
Al berjalan santai dengan sekotak susu di tangannya sedangkan mulutnya mengunyah makanan. Melewati kelas-kelas, membuat para gadis berbinar melihatnya. Terlihat angkuh, tapi keangkuhan itu sama sekali tak dipedulikan oleh mereka.
Di arah yang berlawanan, El berjalan dan berdiri tepat di depan Al. “Aku lapar.” Adunya dengan wajah songongnya seolah dia adalah pemalak.
“Terus?” Al sama songongnya ketika menjawab.
“Minta duit. Dompetku ketinggalan dan aku nggak bisa jajan.”
“Sejak kapan kamu teledor?”
“Sejak persahabatan bagai kepompong, dan mengubah ulat menjadi kupu-kupu.” Jawaban kampret yang membuat Al menggelengkan kepalanya.
“Pegangi!” perintah Al kepada El untuk memegangi sekotak susu miliknya karena dia akan mengambilkan uang di saku celananya.
“Dimana duitnya? Di saku kan?”
“Iya.”
“Yang ambil kan tangan kanan. Tangan kiri masih bisa pegang.” El menolak apa yang diperintahkan oleh Al kepadanya.
“Karena itu sensasinya berbeda.” Al menatap adiknya itu dengan sungguh-sungguh, “Mau atau enggak?” tegasnya. El mendumel namun menerima sekotak susu tersebut dan memeganginya. Setelah Al mengambil uang untuk El, dan meminta susu miliknya, El dengan kurang asam memberikannya seorang lelaki yang sedang berjalan di sampingnya.
“Buat lo.” Katanya dengan wajah datar.
“Apa?” lelaki itu meneguk ludahnya karena merasa terlalu dekat El itu membahayakan. Selain karena dia cantik, wajahnya yang super datar itu seolah ingin mengulitinya.
“Biar dapat sedikit ketampanan dari Al.”
“Kampret.” Begitu kata Al yang tak terima dengan apa yang dilakukan oleh El, “Itu susu tinggal satu-satunya ya, El, di koperasi tadi. Balikin.” Katanya kepada El, dan menatap lelaki yang menerima susu tersebut. Namun El menghalangi.
“Lo tahu kenapa Al bisa seganteng ini?” El seolah sungguh-sungguh sekali mengatkan hal itu sampai lelaki itu menggeleng dengan kaku.
“Karena dia suka minum susu rasa Blueberry. Coba lihat wajahnya, halus, putih, genteng. Lo pasti mau kan kaya dia?” lelaki itu mengangguk dengan takzim.
“Kalau gitu, minum ini. Di sini.” Perintah El dengan wajah seperti pembantai berdarah dingin.
Al berdecak. “Lo nggak perlu denger bualan dia. Gue emang udah ganteng dari lahir. Jadi susah buat ditiru.” Katanya sambil menyahut susu miliknya. “Susu ini lebih berharga dibanding bualan si El.” Kemudian pergi begitu saja dan berjalan dengan santai sambil meminum susu tersebut.
“Si kampret ini.” El sebal karena ulah Al, “Ngapain lo masih di sini?” di tatapnya lelaki di sampingnya itu dengan datar, “Benar yang dikatakan Al, dia emang udah ganteng dari lahir. Lo mau minum susu blueberry satu pabrik juga nggak bisa nandingin gantengnya si kampret itu. Yang ada cacingan lo kebanyak minum susu.” Kemudian berlalu dari sana tanpa basa-basi lagi.
Dan inilah kadang yang membuat penghuni sekolah suka melihat interaksi antara Al dan El. Meskipun menyebalkan, tapi mereka benar-benar menarik sekali. Ai, tapi jangan pernah mengatakan itu di depan si kembar, bisa di ‘bantai’ kalian.
El duduk di kursi kantin dan tepat di depan Rigel. “Nasi goreng udah dingin baru sampai. Nyasar kemana lo?” begitu tanya Rigel. Odel belum masuk sekolah karenanya hanya mereka berdua saja.
“Minta duit Al.” Katanya tanpa malu.
“Lo pikir gue nggak bisa bayarin lo makan siang ini?” Rigel sama tajamnya dengan El jika berucap.
