
“Kita belanja ya, Yang.” Virgo yang sedang asyik berbaring di kasur sontak saja menatap istrinya. Sejak mereka menikah memang belum pernah sekalipun mereka pergi berbelanja. Ulah siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya yang membelikan banyak belanjaan siap saji agar anak-anak mereka tak kesulitan memasak jika lapar.
“Serius?” begitu tanya Virgo meyakinkan pendengarannya.
“Iya. Kita harus hidup sehat dengan masak sendiri. Mau enak mau enggak yang penting kita harus memasak sendiri. Ralat. Aku maksudnya yang akan masak. Kamu cukup menjadi komentator saja.” Yakinnya dengan berapi-api.
“Oke!” senyum Virgo bahkan lebar sekali ketika menyetujui ajakan Libra. Bangun dari kasur, kemudian memeluk sang istri, “Berangkat sekarang?” tanyanya setelah melepaskan pelukannya.
“Habis magrib.” Waktunya memang tak memungkinkan untuk mereka keluar. Maka Virgo tak membantah dan hanya menyetujui saja apa yang dikatakan oleh sang istri.
Mereka kembali ke atas ranjang, duduk bersila sambil memainkan ponselnya. Ketika Libra mengingat sesuatu, maka dengan penasaran dia bertanya, “Yang, Yosh itu beneran suka sama Tere?” Virgo seketika mendongak untuk melihat sang istri.
“Iya. Pernah nembak Tere waktu itu, dan kebetulan aku lewat. Malu juga si cowok.” Gamblang sekali Virgo menjawab.
“Kok sampai si Edo nggak tahu? Kan selalu sama-sama?”
“Namanya pencuri, kalau si pemilik nggak ada ya cepet-cepet mau ngambil aja lah dia.” Virgo memang satu-satunya orang yang tahu kejadian tersebut memang tak mengatakannya kepada Edo karena memang Tere yang tak mengijinkan.
“Ternyata sekarang ini hubungan juga banyak tikungannya ya, Yang.” Libra mengganti posisi dengan berbaring kemudian baru melanjutkan. “Kalau kita banyak tikungan nggak, Yang?” tanyanya santai sambil menatap sang suami.
“Kalau kita itu bukan banyak tikungan, Yang. Tapi tanjakannya banyak banget,” mengikuti sang istri berbaring, Virgo menumpukan lengannya ke perut Libra dan disambut Libra dengan mengelus lengan sang suami. “Mulai dari ayah nggak restuin kita, terus nggak restuin lagi, dan masih belum restuin terus.” Ngaconya yang membuat Libra geli mendengarnya.
“Jadi enakan mana, Yang, banyak tikungan atau banyak tanjakan?” pancing Libra.
“Enakan peluk kamu. Nggak perlu mikir.” Jawabnya masih dengan memeluk sang istri dan semakin mengeratkan pelukannya.
Jawaban Virgo ini memang terdengar tak serius, karena memang dia tak ingin membahas masalah rumitnya tentang tikungan dan tanjakan. Baginya dengan bersama Libra seperti ini saja sudah luar biasa sekali baginya.
Selesai sholat magrib, mereka bersiap-siap untuk pergi berbelanja seperti yang direncanakan. Hanya menggunakan pakaian sederhana, mereka siap berburu makanan sehat, setidaknya begitulah kata Libra tadi. Keduanya benar-benar semangat dengan hal baru yang sedang mereka lakukan ini sekarang.
Virgo langsung mengambil troli belanjaan, dan mendorongnya untuk mengikuti Libra yang memimpin jalan.
“Karena kebetulan ini kan awal bulan, jadi ini dinamakan belanja bulanan, Yang. Apa yang kita beli harus cukup untuk satu bulan.” Libra menatap Virgo dengan sungguh-sungguh, “Karena aku adalah ibu Negara dan sekaligus menteri keuangan, makanya aku harus bisa mengatur keuangan kita.” Ucapan Libra yang bersungguh-sungguh itu membuat Virgo gemas setengah mati.
Dicubitnya pipi perempuan itu dengan gigi yang bergemelatuk. “Kamu kalau kayak gini kok gemes banget sih, Yang.” Katanya tanpa menghiraukan apapun yang baru saja Libra katakan, dan malah sibuk menatap istriya yang baginya begitu menggemaskan sekali.
“Aku bilang apa tadi, Yang?” Libra mencoba memancing Virgo hanya ingin tahu apakah suaminya itu mendengarkannya ataukah tidak.
