Blind Love

Blind Love
Lanjutan 15



Kedua anak mereka sudah tertidur dengan tenang. Dan kedua orang tua yang sedang tidur itu sedang mengobrol ringan. “Kamu jangan lagi keceplosan mengatakan hal yang tidak-tidak.” Mereka sedang berhadapan dengan kaki berselonjor di atas sofa kamar.


“Ucapan yang nggak baik itu akan mempengaruhi otak mereka untuk mengatakan hal yang nggak baik juga.” Lanjutnya lagi.


Love mengangguk. “Iya. Aku juga nyesel banget tadi.” Love berpikir jika dia harus berhati-hati dengan apa yang dikatakannya jika bersama anak-anaknya. “Oh ya, Yah. Aku mau minta ijin.”


“Apa?” ekspresi Aksa seperti orang yang baru saja mendengar kata-kata aneh yang belum pernah dia dengar sebelumnya.


“Ada reuni kecil-kecilan sama temen-temen SMA yang sekelas dulu.” Love memang sekarang menjadi ibu rumah tangga sungguhan. Waktunya hanya dihabiskan di dalam rumah bersama anak-anaknya. Dia jarang sekali bersenang-senang untuk mengusir rasa bosan ketika tak ada hal yang dilakukan.


Kegiatannya hanya mengantar dan menjemput Avez sekolah saja, dan setelahnya hanya di dalam rumah saja. Di zaman sekarang, semua serba mudah. Jika dia menginginkan sesuatu, hanya tinggal menggunakan aplikasi ponsel dan barang akan datang ke rumahnya. Dan tentu saja Love memanfaatkan hal itu dengan maksimal.


“Kapan?”


“Besok. Setelah aku jemput Avez pulang sekolah, aku berangkat. Boleh nggak?” Love sebenarnya tidak keberatan jika suaminya itu tak mengijinkan. Tapi dia merasa tak enak kepada teman-temannya jika tak datang. “Aku akan titip anak-anak ke Bunda Key.” Love tak akan mengajak kedua anaknya di acara orang tua seperti ini, apalagi mereka sepakat untuk tak mengajak anak-anak mereka.


“Sampai jam berapa?” Aksa sepertinya memang susah sekali mengijinkan istrinya itu untuk keluar rumah jika tak ada dirinya di sana. “Nggak sama keluarga mereka?” Mungkin maksud Aksa adalah kenapa dia tak diajak Love untuk datang ke reuni tersebut.


“Sebelum ayah pulang, mungkin aku udah sampai rumah lagi.” Aksa masih belum memberi keputusan. Lelaki itu seolah berpikir dengan keras apa yang akan terjadi jika istrinya itu pergi tanpa dirinya. Dan Love dengan sabar menunggu apa yang akan diputuskan oleh sang suami.


“Ixy nangis nggak nanti kamu tinggal?” Entah kebodohan dari mana yang merasuki Aksa kali ini karena pertanyaan itu sangatlah tak masuk akal. Baik Avez maupun Ixy akan baik-baik saja jika di tempat kedua neneknya. Apalagi Ixy sekarang benar-benar sudah lepas dari ***** kesayangannya.


“Itu alasan Ayah yang nggak ngijinin aku buat datang ke acara itu atau apa?” Love menyangga kepalanya dengan tangan kanannya. “Banyak sekali pertanyaan.” Begitu lanjutnya santai. Sedangkan Aksa tak langsung memberikan ACC dengan ‘proposal’ yang diajukan oleh sang istri.


Masih dengan keputusan yang belum di tetapkan, Aksa berdiri dan meninggalkan Love. “Aku pikir dulu.” Katanya dengan menyebalkan yang mendapatkan cibiran dari istrinya. Namun tak urung, Love ikut berdiri dan mengikuti Aksa. “Tidur yuk, Yah. Ngantuk aku.” Sambil menggandeng tangan suami dan menyerkan kepalanya di lengan Aksa.


“Emang mau tidur.” Jawab Aksa sangat santai. Lagi pula malam semakit larut, dan mereka butuh istrirahat.


