Blind Love

Blind Love
Seri 24



"Nggak perlu khawatir kaya gitulah, Yang." Virgo sudah sampai di depan rumah Libra untuk mengantarkan gadis itu.


"Di tatap orang, kaya gitu itu nggak nyaman sama sekali lho, Vir." Adunya. Dengan menengelamkan wajahnya di punggung lelaki itu. Kedua tangannya memeluk pinggang Virgo sedangkan kedua tangannya saling memegang dengan tangan Virgo yang ada di depannya.


"Dibuat santai aja. Buat apa kamu memikirkan hal seperti itu?"


"Tapi dia kakak kamu, meskipun nggak ada hubungan darah juga sih." Di akhir kalimat diucapkan dengan ragu takut Virgo memarahinya.


"Kamu tahu? Kadang saudara yang memiliki darah sama kita aja nggak sebaik orang lain." Libra sudah ketar-ketir jika Virgo akan benar-benar marah kepadanya. "Tapi kakak pasti akan suka sama kamu. Aku yang akan pancing dia. Kamu nggak perlu khawatir." Virgo menghibur Libra agar gadis itu tak perlu pusing dengan tingkah Love yang menyebalkan.


"Nanti kita ke rumah mereka." Lanjut lagi. "Udah sore, masuk gih." Libra masih setia duduk di boncengan Virgo dan menyangga dagunya di pundak lelaki itu.


"Tunggu dulu." Buru-buru turun, Libra berdiri di kiri Virgo sambil memegangi ujung jaket lelaki itu. "Aku tadi dengar kamu panggil aku 'Yang' lho." Hanya karena memikirkan sikap Love kepadanya, pikiran Libra jadi ambyar kemana-mana. Bahkan dengan jeda agak lama dia baru menyadari tentang panggilan yang diberikan oleh kekasihnya kepadanya.


"Baru sadar?" Wajah Virgo mencemooh dengan mata menatap Libra. "Dari tadi perasaan di dekat aku deh." Libra cemberut mendengar itu.


"Namanya juga nggak konsen." Bibirnya maju karena merasa gondok dengan apa yang dikatakan oleh Virgo kepadanya.


"Makanya, komentar orang luar itu nggak perlu terlalu dipedulikan. Jadi gitukan?"


"Gimana nggak peduli, dia kan salah satu orang yang berharga buat kamu." Libra menunduk dan membuat pola-pola abstrak menggunakan ujung kakinya.


"Udah, yang penting semua baik-baik aja. Kakak itu Cuma bercanda aja sama kamu. Mana mungkin dia serius," Virgo menarik tangan Libra dan menggenggamnya lembut. "Sekarang masuk, mandi, sholat, terus belajar lagi. Aku akan membereskan perempuan satu itu."


"Mau kamu apain?" Libra sepertinya takut Virgo akan melakukan hal buruk. Padahal jelas itu tak mungkin. Memang terkadang Libra sebodoh itu.


"Mau aku goreng di wajan yang panas." Bisiknya di telinga Libra. Dan hal itu reflek membuat Libra melepaskan genggaman tangan mereka.


Virgo tertawa. "Nggak mungkinlah aku kaya gitu, Yang. Kamu percaya aja sih sama aku." Lagi, pangilan manis itu keluar dari bibir Virgo membuat Libra seketika memerah wajahnya dengan jantung yang berdegup kencang.


"Kamu panggil aku kaya gitu lagi." Libra tak berani menatap mata Virgo karena malu.


"Aku suka panggilan itu buat kamu," Melihat wajah Libra yang memerah sepertinya menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Virgo. Tapi dia tak mungkin terus-terusan menggoda kekasihnya itu. "Kamu masuk, aku balik." Waktu sudah semakin sore.


"Oke! Aku masuk dulu ya." Pamit Libra. Tatapan matanya seolah masih menginginkan masih ingin bersama Virgo, tapi itu tak mungkin.


Lambaian tangannya diberikan kepada Virgo dan memberi isyarat agar lelaki itu segera pulang. Virgo mengangguk, dan langsung menyalakan mesin motornya, sejurus kemudian dia meninggalkan rumahLlibra.


*.*


"Virgo udah jadian lho, Yang, sama Libra." Love mengadu kepada sang suami ketika malam sudah datang, sharing seperti biasa.