El mengedikkan bahunya, “Gue sedang nggak mikir sekarang.” jawabnya tak acuh. Rigel tak lagi menjawab dan menatap El yang sedang melahap nasi gorengnya.
“Nggak anget lagi. Rada nggak enak.” Komentarnya. Namun tak di jawab oleh Rigel. Rigel sepertinya sedang malas mendebat El sekarang.
“El!” panggilan itu membuat El yang sedang berjalan menoleh.
“Kenapa?” gadis itu berhenti dan menatap si pemanggil.
“Dicariin sama si Raka.” Katanya sambil senyum-senyum. Mungkin mereka sedang jodoh-jodohan seperti yang sering dilakukan oleh remaja-remaja kebanyakan.
“Ngapain nyariin gue?” tanya El dengan angkuhnya. Sedangkan Rigel hanya diam dengan wajah datarnya saja sambil menatap lelaki itu.
“Katanya dia love-love banget sama lo.” Dan sorakan itu menggema di dalam kelas. Bukan kelas El tentu saja.
“Lo tahu kenapa di tong sampah itu dinamakan sampah?” tanya El dengan santai, “Karena yang ada di dalamnya itu sudah tidak berguna. Kalau lo mengatakan hal yang tidak berguna, jangan salahkan gue kalau gue nganggep lo perlu dimasukkan ke dalam tong sampah.” Tajamnya ucapan El membuat keriuhan itu hening seketika. Bahkan lelaki yang tadi mengatakan kalimat basa-basi itu juga langsung merah padam wajahnya.
“Orang tua lo ngeluarin duit sekolah buat lo biar lo terdidik, bukan hanya untuk melakukan hal yang tak berguna.” Setelah mengatakan itu, El menarik tangan Rigel dan pergi dari sana. Lelaki itu pasti sakit hati. Bukan hanya lelaki itu, yang mendengarnya pun juga pasti akan merasakan hal yang sama. Tapi El, memang tak suka dengan lelaki yang clometan. Tak ada dari keluarganya yang seperti itu.
“Lo terlalu kasar sama mereka.” El dan Rigel sudah berada di dalam kelas dan Rigel mengungkapkan isi pikirannya.
“Mereka sekali-kali memang harus di skak biar nggak ngelantur.” Begitu jawabnya kepada Rigel, “Gue paling nggak suka kalau ada orang yang seperti itu. Seseorang itu dihargai orang lain karena ucapannya. Kalau ucapannya udah suka clometan, itu menunjukkan betapa rendahnya harga diri mereka.”
“Gue paham maksud lo, tapi bisa jadi mereka memang sedang ingin bercanda sama lo.”
“Dan selera humor mereka terlalu rendah.” El, jika sudah menyangkut hal seperti ini tak akan pernah diam. Memangnya dia perempuan seperti apa kalau digoda-goda dengan dijodoh-jodohkan dengan lelaki lantas diam haha hihi saja? Maaf, tapi El tidak akan diam saja.
“Oke.” Rigel mengangguk dan memahami. Sahabatnya satu itu memang berbeda dengan gadis kebanyakan.
*.*
Odel sudah kembali ke sekolah setelah tidak masuk selama tiga hari karena pemulihan. Al melihat gadis itu turun dari mobil, dan langsung mendekatinya.
“Udah pulih?” tanyanya yang mengagetakan Odel.
“Udah, Al.” Jawabnya, “Bareng El?”
“Kalau gitu gue ke kelas dulu ya.” Pamit Odel. Al mengangguk, tapi sayangnya langkah kaki lelaki itu masih tetap mengiringi Odel.
“Lho, Al?” seharusnya Al berbelok ke kiri karena kelasnya ada di sana. Di sanalah kelas Ilmu Alam berada.
“Kenapa?” Al ikut keheranan atas keheranan yang Odel tunjukkan kepadanya.
“Lo nggak langsung ke kelas?”
“Enggak. Kaki aku masih mau ngikutin kamu.” Seandainya pengendalian diri Odel terlalu lembek, mungkin sekarang dia sudah seperti orang gila karena kaget.
