Blind Love

Blind Love
Seri 3



Bibir Libra tertutup sebentar hanya untuk kembali berbicara. Sayangnya ucapannya harus terjeda karena pesanan makanannya datang dan dia harus menundanya terlebih dahulu. Dan ketika seorang pramusaji yang mengantarkan makanan meninggalkan meja mereka, Libra tak bisa untuk terus menutup mulutnya.


“Jadi selama ini aku hanya pusing sendirian sedangkan kamu bahkan memikirkannya pun nggak?” sebuah tawa sinis keluar. “Luar biasa.”


Dengan tenang Virgo memasukkan makanan ke dalam mulutnya kemudian mengunyahnya. “Kamu nggak perlu memikirkan hal yang akan membuat kepalamu sakit. Kalau endingnya nanti kita jodoh, sekuat tenaga pun kamu bilang rencana mereka itu tak adil, kamu akan tetap berterima kasih kepada mereka karena itu.” Ditunjuknya makanan yang ada di atas meja dan memberi isyarat agar Libra segera makan.


“Makan, jangan karena kita membahas ketidak adilan lantas kamu melupakan makan, itu nggak akan adil buat perut kamu kalau dia lapar.” Ini adalah kali pertama Virgo dan Libra saling mengobrol intens satu sama lain, dan sepertinya gadis itu sudah merasakan betapa menjengkelkannya lelaki bernama Virgo ini.


Tak ayal, apa yang dikatakan oleh Virgo pun dilakukan oleh Libra. Disuapkannya makanan itu ke dalam mulutnya dan meresapi rasa lezat olahan daging tersebut. Tapi sepertinya itu pun tak mengubah perasan kesalnya kepada lelaki itu.


Bahkan sampai mereka menghabiskan semua makanan itu tak ada lanjutan pembicaraan masalah tersebut. Libra diam pun dengan Virgo yang semakin santai saja lagaknya.


Menyelesaiakan transaksi pembayaran, kedua anak remaja itu keluar dari kafe tersebut. Jika orang lain melihat, mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Apalagi melihat betapa mereka sangat cocok satu sama lain. Sayangnya apa yang dilihat orang berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.


“Aku mau pulang, jangan berhenti kemana-mana lagi.” Perubahan sikap Libra membuat Virgo menggelengkan kepalanya heran. Hanya karena ucapannya, gadis itu harus merajuk, padahal jika Virgo ingat, tidak ada kalimat yang menyinggung perasaan Libra.


“Aku tahu. Karena kamu sudah baik hati sekali mengantarkan kedua adikku sampai ke rumah, aku juga akan mengantarkan kamu dengan selamat sampai ke rumah.” Kemudian mereka berdua pergi dari kafe tersebut tanpa lagi berbicara satu sama lain bahkan ketika mereka terjebak macet berkali-kali selama di perjalanan.


Ketika motor yang ditunggangi Virgo berhenti di depan rumah Libra, si pemilik motor tersebut mematikan mesin motornya dan menunggu agar gadis yang berada di belakangnya itu turun dan gaungan mesinnya itu tak mengganggu tetangga Libra.


“Terima kasih.” Begitu ucap Libra dengan tenang. “Aku masuk dulu.” Tak ada basa-basi sama sekali untuk mengajak Virgo mampir ke rumahnya. Ketika Virgo tak menjawab ucapannya pun, Libra bahkan tak acuh dan pergi begitu saja dari sana untuk masuk ke dalam pelataran rumahnya.


Virgo tahu jika suasana hati Libra kali ini memang sedang tak baik, dia pun merasa jika itu adalah karena ucapannya tadi. Tapi mau bagaimana lagi, dia peduli pun tak ada gunanya. Maka dengan cuek, dia kembali memacu motornya untuk meninggalkan tempat tersebut karena ‘tugasnya’ sudah selesai sepenuhnya.


Alih-alih pergi kembali ke rumahnya, lelaki itu malah membelokkan motornya ke tempat favoritnya. Dimana dia bisa melihat bocah-bocah kesayangannya dan ya meskipun nanti dia akan tercueki oleh ibu negara di rumah tersebut.


“Bodo amat kalau gue nanti diusir.” Katanya sambil memarkirkan motornya dan berjalan menuju pintu kokoh rumah besar tersebut. Membukanya dengan pelan siapa tahu pintu tersebut tak dikunci, nyatanya nol besar. Dia tak bisa masuk sembarangan sebelum menekan bel dan menungu orang yang ada di dalam rumah tersebut membukanya.


