
Malam ini, Rigel sedang berkencan dengan kekasihnya dan mencoba untuk menahan agar tidak mengatakan jika dia merasa bosan dengan hubungan mereka. Dia juga menahan agar dia tak terlihat gelisah di depan kekasihnya tersebut.
Liondra adalah gadis yang sudah dikenalnya agak lama dan menjalin hubungan baik. Sayangnya gadis itu mengatakan perasaannya kepada Rigel di waktu yang tepat.
Rigel yang ingin lari dan menjauhi perasaan cinta kepada El, menerima perasaan Liondra dan mereka menjalin hubungan pacaran. Jika di fikir, itu sangat tidak adil buat Liondra, tapi semuanya sudah terlanjur.
“Kamu sejak tadi kenapa hanya diam aja? Sakit?” Liondra bertanya.
“Enggak, aku baik-baik aja.” Ditatapnya gadis itu dan merasa kasihan dengannya. Dia sudah jahat, dan brengsek. Tapi sayangnya, semua yang dilakukan itu percuma. Cinta yang ditahannya agar tidak membeludak, nyatanya justru sekarang dirasakan untuk El.
“Selama ini aku sama sekali nggak menjadi pacar yang baik kan?” Rigel tiba-tiba mellow, “Di awal kita menjalin hubungan, aku minta waktu untuk bisa menyayangi kamu tapi__” Rigel tak enak hati mengatakannya.
“Aku nggak masalah dengan perasaan kamu ke aku. Yang terpenting adalah aku sayang kamu, urusan selesai.” Liondra sepertinya tak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh Rigel, “El. Dia adalah cewek yang sebenarnya kamu sayangi.”
Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan yang dikatakan oleh Liondra itu sangat penuh dengan keyakinan. Rigel tak habis pikir jika Liondra akan mengetahui hal itu, lelaki itu diam menatap Liondra.
“Kamu pasti kaget kenapa aku tahu.” Kata Liondra, “Aku tahu sejak kita ketemu El di mall. Kamu terlihat khawatir dengan dia padahal tidak ada hal yang harus dikhawatirkan. Wajah Liondra kecewa namun dia berusaha tetap tegar di depan Rigel.
“Dari sana aku merasa jika ini menyakitkan.”
“Maaf.”
“Kalau begitu tetaplah sama aku dan usahalah bisa mencintai aku.” Liondra tegas mengatakan itu, “Setidaknya itu adalah satu-satunya jalan agar kamu bisa menebus kesalahan kamu.” Rigel benar-benar merasa buruk sekarang. Kenapa dia begitu brengsek dengan melakukan itu kepada gadis tersebut.
“Bukankah itu akan semakin menyakiti kamu?”
“Biarkan aku sakit yang terpenting kamu bisa menyembuhkannya, meskipun itu hanya pura-pura.” Liondra benar-benar tak mau kalah. Dan dia juga tak mau kalah seorang diri. Gadis itu merasa jika ini adalah tanggung jawab Rigel.
“Li,”
“Kamu pikir aku akan diam saja diperlakukan seperti ini, Gel?” tak ada tangis yang keluar, tapi wajah gadis itu juga terlihat tak bersahabat. “Seharusnya, sebelum kamu melakukan suatu hal kamu harus berpikir terlebih dahulu. Ini akan menyakiti hari orang atau tidak.” Ini adalah kesalahan yang Rigel buat dengan kesadaran penuh. Untuk menghindari sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dihindari, dia justru melakukanya. Karena dia memang merasa bersalah, maka yang sanggup dilakukan Rigel adalah diam.
Bahkan ketika dia pulang dan sampai di kamarnya pun, dia merasa kesalahan itu terus mendengung di kepalanya. Jalan untuk mundur pun seolah tak ada. Liondra kukuh mempertahankan hubungan mereka, dan gadis itu tidak mempermasalahkannya selama Rigel ada di sampingnya.
Berbaring terlentang, dia menatap ponselnya dengan aplikasi chat yang terbuka. Dia ingin menghubungi El, tapi tak tahu akan mengobrolkan tentang apa. Kalau dia tak menghubungi gadis itu, namun dia ingin melakukannya.