“Aku denger apa yang kamu katakan, Yang. Tapi ekspresi kamu itu lho yang bikin aku gemes banget.” Dan Libra hanya memutar bola matanya malas dan langsung melanjtukan jalannya untuk berburu bahan makanan.
Dimulai dari deretan minyak goreng, Libra mengkira-kira berapa banyak minyak goreng yang dibutuhkan selama satu bulan. Ekonomisnya keluar dengan menghitung beratnya minyak tersebut dengan harganya. “Enakan beli yang tempat kaya gini atau yang pakai jerigen, Yang?” Libra benar-benar serius menghitungnya.
“Kan di rumah sudah ada tempat minyak, Yang. Beli yang kemasan plastic aja.” Virgo jelas memberikan komentarnya juga.
“Tiga kemasan besar pasti cukup lah ya, Yang?”
“Cukup. Kan kita mau hidup sehat, jadi nggak banyak pakai minyak goreng nanti.”
“Cerdas.” Katanya dan langsung mengambil minyak tersebut tiga kemasan besar. Dan itu jelas menimbulkan reaksi dari Virgo. lelaki itu menggeleng dan terkekeh melihat tingkat istrinya.
Mereka kemudian beralih ke tempat tepung, deretan teh dan gula, sampai troli mereka benar-benar penuh dengan belanjaan, barulah mereka menyudahi acara belanja mereka. Makanan ringan yang menjadi kesukaan mereka juga tak lupa untuk dibeli. Dan paling banyak stok adalah coklat, karena Virgo memang suka sekali meminum coklat hangat.
“Berat banget, Yang.” Virgo mengeluh ketika masih di kasir dan mengangkat barang belanjaan mereka yang ada tiga kantong besar. Libra membawa satu kantong dan Virgo yang membawa sisanya. Memasukkan ke dalam bagasi mobil dan Virgo langsung menyederkan punggunya di sana.
“Gitu amat sih.” Protes Libra melihat suaminya yang berlebihan sekali.
“Emang berat lho, Yang.” Katanya dengan sungguh-sungguh, “Ini seriusan kamu mau masak? Udah malam, lho. Dan aku juga udah laper.” Cengir Virgo.
“Aku juga udah lapar. Masaknya besok aja lah ya.” Sepertinya karena berbelanja, tenaga mereka justru terkuras sebelum merealisasikan apa yang direncanakan.
Maka mereka terdampar di rumah makan pinggir jalan. Sembari makan, mereka bisa melihat sibuknya kota Jakarta. Asap yang mengepul karena proses pembakaran bahan makanan seperti ayam, bebek, ataupun sosis, menambah kesan lapar yang hakiki.
Keduanya memesan ayam bakar dengan porsi besar. Makan dengan lahap seolah mereka benar-benar kelaparan.
“Libra?” Libra yang tadinya menggigiti daging yang menempel di tulang ayam tersebut mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya. Tak hanya Libra, Virgo pun juga melakukan hal yang sama.
“Edzard?” tak pernah Libra berfikir jika mereka akan dipertemukan oleh lelaki itu. Terakhir dia mendapatkan kabar adalah jika Edzard jadi melanjutkan kuliahnya di luar kota.
“Hai!” ada senyum canggung yang diberikan kepada lelaki itu. Virgo hanya berkedip pelan melihat itu, namun akhirnya Edzard juga menyapa dirinya.
“Vir!” dan mengangsurkan tangannya untuk berjapat tangan.
“Kotor, Bro.” Virgo sambil mempelihatkan tangannya yang bekas dari memegangi makanan dan penuh dengan minyak.
Edzard mengangguk dan kembali menatap Libra. “Boleh gabung?” pertanyaan itu memang diberikan kepada Libra, tapi perempuan itu menatap sang suami untuk meminta persetujuan. Dan ketika Virgo mengangguk, Libra pun menyetujui.
“Duduk aja, Ed.” Jawab Libra. Sejujurnya dia tak ingin ada gangguan sama sekali dari orang lain, tapi sayangnya dia harus mengesampingkan hal itu.
“Kalian balikan?” lelaki itu sudah duduk, dan pertanyaan tersebut langsung terlontar dari bibirnya.
Libra berdehem dan menatap Virgo untuk menjawab, tapi lelaki itu justru cuek saja dan melanjutkan makannnya. Maka mau tak mau, Libra harus menjawab pertanyaan tersebut.