"Kok tahu?"


"Dia sama teman-temannya kan tadi ke kafe kita. Ixy yang memergoki dia lebih dulu." Love menyangga kepalanya di sandaran sofa dan menatap kearah sang suami. "Meskipun dia kaget waktu aku datang, apalagi pas tahu kalau kita yang punya." Aksa tak menanggapi dan asyik sendiri dengan gadget yang ada di tangannya.


"Mas pastinggak dengerin aku." Love yang tadinya duduk menyerong dengan menatap sang suami kini menatap langit-langit rumahnya. "Nasib istri diabaikan sama suami." Gumamnya dengan suara rendah. Dan itu di dengar oleh Aksa.


Maka lelaki itu menolehkan kepalanya ke arah sang istri dan tersenyum geli. "Nasib suami di dumeli istri." Aksa ikut-ikutan dan membuat Love mencebikkan bibirnya. Perempuan itu berdiri kemudian melangkah meninggalkan Aksa sendirian.


"Mau kemana, Yang?" Teriak Aksa. Namun sama sekali tak ditanggapi oleh Libra.


Mengikuti sang istri, Aksa mengekori dari belakang. Tak ada kata yang keluar dari keduanya. Love merasa diabaikan tadi, karena itu dia merajuk.


"Abang, Adek!" Masuk ke dalam kamar anak-anaknya, Love mendekat ke arah mereka. "Udah belajarnya?" Avez sedang memasukkan buku di tasnya, pun dengan Ixy.


"Udah, Bunda." Avez yang menjawab. Love memeriksa buku-buku dan alat tulis yang akan mereka bawa ke sekolah besok memastikan tak ada yang kurang.


"Kalian istrirahat setelah ini ya." Sudah pukul Sembilan malam dan artinya mereka harus segera tidur. Paling lambat Love memberikan kompensasi waktu selama satu jam yaitu sampai jam sepuluh malam untuk mereka tidur. Selebihnya tak diijinkan.


"Adek ngantuk bangetya?" Mata Ixy sudah terlihat sayu bahkan sejak tadi tak bersuara.


"Tadi belajar aja terkantuk-kantuk, Bunda." Adu Avez. Jelas saja ituterjadi, siang tadi mereka memang tak tidur siang dan aktif berlari kesana kemari ketika di Akeda's Palace.


"Ya udah adek bobok gih." Bahkan tak perlu di suruh dua kali gadis kecil itu naik ke atas ranjang, memeluk guling, kemudian memejamkan matanya. Aksa bahkan melihat itu dengan geli. Di dekatinya putrinya dan mengelus rambutnya. Mencium pipinya dan mempuk-puk denganlembut.


"Abang nggak tidur?" Kini giliran Avez yang ditanya oleh Aksa.


"Belum ngantuk, Yah." Katanya. Padahal dibandingkan denganIxy, kegiatan Avez lebih banyak. Tapi sepertinya kelelahan itu masih bersembunyi entah dimana.


Meskipun begitu, baik Aksa maupun Love tak meninggalkan Avez di kamar sendirian. Mereka menemani putranya yang masih terjaga dan mengobrolkan tentang aktivitas mereka.


"Kira-kira nanti Abang kalau udah besar mau bekerja apa ya?" Ketika anak seusia Avez ditanya mengenai cita-cita mereka, pasti akan berganti-ganti jawaban mereka. Polisi, tentata, pilot, dan dokter, adalah jawaban popular yang akan mereka gunakan.


"Dokter." Jawabnya. "Biar kaya grandpa." Yang dimaksud granpa oleh Avez adalah kakak ipar Marvel.


"Dokter gigi," Bahkan kalau diingat, beberapa bulan lalu sempat mengatakan jika dia ingin menjadi pilot agar bisa menerbangkan pesawat. Tapi baik Aksa maupun Love akan selalu menanggapi dengan baik hal itu agar Avez merasa mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya, meskipun mungkin nanti cita-cita Avez akan berganti lagi.


"Oke! Dokter, sekarang dokter tidur dulu, udah mau jam sepuluh." Avez menurut dan berbaring di Kasur. Berdoa sebelum tidur, lalu memejamkan matanya.


