Blind Love

Blind Love
Episode 36



Virgo menggelengkan kepalanya karena melihat usaha Edo yang sepertinya memang keras sekali mendekati gadis yang disukainya. Ini adalah hari kedua sejak dia berkenalan dengan gadis itu dan Edo sama sekali tak kasih kendor gadis kecengannya itu. Bahkan hari ini saja Edo mengajak gadis itu untuk makan siang bersama.


Karena kegabutan yang dirasakan Virgo sepertinya benar-benar tak bisa hilang sejak tadi, maka biarlah dia sedikit ‘mengganggu’ acara Edo dan juga gadis itu dengan ikut bergabung di meja mereka. Duduk disana, menatap Edo dengan kernyitan dahi seolah Edo sedang melakukan adegan yang aneh, kemudian menghela napas sebelum bersuara, “Gue nggak ganggu kalian kan?” begitu tanya dengan santai yang jelas saja itu adalah sebuah gangguan yang dirasakan oleh Edo.


“Lo ganggu, tahu nggak? Pergi sono, cari pacar kalau perlu,” Edo sepertinya juga jengkel sekali sekarang karena sahabatnya itu lagi-lagi berulah.


Memutar bola matanya malas, Virgo menatap gadis yang ada di dekat Edo. “Lo nggak ilfil sama cowok modelan begitu?” tampang mencemooh itu tak lupa dipasang di wajahnya dengan sangat sempurna sampai-sampai membuat Edo berdecak sinis.


“Gue makan soto sekarang, Vir. Jangan sampai kuahnya melayang ke kepala lo ya.” Begitu kata Edo dengan geram. Tanggapan Virgo mana mungkin sungguh-sungguh, lelaki itu sama sekali tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Edo.


“Gue Virgo,” entah apa yang direncanakan oleh Virgo kali ini, tapi dia begitu menyebalkan sekali, “Gue teman Edo dari jaman kelas sepuluh, sampai sekarang. Kalau lo membutuhkan informasi tentang dia, lo boleh tanya ke gue sebanyak yang lo mau, gue pasti akan jawab.”


“Kampret!” baru juga Virgo menutup mulutnya, Edo sudah menyumpah serapah kepada lelaki itu.


“Kalau kamu lihat dia ini diidolakan sama cewek-cewek, bahkan bukan sekarang saja bahkan dari dulu, dia memang idola sekolah, dia itu sebenarnya minus,” Edo tentu tak akan kalah dengan cecunguk satu itu. Dia akan mengatakan apapun yang membuat perasaan sebalnya terobati.


Gadis itu terkekeh, “Tapi persahabatan kalian ini memang lucu,” komentarnya. Virgo bahkan menaik turunkan alisnya menggoda Edo yang masih jengah dengan kelakuan nya.


“Persahabatan seperti ini yang biasanya akan bertahan lama,” seperti cenayang saja gadis itu dengan mengatakan sesuatu yang bahkan belum dia ketahui.


Makanan yang dipesan oleh Virgo telah diantur, dan dia langsung menyantapnya tanpa sungkan. Sebelumnya jelas saja menawarkan kepada gadis yang duduk bersebelahan dengan Edo itu.


Makanan yang dimakan itu terasa nikmat di lidah Virgo sebelum sebuah pertanyaan membuat lelaki itu tertegun dengan itu. “Lo udah punya pacar?” bukan hanya Virgo yang merasa kaget, karena Edo pun melakukan hal yang sama.


“Lo serius tanya itu ke gue?” Virgo meletakkan sendok di mangkuk yang masih berisi makanan miliknya, “Gue yakin Edo sekarang lagi marah tu,” tunjuknya pada wajah Edo yang seolah tercenung.


Mengabaikan perubahan wajah Edo, gadis itu justru melanjutkan ucapannya, “Lo mau nggak gue kenalin sama temen gue?” sungguh-sungguh sekali gadis itu berbicara, “Tenang aja, dia cantik kok. Dia anak Akuntansi,” lanjutnya dengan semangat membara seolah dia sedang melakukan sesuatu yang akan menyelamatkan dunia.