“Ya, begitulah.” Katanya dengan ringan, “Gue denger, lo kuliah di luar kota.” Libra tak mungkin bersikap tak peduli kan dengan lelaki itu. Maka meskipun pertanyaan itu hanya basa-basi semata, maka dia tetap harus melakukannya.
“Ya,” jawab Virgo, “Gue sebenernya agak kecewa karena lo nggak jadi kuliah di sana bareng gue.”
“Gue emang ubah rencana gue.” Libra masih mencemilli ayam bakar itu dan berbicara dengan santai bersama Edzard.
“Kenapa nggak jadi? Nggak tega ninggalin Jakarta?”
“Gue sih sebenarnya sama sekali nggak rugi kalau harus melakukan itu. Toh setelah kuliah juga nanti bakalan balik. Tapi memang mungkin itu adalah takdir yang Tuhan berikan untuk gue,” mata Libra menatap Virgo kemudian bilang, “Tuhan mau mempertemukan gue lagi sama dia.” Kedikan kepalanya membuat Edzard menatap Virgo.
“Sepertinya hubungan kalian berjalan dengan lancar.” Edzard memang tak mengerti apapun terkait dengan hubungan Virgo dan Libra.
“Begitulah.” Libra sama sekali tak mengatakan jika dia sudah menikah dengan Virgo. Bahkan Edzard pun sama sekali belum menyadari dengan cincin yang dipakai oleh dua orang di depannya.
“Sama aja sih dengan kuliah di kota sendiri. Hanya, tinggal di kos itu lebih ada gregetnya gitu.”
“Emang sih. Gue juga suka tinggal di kos. Apalagi ada temen yang baik di sana, bakalan betah banget.” Lanjut Libra.
“Lo kos, Li? Kok kayaknya paham dengan dunia kos.”
“Gue tinggal di kos waktu itu. Dan beneran nyaman banget.”
“Sepertinya gue ketinggalan berita dari lo. Berita apa lagi yang nggak gue tahu?” Libra tersenyum mendengar pertanyaan dari Edzard. Dan jelas saja tanpa diminta untuk menjelaskan, dia langsung mengatakannya.
“Kebersaman kami,” tunjuk Libra pada drinya dan Virgo secara bersamaan.
“Gue awalnya kaget ketika melihat kalian bersama. Karena terakhir kali gue tahu, kalian udah nggak bersama.”
Tapi Virgo tetaplah Virgo, dia tak akan terpancing dengan umpan murahan yang diberikan Edzard kepadanya. “Ya, begitulah. Takdir kadang memang selucu itu. Meskipun Libra mau niggalin Jakarta, nyatanya malah kita satu kampus.”
“Serius?” Edzard terlihat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Virgo.
“Betul.” Jawab Libra, “Gue juga awalnya nggak tahu. Ya, jadilah kita bersama lagi sekarang.” Entengnya tak menyadari Edzard shock dengan apa yang didengarnya.
Suasana mendadak hening. Virgo sudah menyelesaikan makannya, dan meneguk minumnya dan di sanalah Edzard menyadari sesuatu. Ditatapnya jari Virgo dan Libra bergantian kemudian dengan ragu bertanya,
“Kalian udah tunangan?” Virgo menatap Edzard sebelum menjawab.
“Kami udah halal.” Dengan santai tanpa beban sama sekali ketika mengatakan itu. Bagi Virgo, untuk apa dia mengatakan hal tersebut dengan beban, toh itu adalah kebahagiaannya.
Saking kegetnya, Edzard bahkan mengatakan balasan ucapan Virgo dengan terbata, “Bukannya kalian nggak dapat restu dari om Ardi?”
“Kalau Tuhan udah berkehendak, tak akan ada satu orang pun yang bisa menghalangi. Benar begitu kan?” berlagak sok ustad, Virgo mengatakan itu dengan senyum. Benar-benar kampret sekali lelaki itu.
Edzard tersenyum dengan kaku sebelum mengucapkan selamat, “Selamat kalau gitu buat kalian.” Berlagak melihat jam tangannya, lelaki itu berpamitan. “Gue balik lah ya, masih ada urusan yang harus dikerjakan.” Katanya. Tak lupa bersalaman dengan pasangan tersebut, kemudian berlalu dari sana.
Hal itu membuat Virgo menggelengkan kepalanya, “Pasti hatinya sakit banget.” Berlagak sok miris, tangannya di letakkan di dada untuk mendramatisir. “Aku bahkan bisa merasakannya.”
