Blind Love

Blind Love
Kisah 9



Suasana hening terjadi. Libra dan Virgo yang duduk bersebelahan hanya diam belum mengatakan apapun. Sedanghkan Jihan yang heboh sendiri itu kesana-kemari untuk menyuguhkan makanan di atas meja ruang keluarga.


“Kalian makan ya. Udah makan malam?” tanya Jihan kepada dua orang yang sekarang sedang duduk berdempetan. Libra jelas takut karena tatapan ayahnya sungguh seperti pembunuh berdarah dingin.


“Kami tadi udah makan, Ma. Mama nggak perlu repot-repot menyajikan banyak makanan begini.” Virgo yang berbicara karena tak mungkin dia hanya diam saja seperti yang dilakukan oleh Libra.


“Nginap di sini kan?” Virgo benar-benar ahli sekali mengendalikan keadaan. Ditanya seperti itu, lelaki itu santai saja menjawab.


“Mungkin lain kali, Ma.” Katanya. Genggaman tangan Libra di tangan Virgo benar-benar erat sekali. Dan dengan kurang ajarnya, Virgo ‘menegur’ ayah mertuanya karena membuat istrinya ketakutan.


“Maaf, Om. Tapi tangan Libra sudah dingin karena Om melototi dia sejak tadi. Mungkin, Om bisa menatap dia dengan cara yang biasa.” Itu sungguh tak masuk di akal sebenarnya. Kenapa ada menantu yang berani seperti itu kepada mertuanya? Bahkan dia saja tak dianggap sama sekali oleh lelaki itu.


“Lancang sekali kamu.” Jelas saja itu akan membangunkan macan tidur dengan mengatakan hal semacam itu.


“Saya hanya memberitahu. Om tidak perlu memikirkannya.” Jawabnya dengan santai yang membuat Ardi mendengus jengkel.


“Untuk apa kalian datang kesini? Kalian kira kalian akan mendapatkan ucapan selamat datang yang bagus dari saya? Mimpi saja kalian.” Ardi sungguh tak pernah mengendurkan hatinya untuk sekedar memberi senyum pura-pura kepada dua orang di depannya.


“Kewajiban kami untuk mengunjungi orang tua kami, Om.”


“Siapa yang kamu anggap orang tua? Saya tidak sudi menjadi orang tua kamu.”


“Itu hak om untuk tidak menerima saya. Tapi bagaimanapun, Libra tetap putri, Om. Tak ada yang bisa mengingkari hal itu.” Ardi diam dengan mata menatap tajam Virgo karena berani membantahnya.


“Seharusnya, putri yang baik adalah putri yang mau mendengarkan apa yang orang tuanya katakan. Bukan malah menjadi perempuan pembangkang.” Libra diam dengan air mata yang siap keluar dari netranya. Jihan yang melihat itu menegur sang suami.


“Bisa nggak kamu bersikap baik kepada mereka? Mereka sudah datang ke sini untuk berkunjung. Tak seharusnya kamu bersikap seperti ini.”


“Aku nggak minta untuk dikunjungi.”


“Kamu nggak pernah berfikir niat baik mereka ya, Mas.” Jihan tak terima dengan ucapan Ardi, “Mereka datang kesini meskipun mereka tahu sambutan yang akan didapatkan dari kamu nggak akan bagus, bisa kamu menghargai sedikit saja?” tatapan Jihan bahkan sama sekali tak biasa. Memicing dengan penuh geram.


“Udah, Ma.” Libra menghapus air matanya. Menatap ibu dan ayahnya secara bergantian. “Virgo yang memiliki inisiatif untuk datang kesini karena dia bilang memang hal ini adalah kewajiban yang harus kita lakukan sebagai seorang anak. Aku tahu ini akan terjadi. Ayah nggak akan menerima kami begitu saja. Tapi, Yah, kami datang kesini karena memang kami ingin hubungan kita bisa diperbaiki. Kami ingin Ayah bisa sedikit menerima Virgo.” Libra menjeda ucapannya dan menunggu ayahnya mengatakan sesuatu. tapi nyatanya lelaki itu hanya diam saja.


Karena itu dia melanjutkan, “Aku tahu, hubungan ayah dan orang tua Virgo memang tidak baik sejak dulu, tapi kenapa Ayah melibatkan Virgo dalam hal ini?”