Odel berusaha untuk tetap tidak berlebihan menanggapi hal itu, karenanya dia mengangguk. “Pasti masih merasa bersalah.” Tembak Odel kepada Al, “Aku kan nggak papa, Al, udah sembuh juga. Nggak perlu khawatir.” Katanya dengan santai. Berbanding terbalik denan apa yang ada di dalam hatinya. Jumpalitan tak karu-karuan.
“Aku bisa lihat.” Jawab Al santai juga, “Hitung-hitung jadi pengawal kamu, siapa tahu ada yang nggak sengaja__ shit!” katanya sambil menghalau seseorang yang hampir menabrak punggung Odel.
Matanya menatap tajam ke arah lelaki itu dengan rahang yang mengetat. Odel yang terkaget hanya bisa diam ketika Al kembali menegakan tubuh gadis itu. “Sorry!” kata lelaki itu. Wajahnya sama sekali tak terlihat menyesal. “Lo nggak papa kan?” pertanyaan itu ditukan pada Odel. Odel mengangguk.
“Nggak papa kok, Kak.” Katanya dengan sungguh-sungguh. Lelaki itu adalah kakak tingkatnya, karena itu Odel sedikit segan dengan lelaki itu.
“Kalau begitu gue pergi dulu. Sekali lagi maaf.” Katanya dengan santai, dan setelahnya dia berjalan dengan santai pula meninggalkan dua orang tersebut. Al sejujurnya marah, tapi dia menahanannya. Mungkin nanti ada saatnya dia membalas apa yang lelaki itu lakukan sekarang.
“Masuklah.” Al mengedikkan kepalanya ke kelas Odel yang juga kelas El tersebut, kemudian tanpa berkata apa-apa lagi dia berbalik untuk pergi ke kelasnya sendiri.
Odel masih belum beranjak dari tempatnya berusaha memahami semua hal terjadi, tapi dia tak menemukan jawabannya. Masuk ke dalam kelas, celetukan salah satu teman sekelasnya membuat ketenangan El terusik.
“Kayaknya El dan Odel nanti bakalan iparan ini.”
“Maksudnnya?” El tak santai mengatakan itu. dan pertanyaan itu ditujukan kepada temannya itu namun matanya juga menatap Odel.
Odel mengedikkan bahunya tak memahami apa yang dikatakan oleh salah satu temannya. “Kan tadi udah kaya drama aja di depan kelas. Ada yang nabrak Odel, terus si Al yang nolong. Nggak pandang-pandangan sih, tapi mirip lah kayak di sinetron.” El menatap gadis itu tanpa perlu mengatakan sanggahan. Hanya tatapan saja, namun tatapan itu terlihat menakutkan.
Gadis itu berdehem canggung kemudian membalikkan badan untuk menatap ke depan. Barulah El bereaksi. “Lo nggak papa?” El terlalu memahami Al, jadi omong kosong yang dikatakan oleh teman sekelasnya itu tak berbengaruh apapun dengan dirinya.
Ya, El mengerti jika pastilah ada sesuatu yang tadi terjadi sehinggal Al sampai melakukan ‘adegan drama’ yang temannya katakan. “Al pasti nolongin lo karena orang itu akan nabrak lo dan takut kena punggung lo.” Odel mengangguk.
“Iya. Lo bilangin aja sama dia, kalau dia nggak perlu merasa bersalah karena ini. Toh gue udah nggak papa.” Odel sepertinya memang tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Al. Terlihat berlebihan.
“Gue akan bilang ke dia. Lo tenang aja.” El sepertinya memang memahami semua keadaan sekarang ini. Entah terlalu sensitive atau apa. Di dalam fikirannya, dia tak ingin Odel merasa tak nyaman jika ada yang menggunjingkan gadis itu dengan kembarannya, dan dia juga merasa paham dengan yang dilakukan oleh Al bukanlah hal yang harus terlalu di jadikan masalah.
Seperti biasa, tiga orang itu berjalan menuju kantin setelah bunyi bel istirahat berbunyi. Mereka duduk dalam satu meja dan tiba-tiba Al ikut serta di sana.
“Tumben.” Itu El yang berbicara. Dan Al hanya menaikkan kedua alisnya saja.
“Kalian keberatan kalau gue gabung?” pertanyaan itu ditujukan kepada dua orang yang ada di depannya, yaitu Odel dan Rigel.
