
Melihat Al dan Rigel tak ada disana, El paham jika dua lelaki itu pastilah sedang melarikan diri. Karena itu, dia menarik Odel untuk mundur. “Kita nggak mungkin ikut serta dalam permainan ini kalau nggak ada cecunguk itu. Kita mundur aja.” Bisik El di telinga Odel dan membuat Odel mengangguk.
Dua gadis itu berusaha mencari keberadaan dua lelaki yang tadi bersamanya. Namun sayangnya mereka tak menemukannya.
“Udah lah, duduk aja kita. Capek gue.” El mengeluh dan mendapatkan persetujuan dari Odel.
“Gue ambil makanan dulu.” Odel tak langsung duduk dan memilih untuk pergi ke meja prasamanan dan mengambil makanan untuk mereka berdua.
Tak menyadari jika El sedang didekati oleh Ares.
“El!” panggilnya, “Kok lo nggak ikutan game itu?” tanyanya dan dengan santainya lelaki itu duduk tepat di depan El tanpa meminta persetujuan dari El terlebih dahulu.
“Nggak ada pasangannya.” El juga tak ingin memilih lelaki yang salah nantinya.
“Rigel?”
“Mana mau mereka main begini-beginian. Mereka ngumpet lah ini pasti.”
“Aneh,” jawab Ares, “Ngapain mereka malah lari coba?”
“Terus ngapain lo di sini?” tanya El. Nadanya menunjukkan jika dia seolah mengusir lelaki itu.
“Nggak ada. Cuma mau di sini aja.” Enteng Ares.
El tak menanggapi lagi dan memilih memainakan ponselnya. Mencoba menghubungi Rigel maupun Al. satu kali dua kali, tak ada dari mereka yang mengangkat panggilannya. Dan dipercobaan yang ke lima, barulah Rigel menerima.
“Kenapa?” bukan kata sambutan, lelaki itu justru mengatakan kalimat tantangan.
“Bagus banget lo ya ninggalin gue.” El jelas berapi-api sekarang, “Dimana lo?”
“Kenapa? Lo kan udah ada yang nemeni.” Sontak saja mendengar jawaban Rigel, El menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan lelaki tersebut. Namun sayangnya netranya sama sekali tak mendapati lelaki itu dimanapun.
Dan yang paling menyebalkan adalah, Odel juga tak ada di meja prasmanan. “Odel lo culik ya?” tanyanya menuduh.
“Iya. Odel sama gue sekarang.”
“Jadi maksud lo, gue harus sendirian di sini gitu?”
“Lo kan udah ada teman.”
“Kampret! Nanti malam beneran kemenyan datang ke rumah lo ini.” El mengatakan dengan tak biasa. Dan langsung mematikan panggilannya.
“Haishh.” Keluhnya, dan berdiri dari sana meninggalkan Ares tanpa pamit. Alh-alih pergi keluar gedung, El justru kembali ke meja prasmanan dan mengambil banyak es krim dan buah. Efek sebalnya, membuat gadis itu sepertinya kelaparan.
Setelahnya dia kembali ke kursi, namun bukan kursi yang tadi dia duduki, karena dia memilih duduk di kursi yang lain. Melahap es krim tersebut dan menikmatinya.
“Gue kalian tinggalin ya bodo amat. Tinggalin sono.” Katanya dengan santai. Jika El mau, dia bisa mencari teman lainnya di sana, tapi tentu itu tak akan dia lakukan.
Karena dia sendirian lebih baik sekarang dibandingnkan harus mencari teman yang tidak ‘memahami’ dirinya.
Waktu sudah semakin larut dan penentuan Raja dan Ratu dilakukan. Pasti semua orang menduga jika Al lah yang akan terpilih. Dan itu memang benar adanya. Lelaki itu dinobatkan menjadi seorang Raja di sekolahnya. Dan dipanggil untuk naik ke atas panggung.
Al yang masih bersembunyi, hanya merasa heran dengan apa yang didengarnya. “Maju sana lo.” Dorong Rigel kepada lelaki itu dan Al masih tak bergerak.