*.*


Dan di sinilah Love sekarang. Bertemu dengan teman sekelasnya waktu sekolah dulu dan mengobrol ringan bersama mereka. Kalian tahu? Bahkan Aksa memberikan jawaban atas izinnya itu ketika dia sudah tak memiliki


harapan lagi untuk hadir di reuni tersebut. Ya, Aksa memberi ijin ketika waktu Love pulang dari menjemput putra mereka. Dan itu benar-benar membuat Love jengkel setengah mati.


“Lo ternyata bisa meluluhkan Aksa ya, Love.” Gina, yang mengatakan itu. “Gue bahkan nggak ada kepikiran lo bisa sampai menikah sama dia, gila aja, cuek banget itu orang. Nggak ngerasa gitu kalau Love nguntit terus.” Love bahkan harus tertawa ketika Gina mengatakan itu. Dia benar-benar tergila-gila sekali dengan Aksa sejak dulu, bahkan sampi sekarang.


“Gue aja nggak nyangka.” Tanggap Love dengan santai. “Takdir itu memang sedang ingin bermain-main sama gue dulu itu.” Yang dihadiahi sorakan geli oleh teman-temannya.


“Jadi, gimana ceritanya dia bisa jadi suami lo?”


“Love, pasti bisa melakukan apa aja lah buat dapat yang dia mau.” Itu adalah Wika. Perempuan itu dari dulu memang agak tak menyukai Love. Entah karena apa, tapi Wika selalu seperti itu, bahkan ketika sekarang mereka


sudah sama-sama dewasa, dia masih seperti itu dengan istri Aksa itu.


“Secara dia anak orang kaya,” kesinisan itu dirasa tak perlu untuk dia tutupi. Bahkan suasana yang tadinya asyik, berubah menjadi canggung.


“Gue sih nggak ngelakuin apapun.” Love santai saja dengan apa yang dikatakan Wika tentang dirinya. “Gue percaya dengan doa dan takdir. Toh sebelum Aksa pergi dari sekolah waktu itu, dia memberikan signal 5Gnya ke


gue.” Bahkan dia mengatakan itu sambil tersenyum.


“Lo sepertinya harus lebih santai menghadapi hidup, Wika, karena nggak semua hal bisa dihadapi dengan kesinisan.” Itu adalah cara Love membalas ucapan Wika. Bahkan perempuan itu merubah mimik  wajahnya menjadi ekspresi tak suka di hadapan Love.


“Jadi, Love, gimana ceritanya?” Kini Lia yang bertanya dengan nada penasaran. “Gue serius pengen tahu.” Antusias itu tercetak jelas di raut wajahnya.


“Gara-gara pesta sih waktu itu. Gue nggak sengaja ketemu sama dia.” Love tahu ceritanya itu akan membuat orang yang tak menyukainya akan merasa sakit di telinganya karena mendengarkannya, tapi dia tak akan mengambil hati.


“Sebentar.” Caca menginteruksi. “Apa yang dibilang oleh Aksa sebelum dia meninggalkan sekolah? Lo tadi bilang gitu loh.”


Love tersenyum dan bermaksud mengerjai temannya. “Menurut lo, dia bilang apa?”


“Kampret.” Gina yang sontak menggerutu, yang menjadikan semua orang tertawa. Sebenarnya bukan hanya teman-teman perempuan saja yang datang di acara tersebut, tapi teman pria juga ada. Hanya saja, para pria sedang sibuk dengan pembahasan yang berbeda.


“Penasaran banget ya lo?” santai Love. Tapi tak urung dia juga melanjutkan. “Kalau suata hari nanti kita bertemu dan kita masih sama-sama sendiri, itu sebagai tanda jika takdir menginginkan kita bersama. Kurang lebih seperti itu lah, dia bilang.”


“Wawww!” Seruan itu menguar dari bibir teman-teman dan membuat Love menggelengkan kepala.


“Kalian nanti kalau di usir sama Mbaknya awas ya.” Mana peduli mereka dengan semua itu, karena mungkin mereka berfikir jika kisah cinta Aksa Love adalah kisah cinta romantis.


“Kenapa bisa se cute itu sih kalian.” Begitu komentar Tia. “Gue mau loh dapet laki kaya gitu.” Lanjutnya dengan wajah berbinar terang.


