
Virgo masuk ke dalam rumah Love dengan membawa sebuah boneka yang tadi dibelinya dengan langkah santai. Matanya menatap ke sekeliling untuk mencari keberadaan orang rumah. “Kak!” Panggilan itu kemudian terdengar nyaring di penjuru ruangan karena dia memang tidak menemukan siapapun di dalam rumah tersebut.
Ketika dia tadi bertanya kepada Bibi, Bibi mengatakan jika kakaknya ada di rumah. Dan bisa dipastikan jika memang mereka memang tidak pergi kemanapun sore ini. Duduk di depan televisi, tubuhnya kemudian berbaring dengan lengannya menjadi bantal. Kakinya ditekuk kemudian boneka tersebut diletakkan di atas perutnya.
Dipandangi boneka tersebut dan setelahnya dia terkekah. Bahkan kekehan itu tak juga langsung hilang begitu saja dari bibirnya. Otaknya terus mengingat bagaimana ekspresi Libra ketika Virgo mengatakan jika boneka yang dibelinya memang bukan untuk gadis itu. Ketika diantarkan pulang pun, gadis itu masih saja cemberut dan langsung meninggalkan Virgo begitu saja tanpa basa-basi sama sekali. Mungkin rasa malunya sudah tak lagi bisa dibendung.
“Abang!” Ixy berdiri di samping Virgo dengan senyuman. “Boneka?” Ada nada tanya di dalam kata-kata itu. “Buat adek ya Bang?” Binar kebahagiaan itu bahkan keluar dari sorot matanya.
“Kiss dulu.” Virgo bangun dari baringnya dan duduk menghadap Ixy yang masih setia berdiri sambil menatap boneka itu penuh harap.
“Tapi Abang belum mandi.” Mungkin maksud dari Ixy adalah dia ingin menolak permintaan dari seorang Virgo.
“Tapi masih wangi loh, Dek.” Dan masih tak kunjung memberikan boneka itu kepada Ixy karena keinginannya belum dipenuhi oleh gadis cilik itu.
Meskipun dengan cemberut, karena menginginkan boneka itu segera sampai tangannya, Ixy mendekat ke Virgo dan mengecup pipi lelaki itu. “Udah.” Katanya. “Adek mau bonekanya.”
Senyum Virgo terbit. “Terima kasih, Adek sayang.” diserahkannya boneka tersebut kepada Ixy dan seketika senyum bocah cilik itu terbit.
“Terima kasih, Abang.” Ixy langsung duduk di sebelah Virgo dan memainkan boneka tersebut dengan bahagia. Memamerkan kepada ibunya ketika Love sudah berada di ruangan tersebut.
“Bunda, Abang beliin boneka buat adek.” Bahagia sekali sepertinya bocah itu. Love tersenyum kepada Love tapi memicing kepada Virgo.
“Ada maksud apa kamu beliin boneka itu. Aku tahu kamu pasti ada sesuatu.” Jiwa cenayang istri Aksa ini sepertinya keluar. Menebak dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.
“Aku kan sayang sama Ixy, beli begituan masa dicurigai sih?” Virgo memang berpura-pura bodoh saja dengan perkataan Love kepadanya. Tapi sayangnya seperti biasa, Love pasti akan mengejar Virgo sampai dia mendapatkan kebenaran itu.
“Tapi ini pasti ada sesuatu.” Begitu katanya lagi. “Kamu kira aku nggak tahu kalau tadi kamu senyum-senyum sendiri macam orang nggak waras?” Picingan mata itu diberikan Love lagi kepada Virgo. “Aku tahu, semuanya.” Tekanan kalimat yang diberikan Love itu membuat Virgo menghela napas.
“Jadi kenapa kamu? Ada apa?”
“Aku tadi keluar sama Libra.” Itu adalah awal dari jawaban yang diberikan untuk Love. Kemudian otaknya kembali mengingat kejadian tadi dan terkekeh lagi. Kernyitan dahi Love bahkan terlihat, namun tak ada sanggahan yang diberikan oleh perempuan itu
“Kita mampir di sebuah toko, dan dia nggak beli apapun padahal udah keliling dan memilih-millih.” Kemudian semuanya diceritakan oleh Love bagaimana ‘perjalanannya’ bersama Love tadi. Love juga mendengarkan dengan seksama tanpa memotong cerita yang Virgo katakan.
