
Sesuai janji, Sabtu malam Rifa datang ke rumah. Hari ini kami membahas materi Fisika yang belum kumengerti sepenuhnya. Berkali-kali aku mendebat penjelasan darinya, yang langsung ia balas dengan ngotot, berusaha mengembalikanku ke jalan yang benar.
“Ini gak boleh diginiin, Sayang,” tegur Rifa gemas. Tangannya mengambil alih pensil di apitan jari-jariku lalu mulai menulis. Mulutnya tak henti mengoceh. Kendatipun demikian, aku tetap merasa penjelasannya membingungkan dan kurang tepat.
Entahlah, otakku sedang tidak bisa diajak kompromi malam ini. Ia terus dipenuhi isi memo ancaman Unknown. Semua ini membuatku nyaris gila. Bahkan belajar pun tak berhasil mengalihkan pikiranku darinya.
“Tante, saya pulang dulu, ya? Maaf ngerepotin,” pamit Rifa setengah jam kemudian.
“Ah, nggak ngerepotin kok. Justru kami berterima kasih sekali Nak Rifa sudah mau mengajari Alexa.” Mama menepuk-nepuk bahu pacarku. Setiap bertemu pasti begitu.
Aku mengantar Rifa sampai ke halaman depan. Ia membuka pintu mobilnya, namun urung. Ditutupnya kembali pintu tersebut, lalu berbalik menghadapku yang malah bengong di tempat.
“Sayang,” katanya lembut. “Aku harap kamu gak terlalu memikirkan surat ancaman itu lagi. Kamu harus fokus untuk ulangan Fisika besok.”
Aku tersenyum simpul dan mengangguk.
Rifa mengacungkan tinjunya ke udara. “Fighting!”
“Haha … ya, fighting!”
***
Kertas penuh coretan sudah biasa. Tapi kalau meja penuh coretan, dan coretan tersebut berisi kumpulan rumus, itu baru kelakuan anak SMA.
Mereka sengaja menulis rumus Fisika di atas meja masing-masing untuk menghadapi ulangan Gelombang dan Bunyi yang akan dilaksanakan hari ini. Ada yang hanya menulis gambarnya, teorinya, satuannya dalam SI, bahkan ada yang menulis komplit. Hebat.
Kalau Yohanes tidak usah ditanya. Ia menjadi satu-satunya anak yang tidak riweuh, dan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengajari anak-anak lain.
Usai berdoa, tanpa basa-basi Pak Budi langsung membagikan soal. Khas Pak Budi, beliau membagi soal menjadi dua tipe: sisi kanan A, sisi kiri B.
Sebelum mulai menjawab, terlebih dahulu mataku mengeksekusi tingkat kesulitan tiap soal. Hmm, lumayan gampang, semalam aku dan Rifa sempat membahas soal-soal seperti ini. Satu sampai delapan bisa kulalui dengan mudah. Sembilan ... aku mengernyitkan kening, soal macam apa ini?
Diam-diam aku mencuri pandang ke belakang, mencari tahu kondisi Rifa. Anak cerdas itu tampak serius mengisi. Aku juga mau seperti dia! Maka aku bergegas menekuni kembali soalku. Setelah dicoba-coba, ternyata soal nomor sembilan tidak sesulit yang kubayangkan. Buktinya aku bisa menuntaskannya dalam waktu kurang dari lima menit dengan anggapan jawabanku sudah pasti benar. Kalaupun salah, mungkin rumusnya bisa menambah skor.
Tak terasa dua jam berlalu. Time is over. Pasrah, kukumpulkan jawaban ke depan kelas.
“Anter gue makan, yuk!” Tiba-tiba Cilla menyeret tubuhku ke luar kelas. Pak Budi sendiri sudah meninggalkan kelas IPA 5 sejak dua menit yang lalu.
Aku mencoba melepaskan diri. “Emang lo gak bawa makan?”
“Sebenarnya bawa. Cuma gue kasihin ke someone special gue. Abisnya tadi dia sweet banget anterin gue ke sekolah segala.”
Apa orang itu ... Jono? Sial. Baru saja lepas dari tugasnya, sekarang ia malah enak-enakan pacaran. “Eh, emang lo udah jadian sama Jono?”
“Bisa dibilang begitu.” Cilla tersipu.