“Sejak kapan lo peduli dengan pendapat kita? Kita nggak setujupun kalau lo mau di sini lo bakalan tetap di sini kan?”
“Exactly.” Tunjuk Al kepada Rigel sambil menyeringai.
“Pesanannya, Mas AL.” Ada satu porsi pempek yang masih mengepulkan asapnya dan siap untuk dia santap.
“Makasih, Bu.” Al makan dengan santai sambil matanya menatap sekeliling. Ada banyak mata yang menatap ke arahnya dan dia sama sekali tak peduli. Ketika dia balik menatap orang-orang itu, pasti yang di tatap oleh Al akan dengan cepat menunduk.
Al kadang memang benar-benar rese, karena dia bisa menatap orang tersebut dengan datar namun benar-benar tak lepas. Dan itu membuat mereka mati kutu.
Setelah makan, Al pergi lebih dulu meninggalkan tiga orang tersebut. berjalan santai seperti biasanya, membeli susu rasa Blueberry dan menyedotnya sambil berjalan. Hal itu sepertinya sudah biasa dilakukan oleh Al sampai semua orang paham betapa lelaki itu sangat menyukai susu dengan rasa itu.
Bahkan dia pernah mendapatkan susu rasa tersebut banyak sekali ketika dia sedang bertanding basket. Namun bukanlah orang yang senang diperlakukan seperti itu. Susu-susu tersebut justru diberikannya kepada teman-temannya dan dia hanya meminum pembelian dari El. Al, tak akan menerima pemberian dari orang yang mungkin akan mengharapkan timbal balik dari dirinya.
“Kak Rigel.” Seorang gadis datang dan membuat tiga orang itu mengernyitkan dahinya. Rigel, lelaki itu tak jauh sifatnya dari Al. Terlalu kaku. Dan dia juga hanya dekat dengan orang-orang yang sudah dipilihnya menjadi sahabat. Dan itu adalah Odel dan El. Meskipun dia bisa berteman dengan siapa saja, namun untuk sok kenal kepada orang lain tak akan masuk dalam daftar kamus hidupnya.
“Kenapa?” Rigel mengungkapkan pertanyaan dari kepalanya.
“Nggak ada, Kak, cuma mau nyapa aja.” Gadis itu terlihat malu-malu mengatakannya. Ekspresi Rigel yang datar membuat Odel mencubit paha lelaki itu yang tak diketahui oleh siapapun. Bermaksud mengatakan untuk bersikap baik kepada gadis itu. Mungkin memberi senyum, meskipun hanya sekilas.
“Ya.” Hanya itu jawaban dari Rigel untuk gadis tersebut. Tapi tak ada senyum di bibirnya.
“Kalau gitu, aku balik dulu.” Jelas saja gadis itu kikuk dibuatnya. Dia masih kelas sepuluh, dan melakukan hal itu pasti sudah menekan rasa malunya. Sedangkan yang disapa hanya bereaksi super biasa saja.
El menggeleng saja melihat itu. “Cabut.” Katanya dengan ringan karena sebentar lagi jam istirahat selesai.
“Rigel itu setia banget sih jadi pengawal dua cewek itu. Tahu sih mereka cantik, tapi harus banget ya dijagain gitu.” Bukan hanya Rigel yang mendengar olokan yang dilayangkan kepada dirinya, El dan Odel juga pasti mendengar. El hampir berbalik ketika Rigel menahannya.
“Jalan terus.” Katanya dengan tenang, “Nggak perlu diladeni.” El tak terima namun Rigel benar-benar menahannya.
“Kaya banci aja.” Ada kumpulan para lelaki dan dan perempuan yang sedang duduk di depan kelas. Dan mereka itulah yang berkomentar seperti itu.
“Letoy banget jadi cowok, kalau udah kaya gitu pasti mau aja itu di suruh ngapa-ngapain.” El tak lagi menahan langkahnya. Karena dia dengan langkah pasti mendekari gerombolan itu dan siap untuk melawan. Bukannya Rigel tak mau menanggapi mereka, hanya saja dia malas meladeni sesuatu yang baginya sama sekali tak penting.
*.*