“Cepat elah.” Rigel gemas dengan kelakuan Al yang seperti orang bodoh sekarang. Namun setelahnya lelaki itu mengumpat.
“Sialan, gue nggak mau jadi beginian *****.” Menjadi kapten basket saja tak mau, apalagi menjadi seperti ini. Apa faedahnya dia terpilih? Itulah pemikiran Al sekarang.
“Lo maju aja, katakan semua isi hati lo kepada si MC.” Rigel tak sabar sepertinya. Bukannya apa-apa, karena tak mau menyerah, MC tersebut terus saja memanggil nama Al berkali-kali.
“Kampret, lo.” Begitu katanya dengan srampangan untuk berdiri. Satu wadah anggur yang tadi diambilnya dari meja prasmanan sudah ludes, dan tempatnya masih teronggok di sudut tempatnya bersembunyi.
Tak lupa, Al menyahut tangan Odel dan membawanya ikut serta.
“Al, ngapain sih lo ajakin gue?” gadis itu berontak. Namun Al tak mempedulikannya.
“Kalau gue raja, berarti lo ratunya.” Begitu jawab Al asal. Odel tak menyerah untuk melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Al. Pasalnya, hanya Al yang dipanggil untuk naik ke atas panggung.
Tepuk tangan riuh terdengar ketika Al dengan santainya menggenggam tangan Odel. Odel malu luar biasa kalau sampai predikat Ratu tersebut bukan tersemat untuknya.
Basa-basi tentang kenapa dan bagaimana Al bisa mendapatkan predikat tersebut, dikatakan oleh MC kepada Al dan orang-orang di sana. Al sama sekali tak peduli akan hal tersebut. Mereka memilih Al karena penampilan Al yang luar biasa, pakaian yang digunakan terlihat rapi dan cocok dengan Odel.
“Ratu saya, Odel kan?” tanyanya kepada MC karena sejak tadi tak kunjung dikatakan siapa yang akan mendampinginya.
Mc mengatakan iya, dan Al hanya mengangguk-angguk saja. Berbeda dengan Odel yang sama sekali tak percaya. “Gue nggak mau ah, Al.” katanya di telinga Al .
“Memangnya kita mau ngapain sih kaya gitu-gitu?” masih saja Odel mendumel. Al pun tak tahu, maka dia hanya diam saja. Dan ketika MC akan menyematkan sebuah headband crown di kepala Odel, Al mencegahnya.
“Sebetulnya predikat seperti ini, tujuannya apa? Apa yang harus saya lakukan menjadi seorang Raja, dan apa yang harus dilakukan seorang Ratu?” dibandingkan hanya menduga-duga dan tak mendapatkan jawabannya, maka lebih baik langsung bertanya saja kan?
“Ini hanya sebuah predikat saja, Al. Tak ada tugas khusus untuk hal ini. Sebagai bukti kalian adalah yang terbaik di sekolah dalam segi fashion dan kekompakan. Kamu juga bisa mewakili semua siswa jika ada tamu undangan di sekolah jika ada acara.”
“Kan ada Osis?” Al tak menyerah, dia terus mendorong MC dengan pertanyaan.
“Ya, terkait tugas dan apa yang akan dilakukan sebagai Raja dan Ratu, bisa dibicarakan nanti dengan pihak sekolah.” MC tak ingin di desak dan memilih jalan aman.
Tak ada yang dirugikan ketika dia memilik predikat tersebut. Dan dia tinggal melepaskan predikat tersebut kalau memang itu memberatkannya. Mudah saja sebenarnya. Al berusaha untuk mencoba menerima. Sedangkan Odel tidak.
Pikiran buruk seolah membayang di kepalanya karena ini. Ada mahkota di kepalaya, dan rasanya itu adalah beban meskipun itu bukanlah apa-apa.
“Al!” panggilanya dengan berbisik.
“Lo nggak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja, Ratu.” Dan lelaki itu dengan nakalnya mengerling kepada Odel. Membuat gadis itu melebarkan matanya. ‘SIALAN!’ begitu batinnya.