Diam-diam aku bersyukur lalu memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa. Semoga setelah punya pacar sifat kegeeran Cilla dan kekejaman Jono padaku bisa luntur sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba kurasakan sebuah dorongan keras dari belakang. Tubuhku tersungkur hingga kakiku refleks menahan sekuat tenaga agar tidak sampai menubruk lantai. Namun bagian lantai yang licin menggagalkan usahaku. Keseimbanganku goyah. Tak ayal tubuhku terbanting keras. Aku sampai mengerang menahan nyeri. Rasanya lumayan: lumayan kaget, lumayan sakit, lumayan malu. Malu, karena manusia-manusia di sekitarku menatap ingin tahu.
“Eh, maaf. Gue gak sengaja!” ujar seorang cowok tinggi besar dengan wajah cemas. “Lo gak apa-apa?”
Aku memaksakan diri tersenyum dan menggeleng halus. “It’s okay.”
“Kalau gitu, gue pergi dulu, ya? Lagi buru-buru, nih.”
Setelah mengucapkan maaf sekali lagi, ia melesat pergi dan lenyap di ujung koridor.
Aku menunduk untuk memeriksa penyebab licinnya lantai. Ternyata di sana ada genangan air sabun. Mendadak otakku berkata ini tidaklah benar. Seharusnya penjaga sekolah mengepel lantai setiap pukul enam pagi, sebelum sekolah dipenuhi siswa.
Tiba-tiba Raka muncul entah dari mana. Melihatku terduduk di lantai, ia cepat-cepat menghampiri, lalu membantuku berdiri. “Ngapain duduk di situ? Ya ampun, rok kamu basah, Xa.”
Huuu ... siapa juga yang sengaja duduk di lantai! “Serius rok gue basah?”
“Banget.”
“Iya. Kotor pula,” timpal Cilla.
Seorang guru melintas. Kumpulan manusia di sekitarku berangsur lenyap. Memang belum waktunya istirahat, sih. Aku dan Cilla saja yang nakal pergi ke kantin sebelum tiba waktunya.
Ternyata Sensei Jeff yang datang. Beliau memandang aku, Cilla, dan Raka satu-persatu.
“Alexa, kamu kenapa?” tanya Sensei cemas. Tampaknya ia melihat noda di rokku.
“Jatuh, Sensei.” Cilla yang menjawab.
Begitu Sensei berlalu, Raka memungut sesuatu di atas lantai. “Apa ini?”
Selembar kertas.
Penasaran, kurebut kertas tersebut dan membaca sederet tulisan acak-acakan di situ.
Ini cuma peringatan awal. Kalau lo masih gak nurut, dia bakal abis!
Kecuali Raka sempat membacanya, aku yakin hanya aku yang boleh tahu isi tulisan tersebut. Cilla dan Raka tidak kuizinkan melihat barang sehuruf pun. “Bukan apa-apa. Ini cuma sampah,” dustaku.
Akhirnya kami berpisah arah. Aku ke toilet, Cilla ke kantin (setelah apa yang terjadi, anak ini masih ingat lapar), sedangkan Raka kembali ke kelasnya.
Meski bingung mengapa Raka bisa ada di tempat ini padahal kelasnya nun jauh di sana, aku tak ingin ambil pusing. Peristiwa sepele tadi masih mengguncang batinku.
Baiklah, jangan sampai Rifa mengetahui insiden ini. Aku tidak mau membebani pikirannya lagi. Lebih baik kupendam masalah ini seorang diri agar ia tetap fokus menghadapi UTS mendatang.
Namun gagal. Tanpa kusadari ternyata Rifa sudah ada di belakangku sejak tadi. Menunggu di luar toilet dengan sinar mata yang tidak biasa.
Sebelum aku sempat berkata-kata, ia langsung memeluk tubuhku erat. Terlalu erat hingga membuatku sulit bernapas. Terasa tubuhnya berguncang samar.
Ya, Tuhan ... Rifa menangis.
***
Angin bersemilir lembut memainkan ikal-ikal rambutku. Pukul lima sore begini Situ Buleud—danau sekaligus taman kota yang menjadi icon Purwakarta—lebih ramai dari biasanya. Banyak yang berjogging ria di luar pagar Situ Buleud yang hanya dibuka satu kali seminggu. Tak sedikit pula penjual yang menjajakan dagangannya.
Entah ada angin apa, pulang sekolah tadi Rifa langsung mengajakku kemari. Kami duduk-duduk di warung yang berada tepat di seberang Situ Buleud bersama dua orang lelaki setengah baya. Jaket tebal kami kenakan demi menjaga image sekolah.