Rigel : El
Akhirnya satu chat dia kirimkan untuk gadis di seberang sana yang dia tak tahu sedang melakukan apa. Menunggu sampai chatnya di balas, terasa lama sekali bagi Rigel.
“Ngapain sih lama banget.” Begitu gumamnya kepada dirinya sendiri. Jelas tak ada yang menjawab dengan apa yang dipertanyakan karena memang hanya dia sendiri yang berada di dalam kamar.
Hampir pukul dua belas malam, ketika chatnya dibalas oleh El.
El : Hem.
Bahkan hanya itu saja balasannya. Rigel yang hampir tertidur itu berdecak tak karuan.
Rigel : Nggak jadi, kelamaan lo balasnya
El : Oo, ya udah.
Sama sekali tak berperasaan, begitulah kira-kira yang dipikirkan oleh Rigel. Rigel yang sekarang sedang sensitive itu akhirnya tak membalas dan merajuk. Menarik selimut, dia tidur begitu saja. “El, nyebelin.” Begitu katanya sampai matanya tertutup karena alam mimpi.
Keesokan harinya, Rigel masih menunjukkan aksi diamnya. Lelaki itu bahkan tak menyapa Odel ketika baru sampai di kelas. Wajahnya terlalu kaku dan tak bersahabat. Odel dan El saling melirik dan setelahnya keduanya mengedikkan bahunya.
“Kesambet, kayaknya.” Begitu tanggapan El dengan cuek. Dia mungkin merasa tidak melakukan kesalahan kepada lelaki itu karenanya dia cuek saja. Berbeda denga El, Odel justru mencoba mengajak berbicara Rigel.
“Kenapa?” tanyanya dari duduknya. Dan Rigel hanya menggeleng saja. Dan berpura-pura melakukan sesuatu. Entah membuka-buka buku, memainkan pena, atau hal lain yang sekiranya dia bisa terlihat sibuk.
“Tapi ada yang beda kayaknya sama lo.” Odel mendesak. “Lo nggak kayak biasanya.”
“Rigel yang biasanya, melarikan diri.” Sambung Rigel dengan tak tahu malu, mengabaikan saja Odel yang sudah baik hati memperhatikannya. Dan El yang mendengar justru merasa jiwanya tertantang untuk mengerjai Rigel.
“Wah!” katanya sambil berjalan dan duduk di meja Rigel, “Melarikan diri kemana, Gel?” ekspresi El benar-benar dramatis sekali.
“Gue beneran nggak nyangka kalau dia bisa melarikan diri begitu,” dibuatnya wajah sedihnya dan ditunjukkan dengan bangga kepada Rigel.
Rigel menatap El tak bersahabat seolah mereka adalah musuh bebuyutan. El mana takut dia dengan sangarnya ekspresi Rigel sekarang.
“Ada banyak faktor yang mempengaruhi kenapa ‘Rigel yang dulu’ bisa melarikan diri.” Masih saja berlanjut ocehan El, “Pertama, mungkin dia udah nggak kuat sama kejamnya dunia. Kedua, dia galau. ketiga, masalahnya tak bisa mudah diselesaikan. Keempat, dia diabaikan oleh sahabatnya.” Kalimat keempat yang dikatakan oleh El itu hanya sebuah bisikan dikeluarkan oleh gadis itu.
Bahkan dengan kampretnya El menyeringai. Dan, pergi begitu saja untuk kembali duduk di kursinya. El, memang ahlinya dalam ‘merusak’ hati orang lain. Rigel bahkan mengetatkan rahangnya ketika mendengar semua ocehan tak berfaidah dari bibir sahabatnya itu.
Tapi, semenyebalkannya El, Rigel tahu dia tak bisa marah lama-lama kepada gadis itu. Entah apa yang ada di dalam diri El sampai bisa membuat dirinya tak berdaya seperti itu.
*.*
Mengabaikan Rigel yang masih merajuk, El memilih berjalan seorang diri. Odel sedang menemani Rigel. Katanya, Rigel membutuhkan teman untuk diajak berbicara. Maka, El cukup tahu diri dengan ucapan seperti itu. Dia pun tak masalah untuk melakukan apapun sendiri.