Dan paha ayam langsung masuk ke dalam mulut Virgo, Libra lah yang melakukannya, “Kamu kalau disuruh mengejek orang pinter banget.” Sambil mendelik sebal.
Bukannya marah, Virgo malah tertawa cekikikan mellihat sang istri.
*.*
Libra merasa frustasi ketika mencoba masakannya. Rasanya benar-benar hambar. Dia sudah membuatnya sesuai dengan instruksi yang dibacanya di buku catatan resep miliknya. Bahkan dia sudah menghubungi ibu mertuanya untuk menanyakan kenapa rasa masakannya sama sekali tak enak.
Tapi apa boleh dikata, sepertinya masakan itu sama sekali tak bisa diperbaiki. “Assalamualaikum.” Virgo sudah sampai di rumah ketika melihat wajah kacau istrinya.
Tak bertanya banyak hal, lelaki itu langsung mencium pipi sang istri, “Kok bau asap sih, Yang.” Katanya, namun masih saja diciumi wajah perempuan itu. Membuat Libra berdecih.
“Bau asap kok masih doyan.” Yang sontak membuat Virgo terkekeh pelan.
“Kamu pasti habis goreng-goreng kan?” ada tempe goreng, sosis goreng, dan nugget juga di sana. Tapi ada yang tak beres sepertinya. Karena perempuan itu masih manyun saja sambil berkacak pinggang.
“Kenapa lagi?”
Libra menatap Virgo, kemudian menghela nafas, barulah mengatakan apa yang sedang terjadi. “Aku gagal buat tumis kacang panjang.” Katanya dengan mata yang kecewa.
Virgo mendekati wajan yang masih ada kacang panjang di sana. Mencoba mencicipinya. Mengecapnya sebentar untuk merasakan apa yang sekiranya kurang dengan masakan tersebut.
Virgo jelas memang bukan lelaki yang pandai dalam hal memasak, tapi dia ahli dalam mencicipi. “Aku fikir ini kalau dikasih penyedap rasa udah bisa dimakan lah, Yang.” Komentarnya.
“Aku udah kasih tadi. Tapi masih nggak enak. Apa kebanyakan bawang ya, Yang?”
“Kalau aku denger, kebanyakan bawang itu malah enak lho. Coba kamu baca lagi deh, kurang apa kira-kira.” Tim mereka sepertinya kompak sekali. Keduanya melihat buku catatan dan membacanya kembali.
“Lengkuas,” Baca Virgo, “Lengkuas itu yang mana, Yang?” tanyanya kepada sang istri.
“Yang ini,” tunjuk Libra. “Kata mama kalau kita masak tumis itu nggak bakalan enak kalau nggak ada lengkuasnya. Rasanya kurang sedap.”
“Kamu udah kasih?” Libra mengingat.
“Udah kok kayaknya.” Jawabnya.
“Kalau udah, dan masih belum pas rasanya, mungkin kurang banyak, Yang. Coba kamu kasih lagi.” Dan Libra menyetujui. Dikupasnya lengkuas tersebut dan dimasukkan utuh-utuh tanpa digeprek terlebih dulu.
Virgo mencoba lagi. “Masih belum pas, Yang, rasanya.” Dan dengan cekatan, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi ibunya. Melakukan panggilan video agar perempuan itu bisa melihat hasil masakan dari menantunya.
“Jadi sebenarnya kurang apa sih, Ma? Semua bumbu udah masuk lho ini.” Begitu kata Virgo mengadu kepada ibunya karena merasa ikut frustasi seperti istrinya.
“Itu yang potongan bulat itu apa? Kok gede gitu?” Libra langsung mengangkat apa yang dimaksud oleh ibu mertuanya dan mendekatkan di kamera ponsel suaminya.
“Ini, Ma?” tanyanya.
“Iya.”
“Lengkuas, Ma.” Jawabnya.
“Kok dimasukin glundungan begitu, Li? Nggak kamu geprek dulu?” Libra dan Virgo saling pandang. Kemudian Libra yang bertanya,
“Di geprek dulu, Ma, emang?”
Tawa ibu Virgo sontak terdengar. “Lengkuasnya harus kamu geprek dulu dong, Sayang. Kalau enggak mana kerasa.” Dan masih terkekeh geli. Bukan hanya ibu Virgo yang tertawa, Libra dan Virgo juga ikut tertawa karena hal itu.
Dan mereka tak menyadari jika kacang tumis yang masih di atas wajan dengan api menyala itu ternyata terlalu matang dan sangat lembek.
*.*