“Jadi kamu sekarang sudah pintar sekali berbicara?” sinis Ardi kepada putrinya.


“Bukan begitu, Yah, aku Cuma__”


“Kamu nggak tahu rasanya dikhianati. Jadi kamu nggak perlu memberikan komentar.” Libra langsung terdiam ketika ucapannya di potong oleh ayahnya begitu saja.


“Maaf.” Libra memejamkan matanya ketika dia merasa sangat sedih sekali, “Kita pulang ya, Yang.” Ajaknya kepada Virgo. Virgo tak mungkin membiarkan istrinya lebih lama lagi bersedih. Maka dia menyanggupi.


“Kalau begitu kami pulang dulu, Ma, Om.” Virgo dan Libra berdiri untuk berpamitan, “Kami akan berkunjung lagi nanti.” Libra yang merasa tak terima itu menatap Virgo.


“Yang.” Panggilnya yang dihadiahi senyuman oleh Virgo.


“Kalian memang harus sering datang. Mama akan senang menyambut kalian.” Jihan sepertinya merasa lega dengan ucapan Virgo, setidaknya mereka tak akan mundur hanya karena Ardi.


Virgo mengangguk dan kemudian pamit dari sana. Jihan mengantarkan dua orang itu sampai keluar rumah. Bahkan sampai Virgo dan Libra tak terlihat, Jihan masih berdiri di sana. Tak ada seorang ibu yang akan sanggup melihat putrinya pergi dari rumahnya dengan deraian air mata seperti yang terjadi barusan. Pasti beliau juga merasakan sedih yang teramat. Namun bagaimana lagi, dia pun tak mampu melakukan apapun.


*.*


Libra meringkuk di dalam pelukan Virgo ketika mereka sudah mengganti pakaian tidur. Virgo memainkan rambut istrinya sambil sesekali mengecup puncak kepala perempuan itu dengan sayang.


“Kamu nggak serius mengatakan itu tadi kan, Yang?”


“Yang mana?”


“Tentang akan datang berkunjung lagi di rumah ayah.”


“Aku serius.” Jawaban itu dikatakan dengan pasti tanpa keraguan sama sekali. Libra bahkan dengan kasar duduk dengan tegak dan menatap lelaki itu.


“Yang!” Libra kembali mengeluarkan air matanya ketika jawaban yang diberikan oleha Virgo itu seolah menyakitinya, “Kamu tahu kalau kita nggak diterima sama ayah. Kenapa kita harus ke tempat dimana kita sama sekali nggak diharapkan kedatangannya?”


“Karena dengan cara inilah kita bisa meluluhkan ayah kamu.” Entah keyakinan dari mana yang diperoleh oleh Virgo ini, bahkan Libra saja seolah tak paham dengan jalan pikiran sang suami.


“Terserahmu.” Libra berbaring kasar dan memunggungi Virgo karena merasa jengkel dengan suaminya itu. Namun Virgo tentu tak akan tinggal diam denga hal itu. Lelaki itu ikut berbaring dan mendekat untuk memeluk Libra dari belakang.


“Selamat malam!” begitu katanya tanpa melanjutkan apa yang sedang mereka bahas malam ini. Karena kalau Virgo tetap melanjutkan, maka endingnya adalah akan terjadi pertengkaran. Virgo tak ingin itu terjadi.


Paginya seperti biasa, setelah sarapan, mereka berangkat ke kampus dengan Virgo lebih dulu mengantarkan Libra ke falkultasnya barulah dia pergi ke fakultasnya sendiri.


“Nanti kamu pulangnya naik ojek online nggak papa ya?” Libra mengangguk saja. Hari ini, Virgo memang hanya memiliki satu mata kuliah, dan setelahnya dia langsung pergi ke kantor. Jadi tak mungkin menunggu Libra lebih dulu kan.


“Kalau mau berangkat tunggu aku keuar kelas dulu ya.” Libra merasa tak afdol jika tak melihat sang suami pergi tanpa dia melihatnya. Itu adalah kebiasaannya setelah menikah dengan Virgo .


“Iya. Nanti aku chat kamu.” Virgo pun sama, dia tak akan merasa tenang jika pergi kemanapun tanpa meihat istrinya terlebih dahulu.


