
El berjalan pelan ketika sampai di depan rumah Rigel. Ada hal yang dipertimbangkan sampai keraguan itu tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Dia ingin membicarakan masalah ini dengan sahabatnya itu dan menyelesaikannya. Jangan sampai hanya karena asmara, persahabatan mereka putus begitu saja.
Bukan karena putus karena saling mencintai, tapi putus karena keputusan salah yang diambil dari keduanya. Ini benar-benar tak bagus.
Membulatkan tekat, El memencet bel rumah besar Rigel dan menunggu seseorang membukakannya.
“Mbak, El?” seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan terlihat kaget karena keberadaan El yang memang sudah jarang datang ke sana. Dan beliau bahkan mengatakannya dengan terus terang.
“Mbak El ini kok lama nggak datang ke sini?” katanya, ketika El sudah masuk ke dalam rumah Rigel dan duduk di ruang tamu.
“Lagi sok sibuk, Bik.” Katanya dengan senyum.
“Kalau gitu Bibi panggilkan Mas Rigel dulu ya, Mbak.” Pamitnya kepada El dan pergi dari sana. El langsung ke rumah Rigel pulang dari jogging tadi, dia tak mau menundanya dan semakin berkembang masalahnya.
“El?” nada Rigel heran. Lelaki itu baru saja bangun tidur. Wajahnya masih berantakan meskipun tak memudarkan ketampanannya, “Tumben?” katanya. Lelaki itu duduk di samping El dan menatap gadis itu. Meneliti apa yang dipakai oleh El, dan kembali bertanya, “Nggak biasa pakai begituan, jogging di mana?”
“Dimana-mana yang penting aku suka.” Jawabnya dengan menatap Rigel penuh perhitungan, “Dan tadi gue ketemu sama seseorang, makanya gue langsung datang ke sini.” Tak perlu menutupi. El mengatakan dengan gamblang.
“Hubungannya ketemu orang sama datang kesini emangnya apa?”
“Liondra.” Hanya satu nama dan mampu membuat Rigel terpaku, “Dan kita harus menyelesaikannya sekarang tanpa perlu menundanya.” Tegas El tanpa sungkan sama sekali.
Rigel yang tadinya menatap El, kini menumpukan kepalanya di kepala sofa tanpa minat sama sekali. Tapi El sama sekali tak peduli meskipun Rigel malas-malasan.
“Lo yang menghindari gue, dan lo sendiri sekarang yang membuat masalah.” El memulai berbicara dengan pandangan mata fokus menatap lelaki di sampingnya.
“Lo cinta sama gue?” ucapan El bernada tanya, tapi tanpa menunggu jawaban, El melanjutkan. Dia bisa melihat jika Rigel memang kaget dengan apa yang baru saja diucapkannya.
“Bagi gue itu mustahil. Lo memang pernah bilang sama gue bisa aja lo baper karena ucapan gue. Tapi meskipun gue sudah mengatakan jika apa yang gue ucapkan adalah gambaran dari pemikiran dan perasaan gue, lo tetap menentangnya dan memilih menjauh dari gue dan memacari orang lain.” Rigel hanya diam karena merasa El memang sekarang sedang menghakiminya.
“Lo sekarang ngebuat gue seperti perempuan ****** yang suka dengan kekasih orang.” Dan ucapan EL itu berhasil membuat Rigel menoleh.
“El!” pelototnya kepada gadis itu, “Gue nggak pernah menganggap lo seperti itu.”
“Lo memang nggak menganggap gue seperti itu, tapi orang lain yang akan menilai seperti itu.”
“Orang lain siapa maksud lo? Liondra?” Rigel kembali menatap El dengan fokus dan memutuskan untuk bicara, “Dengar, gue memang mencintai lo, El. Itulah kenapa aku merasa hancur ketika lo bilang akan menerima Orion masuk ke dalam kehidupan lo dan menjadi kekasih lo. Lo jangan tanya kapan perasaan itu tiba-tiba muncul, karena gue juga nggak tahu.”
“Perasaan lo adalah tanggung jawab lo.” Kata El dengan sinis, “Sekarang, siapa yang akan menghancurkan semuanya? Keputusan lo yang tanpa pertimbangan, atau perasaan yang lo takutkan selama ini?”