“Kenapa nggak kamu kasih aja ke dia? Kasihan kan dia sampai malu begitu.” Setelah cerita yang disampaikan oleh Virgo selesai, barulah Love menanggapi. “Pasti dia nggak akan mau kamu ajak keluar lagi.”
“Ya lagian, udah disuruh pilih, aku yang bayar malah nggak jadi, kan sebel, Kak.”
“Ada dua kemungkinan dia nggak mau kamu beliin.” Sepertinya diskusi masalah ‘hubungan’ Virgo dengan seorang gadis akan dimulai, karena Love sudah siap dengan semua itu.
“Pertama. Mungkin dia memang bukan tipe cewek yang suka dibelikan sama cowoknya. Dan kedua, bisa saja dia merasa segan.”
“Dan aku nggak paham kenapa dia melakukan itu.” Virgo balik bertanya. “Bukannya memang begitu hukumnya, kalau cowok udah berani ngajak cewek keluar, artinya dia udah berani ‘membiayai’ semuanya hari itu.”
“Tapi ini tentang prinsip seseorang.” Love benar-benar serius sekali sekarang. “Karena nggak semua cewek mau dibiayai sama cowok. Dan aku adalah salah satunya.”
“Dan kita bicara masalah Libra loh, Kak.”
“Dan aku memberikan contoh.” Virgo kembali mendapatkan pelototan dari Love karena suka sekali mendebat ucapannya.
“Oke. teruskan.” Begitu kata Virgo mengalah.
Berdehem pelan, menegakkan duduknya, mata Love serius menatap Virgo. “Bisa saja Libra memiliki prinsip jika dia tak boleh menggunakan uang cowoknya untuk berbelanja barang-barang yang disukainya. Dulu, aku juga nggak pernah mau kalau belanja dibelanjain sama Abangmu, karena dia dulu masih sebatas pacar. Dan nggak ada kewajiban buat seorang pacar harus membelikan apa kemauan pacarnya. Kalau hanya makanan mungkin masih wajar, tapi kalau barang-barang mahal, itu menurutku udah keterlaluan. Dan itu adalah prinsip, Vir. Kita nggak bisa merubah prinsip yang sudah dibuat orang tersebut.”
“Tapi barang-barang yang di toko itu sama sekali nggak mahal, Kak. Kantongku nggak akan berteriak kesakitan loh.” Karena tak tahan dengan kebodohan Virgo, maka dengan sadisnya Love melemparkan bantal sofa ke arah lelaki itu.
“Bodoh.” Katanya dengan sebal. “Lama-lama ku telen juga kamu.” Virgo bahkan tak bereaksi ketika Love mengatakan itu. Dia hanya menatap Love sambil seperti memikirkan sesuatu.
“Jadi sekarang kamu udah mulai suka sama Libra?” Barulah setelah pertanyaan itu terdengar, Virgo terbangun dari melayangnya pikirannya. Pertanyaan yang di ajukan oleh Love mengingatkan akan obrolan dengan Libra.
“Aku tadi sebetulnya hanya tiba-tiba keinget sama Libra dan aku mau ketemu sama dia. Masalah aku suka sama dia, suka yang seperti apa dulu?”
“Sayang. Cinta.” Jelas Love agar Virgo tak kembali menjadi bodoh.
Lelaki itu mengedikkan bahunya. “Aku nggak tahu. Aku nggak pernah bertanya sama hatiku ini namanya apa. Sayangkah? Cintakah? Aku jalani aja semuanya. Kalau mau ketemu dia, ya ketemu, kalau enggak berati ya enggak.” Entah ini terlalu polos atau memang bodoh Love sepertinya tak paham. Karena wajah Love bahkan terlihat tak mempercayai apa yang di dengarnya. Namun tak lama peremuan itu menggelengkan kepalanya dan memijit pelisipisnya.
“Nggak usah di pikirkan lah, Kak. Aku aja nggak bingun kok.” Dan begitulah ucapan Virgo yang membuat orang kadang ingin menendangnya.