Pencetan bel pertama, tak ada orang yang membukakan pintu untuknya. Pencetan bel kedua pun bernasip sama. Dia terus menekan bel tersebut sampai dia malas menghitung entah sudah keberapa kali, barulah sosok Love muncul dengan wajah super datarnya.


“Ada apa?” sepertinya perempuan itu benar-benar marah karena ‘tragedi’ sore tadi.


“Aku mau masuk.” Jawaban menyebalkan yang diberikan oleh Virgo.


“Ada keperluan apa?” begitu katanya masih tak mau mengijinkan lelaki itu menginjakkan kakinya melewati pintu agar bisa masuk ke kediamannya.


“Kak!” Virgo memelas diperlakukan seperti itu oleh Love. “Aku kan udah minta maaf tadi. Masih aja ya marah. Kenapa hari ini aku dimarahi semua orang?” Itu adalah perkataan untuk dirinya sendiri sebetulnya tapi terdengar seperti aduan buat orang yang yang mendengarnya.


“Ya udah kalau nggak boleh masuk, aku pergi aja.” Bukannya mencegah Virgo pergi, Love bahkan sama sekali tak basa-basi dan meruntuhkan keputusannya. Perempuan itu justru terus mengikuti Virgo dengan tatapannya dan membiarkan pria itu keluar dari pelataran rumahnya kemudian tak terlihat lagi oleh matanya. Love benar-benar menghukum Virgo dengan caranya yang sedikit ekstrim.


*.*


Sampai di rumah, dilemparkan tubuhnya ke atas Kasur dan kemudian memutup rapat matanya. Virgo memang belum ingin tidur, apalagi waktu masih menunjukkan pukul Sembilan malam, baginya itu masih sore. Beberapa temannya mengirimi chat agar dia pergi ke tempat tongkrongan yang sering mereka datangi, tapi kali ini dia menolak datang karena rasa malas itu menyerangnya.


“Virgo!” Matanya sontak terbuka ketika pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok perempuan yang entah berapa minggu tak pernah dilihatnya. Dia bangun, kemudian menampilkan senyumnya,


“Ma!” Ibu Virgo itu mendekati putranya dan memberikan pelukan.


“Kangennya mama sama kamu.” Itu adalah ucapan beliau setiap bertemu dengan anaknya. “Ayo ke ruang makan, mama belikan banyak makanan buat kamu. Sebentar lagi papa pasti akan manggil kita.”


“Oke. Mama turunlah dulu, aku nyusul.” Perkataan itu diamini oleh ibu Virgo dengan anggukan. Mencium dahi anaknya kemudian pergi dari kamar tersebut.


Pintu tertutup, dan hembusan napas Virgo terdengar berat. Kembali membaringkan tubuhnya, dan menatap langit-langit kamar. “Gue nggak pantas sih marah sama mereka karena kesibukan mereka, tapi setelah mereka pulang dan sebentar lagi balik sibuk dan ninggalin gue, gue juga pengen marah.” Begitu gumamnya dengan keheningan kamarnya.


Ketukan pintu kembali terdengar dan dia paham itu artinya dirinya sudah ditunggu di ruang makan. Membuka pintu kamar, bibi sudah berdiri di sana, sebelum perempuan paruh baya itu mengatakan sesuatu, dia sudah lebih dulu berbicara. “Aku tahu Bibi suruh aku ke ruang makan.” Dan di jawab dengan senyuman dari bibi.


“Iya, Mas, Bapak dan Ibu sudah nunggu.” Lapornya dengan sopan.


Mengangguk, ditutupnya pintu kamar, kemudian dia turun untuk menemui kedua orang tuanya.


“Malam.” Sapaan itu diberikan untuk sekedar basa-basi. Diambil tangan ayahnya dan menciumnya sebagai rasa hormatnya kepada lelaki itu.


“Hai, jagoan.” Raut seperti itu yang membuat Virgo tak tega untuk marah kepada ayahnya. Lelaki itu selalu tersenyum dan terlihat bahagia sekali ketika bertemu dengan anak semata wayangnya itu setelah lelah bekerja dan melakukan perjalanan bisnis.