“Suka dong, Bu, enak lho.” Katanya. El memang bisa sadis kepada orang lain, tapi jika dengan orang tua, dia sangat menghormatinya.
“Emang masakan Ibu yang enak atau emang Neng El itu suka nasi goreng?”
“Dua-duanya, Bu. Aku suka nasi goreng, apalagi yang masakannya enak.” Jawaban itu sebenarnya tak menjawab apapun yang dipertanyakan oleh penjual tersebut, tapi ya sudahlah. Suka-suka El saja.
“Ini, makanannya.” Kata ibu kantin memberikan satu nampan yang ada nasi goreng dan juga minuman.
Namun sayangnya, seseorang dengan sengaja menabraknya sampai apa yang dibawa El menumpahi sebagian seragamnya.
“Sorry, El.” Katanya dengan kecentilan. El sama sekali tak bereaksi apapun. Meskipun kantin tersebut sudah hening karena melihat adegan itu. El datar menatap gadis di depannya dan melihat bet kelas XII di dada bagian kirinya.
“Oh, kakak tingkatnya.” Batinnya.
“Its oke.” Jawab El santai, sampai membuat gadis di depannya itu terkaget. Jika biasanya El tak akan tinggal diam, sekarang justru dia hanya pasrah ketika dirinya ‘dikerjai’ oleh kakak tingkatnya. Takut kah? Karena biasanya, yang memiliki masalah dengan El hanyalah teman sebayanya yang memang satu tingkat dengan dirinya. Mungkin itulah yang sedang di fikirkan oleh gadis itu dan teman-temannya.
“Urusan kalian udah selesai kan? Untuk apa masih di sini?” tanyanya. El benar-benar mengontrol ucapannya kali ini.
“Kami ingin bertanggung jawab karena sudah membuat seragam lo yang kotor.” Jawabnya.
“Ah, kalian terlalu baik hati jadi orang. Nggak perlu. Gue bisa membersihkannya sendiri.” El mengibaskan tangannya.
“Serius , El. Kami benaran mau bersihkan seragam lo.” Ngotot gadis itu.
“Lo nggak perlu maksa gue. Gue bilang nggak perlu, artinya itu nggak perlu.” El berbalik untuk pergi tapi tangannya di cekal oleh gadis tersebut.
“Lo nggak bisa nolak kebaikan gue gitu aja.”
“Dan lo nggak berhak paksa gue gitu aja.” El melepaskan cekalannya dari gadis tersebut dengan kasar. Tatapannya datar dan bersiap untuk perang, “Jadi, mau lo apa sekarang?” tantang El. Melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, “Gue punya waktu lima menit lagi karena akan segera masuk.”
“Lo ternyata sombong sekali. Gue selama ini hanya melihat lo dari jauh bagaimana tingkah lo yang menyebalkan, tapi rasanya gue sama sekali nggak tahan.” Gadis itu menunjukkan keberaniannya.
“Karena itu lo sengaja menyenggol gue dan membuat masalah sama gue.”
“Ya. Gue memang sengaja.” El menyeringai. Kemudian bertepuk tangan.
“Bagus sekali.” Jawabnya, “Harusnya dari tadi lo nggak usah berpura-pura baik sama gue, toh endingnya lo ngakuin juga kan. Orang munafik itu dibenci sama Tuhan.” Mereka saling menatap, dan El kembali bertanya.
“Gue tanya sekali lagi sama lo, lo mau apa?”
“Kurangi sifat menyebalkan lo itu. Semua orang udah mulai enek sama lo.” El mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Lalu?”
“Jauhi Rigel.” Dan endingnya adalah masalah lelaki. Itu adalah yang membuat geram El.
“Ternyata banyak juga yang suka sama cecunguk satu itu.” Itu hanya gumaman tapi tak benar-benar disebut gumaman karena El mengatakan dengan keras.
“Cecunguk?”
“Ah, pasti lo nggak terima kalau Rigel gue katai kayak gitu. Sorry.” Katanya sok manis, “Tapi sorry, kakak-kakak, gue harus masuk ke kelas. Waktu kalian buat berurusan sama gue udah habis. Dan, tentang Rigel, kalian bisa bicara langsung sama dia. Terakhir gue tahu, dia udah punya pacar. Karena gue yakin, perempuan kaya kalian itu bukan level dia.” Seperti biasa, EL mengakhiri dengan seringaian mematikan.