Setelahnya kedua orang tua Avez yaitu Aksa dan Love keluar kamar anak-anak mereka. Untuk masuk ke dalam kamar mereka sendiri.


Love masih saja mengabaikan Aksa dan sibuk dengan rutinitas malamnya. Mengganti pakaian tidur, memakai cream malam kemudian lotion malam, dan yang terakhir mesnyisir rambutnya. Setelah memastikan dia sudah oke untuk tidur, maka dengan santai dia naik ke atas ranjang yang sudah ada Aksa di sana.


Lelaki itu menahan senyumnya karena rajukan sang istri dia tak dipedulikan sama sekali. Namun dia belum ingin mengatakan apapun kepada peremuan yang berbaring di sampingnya itu.


Love tak langsung tidur, tapi mengikuti sang suami dengan memainkan ponsel miliknya. Menghabiskan waktunya selama setengah jam, kemudian meletakkan ponsel itu di nakas dan memunggungi Aksa. Dia berpikiran suka-suka Aksa mau melakukan apa kali ini.


Love bisa merasakan jika Aksa sedang mencium kepalanya bagian belakang namun tak sama sekali berusaha untuk meluluhkan hati sang istri. Tentu saja itu membuat Love geram sekali. Sumpah serapah sudah penuh di hatinya tapi tak dikeluarkannya.


'Menyebalkan' adalah kata yang cocok di semangatkan di tengah nama Aksa. Harusnya dia sekarang membujuk sang istri, tapi tak dilakukannya.


Kamar sudah gelap, Love bangun, karena memang sedari tadi dia belum tidur, dan melihat manusia di sampingnya. Aksa dengan tenang tidur dengan memeluk guling dengan napas teratur. Kalau tidak sedang merajuk, bisa saja Love begitu bahagia melihat suaminya yang seperti itu.


Karena tak tahu apa yang harus dia lakukan di waktu yang sudah malam seperti sekarang ini, maka Love benar-benar tidur dan tak lagi memusingkan apa yang dilakukan oleh sang suami.


Aksa bangun. Di dalam gelapnya malam, dia keluar kamar dengan langkah pelan jangan sampai istrinya ikut terbangun. Turun ke lantai satu rumahnya, lelaki itu masuk ke dalam ruang makan, membuka kulkas dan mengeluarkan sesuatu dari sana kemudian kembali lagi ke lantai dua.


"Abang, bangun." Lelaki itu mengguncang tubuh putranya dengan pelan agar Avez tak kaget. Bocah itu baru tidur selama dua jam-an dan ayahnya malah membangunkannya. "Bang!" Masih dengan suara pelan, Aksa mencoba peruntungan. "Bangun." Melihat putranya yang terlihat nyaman sekali tidurnya dia sebenarnya tak tega membangunkan bocah itu.


Memutuskan untuk membiarkan Avez terlelap, dia berdiri dan melakukan sesuatu yang direncanakan itu seorang diri. Tak masalah, toh nanti pasti akan ada hal lain lagi.


Aksa melihat jam di nakas, 02.30 pagi. 'Show time.'Batinnya.


Kemudian menyalakan lilin sebentar dan menyanyikan lagu ulang tahun sambil mengguncang tubuh Love pelan.


"Happy birthday." Love membuka matanya dan langsung mendapatkan kata sambutan seperti itu. Maka yang mampu Love lakukan adalah terbengong dan menatap sang suami dan juga kue ulang tahun kecil yang ada di tangan Aksa dengan lampu yang masih temaram.


"My Princess. Yang sekarang udah menjadi My Queen, selamat bertambah usia. Aku tahu kamu sedang merajuk tapi tolong di tiup dulu lilinnya." Sangat tak romantis sekali memang, tapi apa boleh buat, meskipun hanya sebatas itu nyatanya mampu membuat Love terharu.


Di tiupnya lilin yang tertancap di kue tersebut dan langsung memeluk sang suami. "Cinta kamu." Katanya dengan penuh keseriusan.


Tangan kiri Aksa di gunakan untuk membalas pelukan istrinya sedangkan tangan kanannya masih menyangga kue ulang tahun Love. "Aku bahkan nggak ingat kalau hari ini ulang tahun." Itu yang dikatakan oleh Love ketika pelukan mereka sudah terurai.