Rigel tak mampu menjawab. Bibirnya tertutup rapat, namun matanya masih sangat fokus dengan gadis yang ada di depannya. “Gue minta maaf.” Rigel akhirnya minta maaf. Dia menyadari apa yang dilakukan memang salah.
“Kalau begitu, lo jangan putus sama Liondra.”
“Gue nggak bisa.”
“Karena kalau lo putus sama dia, gue yang akan menjadi orang yang paling disalahkan meskipun gue sama sekali nggak tahu apapun.”
“Nggak akan ada yang nyalahin lo.”
“Liondra yang akan lakukan itu.”
“Dia adalah orang yang paling tahu bagaimana perasaan gue sama dia selama ini.” Rigel terlihat sekali frustasi, “Dia juga tahu siapa cewek yang sebenarnya gue cintai.” Lelaki itu juga tak mau kalah. Kemudian sepertinya ada pemikiran lain yang muncul di kepala Rigel.
“Atau jangan-jangan lo mau macari Orion?”
“Gue bukan orang ***** kayak lo,” pelototan itu diberikan kepada Rigel atas tanggapan dari ucapan Rigel, “Gue nggak akan membuat seseorang sebagai alat hanya untuk melindungi gue.”
“Lo cinta sama gue?” tiba-tiba Rigel menanyakan hal yang tabu sekali.
“Gue nggak pernah menutupi apapun perasaan yang gue rasakan sama lo selama ini. Ketika gue bilang jika lo adalah orang yang akan gue pilih untuk menjadi pasangan gue, itu adalah yang gue rasakan. Tapi ketakutan lo membuat gue mundur.”
“El!” Rigel benar-benar tak bisa berkata-kata lagi sekarang, bahkan dia mengutarakan pertanyaannya saja dengan gumaman.
“Apa yang bisa gue lakukan sekarang?”
“Lo nggak perlu melakukan apapun.” EL menjawab cepat, “Lo hanya perlu bertahan dengan Liondra selama mungkin. Rigel menggeleng.
“Lo nggak tahu bagaimana sengsaranya gue berpacaran dengan orang yang nggak gue cintai selama ini,” ini adalah kali pertama dia memelas di depan El. Rigel yang memang tidak pernah menunjukkan kelemahannya sama sekali kepada orang lain termasuk, El, kini benar-benar berbeda.
“Itu adalah tanggung jawab yang harus lo tanggung dengan keputusan yang udah lo ambil.” Mereka saling tatap dengan perasaan yang berbeda. Orion yang terlihat memohon, dan El yang terlihat tegas.
“Gue pulang dulu. Mandi sana, lo bau.” Tentu itu adalah guyonan untuk membuat ketegangan itu mengurai. El tidak ingin hubungan mereka memburuk. Rigel, adalah sahabatnya. Terlepas dia menyukainya atau tidak, dia tetap menyayangi lelaki itu sebagai sahabat.
“Tunggu gue mandi, nanti gue antara.” Cekalan di tangan El membuat gadis itu berhenti. El berbalik dan melepaskan cekalan tersebut dengan pelan.
“Nggak perlu.” Katanya.
“El!”
“Lo lanjutkan lagi tidur lo, sorry gue ganggu lo Cuma mau ajak lo tengkar.” Ada senyum kecil yang diberikan kepada Rigel dan kemudian pergi dari sana.
Alih-alih memesan ojek online, El lebih memilih berjalan kaki. Dia membiasakan dirinya untuk tak manja meskipun dia bisa dengan mudah mendapatkan segalanya dalam hidupnya.
*.*
Al berjalan santai sambil memakan permen lolipop seperti bocah. Wajahnya biasanya saja, tanpa senyum, datar, dan sama sekali tak memperdulikan jika semua perhatian tersedot olehnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Odel yang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah buku. Senyumnya terbit dan dengan sengaja menghadang gadis itu.
“Sendirian?” tanyanya kepada Odel setelah gadis itu berdiri tepat di depannya, “Mana yang lain?”