Kening Virgo mengernyit mendengarkan penawaran itu, mereka bahkan baru saja saling mengenal dan gadis itu sudah berani selancang itu ingin memperkenalkan dirinya dengang temannya. “Dia nggak akan mau,” Edo mengibaskan tangannya , “Dia udah pacar.” Lanjutnya dengan yakin.


“Gitu ya?” gadis itu jelas saja merasa kecewa sekali dibuatnya, “Kalau gitu jangan deh. Padahal kalau aku melihat, kalian pasti akan cocok sekali.” Senyum gadis itu tulus terlihat ketika membayangkan.


“Biar ku antar kamu pulang.” Edo bisa melihat perubahan wajah Virgo yang berubah ekspresinya. Entah apa yang dipikirkan oleh kepala Virgo kali ini. Karena situasi tiba-tiba kaku, gadis itu tentu mau saja.


“Gue langsung balik aja. Lo balik sekalian sono.” Begitu kata Edo sebelum keluar dari kantin. Yang tak mendapatkan respon dari lelaki itu. Tak dipungkiri jika melihat pasangan kekasih, ada rasa ‘cemburu’ yang menggelayut di dalam hati Virgo melihat itu.


Entah kebetulan dari apa, tapi dia melihat ada sekelebatan sosok yang mirip dengan seseorang yang dirindukannya. Matanya tak lagi sakit kan? Kenapa menjadi ngaco seperti ini? Begitu pikirannya. Dia tak berdiri untuk mengejar seperti di dalam drama. Tetap duduk di sana dengan tenang, namun jantungnya seakan berdetak tak karuan.


Kedua tangannya yang memegang garpu mengerat karena menyadari jika dirinya sepertinya memang sudah tak beres. Dia tak ingin hatinya tak terkendali seperti ini. Menghembuskan nafas kasar, virgo keluar dari sana. Kalau sudah seperti ini, dia perlu menenangkan hati dan pikirannya agar tak melantur kemana-mana.


*.*


Virgo melihat tempat baru yang juga baru melihatnya itu untuk memastikan jika tempat yang dimaksud oleh Edo adalah tempat tersebut.


Virgo – gue ada di depan, lo di mana? Virgo mengirimkan chat untuk Edo.


“Woi!” Edo keluar dari rumah tersebut. Virgo turun dari motornya setelah memakirkan tunggangannya itu dan ikut masuk ke dalam dan duduk di kursi tamu.


“Ngapain sih lo?” Edo sepertinya memang tak ingin diganggu, tapi Virgo juga tak peduli akan hal itu.


“Nggak ada,” jawabnya dengan enteng dan tanpa beban, kemudian matanya melihat gadis pemilik tempat tersebut keluar dari dalam dan Virgo bersikap sok ramah, “Ter, gue nggak papa kan datang ke sini? Siapa tahu kita bisa membahas tentang cewek yang lo bilang tadi?”


Gadis yang dipanggil, Ter, itu meletakkan minumannya yang baru saja diambik memang untuk Virgo itu di atas meja. “MInun, Vir,” katanya sambil duduk di kursi bersebelahan dengan Edo, “Bukannya lo punya pacar ya?” Tere jelas tak mau temannya yang akan dikenalkan kepada Virgo itu akan menjadi yang kedua. Dia tak akan sudi sama sekali.


“Lo jangan dengerin omongan Edo, ngaco aja dia itu.”


“Kamu harus percaya sama aku, hubungan mereka itu rumit dulunya, biar dia sembuh dulu dari lukanya. Aku nggak mau dia menggunakan cewek itu sebagai pelampiasan aja.” Kini Virgo merasa jika Edo yang berlebihan sekali sekarang, luka itu memang masih ada di dalam hatinya, tapi apa salahnya mencoba hubungan baru? Pemikiran Virgo sepertinya memang sudah terbuka lebar sekali.


Tere menatap kedua temannya itu dalam diam tak tahu harus menanggapi seperti apa. Mereka memiliki rahasia yang tak mungkin dia ikut campur dan masuk ke dalamnya.