*.*
Curhatan malam, itulah yang biasa Love sebut ketika dia hanya berdua bersama suaminya berdua saja. Karena ketika malam datang, anak-anak sudah tidur, dan tersisa Aksa dan Love yang masih terjaga, maka saat itulah mereka akan bercerita tentang apapun yang terjadi hari ini.
“Aku nggak paham sama sekali dengan Virgo, Yang.” Itu hanyalah permulaan dari semua cerita yang akan keluar dari bibir Love. “Dia itu terlalu polos atau emang nggak paham sih sebetulnya?”
“Aku juga nggak paham.” Tangapan Aksa santai.
“Kan, kamu aja nggak paham, kita aja nggak paham, apalagi kalau misalnya dia cerita kepada orang lain?”
“Bukan.” Aksa yang menyangga kepalanya menggunakan tangan kirinya memang sejak tadi menatap Love. “Aku nggak paham apa yang kamu bicarakan sekarang ini. Kita akan mengangkat tema apa malam ini untuk dibahas?” Memang Love belum menceritakan apapun yang sore tadi dia obrolkan bersama Virgo. Dan sekarang malah main omong saja ke inti pembicaraan.
“Virgo. Aku bicara masalah bocah cecunguk satu itu.”
Aksa mengangguk-angguk. “Oke.” katanya. “Lanjutkan.” Memberikan istrinya waktu untuk berbicara.
Meskipun agak merasa jengah dengan sikap suaminya, Love tetap menceritakan apapun yang ingin dia share kepada sang suami. Mulai dari A sampai Z, tak ada yang di skip sama sekali.
“Jadi menurut Mas gimana?” Dan kini waktunya dia meminta pendapat tentang cerita tersebut. “Kadang aku pengen banget lempar si Virgo kalau oonnya mulai kumat. Masa gitu aja nggak paham.”
“Orang itu jarang bisa menyimpulkan jika belum pernah merasakan sebelumnya. Beda sama kamu yang sejak awal memang tahu kalau kamu memang sedang jatuh cinta.” Sindiran halus membuat Love berdecak dan mecubit perut Aksa yang terasa keras karena tak pernah absen dari olahraga.
“Diungkit terus aja, biar aku nggak lupa.” Aksa tersenyum dan mengusap pipi sang istri lembut. Seperti ABG yang baru saja merasakan cinta.
“Virgo itu orangnya terlalu santai.” Kini Aksa sepertinya sudah mulai serius. “Dia nggak merasa perlu untuk memikirkan apa yang dirasakan di dalam hatinya. Seperti yang kamu bilang tadi, yang Virgo bilang kalau dia pengen ketemu sama Libra ya ketemu aja, kalau nggak pengen yang enggak, itu menunjukkan kalau dia nggak pernah ambil pusing dengan masalah perasaannya. Masa bodoh dengan cinta-cintaan, yang penting dia mengikuti saja apa kata hatinya. Dan masalah selesai.” Panjang ucapan Aksa membuat Love mencoba mencerna.
“Tapi kan orang itu perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hati dia, kenapa dia pengen ketemu sama orang yang bahkan sebelumnya mereka hanya kenal-kenal begitu aja. Dia cintakah? Atau perasaan apa yang dirasakan.” Itu adalah pendebatan Love untuk Aksa setelah memiliki pemikirannya sendiri. “Orang kan harus seperti itu, Yang.” Lanjutnya lagi merasa jika pemikiran adalah yang paling benar.
“Virgo mendengarkan apa kata hatinya. Dan itu seperti yang aku lakukan dulu.” Di genggamnya kedua tangan Love dengan kedua tangan besarnya.”Virgo akan mengerti suatu saat nanti. Dia itu nggak bodoh. Dia paham apa yang terjadi, dan dia menjalani tanpa merasa ada beban sama sekali di dalam hatinya. Kita hanya perlu melihat dari jauh. Kalau memang dia membutuhkan saran dari kita atau sejenisnya, maka kita hanya perlu memberikan itu kepadanya. Itu saja udah cukup.” Aksa ini memang terkadang pelit sekali dalam hal berbicara, tapi kalau sudah bersama istri ataupun dengan orang-orang yang di sayang, maka dia akan banyak sekali bicara.