Decakan terdengar dari bibir Al, “Siapa yang berani nyingkirkan kamu?” tanya Al dengan wajah serius namun Odel tahu jika itu hanyalah candaan.
“Nggak ada.” Jawab Odel, “Aku hanya sengaja menyingkir. Sepertinya mereka semua terlalu pelik.” Al menggelengkan kepalanya,
“Kamu harusnya nggak perlu memikirkan hal yang berat, itu akan mempercepat proses keriput dalam diri kamu.” Odel melotot dan dengan reflek melayangkan tangannya untuk memukul Al. Bukan jenis pukulan yang keras, tapi hanya pukulan ringan saja.
“Biarlah aku keriput, yang penting masih cantik.” Katanya dengan cemberut. Al mencubit kedua pipi Odel dan menguyelnya.
“Kalau itu jelas. You are beautiful. Itu benar.” Odel hanya terkekeh mendengar itu.
“Ayo!” Al menarik tangan Odel kemudian melepaskannya lagi. Mereka sedang ada di lingkungan sekolah, dan tak mungkin melakukan kontak fisik berlebihan. Pemandangan seperti itu memang sering terjadi sekarang. Meskipun begitu, Interaksi keduanya benar-benar menarik perhatian.
“Del!” panggilan itu dari arah lantai atas rumahnya. Dia baru saja pulang dari sekolah dan merebahkan tubuhnya di sofa ketika dia mendengar ada suara yang sepertinya memang tak asing. Kepalanya menoleh kesana kemari untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.
“Odel!” gadis itu belum menemukan si pemanggil, namun panggilan tersebut sudah kembali terdengar.
“Bang Hoshi?” tidak ada jawaban dari orang tersebut. Odel tiba-tiba merinding ketika orang yang memanggil dirinya itu tak muncul. Dengan cepat, dia naik ke lantai atas dan akan masuk ke dalam kamar ketika seorang lelaki muncul dari balik dinding.
“Dor!” katanya memang sengaja mengagetkan gadis itu. Odel yang memang sedang tak konsen benar-benar merasa kaget dibuatnya.
“Abang!” senyumnya cerah ketika melihat itu. Memeluk lelaki itu dengan erat dan begitu pun yang dilakukan oleh lelaki yang dipanggil ‘abang’ oleh Odel tersebut.
“Kapan datang?” tanyanya. Senyum cerah itu terlihat dari dengan wajah yang sumringah.
“Duduk dulu.” Lelaki tersebut menarik tangan Odel dan mendudukkannya di sofa yang ada di depan kamar mereka.
“Kok nggak bilang-bilang kalau mau pulang? Aku kan bisa jemput di bandara.”
“Sejak kapan kamu bisa seromantis itu? biasanya juga nggak mau kalau disuruh antar.” Begitu kata Hoshi.
Kekehan Odel terlihat dan itu sama sekali tak asing bagi lelaki tersebut. “Kangen banget sih.” Hoshi mencubit dua pipi Odel karena merasa gemas. Baru juga belum ada dua tahun nggak pulang, tambah cakep aja cewek ini. Udah punya pacar lagi katanya.” Odel hanya sanggup tersenyum malu ketika Hoshi menyebutkan pacar dalam obrolan mereka.
“Abang pasti juga udah punya pacar.” Seringaian Hoshi terlihat.
“Jelas dong. Cowok ganteng itu rugi kalau dianggurin.” Katanya dengan percaya diri. Dan itu hanya mendapatkan cebikan dari bibir Odel.
“Nggak keberatan dong, kalau Abang kenal sama pacar kamu?”
Odel terlihat berfikir. Selama ini, Al belum tahu jika dia memiliki kakak lelaki satu-satunya. Al jelas pernah datang ke rumahnya, tapi Odel dan keluarganya bukanlah tipe orang yang suka memasang foto mereka sebagai pajangan. Mereka juga tidak pernah membahas masalah keluarga.
Keduanya hanya fokus pada hubungan mereka, dan melupakan anggota keluarga yang lain.
“Sebenarnya nggak keberatan sih, Bang. Nanti lah, aku cari waktu yang tepat untuk ketemuin sama dia.” Katanya bernego.
