Blind Love

Blind Love
BAB 13



Hari ini genap dua minggu paska tragedi hujan. Pak Budi membagikan hasil ulangan harian beberapa waktu yang lalu. Beliau memanggil satu persatu nama siswa berdasarkan urutan nilai tertinggi. Namaku disebut setelah Yohanes, Rifa, Vera, Allysa, dan Lala. Artinya nilaiku di bawah kelima orang tersebut. Bukan masalah, setidaknya nilaiku masih cukup memuaskan: sembilan puluh.


“Wah, lo hebat banget dapet sembilan puluh!” seru Cilla ceria dibuat-buat, jelas sekali. Sebelumnya ia tidak pernah memujiku.


“Biasa aja,” kataku tanpa semangat.


Semalam aku belajar gila-gilaan, maka wajar jika penampilanku pagi ini nyaris menyaingi Zombie. Bukan lantaran mengejar peringkat kelas apalagi SNMPTN undangan. Aku hanya ingin mengalihkan pikiran sejenak dari Unknown, Rifa, serta bagaimana hancurnya hubungan kami. Merasa telanjur lelah, aku pun terkekeh tanpa sadar.


“Jangan cengengesan sendiri,” tegur Cilla sok bijak.


Benarkah yang Cilla katakan? Wah, aku tidak sadar kalau begitu.


***


Sebulan berlalu tanpa sapaan Rifa. Aku tersenyum kecut. Ternyata memaksakan diri untuk tetap tegar sungguh menguras energi. Nafsu makanku pun mulai lenyap.


Kulahap bakso di mangkukku tanpa minat. Mencoba mengunyahnya sambil melamun. Cilla sampai menegurku berkali-kali, tapi tak jua kuacukan.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri meja kami. “Alexa, lama gak jumpa!” sapanya ceria.


Aku mendongak lalu tersenyum singkat. “Hai, Andre. Apa kabar?”


“Gue baik. Kok lo lemes banget, Xa?” tanya Andre. Ia menarik kursi kosong di samping Cilla kemudian duduk berhadapan denganku. “Masih sakit? Katanya sebulanan yang lalu lo kecelakaan, ya?”


Aku mengangguk. “Iya.”


“Maaf ya, gue gak bisa nengok,” sesalnya. “Pertama, gue gak tahu alamat rumah lo. Kedua, gue takut niat baik gue justru disalahartikan sama pacar lo.”


“It’s okay, Dre,” kataku tulus.


“Jadi, kenapa beberapa hari ini lo gak pernah kelihatan bareng sama Rifaldi? Biasanya kan di mana ada lo, di situ ada dia.”


Aku melamun sejenak. Berusaha menahan diri agar tidak mudah sensitif pada setiap pertanyaan yang menyangkut Rifa. “Oh itu … kami putus,” bisikku parau.


Andre membelalakkan matanya selebar mungkin. “Serius lo? Padahal kemarin itu dia kayak yang jealouse banget ngelihat bahu lo dipegang sama gue?”


Cilla tertawa nyaring mengingat kejadian Rifa pura-pura ngambek tempo hari. “Andre, lo kenal Alexa dari mana? Dari teleponnya waktu itu?”


Andre mengubah ekspresinya kembali normal. “Iya. Lo yang ngasih nomor gue, ya?” tanyanya serius.


“Bukan! Dia yang minta nomor lo ke gue,” jawab Cilla polos.


“Jangan bilang lo mau ngejadiin gue sebagai cowok cadangan,” goda Andre tanpa tadeng aling-aling.


Namun aku bungkam. Terlalu lelah untuk menanggapi apa pun.


Dua orang di depanku itu menatap prihatin, lalu mulai mengobrol berdua tanpa mengusik makan setengah melamunku lagi. Saat bel masuk berbunyi, kudengar Andre berkata, “Lo nangis, Xa.”


***


Ia benar-benar tak ingin menatap mataku lagi.


Biasanya piket kelas menjadi saat yang paling kutunggu-tunggu. Sebab di hari itu, aku masih bisa bersama Rifa di kelas walau jam sekolah telah usai. Namun kini terasa lain. Menyedihkan saat Rifa tak lagi menawarkan jasanya untuk membantuku mengelap bagian kaca yang terlalu tinggi.


Seolah menyadari kecanggungan di antara kami, anak-anak lain yang juga piket bersamaku ikut membisu. Tidak ada yang berani membuka mulut sejak lima belas menit terakhir.


Aku pura-pura sibuk membersihkan kaca sementara ekor mataku tak luput mengawasi Rifa.