“Mungkin memang lo harus sembuh dulu dari luka itu, VIr,” Tere memberi komentar, “Karena kasihan kalau lo menjalin hubungan dengan seseorang tapi hati lo masih punya cewek itu.” Virgo menghela napas Panjang dan berdiri dari duduknya,


Jika pikiran Virgo sudah kalut seperti ini, maka tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain mendekam di dalam kamar dan tidur sampai lama. Meskipun setelah itu kepalanya masih kalut, setidaknya dia memiliki energi untuk menuruti rasa kalut tersebut.


Kembali lagi ke tempat Edo dan Tere yang masih mengobrol di tempat kos gadis itu, mereka sudah tak lagi membahas tentang hubungan Virgo dengan siapapun kekasih lelaki itu karena memang seperti di setting otomatis, Edo tak membahas lagi masalah hubungan Virgo dengan seseorang yang dimaksud karena dia memang tak memiliki hak untuk itu. Sedangkan Tere pun juga tak ingin mengorek informasi tentang hal itu.


Mereka bahkan baru melakukan pendekatan, dan tak etis rasanya kalau Tere bersikap kepo dan ingin tahu urusan orang lain.


Malam harinya, seperti biasa, Tere berada di kamar Libra dan tiduran di sana. “Gue sebenernya mau kenalin lo sama teman sekelas gue, Li, dia popular dan pasti ganteng, tapi sayangnya dia udah punya cewek, gue nggak tahu juga sih hubungannya kaya apa, tapi gue denger hubungan mereka itu rumit.” Kini tak lagi berbaring, Tere duduk bersandar di dinding dan memeluk bantal.


“Gue ngerasa kalau kalian pasti akan cocok banget, tapi kayaknya bukan sekarang deh kesempatannya,” libra yang sedang mengerjakan tugas dari dosennya itu sepertinya tak terganggu sama sekali dengan ocehan Tere. Libra santai saja dengan hal itu.


“Lo nggak usah usaha terlalu keras lah, Re, lo harus jadi dulu sama cowok yang deketin lo. Urusan gue mah gampang.” Jawab Libra enteng sekali.


“Gue pengen double date sama lo kalau misalnya gue udah punya pacar nanti, kan seru.” Ungkap Tere mengeluarkan unek-uneknya dengan gamblang.


“Ya kalau emang lo mau kita double date, gue bisa ajak temen gue buat temenin elo, gue tahu kalau tujuan lo ajak itu adalah karena lo nggak berani sendirian kencan berdua aja kan?” lemparan bantal itu mengenai kepala Libra,


“Sembarangan.” Katanya dengan cemberut dan membuat Libra menyeringai. Kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Belum ada niatan Libra untuk mencari kekasih baru. Dia tak membatasi diri, tapi dia juga menjaga jarak dari para lelaki yang mungkin akan mendekatinya nanti.


Nama Virgo masih tercetak jelas dengan tinta bold dan belum bisa terhapus meskipun menggunakan tinner sekalipun. Dia tak mengingat lelaki itu, tak juga berusaha melupakan. Karena baginya usaha untuk melupakan akan berdampak tak baik bagi dirinya.


Kalau memang hatinya bisa melupakan Virgo, maka itu biarkan terjadi dengan sendirinya, itu sudah takdir Tuhan untuknya dan dia yakin jika Virgo bukan jodohnya. Tak perlu memikirkan hal seperti itu terlalu susah.


*.*


“Berarti satu kelompok empat orang, ya.” Seorang dosen perempuan itu berdiri dan menumpuk bukunya sebelum keluar dari kelas, “Kalian pelajari dan mulai minggu depan kalian mulai presentasi. Untuk kelompok enam yang bagian presentasi duluan, disiapkan materinya sebaik-baiknya agar bisa menjawab pertanyaan kelompok lain dengan baik,” beliau berdiri dengan menyandang tasnya, “Selamat siang!” kemudian keluar dari kelas tersebut.