“Tapi aku nggak puas.” Dengan sungguh-sungguh, Love membalas menggenggam kedua tangan suaminya. “Setidaknya kalau dia paham apa yang dirasakan sekarang, dia bisa lebih intens mendekati Libra. Siapa tahu kan ada lelaki yang juga mengincar Libra. Maksud aku biar dia nggak kehilangan cewek yang dia suka, Yang.” Perlu dipahami jika sebetulnya Love sangat peduli dengan Virgo. Tapi pemikiran Aksa berbeda dengan Love. Jadilah seperti itu sekarang.
“Kamu terlalu khawatir kalau Virgo akan patah hati suatu saat ini. Gitu kan?” Love pun tak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh suaminya. Dia hanya sanggup melayangkan tatapannya ke segala arah karena kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. Tapi akhirnya dia juga menjawab.
“Aku nggak segitunya sih sebenernya, cuma gimana ya, bingung juga mau mengutarakannya.”
Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tapi aku nggak puas. Seharusnya kamu bisa tahu apa yang sedang di dalam hati kamu sekarang. Agar aku juga tahu sebetulnya apa yang kamu rasakan mengenai masalah Virgo ini.” Dengan kurang asamnya Aksa mengikuti apa yang dikatakan oleh Love tadi.
Tentu saja itu menimbulkan kotak tawa dalam diri Love terbuka. Maka ending dari diskusi kali ini adalah ‘tak ada solusi’ yang keluar dari kedua orang tersebut. Karena setelahnya Love hanya tertawa sambil menutup bibirnya geli. Memang selalu begitu si Aksa ini.
“Mas.” Love dan Aksa sudah saling memeluk. Tepatnya lagi Love sudah berada di pelukan sang suami. Menyenderkan kepalanya di dada Aksa. “Kira-kira, diantara kisah keluarga Ganendra dan Nareswara, kisah siapa yang paling menarik?”
“Kisah kita yang paling menarik.” Begitu jawaban Aksa. “Karena kisah kita perpaduan dari Ganedra dan Nareswara.” Terlalu percaya diri sekali sepertinya putra Bapak Daka ini.
“Iya juga ya. Mungkin kisah kita bisa menjadi kisah yang pantas di filmkan.” Reaksi Aksa hanya kekehan. Dia tak ingin menanggapi ucapan ngalor ngidul dari istrinya itu. Ada-ada saja memang pemikiran perempuan satu itu.
“Lah kok ketawa sih.”
“Aneh aja lah pemikiran kamu tu. Nggak perlu dijadikan film, kita ini sudah menjadi pemeran utama dalam kehidupan kita sendiri. Jadi nggak usah mengkhayal yang berlebihan.”
“Aih, sayangnya aku ni sama bapaknya anak-anak.” Gombalan Love yang sok sweet itu akhirnya muncul juga malam ini. Membuat semuanya menjadi indah seperti biasa. Dibalas tawa oleh Aksa dan terkadang terdengar cekikikan dari bibir Love.
“Eh, tapi aku serius tanya loh, Yang.” Lanjutan dari Love. “Diantara kisah cinta orang tua kita itu yang lebih menarik kisah cinta siapa? Pengen lah aku tahu.” Sebagai informasi saja, Love memang sudah mengetahui bagaimana kisah cinta dari kedua orang tuanya, pun dengan Aksa. Tapi diantara kedua orang itu belum tahu kisah cinta dari mertua mereka. Karena itulah Love penasaran.
“Minta diceritai aja sama Bunda kalau kamu penasaran. Ada-ada aja kamu tu.”
“Namanya juga penasaran. Eh, Yang. Kapanlah kita kencan berdua lagi ya, lama nggak pernah jalan berdua.” Memang sudah lama Aksa dan Love tak meluangkan waktu berdua saja, entah karena apa. Aksa yang memang sibuk, dan Love pun betah sekali di dalam rumah.
“Nantilah kita planning dulu.” Jawaban itu entah benar-benar terealisakan atau tidak, karena baik Love ataupun Aksa sering tak tega meninggalkan kedua anaknya sedangkan keduanya malah asyik berkencan.
*.*