Dan ‘jagoan’ adalah panggilan yang selalu lelaki itu berikan kepada Virgo sejak dulu sampai sekarang. Bahkan ketika putranya sudah remaja seperti sekarang ini, panggilan itu masih melekat diberikan untuknya.


Virgo tersenyum mendengar ucapan ayahnya. “Kalau Papa akan bekerja lebih keras lagi, Papa akan ketinggalan melihatku bekembang.” Itu hanyalah ‘guyonan’ yang dilontarkan oleh Virgo, tapi itu juga keseriusan dari dalam hatinya.


Kedua orang tuanya bahkan langsung terlihat canggung setelahnya. Tapi situasi itu memang tak lama, karena ayah Virgo langsung mengajak keluarganya itu segera makan, “Ayo, makan. Ini semua makanan kesukaanmu kan?”


Virgo mengangguk. “Iya, tapi aku lebih menyukai masakan yang di masak oleh Mama.” Lagi-lagi kedua orang itu menghentikan tangannya untuk beraktifitas. Sedangkan Virgo yang sebetulnya masih sangat kenyang tetap mengambil makanan tersebut dan diletakkan di atas piring.


“Selamat makan.” Kemudian langsung menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya dan berkomentar tentang makanan tersebut. “Enak.” Tapi hanya itu saja komentarnya.


“Enak dong, itu kan mama pesan di restoran kesukaan kamu.” Virgo memang memiliki restoran favorit jika dia diajak makan di luar oleh orang tuanya, tapi akhir-akhir ini memang jarang sekali dia dan keluarganya melakukan ‘hangout’ bersama lagi karena kesibukan kedua orang tuanya semakin lama semakin parah.


“Bagaimana sekolah kamu? Papa nggak pernah lagi mendapatkan laporan aneh dari guru kamu.”


“Semua aman terkendali kok, Pa. Papa tenang aja.” Virgo, si pemilik hidup santai tanpa beban, meskipun di dalam hatinya memiliki keinginan besar untuk selalu bersama kedua orang tuanya tapi hanya bisa dipendamnya di dalam hati.


“Bagus.” Itu adalah jawaban dari ibunya. “Kamu harus menjadi anak yang hebat, dan menjadi penerus keluarga kita. Kakek, papa, adalah gambaran orang-orang hebat di keluarga kita. Dan kamu harus menjadi lebih hebat dari mereka.”


“Mama tahu apa keinginanku ketika aku sudah dewasa nanti?”


“Apa, Sayang?”


“Aku ingin kesibukanku tak membuat anak-anak dan istriku merasa diabaiakan. Aku ingin memiliki jam kerja yang normal, setelah pulang kerja selalu disambut dengan senyum mereka, setiap weekend bisa mengajak mereka jalan-jalan, dan bisa melihat anak-anaku nanti tumbuh dan bekembang dengan pengawasanku.” Akhir kalimatnya diikuti senyum lebar seolah dia sudah memiliki planning yang kuat akan masa depannya.


“Aku nggak tahu nanti aku akan memilih profesi apa, akan kuliah dibidang apa, tapi bayangan berkeluargaku adalah seperti itu.” Ditatapnya kedua orang tuanya yang terdiam dengan wajah seolah tertampar habis-habisan oleh perkataanya.


“Ah, sepertinya khayalanku ini benar-benar membut Papa dan Mama shock ya?” Virgo terkekeh. “Itu hanyalah khayalan seorang remaja tanggung yang belum mengerti hiruk pikuk kehidupan.” Santai sekali dia mengkonfirmasi ucapannya seolah mengatakan jika apa yang baru saja diucapkan bukan sebuah keseriusan.


Tak ada yang bisa dikatakan oleh kedua orang tuanya. Mereka bahkan saling pandang satu sama lain dengan ekspresi yang tak bisa di deskripsikan.


“Jadi bagaimana bisnis Papa?” Kini Virgo yang balik bertanya. Dia bukannya peduli dengan semua itu, tapi dia hanya mencoba untuk berbasa-basi agar menjadi anak yang baik.


“Semua berjalan dengan lancar.” Kini ayah Virgo sepertinya sudah merubah perasaan tak enak itu menjadi sebuah senyuman. “Papa bekerja keras dan melakukan semua ini adalah demi keluarga kita.” Mungkin maksud dari ayah Virgo adalah untuk mengatakan jika kesibukannya bukan hanya semata karena keinginannya menumpuk harta saja. Tapi juga untuk kehidupan Virgo agar putranya itu tak pernah merasakan kekurangan materi dalam hidupnya.