Dan merasa terhina, gadis itu menjambak El sampai El mendesis kesakitan. “Shit!” katanya mengumpat, “Apa yang lo lakukan?” katanya setelah dia berhasil melepaskan jambakan itu. Entah kenapa tak ada dari banyaknya orang di sana yang melerai mereka.
“Lo pantas mendapatkan itu.” Pelototnya gadis itu kepada El, “Gue nggak pernah sekalipun direndahin sama orang, dan beraninya lo ngerendahin gue? Gue bahkan lebih pantas dari sekedar pantas buat Rigel.” Suara gadis itu membeludak keluar dengan wajah marah.
“Gue benar-benar akan membuat perhitungan sama lo.” Gadis itu maju dan akan menyerang El ketika dua orang lelaki ‘bodyguard’ El datang.
“Lakukan, bukan hanya lo yang akan menyesal. Gue akan buat keluarga lo sampai nggak sanggup untuk menangis.” Al menatap gadis itu dengan tajam.
Gadis itu mundur dan masih menunjukkan kekesalannya, “Kenapa dia selalu berada di atas angin? Karena semua orang selalu membela dia. Perempuan manja.” Seolah tak takut dengan peringatan Al, gadis itu justru mengatakan kalimat tantangan.
Mereka sudah benar-benar telat masuk ke kelas. Bahkan bukan hanya mereka, tapi yang lain yang masih ada di kantin tersebut pun tetap berada di sana.
“Lalu apa itu mengganggumu?” El tak tinggal diam, “Kalau memang lo iri, syirik sama gue, lo nggak perlu seperti itu. Lo itu sebenarnya kekurangan kasih sayang atau apa sampai iri dengan kebahagiaan orang lain?” pancing El dengan sadis. “Jangan salahkan orang lain kalau lo merasa memang hidup lo terlalu menyedihkan.”
El maju selangkah sampai berdiri tepat di depan gadis itu. “Dengarkan gue baik-baik,” katanya, “Gue bukan orang yang suka mencari musuh. Selama ini, mereka lah yang membuat masalah sama gue. Dan gue nggak mungkin diam aja kalau itu terjadi sama gue. Karena itu gue peringatin sama lo, meskipun lo kakak kelas gue, gue nggak akan diam saja kalau lo buat masalah sama gue. Jangan pancing emosi gue.” kemudian setelah mengatakan itu, El pergi dari sana dan meninggalkan semua orang.
Al dan Rigel masih menatap ‘musuh’ El tadi dengan tajam. “Seekor singa tidak perlu terus mengaum untuk menunjukkan atau membuktikan dia hebat, karena hanya dengan sekali mengaum itupun sudah cukup membungkam kumpulan anjing yang terus menerus menggonggong di sekitarnya. Lo harusnya tahu pepatah itu dan meletakkan di dalam otak lo. Kami, bukan orang-orang yang suka mencari masalah, tapi jangan berharap lo akan lolos begitu saja ketika gauman itu kami keluarkan.”
Al pergi dan menyisakan Rigel. Lelaki seperti biasanya, bersedikap di depan dada sambil menatap gadis itu dengan tajam. Menilai penampilan gadis itu. Barulah dia berbicara, “Ketika lo berniat membuat masalah, buatlah masalah yang lebih mengesankan, bukan masalah rendahan seperti ini. Kurang keren bagi kami.” Dan yang membuat gadis itu terlihat lebih sebal adalah desisan mengejek yang dikeluarkan oleh Rigel sebelum meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Rigel sedikit berlari untuk bisa segera menemui Al dan El. Rigel merasa akhir-akhir ini banyak sekali masalah muncul mulai dari Odel, dan sekarang El. Mereka yang seolah memiliki dendam kepada kumpulannya keluar satu per satu untuk mencari masalah. Mereka tentu tak gentar, hanya saja terkadang lelah dengan masalah yang sama sekali tak penting.
*.*