Love melirik Wina yang sedari tadi seolah bosan dengan ceritanya. Karena perempuan itu sama sekali tak merespon apalagi menanggapi. Tapi Love membiarkan saja hal tersebut, dia merasa tak memiliki masalah dengan


temannya itu.


Pembahasan masalah percintaan Aksa dan Love memang tak habis dan berhenti sampai di sana, karena mereka terus meminta Love bercerita tentang kisah itu.


“Jadi, kabar yang beberapa tahun lalu heboh itu gimana, Love?” Wina tiba-tiba menanggapi, tapi dia mengungkit tentang kisah tak enak yang pernah menimpa keluarga Love dan Aksa. Ketika Love tak langsung menjawab, Wina meneruskan. “Kayaknya emang lo beneran secinta itu sama suami lo, bahkan berita dia selingkuh sama sekali nggak membuat lo menilai buruk lelaki itu.”


yang nggak punya kerjaan aja sih. Lo tahu sediri kalau waktu itu Aksa sudah mengeluarkan bukti yang autentik.” Kedongkolan Love memang belum keluar lewat ucapan perempuan itu. Karena dia tak mau, kepedasan ucapannya nanti akan membuat masalah baru bagi hidupnya.


“Lo tahu? Nggak semua bukti itu adalah kebenaran. Lo tahu lah Ca, orang yang melakukan kesalahan itu nggak akan mengaku dan pasti akan berkelit.” Imbuh Wina dengan santai dan mungkin merasa di atas angin karena Love belum menanggapi pancingannya.


“Lo tahu? Cobaan yang paling berat dalam kehidupan rumah tangga itu adalah tentang perselingkuhan. Gua nggak tahu apa lo percaya sama Aksa itu karena dia benar-benar nggak salah atau emang lo nggak mau menghadapi


kepahitan dunia ini dengan cara, percaya dengan hal yang salah.” Semua orang dibuat menganga dengan keberanian seorang Wina dengan mengatakan hal seperti itu. Dulu, Love tak akan mengampuni orang yang lancang kepada dirinya, entah apa yang terjadi kali ini ketika ada orang yang begitu kurang ajar kepadanya.


“Bagi gue, kepercayaan itu adalah kunci dari sebuahmhubungan. Saling mempercayai maksud gue.” Tak ada raut marah yang ditunjukkan oleh Love. “Gue percaya sama suami gue karena dia memang bersih dari tuduhan


yang nggak berdasar itu. Aksa itu bukan kaya suami lo yang suka sekali bermain perempuan di belakang istrinya.” Bukan hanya Wina yang kaget karena itu, tapi teman-temannya pun sama kagetnya.


“Lo tahu?” Ekspresi Love begitu tenang, tapi jika orang sudah mengenal baik dengan dirinya, maka ketenangan itu hanyalah fatamorgana belaka, karena di dalam ketenangan itu tersimpan bahaya yang mungkin saja akan terlihat.


“Nggak semua hal bisa lo komentari dengan sinis seperti itu. Termasuk kehidupan gue. Lo nggak tahu tentang kehidupan gue, nggak sama sekali.” Tekannya. “Tapi gue, tahu apa yang sedang terjadi di kehidupan lo meskipun gue nggak minat tahu sama sekali.” Tatapan lurus yang Love berikan kepada perempuan itu benar-benar seperti ancaman yang tak akan bisa dihindari eksekusinya.


Wajah Wina benar-benar merah dengan mata yang tak fokus menatap orang di sana. Apalagi suasana hening seperti ini membuatnya tegang dan gugup. Teman-teman Love memang menatap Wina dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Mereka tak tahu apapun dengan kehidupan satu temannya itu.


“Love!” Panggilan itu menguraikan ketegangan yang terjadi. Nama Love yang dipanggil, tapi semua orang menatap ke sumber suara.


“Jo?” Love memang sedikit lupa dengan sosok tersebut karena memang ada yang berubah dari lelaki itu.


“Iya. Gue Jo. Jo nya elo.” Katanya menekankan kata terakhirnya.


Love tersenyum lebar sekali melihat teman satu kelasnya yang memang dekat dengannya ketika sekolah dulu. “Berubah banget lo, serius.” Mereka berdua berjabat tangan satu sama lain. Jo, memang baru saja datang karena lelaki itu memang sedang sibuk sekali sekarang.