Meninggalkan hembusan nafas lega bagi para mahasiswa. “Jadi, Yang, kita harus mulai menyiapkan semuanya ya,” Virgo sudah tak asing lagi dengan panggilan tersebut. Edo memang sudah jadian dengan Tere setelah melakukan pendekatan selama satu bulan. Virgo ikut senang dengan itu.


Tere pun juga sudah mengenal baik dengan Virgo, beberapa kali mereka duduk bertiga di kantin dengan Virgo yang seperti kambing conge. Tapi sayangnya Virgo tak pernah mempermasalahkan hal itu. Ada teman-teman Tere yang juga satu kelas dengannya itu meminta Tere untuk mencomblangi dengan Virgo, tapi Tere tak mungkin melakukannya.


Entah kenapa dia masih berharap agar Virgo bisa dengan temannya dan menunggu kesempatan itu datang. Kesempatan dimana Virgo sudah menyelesaikan kisahnya dengan sang kekasih yang Edo pernah menceritakan jika kisah Virgo yang rumit.


“Karaoke yuk, Yang.” Ajak Tere kepada Edo, “Mau, Vir?” mereka berjalan untuk keluar lobi dan berjalan menuju parkiran motor.


Gelengan diberikan kepada lelaki itu, “Nggak ah, gue ada urusan.” Katanya sambil berjalan mendahului sepasang kekasih itu.


“Urusan apa lo? Anak-anak aja pada sibuk kok.” Edo bersuara.


“Emang urusan gue cuma sama kalian aja?” memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya, Virgo terlihat keren sekali di mata para gadis yang melihat lelaki itu. Bahkan tak jarang, mereka berbisik-bisik ketika berpapasan dengannya.


“Ayolah! Biar gue telpon temen gue buat gabung,” mata Tere penuh harap menatap Edo agar mau membujuk Virgo.


“Ayolah, Bro. Lagian kan lo bisa santai di sana. Dekem terus di rumah kaya prawan aja lo.” Kekehan itu keluar dari bibir Tere. “Bener lho, Yang, dia itu urusannya cuma sama laptop aja setiap hari. Nggak dimana-mana selalu aja tentengannya laptop. Cinta sama IT sih cinta, tapi nggak kaya gitu juga kan?” Virgo santai saja mendengar ucapan Virgo yang memang kenyataan. Dia memang sedang belajar banyak dari internet tentang apapun yang berkaitan dengan IT.


“Lain kali aja deh kayaknya. Gue beneran malas sekarang.” Kemudian dia pergi begitu saja dari kedua orang tersebut. Meninggalkan dengusan dari Tere dan juga Edo.


Virgo sebenarnya sama sekali tak memiliki kesibukan apapun sekarang, dia ingin mengotak-atik komputernya tapi juga malas. Maka yang dilakukan adalah nongkrong sendirian di minimarket. Membuka bungkus cup mie, menuangkan air panas ke dalamnya, menutupnya Kembali dan dibawanya ke kursi yang disediakan di sana. Sebotol air minum berada di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa mie yang belum matang.


Sembari menunggu mie yang ada di dalam cup itu matang, dia memutuskan untuk memainkan ponselnya. Menjelajah dunia maya dan dalam hitungan detik dia sudah tenggelam di sana. Bahkan dia lupa jika harusnya mie yang sudah dituangi air itu sudah matang dan siap disantap.


Kalau bukan karena merasa haus, dia pasti akan melupakan makanannya.


“Kelembekan lagi,” komentarnya ketika membuka sepenuhnya tutup cup tersebut. Tapi tetap mengaduknya setelah bumbu-bumbu pelengkapnya dimasukkan ke dalam cup agar tercampur. Menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya dan mengunyah pelan.


“Enak sih,” gumamnya seorang diri. Tak peduli jika ada orang yang mendengarnya. Sayangnya kenikmatan itu harus lenyap ketika ada seorang gadis dengan hoodie berwarna hijau lumut, berjalan menaiki undakan mini market. Jika seandainya tudung kepala itu tak dibukanya, tentu saja Virgo tak akan pernah melihat wajah gadis itu. Sepertinya memang takdir mulai bermain-main dengannya.


*.*