“Dengar, Nak.” Lanjut ayah Virgo. “Papa sangat menyayangi kamu. Kamu adalah harta papa yang sangat berharga. Papa tidak ingin kamu hidup serba kekurangan seperti orang-orang yang kurang beruntung di luar sana. Karena itu papa bekerja keras, demi keluarga kita, demi kamu.” Kedua lelaki beda generasi itu saling tatap.


“Aku tahu.” Dan sontak saja itu membuat sang ayah tersenyum. “Tapi biasanya, orang tak akan pernah meninggalkan barang berharganya lama-lama dengan orang lain, sedangkan mereka akan meningggalkan anak-anak mereka dengan asisten mereka. Itu bagiku sangat lucu.” Senyuman yang tadinya lebar kini kembali menciut.


“Aku tahu sebetulnya aku nggak ada bedanya dengan anak-anak orang kurang beruntung yang Papa bilang tadi. Kenapa? Karena anak-anak itu pun juga selalu ditinggalkan oleh orang tua mereka mencari nafkah, bahkan ketika mereka sudah bekerja sangat keras pun, anak-anak itu masih saja kekurangan. Dan aku jauh lebih beruntung karena aku sama sekali tidak kekurangan uang. Aku bisa melakukan apapun yang aku suka dan itu aku rasa cukup. Karena kata Bang Aksa, selama kita bisa mensyukuri apa yang kita punya, kita tak akan pernah merasakan yang namanya kekurangan.”


Senyuman itu bukan jenis senyuman kebahagiaan atau sejenisnya, karena senyuman itu tellihat sangat miris. “Pa, Ma, aku ada janji sama temen-temen aku. Aku keluar nggak papa kan? Kalian istirahatlah. Pasti capek kan?” Kemudian dia berdiri untuk meninggalkan meja makan. Tapi sebuah suara mencegahnya.


“Kami baru saja pulang, apa nggak sebaiknya kamu di rumah dulu untuk menemani kami?” Suara ibunya.


“Aku selalu di rumah, Ma. Karena Mama jarang di rumah, makanya Mama nggak pernah berteman dengan aku.” Virgo terkekeh dan kemudian keluar dari ruang makan. Memasang jaket yang tesampir di senderan sofa, mengambil kunci motornya, kemudian keluar dari rumah. Meninggalkan kedua orang tuanya yang tak mampu untuk berkata-kata.


*.*


Deru napas Virgo terdengar beserta keluarnya keringat yang begitu banyak dari pori-pori kulitnya. Bermain basket di lapangan biasa dia sering bermain bersama kawan-kawannya, kini dia bermain seorang diri. Setelah menolak untuk nongkrong bareng bersama mereka, Virgo tak akan menghubungi mereka untuk menemaninya bermain basket. Sepertinya itu sangat tak tahu diri.


Karena kelelahan, dia berbaring di atas lantai dan menatap langit malam. “Nggak ada bintang. Kemana perginya mereka?” Gumamnya seorang diri. “Ah, pasti mereka sedang meeting.” Ngaconya sambil memejamkan matanya.


Sayangnya, dia merasakan ada sesuatu yang mendekat ke arahnya. Dengan masih tetap menutup matanya pura-pura tidur, dia mencari cara untuk bisa berlari dan melawan jika itu adalah seorang penjahat. Tapi sayangnya tak ada pergerakan yang berarti dari langkah kaki yang di dengarnya itu, maka dengan pelan dia membuka matanya, dan sorakan langsung di dapatkannya dari gerombolan para pria juga.


“Kampret. Gue hampir sleding kalian tahu nggak?” Bangun dengan kasar, mulutnya juga mengumpat. Bukannya balas mengumpat, teman-temannya justru tertawa keras.


“Jadi lo takut kan tadi?” begitu kata salah satu temannya bernama Sam. Yang jika Virgo memplesetkan menjadi ‘sambal’ padahal nama aslinya adalah Samudra.


Kurang, kurang ajar apa si Virgo ini kan?


Dan inilah teman-temannya. Datang tak dijemput, pulang tak diantar, tapi bisa mengantarkan tawa untuk dirinya yang selalu merasa kesepian.


*.*