sekarang. Rigel yang tak peduli dengan sekar hanya manut saja kemana tangannya ditarik oleh El.


“Gue mau cicipi makannya. Laper.” Katanya yang menarik Rigel di meja prasmanan. Melihat makanan yang berjejer dengan rapi itu membuat perutnya lapar seketika.


“Kita makan, ya?” tanyanya kepada lelaki yang digandengnya untuk meminta persetujuan, padahal itu hanya sebuah formalitas.


“Iya.” Sepertinya Rigel juga merasa lapar karena dia meminta El untuk mengambilkan makanan itu dengan banyak, “Ambil yang banyak. Gue juga laper.” El langsung mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang diinginkannya. Tak peduli jika dia menjadi perhatian semua orang.


“Gue ambil minumannya.” Rigel langsung melesat pergi setelah mendapatkan anggukan dari El.


“Kalian beneran jadian ya, El?” El masih mencoba untuk menambah makanan di atas piringnya setelah Rigel pergi, dan datanglah dua gadis yang sepertinya penasaran dengan kehidupan percintaan El dengan Rigel.


Bukan El namanya kalau dia langsung menjawab pertanyaan yang diberikan oleh orang lain, sedangkan dia sendiri merasa tak suka dengan pertanyaan tersebut.


“Jadi, urusannya sama lo apa ya dengan gue jadian atau enggak sama si Rigel?” Gadis itu menatap dua orang tersebut dengan datar namun penuh dengan peringatan.


“Elah, cuma nanya aja sih, El. Songong banget, lo.” Dua gadis kepo itu sepertinya geram dengan El.


“Semua orang juga udah tahu kan kalau gue songong, kenapa masih pengen tahu aja urusan gue?” Jika sudah begitu, maka sanggahan apalagi yang harus dikatakan oleh dua gadis itu selain hanya diam dan mendengus.


“Muka lo biasa aja.” Rigel datang dengan membawa dua minuman, “Makan ayok.” Ajak Rigel kepada El dan membuat gadis itu hanya mendengus saja dan kemudian berjalan lebih dulu diikuti Rigel di belakangnya.


Mereka duduk di kursi yang sudah disediakan yang juga sudah ada banyak orang di sana. Wajahnya masih datar dan bibirnya tak ada senyum sama sekali. Kedua orang itu melupakan keberadaan Al dan juga Odel yang entah kemana.


El menancapkan garpu di bakso goreng seolah memiliki dendam kesumat dengan bakso tersebut. Kemudian memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan cepat.


“Ada apa lagi sih, El? Perasaan nggak ada plongnya sama sekali hati kamu itu.” Rigel tak tahan melihat El yang memasang wajah keruhnya seolah hidupnya banyak sekali masalah.


“Nggak ada. Gue benci sekali dengan orang kepo macam mereka tadi itu.”


“Bukan nanggapi, Gel, tapi mereka memang perlu di skak biar nggak ngelunjak.”


“Lo kan hanya perlu menjawab seadanya. Nggak perlu juga marah-marah.”


“Yang ada mereka kesenengan.” El mana bisa mau mengalah kalau sudah menyangkut privacy. Karena baginya, dia tak pernah peduli dengan urusan orang lain. Kenapa orang lain harus mengurusi kehidupannya? Seperti itulah kira-kira pemikirannya.


Rigel menggelengkan kepalanya, mencubit pipi El yang menggelembung karena makanan di dalam mulutnya masih belum di telan, “Kendorin itu isi kepala, cepat tua baru tahu.” Ucap Rigel. Dan sama sekali tak menanggapi apa yang dikatakan oleh lelaki itu, El masih saja terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya sampai dia benar-benar merasa kenyang.


Acara dimulai. Mc sudah naik ke atas panggung dan meriahkan suasana. Bukannya ikut menyambut denan antusias, El dan Rigel justru berdiri di belakang dengan pose yang sama yaitu dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap dengan datar siswa lain yang sepertinya menikmati sekali acara tersebut.


“Malam ini akan ada banyak sekali permainan, dan akan ada doorprize yang untuk pemenangnya. Kalian siap?” Teriakan dari MC itu mendapatkan sambutan antusias semua murid.


“Tahun ini akan ada predikat Raja dan Ratu sekolah yang akan dipilih oleh orang yang berkompeten dalam hal ini. Bersiap-siaplah.” Kata MC lagi. Dan keriuhan itu semakin terjadi.


*.*


Al ada diatas panggung dengan duduk diatas kursi dan sebuah gitar di tangannya. Odel ada di bawah panggung dengan menatap lelaki tersebut. Pesona Al keluar tanpa ampun sekarang. Bukan hanya satu orang yang terpesona, tapi semuanya. Termasuk Odel.


“Saya ingin ditemani seseorang di sini. Nggak enak rasanya kalau sendirian.” Dan suara keriuhan itu terjadi, “Odel! Please!” Katanya dengan senyum kecilnya. Odel tak siap dengan hal tersebut. Tatapan orang-orang sejak tadi seolah menghakiminya, tapi Al seolah tak peduli dengan itu dan memperkeruh keadaan.


Suasana seketika hening, namun El dan Rigel maju ke depan dan memberikan semangat kepada Odel. El jelas tahu jika sahabatnya itu memang ahli dalam alat musik biola.