“Kamu baik-baik aja kan?” Hoshi tiba-tiba mellow. “Semua kejadian yang kamu alami, Abang hanya bisa mendengarnya tanpa bisa melihat secara langsung.”
“Nggak papa. Abang hanya perlu fokus pada kuliah Abang. Di sini kan ada Mama sama Papa.” Lelaki itu menghela nafas ketika mendengar jawaban Odel.
“Kamu selalu seperti itu. Meminta Abang selalu fokus dan fokus. Kamunya sendiri gimana, fokus nggak kalau sekolah? Jangan-jangan di bukumu cuma kamu tulis nama pacar kamu aja.” Sebetulnya lelaki itu hanya menebak, tapi ekspresi kaget yang ditunjukkan oleh Odel itulah yang membuat Hoshi kaget.
“Ekspresimu gitu banget? Pasti tebakan Abang benar kan?”
“Enggak kok, Bang.” Dalihnya, “Cuma waktu Abang bilang gitu, aku jadi keinget drama korea yang aku tonton. Sama persis begitu.” Bualan Odel itu sama sekali tak mempan. Dia pandai menutupi ekspresinya, tapi lelaki itu jelas tahu jika Odel pastilah sering melakukan hal tersebut.
“Ngaku aja kenapa sih? Nggak dosa juga kok.” Goda lelaki itu dan Odel tak lagi bisa menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.
“Huuuh, adek gue udah gede sekarang.” begitu kata Hoshi dengan bangga, “Siap-siap, gih, kita jalan-jalan.” Dan ajakan itu membuat Odel bersorak kesenengan. Bergegas masuk ke dalam kamar, ganti baju, kemudian mereka melakukan apapun itu dan akan bersenang-senang.
Odel menggandeng tangan kakaknya dan bermanja seperti biasanya. Odel yang memang selalu suka sekali gelendotan itu jelas tak asing lagi bagi Hoshi.
“Abang di rumah berapa bulan?” tanyanya sambil mereka berjalan.
“Karena ini liburan semester, agak lama di rumah. Bisa sebulan atau dua bulan kalau memang nggak ada yang harus di kerjakan di Surabaya sana.” Senyum Odel terlihat merekah ketika mendengar itu. Satu bulan bisa lah, apalagi dua bulan, semakin senang saja gadis itu.
Dia selama ini sering kesepian di rumah. Bukan, orang tua Odel bukan orang yang gila kerja, mereka pulang sesuai jam kerja, dan selalu ada waktu bersama putrinya itu. Tapi Odel yang awalnya terbiasa memiliki teman, yaitu kakaknya, dan lelaki itu harus meninggalkan rumah untuk kuliah di luar kota, membuat Odel merasa kesepian.
Dan ini adalah kali pertama Hoshi pulang ke rumah selama hampir dua tahun tak pulang. Di jaman sekarang, jarak memang tak menjadi masalah, hanya saja kegiatan Hoshi cukup padat. Begitulah yang lelaki itu pernah katakan kepada keluarganya.
“Abang sekarang pacaran sama orang mana? Cantik nggak?”
“Tahu nggak, itu namanya apa?”
“Apa?”
“Kepo.” Odel menendang tulang kering Hoshi dan membuat lelaki itu meringis karena merasa kesakitan. Mereka sudah ada di sebuah kafe untuk mengisi perut mereka.
“Makin jahat aja bocah ini.” Katanya dengan mendesis, “Ngomong-ngomong, apa kabarnya si jutek satu itu?”
“Makin jutek.” Jawab Odel, “Ada berani sama dia, bakalan dia ‘tendang’ dengan ucapannya.” Jeda sebentar karena Odel lebih dulu menyuapkan makanan ke mulutnya, “Sempat diskors sih dia kemarin.”
“Serius?”
“Kalau bukan lawannya yang mulai mau adu fisik duluan, nggak mungkin dia dapat hukuman seberat itu. Itu aja dia nggak balas.” Kalian pasti tahu siapa yang dimaksud oleh Odel bukan? Siapa lagi kalau bukan sahabat terbaik yang Odel miliki, El.
*.*