“Makin ganteng kan?” lelaki itu menaik turunkan alisnya menggoda. “Gimana, lo udah terpesona belum sama gue?” kekehan Love terdengar.


“Makin sableng aja lo sekarang.” Suasana yang tadinya tegang benar-benar sudah seperti tak terjadi apapun lagi. Mereka sudah asyik dengan obrolan mereka, meskipun Wina sama sekali tak ikut masuk dalam obrolan teman-temannya.


“Dan lo makin cantik aja sekarang.” Love hanya menganggap jika ucapan Jo adalah bualan saja, tapi bagi Jo, dia mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Bahkan ekspresinya sangat serius sekali, menatap Love dengan lekat dan mendamba. Sayangnya, Love tak menyadari hal itu.


*.*


“Udah pulang?” Suara itu masuk ke dalam gendang telinga Love.


“Belum, Yang. Ayang udah mau pulang ya?” hari memang sudah


sore. Dan Love benar-benar menikmati waktunya dengan bertemu teman-temannya. Reuni kecil-kecilan yang diadakan oleh mantan kepala kelasnya dulu ini benar-benar mengasyikkan sekali, minus kejadian Love dengan Wina tadi.


“Aku jemput!” Itu adalah keputusan dari Aksa.


“Nggak usah, Yang. Ayang pulang dulu aja, naku pulang sekarang.” Begitu katanya untuk menolak dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Aku udah akan jalan. Tunggu aku di sana.” Kemudian telpon mati dan Love mendengus sebal dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Bukannya dia tak mau diganggu karena bersama teman-temannya, tapi jarak antara


kantor suaminya dan tempatnya saat ini lumayan jauh. Belum juga macetnya. Begitulah pikiran Love sekarang.


“Kenapa?” Kepo Gina.


“Mau dijemput. Padahal kan jarak kantor sama sini kan jauh. Kasihan kalau capek nanti.” Tapi sayangnya, tak lama setelah Love mengatakan itu, Tia menunjuk ke arah luar.


“Kak Aksa.” Begitu katanya dengan mata melebar antusias. Restoran yang mereka datangi ini memang berdinding kaca, jadi mereka bisa melihat keadaan luar dengan leluasa.


“Loh, kok iya.” Begitu katanya dengan kaget.


“Kayaknya suami lo pinjam pintu Doraemon deh.” Jo pun ikut berkomentar, namun dengan ekspresi yang seperti tak suka.


Aksa berjalan masuk ke dalam restoran dengan diikuti pandangan Love dan teman-temannya. Ayah dua anak itu terlalu keren bahkan teman-teman Love saja menatap dengan berbinar.


“Masih aja keren.” Begitu celetuk salah satu dari mereka. Memang tak ada perubahan yang berarti dari Aksa sejak dulu. Bahkan ketika dia sudah berkeluarga, dan usinya yang terbilang sudah matang itu wibawanya begitu terlihat jelas dan nyata,


Aksa mellihat sekeliling mencari keberadaan sang istri. Love tak mendekatinya dan membiarkan suaminya itu mencarinya. Ingin mengetahui seberapa peka radar yang dimiliki oleh Aksa akan keberadaannya.


Hanya butuh waktu beberapa detik saja, ketika mata mereka bertemu. Ada seringaian kecil yang ditunjukkan oleh Aksa ketika melihat Love duduk dengan menatap ke arahnya. Kemudian, kaki Aksa melangkah mendekati meja


Love dan kawan-kawanya.


Tersenyum sedikit dan berjabat tangan kepada mereka. Keramahan itu ditunjukkan oleh Aksa. “Maaf saya datang tanpa diundang.” Begitu katanya kepada mereka. Masih tetap berdiri karena diantara mereka tak ada yang mempersilahkannya duduk.


“Bukan masalah, Bang.” Itu adalah ketua kelas Love. “Duduk, Bang.” Mengambilkan satu kursi kosong yang berada di meja lain, dan mempersilahkan Aksa untuk duduk. Namun ketika dia duduk, entah kenapa matanya menatap lelaki yang juga sedang menatapnya. Tatapan itu datar dan terlihat sekali jika lelaki itu tak suka dengan keberadaan Aksa di sana.


*.*