Setelahnya Virgo berlalu dari sana untuk pergi ke fakultasnya karena sebetar lagi kelas pasti akan dimulai. Maka dia meninggalkan Libra.


Seperginya Virgo dari sana, Libra menunggu teman-temannya di kursi di bawah pohon. Namun seseorang menghampirinya hanya sekedar bertanya hal yang menurutnya tak penting sama sekali.


“Itu tadi siapa lo, Li?” tanya seorang gadis yang memang satu jurusan dengannya. Sepertinya memang gadis itu penasaran dengan Virgo.


“Kenapa?”


“Suami gue.” Libra mengatakan dengan blak-blakan merasa tak ada yang harus dia sembunyikan sama sekali. Dan ekspresi gadis itu benar-benar menggelikan sekali.


“Serius?” tanyanya untuk meyakinkan jika apa yang dikatakan oleh Libra memang benar adanya.


Libra menunjukkan cincin di jari manisnya untuk meyakinkan temannya itu. “Ini buktinya.” Katanya tanpa keraguan sama sekali.


“Astaga, Li.” Katanya dengan mulut menganga. “Lo serius udah nikah?” tanyanya dengan wajah tak yakin sama sekali. Namun bukti cincin itu memang tak bisa diabaikan begitu saja.


“Iya, gue emang udah nikah.” Libra mengabaikan kekagetan temannya itu. Dia sama sekali tak peduli jika setelah ini akan mendapatkan gunjingan dari kalangan mahasiswa lain.


*.*


Libra keluar kelas ketika mendapatkan chat dari Virgo yang mengatakan jika lelaki itu sudah menungguk di kantin pusat. Ditemani Shila, Zidan, dan Sam, Libra datang kesana. Mencari dimana Virgo duduk, dan mendekati lelaki itu setelah melihat menemukannya.


“Mau makan lagi?” tanya Libra ketika melihat ada satu porsi nasi pecel di depannya.


“Duduk dulu.” Ditariknya tanga Libra agar perempuan duduk di sebelahnya.


“Kami duduk di sana ya, Li.” Karena satu meja itu tak muat jika harus menampung teman-teman Libra, maka Rion berisiatif untuk mencari meja lain.


“Iya.” Jawab Libra, “Mana Edo sama Tere?” pasalnya Virgo sekarang bukan dengan dua temannya itu, tapi dengan orang-orang yang tak dikenalnya sama sekali. Hanya menyempatkan tersenyum saja ketika melihat tadi.


“Mereka langsung pulang. Udah nggak ada kelas lagi kan.” Libra mengangguk-angguk saja.


“Mau pesen nggak?”


“Enggak. Mau makan cilok aja nanti.” Interaksi yang diperlihatkan oleh Virgo dan Libra memang menjadi tanda tanya besar di kepala orang-orang yang tak dikenal oleh Libra tersebut.


“Kalian udah tunangan atau cuma cincin couple aja?” pertanyaan itu diajukan oleh satu-satunya gadis yang ada di sana karena melihat cincin yang dipakai oleh Virgo dan juga Libra. Sebelum ini Virgo tak memakai benda itu dan gadis itu memang tahu sekali perubahan sedikitpun dari Virgo.


Virgo dan Libra menatap gadis itu bersamaan, kemudian saling pandang satu sama lain. Barulah Virgo menjawab, “Kami udah halal.” Alih-alih menggunakan kata ‘menikah’ Virgo memillik kata halal untuk menjawab pertanyaan tersebut.


Bukan hanya gadis asing itu yang terkaget, tapi dua lelaki yang duduk bersama gadis itu juga melakukan hal yang sama.


“Menikah, Vir?” itu adalah pertanyaan untuk meyakinkan telinga mereka.


“Iya, menikah.” Jawab Virgo dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun.


Gadis itu shock bukan main mendengar berita tersebut. Ditatapnya Libra dengan pandangan menilai tanpa putus. Libra tahu jika dia dipadangi oleh orang-orang itu, tapi dia berusaha untuk mengabaikan saja.


“Makan, Yang. Udah mau berangkat kerja kan?” Libra mengurai keheningan itu dengan berbicara kepada Virgo. Peduli setan dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman Virgo itu.


Virgo mulai memakan makanannya dengan tenang. “Enak, Yang. Mau?” tawarnya dan mendekatkan satu sendok di depan bibir Libra. Meskipun ragu, Libra tetap membuka bibirnya untuk menerima suapan tersebut.