"Karena yang kamu inget cuma aku. Sampai hajat diri sendiri nggak inget," Aksa berdiri untuk menyalakan lampu kamar mereka agar tak lagi temaram. "Berdiri!" Perintahnya.


Love membuka selimut yang menutupi pahanya dan berdiri kemudian mendekat dimana sang suami berada. "Aku sebenernya maunya sama anak-anak juga, tapi sayangnya Avez aku bangunin nggak mau bangun, apalagi kalau aku bangunin Ixy, bisa kelewatan nanti jam lahirnya kamu." Love terus menatap suaminya itu dengan penuh cinta.


"Aku lupa sama sekali kalau hari ini adalah hari ulang tahunku." Aksa meletakkan kue yang sejak tadi di pegangnya di atas meja.


"Bukan masalah. Yang penting aku ingat," Jawab Aksa sambil menarik tangan istrinya itu untuk duduk di sofa kamarnya. "Mau di potong?" Kue yang dibelikan Aksa untuk Love itu memang tak terlalu besar. Seandainya Aksa mau, dia bisa melahap semua dan menghabiskan. Sayanya itu tak mungkin dilakukan oleh lelaki itu.


Hanya untuk formalitas saja, Love memotong kue itu sedikit dan menyuapkannya kepada Aksa. "Terima kasih untuk semuanya," Love memeluk Aksa dan menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. "Aku mau semoga kita akan bahagia selamanya." Doa itu tulus di ucapkan. "Aku, kamu, dan anak-anak kita." Ucapnya merevisi lagi.


"Amin," Aksa ikut menyamankan dirinya memeluk sang istri, "Aku selalu berdoa agar kita selalu di berikan apapun yang terbaik dari Tuhan." Mereka masih setia dengan posisi seperti itu sampai keduanya lelah.


"Aku dapat kado apa, Yang?" Love menyangga dagunya di atas lutut Aksa yang di tekuk dan menatap lelaki itu penuh harap. Bahkan setelah itu mencari sendiri di dalam kantong celana pendek yang dikenakan oleh sang suami.


"Kok nggak ada?" Ada kekecawaan di dalam sorot matanya. "Serius nggak dapet kado, Yang?" Tanyanya untuk memastikan.


"Perhiasan banyak, mobil ada, rumah ada, motor ada, suami ada, anak sepasang ada, mau apa lagi?" Aksa kadang memang minta di tendang kalau berbicara. Itu jelas menjengkelkan bagi yang mendengar, untungnya dia sudah biasa dengan hal tersebut.


"Jadi serius kalau ulang tahun kali ini nggak dapat kado?" Ibu dari dua anak itu memelas melihat sang suami.


"Aku nggak kepikiran buat kasih kado ke kamu kemarin. Jadi aku nggak nyiapin apapun kecuali kue yang harganya cuma seratus lima puluh ribu." Santainya Aksa mengatakan itu membuat Love memanyunkan bibirnya.


"Kan bisa di belikan tas, sepatu, kalung, atau apapun kek buat kado." Love masih tak terima dengan Aksa yang tak menghadiahi dia apapun.


"Tas kamu kurang banyak?" Ekspresi itu menyebalkan di mata Love. "Bahkan kamu udah pesan lemari lagi buat nampung tas sama sepatu kamu." Aksa tak pernah melarang istrinya membeli apapun yang disukainya. "Tas apa lagi yang kamu mau? Tas ransel tayo?" Bukan hanya pelototan yang diberikan kepada Love untuk Aksa, tapi cubitan tak lupa dihadiahkan oleh lelaki itu.


Namun suara tawa juga terdengar dari bibir Love. Dia geli sendiri mebawangkan dirinya menggunakan tas ransel tayo ketika ada sebuah undangan.


"Nggak usah dibayangkan, kamu pasti akan terliahat lucu sekali." Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya, Aksa berkata demikian.


"Kok tahu aku lagi membayangkan?"


"Lihat aja tawa kamu tu, kelihat banget kalau sedang yang enggak-enggak di dalam pikirannya." Love tak bisa jika tak menerjang Aksa. Meskipun bar-bar, tapi Aksa tetap menerima perlakuan peremuan itu dengan ikut tertawa.


*.*