Cowok itu tengah serius dengan penghapus board di tangan kiri, dan lap basah di tangan kanan. Entah mengapa tiba-tiba aku sangat merindukannya. Kubayangkan ia kembali menyapa dan menghampiriku. Lalu memeluk seraya berkata bahwa Unknown telah musnah, dan kami dapat bersatu kembali.


Namun hingga detik terakhir, ia tak jua mengacuhkanku. Mata itu tetap kosong. Selalu kosong.


Ah … mengapa semua ini membuat dadaku sesak?


Aku menoleh. Raka yang memanggilku. Lagi-lagi kepalanya melongok manis di ambang pintu kelas, persis seperti beberapa bulan yang lalu.


Rasanya ada yang aneh saat aku malah menghampiri Raka seorang diri.


Raka merebut tas yang kusampirkan sekenanya di bahu kanan. “Biar aku yang bawa tas kamu,” katanya.


Aku hanya tersenyum.


Sebelum meninggalkan kelas, kusempatkan diri menatap satu-persatu teman piketku yang juga mulai bersiap-siap untuk pulang. Lalu tak sengaja mataku menangkap tatapan dingin Rifa terarah pada Raka. Hanya sekilas. Selanjutnya ia kembali larut dengan pekerjaannya.


Sadar diriku malah melamun, Raka menarik tanganku dengan gestur memaksa. “Yang lain, Alexa pulang duluan, ya?”


“Oh iya. Hati-hati,” jawab teman-temanku kompak. Hanya Rifa yang tidak bereaksi. Kedua tangannya masih sibuk dengan lap dan penghapus board.


Tanpa mengucapkan apa pun lagi, Raka menuntunku menuju parkiran.


“Jono mana?” tanyaku akhirnya. Memang seharusnya Jono yang menjemputku, bukan Raka.


Raka membukakan pintu mobil untukku. “Ada di rumah. Aku yang minta izin pulang bareng kamu. Lumayan kan, bisa hemat BBM? Lagian sebentar lagi Kak Jovano kembali ke Bandung. Jadi nanti kita pulang-pergi ke sekolah bareng lagi kayak dulu.”


Aku mengangguk lemas seraya mendaratkan bokong di jok mobil. Begitu kedua pintu tertutup rapat, aku terpaku. Otakku tiba-tiba dilanda kebingungan, mempertanyakan apa yang sebenarnya kurasakan. Resah, gelisah, takut, semua membaur jadi satu. Keringat bercucuran deras meski AC mobil dalam keadaan menyala. Napasku tersengal. Mulutku megap-megap mencari udara. Tanganku terulur mencari apa saja untuk berpegangan.


Perasaan asing ini sungguh menyiksa. Seolah ada makhluk tak kasat mata yang menyedot habis oksigen di paru-paru.


“Kamu gak apa-apa, Xa?” Suara cemas Raka menyadarkanku kembali. Perasaan asing tadi lenyap seketika. Aku tersenyum lemah di tengah usahaku mengatur sengal napas.


Akhirnya kuputuskan mengalihkan perhatian dengan memasang earphone di kedua telinga, memutar lagu ceria yang mungkin bisa sedikit menghibur.


Intro sebuah lagu mengalun lembut memenuhi indera pendengar. Memasuki bagian refrain, aku mulai menyesal mengapa di antara ratusan lagu di daftar putar, justru lagu ini yang kupilih.


I want to be by your side forever, gazing at your smile


I want to live each changing moment in your eyes


Aku tak kuasa menahan genangan air yang telah menumpuk di sudut mata. Menumpahkannya dalam setiap helaan napas. Mengamini setiap kata yang meluncur dari bibir Hyde, sang vokalis.


Namun sayang semua mustahil terjadi. Aku takkan bisa melihat senyumannya lagi. Takkan bisa hadir dalam setiap kisah yang terlintas di matanya lagi.


Tidak, selama Unknown masih mengancam setiap pundi-pundi kehidupan kami.


Andai Unknown tak pernah ada ….


“Alexa,” panggil Raka halus. Ia melepas earphoneku. Jemarinya meraih telapak tanganku untuk memberi kekuatan. Aku bergeming tanpa menoleh padanya.


“Inget Rifa lagi, ya?” tanyanya.


Aku masih diam, tak berniat merespons.


Setelah melalui keheningan yang cukup panjang, Raka akhirnya menghela napas, kemudian membuka suara, “Nanti malem ada acara?”


“Nggak,” jawabku susah payah.


“Mau keluar sama aku?” tanyanya lagi.


“Nggak.”


“Kenapa?”


“Males.”


Raka tak mendesak lebih jauh. Kuharap ia mengerti bagaimana perasaanku saat ini.