“Odel! Odel! Odel!” Katanya dengan semangat. Mau tak mau, malu tak malu, Odel tetap naik ke atas panggung dan berdiri di samping Al yang sudah duduk dengan tenang.


“Terima kasih, Odel.” Kata Al yang karena gadis itu menyetujui ajakannya. “Bang! Biola.” katanya memberi tahu kepada anggota band yang sengaja diundang oleh sekolah untuk pesta kali ini.


Lelaki yang dipanggil ‘Bang’ oleh Al tersebut memberikan Biola yang dipegangnya dan memberikannya kepada Odel. Gadis itu memang jarang sekali berada di pertunjukan seperti ini, atau memang tak pernah? Karena memang dia merasa jika kebiasaannya itu memang bukan untuk publik.


Odel menerima dengan jantung yang bertalu dan menatap Al dengan gugup. Matanya tak berani menatap ke penonton karena dia takut akan kenyataan jika mungkin dia akan ditatap seolah semua orang menghakiminya.


Al tersenyum kecil sampai tak ada yang menyadari jika lelaki itu sedang tersenyum, kakinya melangkah untuk mendekati Odel dan membisikkan lagu yang akan mereka duetkan.


“Kamu bisa kan?” tanyanya kepada Odel dan ditanggapi dengan anggukan.


Al juga mengangguk memberi isyarat kepada gadis itu untuk memulai. Odel menggesekkan senar dan sebuah nada terdengar. Al dan Odel belum pernah latihan sekalipun bukan? tapi perpaduan antara gitar yang dimainkan oleh Al dan biola oleh Odel, benar-benar menghasilkan nada yang luar biasa. Semua orang terpukau.


Bukan hanya yang menonton saja yang menikmati nada-nada indah tersebut, Odel yang tadinya merasa gugup dan kaku, kini juga semakin santai dan bermain dengan sangat baik. Al menyeringai sambil sesekali memejamkan matanya.


baru beberapa hari lalu mereka mengatakan ingin bermain bersama, dan sekarang sudah terealisasikan. Bukankah itu luar biasa?


Permainan berakhir dan riuh tepuk tangan terdengar serempak. Baik Odel maupun Al membungkuk untuk mengatakan terima kasih secara simbolis. Bahkan ketika turun dari panggung pun, Al menggandeng Odel. Dan di bawah, mereka disambut oleh El dan Rigel.


El masih bertepuk tangan dengan wajah datar. “Luar biasa.” Katanya, “Mungkin karena ini kalian bisa menjalin hubungan.” Komentarnya di depan semua orang, “Empat jempol buat kalian,” matanya melirik Rigel yang ada di sampingnya, “Pinjem jempol lo dua.” Katanya memerintah. Memberi tahu jika lelaki itu harus mengacungkan ibu jarinya seperti dirinya.


Konyol sekali memang si El tersebut.


MC kembali naik ke atas panggung dengan pujian yang diberikan kepada Al dan Odel. Mereka mengatakan jika mereka sangat menikmati permainan musik dua orang tersebut. Dan kini adalah saatnya untuk untuk melakukan hal romantis lain yaitu dengan menemukan pasangan mereka dengan cara mengacak pasangan dan siapa yang menemukannya dia adalah kandidat pemenangnya.


Rigel diam-diam berjalan mundur untuk menghindari permainan tersebut begitu juga dengan Al. Dua orang lelaki itu ingin meninggalkan gandengannya. “Ogah gue kalau gue harus pegang-pegang tangan cewek-cewek itu.” Komentar Al.


“Lo kira kenapa gue sekarang berusaha menghindar?” sambut Rigel sambil berbisik.


“Kalau gitu kita hanya perlu melarikan diri kan?” Dan keduanya langsung berjalan cepat untuk meninggalkan kerumunan sampai berhasil lolos. Membiarkan di dalam sana melakukan apapun yang ingin mereka lakukan.


“Tunggu!” Rigel menahan Al yang hampir jauh dari sana,


“Apa?”


“Kalau mereka yang dipegang-pegang oleh cowok lain gimana?” Benar, Al bahkan langsung menatap Rigel.


“Mereka kan nggak bakalan ikut kalau nggak ada pasangan?” Kesadaran Al cepat kembali untuk menanggapi ucapan Rigel, “Kalau gitu kita hanya perlu di tempat yang bisa melihat mereka tapi tak perlu muncul.” Ide Al.


“Oke!” Rigel jelas setuju akan hal tersebut. Kemudian mencari tempat dimana tak ada yang tahu mereka tapi bisa menghindari permainan konyol menurut dua lelaki tersebut.


Panggilan kepada Al bahkan dilayangkan sejak tadi karena MC tiba-tiba kehilangan jejak lelaki tersebut. “Mau lo panggil gue seribu kali pun, gue nggak bakalan muncul.” Jawabnya dengan pelan sambil mencari tempat yang nyaman.


Rigel melihat tempat yang sangat aman dan duduk di sana. Tak lupa mencomot satu wadah tempat prasmanan yang berisi buah anggur hijau. “Kita perlu tenaga untuk bersembunyi.” Dan Rigel terkekeh geli dengan itu, tak lupa mereka melakukan tos karena berhasil melakukan hal yang menggelikan.


*.*