*.*
Satu minggu berlalu setelah acara puncak ulang tahun itu terjadi. Kini kehidupan mereka sudah kembali normal seperti biasa. Sekolah, belajar, dan hal-hal lain yang biasa mereka lakukan kini sudah kembali dilakukan. Setelah dinobatkan menjadi Raja dan Ratu, baik Al dan Odel memutuskan untuk tak terlalu mengambil pusing akan hal tersebut.
Perhatian itu masih melekat dalam kehidupan mereka, tapi tak terlalu digubris. Lalu bagaimana dengan hubungan antar Al dan Odel sekarang? apakah sudah benar-benar menjalin hubungan pacaran atau hanya biasa saja? Maka jawabannya mereka masih berteman. Semua orang menganggap Al sekarang sudah tak lagi single, bahkan El saja belum mengetahui jika sebetulnya mereka itu tidak pacaran.
El dan Rigel? Mereka masih sama, keduanya masih sering berdebat meskipun satu menit setelahnya akan akur kembali.
Sayangnya, untuk kali ini tidak seperti itu. Pulang sekolah, El dan Rigel seperti biasa bertahan di sekolah dan memilih menunda untuk pulang ke rumah.
Rigel sedang memainkan ponselnya ketika dia mengatakan sesuatu kepada El yang ada di belakangnya.
“Gue jadian sama cewek, El.” Katanya. Tubuhnya bebalik dan sepenuhnya menatap El sekarang.
“Jadian, kata lo? Lo serius?” tak ada wajah antusias yang diberikan El atas kabar yang diberikan Rigel kepadanya. Seolah dia tak terima jika Rigel memiliki kekasih sekarang.
Rigel mengangguk, “Gue hanya berusaha untuk menyelematkan hati kita. Lo dan gue. Gue nggak mau setiap lo melantur mengatakan mau sama gue, gue lemah dan akhirnya jatuh cinta sama lo.”
“Lalu dimana letak kesalahannya kalau lo jatuh cinta sama gue?” tantang El. Dia tak habis fikir dengan apa yang diucapkan oleh Rigel kepadanya.
“Persahabatan kita akan hancur kalau itu terjadi. Lo tahu? persahabatan yang kemudian menjadi cinta, itu nggak akan membuat semuanya kembali seperti semula ketika ujungnya menjadi mantan.”
“Lo tahu gue serius ketika gue mengatakan apapun yang gue katakan selama ini. Nggak akan ada orang yang bisa memahami gue dan tahan sama gue selain lo. Tapi lo memilih menghindari itu dan bersama orang lain.”
“Gue fikir itu hanya lelucon yang lo buat tanpa melibatkan perasaan.”
“Dan lo paling tahu kalau gue ngomong, itulah yang gue rasain.” El tak akan tinggal diam diperlakukan seperi ini oleh Rigel.
“Jadi lo sekarang jatuh cinta sama gue?”
“Gue sayang sama lo. Lo fikir gue akan semudah itu jatuh cinta sama seseorang?”
“Kalau begitu, lo harus jatuh cinta sama gue terlebih dulu baru kita bisa bersama.”
“Gue justru akan bunuh itu sebelum berkembang.” Tajam El. Bukan hanya ucapannya, tapi juga tatapnnya benar-benar mengunus. Gadis itu berdiri dan menyandang tasnya, pergi dari sana tanpa lebih dulu pamit kepada Rigel.
Entah kenapa, El merasa dihianati sekarang. mungkin waktu Rigel memiliki kekasih sebelumnya, dia sama sekali tak peduli. Tapi setelah beberapa kali dia mengatakan pemikiran tentang dia akan menikahi Rigel ketika mereka dewasa nanti, membuat dia juga merasa jika itu memang realistis. Dan berharap jika Rigel akan tetap di sisinya.
Sayangnya, Rigel terlalu takut jika jatuh cinta kepada El dan membuat semuanya menjadi berantakan.