“Enak.” Tanggapan Libra, “Aku nggak mau lagi. Nanti aku nggak jadi beli cilok kalau kekenyangan.” Bagi Libra, cilok itu adalah makanan yang tak boleh diabaikan begitu saja.


“Kamu keseringan makan itu, nanti lama-lama kamu kekurangan gizi.” Kata Virgo sambil menatap Libra dengan tatapan penuh dengan cinta. Siapa saja yang melihat itu akan iri dibuatnya. Bahkan gadis asing itu pun juga merasa cemburu.


“Jadi, sabtu nanti jadi ikut ya, Vir.” Teman-teman yang tak dikenali oleh Libra itu adalah kakak tingkat Virgo yang akan mengajak lelaki itu bertanding basket weekend nanti. Sedangkan gadis yang ikut bersama lelaki itu adalah ingin dikenalkan oleh Virgo karena merasa suka dengan lelaki itu.


Karenanya, dia merasa shock dengan status Virgo yang sudah menikah. Baginya itu tak bisa dicerna oleh otaknya. Mungkin seperti itulah yang sedang difikirkan oleh gadis itu.


“Sebenarnya gue nggak bisa janji sih, Bang. Karena selalu ada saja acara dadakan kalau seperti ini. Nanti gue hubungi lagi aja lah ya. Gue bisa ikut atau enggak.”


“Biar nanti gue aja yang tanya ke elo. Nanti lo lupa lagi.” Tak ingin seperti yang kemarin yang katanya akan memikirkan keputusan untuk masuk ke club basket, nyatanya Virgo benar-benar melupakan hal tersebut.


“Gimana baiknya aja lah, Bang. Emang gue sering lupa kalau menyangkut hal yang begitu.” Kekehnya dengan ringan.


Libra melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, “Lima menit lagi aku masuk kelas, Yang.” Itu adalah tanda jika Virgo harus segera menghabiskan makanannya.


“Udah selesai kok.” Katanya sambil meletakkan sendok di atas piring dan meminum minumannya.


“Mau diantar beli cilok dulu?” Virgo sudah mau berdiri ketika menawarkan itu.


“Enggak usah. Nanti kamu telat kalau ngurusin cilok aku.” Virgo geli mendengar jawaban dari Libra. Di uyelnya pipi perempuan itu dengan gemas tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya yang menatapnya keheranan.


“Ya udah, ayo berdiri. Antar aku berangkat.” Mereka berdiri dan berpamitan dengan orang-orang yang duduk di satu meje dengan mereka, “Duluan ya, Bang, Kak.” Katanya yang mendapatkan anggukan dari mereka.


“Hati-hati.” Begitu kata lelaki itu. Virgo tak membayar? Dia mendapat traktiran dari gadis tadi. Karena dari awal gadis itu sudah mengatakan hal tersebut, Virgo tentu berlalu begitu saja dari sana.


Seperginya Libra dan Virgo, gadis yang diketahui namanya bernama Desi itu hanya diam tanpa mengatakan apapun. Dia tercenung dengan berita yang baru saja didengarnya.


“Des!” teman lelaki gadis itu memanggil, “Lo patah hati?” pertanyaan itu harusnya dikatakan dengan santai, tapi sepertinya di telinga Desi mengandung sindiran.


“Lo nggak nyindir gue kan?” tanyanya dengan pandangan menilai.


“Enggak, elah. Sensitive sekali sih.” Begitu kata lelaki itu.


“Gue nggak nyangka kalau Virgo juga udah menikah. Gue juga nggak ngelihat tanda-tanda si cewek hamil.” Itu adalah Analisa dari Desi, “Tapi biasanya orang yang menikah muda itu kan pasti ada sesuatu yang terjadi?” lanjutnya. Dan sepertinya juga selesai dia berkomentar.


“Gue juga yakin kalau mereka itu saling mencintai. Dilihat dari sisi manapun, Virgo itu cinta sama istrinya, dan begitupun sebaliknya. Kalau hubungan mereka hasil perjodohan kayaknya juga nggak mungkin.” Gadis itu mendapatkan gelengan kepala dari teman-temannya karena merasa bisa mengurai benang kusut dari ketidak tahuannya tentang hubungan Virgo dan Libra.


*.*