“Pokoknya kamu jangan pergi ke mana-mana tanpa aku lagi.” Rifa berkata serius.
“Bukannya Unknown minta kamu jauhin aku?” tanyaku tak kalah serius. “Kalau kamu terus-terusan sama aku, itu sama aja kayak bunuh diri, Fa.”
“Jadi kamu gak percaya aku bisa melindungi kamu?”
“Nggak gitu juga, Sayang.” Aku berpikir. “Oh iya, Fa. Di surat pertama Unknown bilang kebahagiaan kamu akan segera berakhir. Emangnya aku masuk list kebahagiaan kamu, ya?”
Rifa tidak menjawab. Ia hanya menatap gemas sambil mengepalkan kedua tangannya. Saat itulah aku sadar telah menanyakan sesuatu yang konyol.
“Kamu satu dari empat orang yang bisa membuat hari-hariku lebih berwarna,” katanya mengangkat empat jari. “Kamu, Mama, Papa, dan Nenek. Mendingan aku mati daripada harus melihat kalian menderita.”
Aku manggut-manggut kesenangan. Akhirnya ada juga cowok yang menunjukkan keseriusannya padaku. Mungkin inilah yang dinamakan soulmate.
Aku tersentak saat menyadari sesuatu. “Berarti orangtua kamu ....”
“Aku tahu,” Rifa memotong. “Tapi incaran pertama mereka pastilah kamu. Sebab peluang mereka untuk mencelakakan kamu sangat besar. Contohnya insiden di sekolah tadi.”
Hening. Semilir angin membawa kami mengelana ke alam bawah sadar masing-masing. Waktu menunjukkan pukul 17.45 ketika ia mengajakku pulang. Masih sambil duduk berdampingan, Rifa merangkul bahuku lembut. Dagunya dibenamkan di puncak kepalaku. Lembut. Desiran hangat menjalar dari dada ke seluruh aliran darah. Menciptakan debaran-debaran nyaman tak terdefinisikan.
***
Gelap menyelimuti cakrawala. Hujan deras disertai petir mengguyur kota Purwakarta tanpa ampun. Aku menggigil kedinginan seraya memperhatikan jalanan lengang di sekitar area perumahan Griya Asri. Sepi. Benar-benar tidak ada suara manusia di tengah derasnya hujan. Tampak sebuah Avanza putih mendahului kami dari sebelah kanan. Setelah itu, tidak ada kendaraan lain yang melintas. Kembali tubuhku menggigil hebat. Kali ini lebih karena rasa takut yang tiba-tiba mendera.
“Kamu kedinginan, Sayang?” Suara Rifa menyadarkanku dari cekaman rasa sepi yang melingkupi udara di sekitar kami. Ia tampak cemas.
Kupalingkan wajahku dari jalanan. “Ya. Agak dingin.”
“Di tasku ada jaket. Kamu pakai itu. Supaya gak kedinginan lagi.”
Segera kulakukan apa yang disarankan Rifa. Setelah membuka semua resleting, akhirnya kutemukan pakaian tersebut di bagian belakang tas. Sebuah jaket hijau muda polos. Kami membeli jaket ini berpasangan. Hanya saja milikku selalu tersimpan rapi di dalam lemari. Dikenakan sesekali saat ada acara jalan-jalan ke luar kota bersama keluarga.
Jaket Rifa kini membalut tubuhku hangat. Meski tampak terlalu besar, aku tetap merasa nyaman saat mengenakannya. Membayangkan Rifa pernah mengenakan jaket yang sama denganku, membuat jantungku berdebar tak keruan. Sejenak aku melupakan di mana posisiku saat ini serta bagaimana kondisi di luar sana.
Guyuran hujan yang semakin deras mengembalikanku ke realita. Menciptakan suasana mencekam seperti di film-film horor. Apalagi begitu mobil berbelok melewati lokasi pemakaman umum di dalam kompleks. Bulu-bulu halus di tengkukku meremang seketika.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih muncul dari arah berlawanan. Lampu depannya menyorot tepat ke pupil mataku. Sangat menyilaukan.
Kepalaku refleks berpaling kepada Rifa. Tampak cowok itu tengah mengerutkan kening dalam. Pelipisnya berkeringat di udara sedingin ini.
Namun, saat itulah aku menyadari sesuatu. Saat tangan Rifa menekan klakson panik. Saat tangan Rifa membanting stir ke arah kanan. Saat mobil menabrak tembok pemakaman umum.
Saat itulah aku sadar, sesuatu yang buruk tengah terjadi.