Rigel mencekal tangan El sebelum gadis itu berjalan lebih jauh, “Gue tadi bilang sama Al kalau gue mau antar lo. Lo tunggu di depan, biar gue ambil motor dulu.”
“Gue bukan tanggung jawab lo. Lo nggak perlu melakukan apa yang udah lo bilang ke Al. Gue pulang sendiri.” El memang keras kepala, dan inilah yang terjadi jika dia merasa terluka.
“Lo jangan kekanakan.”
“Gue memang kekanakan,” beruntung di sekolah sudah sepi dan pertengkaran itu tak di dengar oleh siapapun, “Lo nggak perlu memperjelas lagi.” Kemudian melepaskan cekalannya dari Rigel dan pergi begitu saja dari sana.
Rigel memejamkan matanya melihat El yang seperti itu. Dia merasa serba salah dengan keadaan ini. El yang terkadang memancing dirinya dengan kalimat-kalimat ‘godaan’ itu justru akan membuat dirinya jatuh cinta kepada El lebih dulu. Dan dia sudah merasakan tanda-tanda itu ketika pesta sekolah dia melihat Ares kembali mendekati gadis itu. Hatinya merasa tak suka.
Dan ketika ada seorang gadis yang mengatakan cinta kepadanya, dia menerimanya sebagai tameng agar dia bisa lebih fokus pada kekasihnya. Dan tak memikirkan tentang El.
Kali ini dia benar-benar tak mengejar El dan membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Entah akan seperti apa interaksi mereka setelah ini, karena El bukan orang yang akan menutupi perasaannya melalui tindakannya.
Sedangkan El sendiri, dia merasa jika hatinya tak terima dengan keputusan Rigel yang sekarang sudah kembali memiliki kekasih. Ralat, dia bukan merasa dihianati, tapi dia merasa tak dipercayai oleh lelaki tersebut. Rigel adalah orang yang paling paham dirinya, justru malah bertindak seperti tak tahu apapun mengenai sifatnya.
El berjalan dengan santai dan berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari sekolahnya. Masuk ke dalam sana dan memesan makanan manis untuk dirinya sendiri. Kata orang, makanan manis akan membuat perasaan menjadi lebih baik ketika kita mengkonsumsinya, karena itu dia mencoba untuk merasakannya. Apakah benar perubahan itu ada atau hanya bualan saja.
Setelah memesan Muffin dan coklat dingin kemudian dia duduk di kursi untuk menikmatinya. Dia tak ingin memikirkan masalahnya dengan Rigel lebih dulu. Lelaki itu benar-benar kampret memang. Haruskah dia menghidari itu dan melukai perasaan El?
El memasukkan muffin ke dalam mulutnya. Ada tiga rasa yang dia pilih, blueberry, coklat, dan apel. Dia akan melahap makanan itu sampai habis dan membuatnya perutnya kenyang. Matanya menatap sekitar dan mengamati pengunjung lain.
Rata-rata yang datang kali ini adalah berpasangan. Jika dilihat dari wajahnya, sepertinya mereka juga masih duduk di bangku SMA seperti dirinya.
El kemudian berfikir, apa enaknya sebetulnya menjalin hubungan pacaran? Jika dia membaca dari internet, ada dari beberapa orang yang mengatakan jika mereka kemana-mana harus ijin dulu kepada kekasihnya, bahkan sampai mereka merasa terkekang.
Lalu letak kebahagian itu dimana kalau seperti itu? pertanyaan itu diberikan kepada dirinya sendiri. Merasa tak mendapatkan jawaban, maka dia mengabaikannya. Fokus pada makanannya dan dia ingin segera pergi dari sana.
Al : Kamu kok belum pulang? Ini udah jam berapa?
Satu chat masuk dan El langsung membacanya. Al memiliki tanggung jawab penuh kepada El. Ketika El tak dilihatnya, maka dia akan menanyakan keberadaannya. Dia bisa melacak keberadaan El lewat sebuah aplikasi yang ayahnya ciptakan, tapi Al selalu memilih untuk tetap bertanya lebih dulu kepada kembarannya tersebut.
*.*