
Love datang ke sekolah Avez dengan wajah panik. Ini adalah kali pertama bocah itu berbuat ulah sampai berkelahi segala. Otak Love terasa blank saat salah satu guru putranya itu menghubunginya dan mengatakan jika anak itu sedang mendapatkan masalah di sekolah.
“Abang kenapa berkelahi?” Itu adalah kalimat yang Love katakan kepada Avez ketika dia baru saja datang. Melihat wajah putranya yang memar dan kebiruan itu benar-benar membuat Love tak bisa melakukan apapun. Dia berfikir, mungkin ada hal yang sangat menyinggung perasaan Avez sampai bocah itu nekat melakukan kekerasan.
Sayagnya, pertanyaan ibunya tak membuat Avez langsung mengatakan kejadian sebenarnya. Bocah itu diam dengan sesekali menatap Alex dengan mata yang memicing.
“Alex itu saya didik dengan benar loh, Bu. Kalau nggak ada yang memulai, dia nggak bakal mulai duluan.” Itu adalah ucapan ibu Alex yang ditujukan kepada ibu guru tapi dengan tujuan menyindir Love. Love tahu dia harus mengendalikan emosinya jika dia tak mau mempermalukan dirinya sendiri. Jadi dia memutuskan untuk diam dan menutup bibirnya rapat. Tangannya menggenggam tangan Avez dan mengelusnya sayang.
“Semua orang tua pasti akan mendidik anak-anak mereka dengan baik, Bu.” Jawaban ibu guru tersebut sangat lugas. “Karena tak ada orang tua yang ingin anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang tidak baik.” Lanjutnya.
“Avez, bisa jelaskan kenapa Avez tadi berkelahi dengan Alex?” Avez menatap guru tersebut kemudian beralih kepada ibunya sendiri dengan wajah agak gugup. Ketika Love mengangguk, bocah itu menarik napas panjang
seolah ceritanya itu adalah cerita panjang yang sangat menyakitkan hati.
“Saya nggak mau kalau dia bilang suka-suka cinta-cinta sama adik saya, Bu.” Itu adalah awalnya.
“Tapi kan adik kamu pasti suka.” Avez belum selesai bercerita tapi Alex sudah lebih dulu memotong ucapan Avez.
“Alex diem dulu, Nak. Biar Avez bercerita lebih dulu.” Tegur guru tersebut. Dan terlihat sekali jika Alex seperti tak terima denga teguran itu karena bibirnya mendumel dengan suara yang sangat pelan.
“Lanjut, Avez.” Perintah guru itu lagi untuk Avez melanjutkan ceritanya.
Avez menceritakan semua hal yang tadi terjadi, dari awal sampai akhir tanpa ada yang terlupakan. Dia mengatakan dengan jujur. Love juga mendengarkan dengan seksama agar dia mengetahui semua hal yang melatarbelakangi
putranya mendapatkan masalah. Dia sangat percaya jika putranya tak akan mengatakan hal yang tak benar.
Love tak bisa menyikapi dengan semua cerita yang di dengarnya dari putranya karena dia tahu jika Avez akan melakukan apapun jika itu berkaitan dengan sang adik.
“Alex, Alex kan masih kecil, kenapa berbicara masalah cinta-cinta?” Guru itu pun merasa geli dengan masalah muridnya ini. Dua-duanya terlalu bertingkah seolah mereka sudah dewasa. Hanya bedanya, jika Avez bersikap dewasa karena menjaga adiknya, sedangkan satunya mendapatkan pengaruh yang kurang baik.
“Tapi kan Ixy cantik, Bu. Saya mau jadi pacarnya dia.” Kini Avez berdiri dan seolah siap menyerang jika Love tak memegangi tangan bocah itu.
“Abang udah. Abang nggak boleh berkelahi, Abang ingat?”
“Tapi abang nggak suka, Bunda.” Avez duduk dengan kasar dengan mata yang agak merah. Entah karena marah atau karena ingin menangis.
“Udah.” Hanya itu yang Love kembali katakan untuk meredam amarah putranya. Di elusnya pundak bocah itu dengan sayang.
“Tolong lah, Bu kasih tahu anaknya biar nggak tempramen begitu. Cuma begitu saja masa harus bertengkar. Namanya anak-anak, kaya gitu kan wajar aja.” Mendengar komentar yang dikatakan oleh ibu Alex membuat Love
memicingkan matanya menatap perempuan tersebut.
“Ibu tahu kalau nggak seharusnya bocah seumuran mereka ini belum kenal masalah cinta-cintaan, Bu?” awalnya Love ingin menyerahkan masalah ini hanya kepada guru yang memang lebih berwenang, tapi perempuan di depannya itu sepertinya tak tinggal diam karena putranya mendapatkan teguran lebih dulu.
“Saya tahu jika putra saya juga tidak benar dalam masalah ini, karena itu saya hanya diam saja sejak tadi. Tapi sepertinya anda malah mensuport putra anda yang juga salah dalam hal ini.”
“Hei, Bu, jaga ucapan anda ya. Saya tidak mendukung putra saya melakukan hal yang salah, tapi mereka ini kan masih anak-anak, bilang cinta-cinta itu hal yang wajar. Toh mereka juga nggak akan tahu artinya. Anak anda ini sangat berlebihan sekali sepertinya.”
“Kalau anda tidak mendukung, tapi anda merasa jika putra anda itu tidak bersalah.” Love hampir menyembur perempuan itu dengan kata-kata pedas, tapi ibu guru yang sedang menyidang Avez dan Alex menengahi.
“Sudah, Bu.” Begitu lerainya. “Ini adalah masalah anak-anak, diharapkan untuk anda tidak membuat masalah semakin menjadi panjang.” Di tatapnya kedua wali murid di depannya itu dengan tegas.
“Begini, Bu. Saya tidak bisa memberikan hukuman berat kepada mereka. Mereka masih perlu di didik.” Ibu guru itu juga terlihat bingung dengan kasus anak muridnya ini. “Kami memang lalai dalam mendidik mereka sampai ada
kejadian seperti ini, saya minta maaf. Tapi saya juga meminta tolong kepada ibu-ibu agar di rumah juga diperhatikan pergaulannya. Mereka masih sangat muda untuk terlibat dalam hal cinta-cintaan.”
“Avez, Alex.” Guru tersebut kini beralih menatap kedua anak didiknya. “Kalian akan Ibu beri hukuman karena sudah melakukan kesalahan.” Avez menunduk karena benar-benar merasa bersalah.
“Iya, Bu.” itu katanya.
“Sebelumnya kalian harus saling memaafkan terlebih dahulu. Ayo, salaman.” Guru tersebut menunggu pergerakan dari dua anak tersebut tapi tak ada dari mereka yang melakukan lebih dulu. Avez diam, pun dengan Alex.
“Avez, Alex.” Itu adalah peringatan Ibu guru agar mereka bisa segera melakukan apa yang diperitahnya.
“Avez yang minta maaf duluan, Bu. Kan gara-gara dia saya pukul dia.”
“Siapa yang pukul lebih dulu?” Ibu guru kembali berbicara, lama-lama guru tersebut geram juga dengan Alex. Dia tak merasa bersalah sama sekali sepertinya.
“Saya, Bu. Tapi kan gara-gara dia.” Masih saja tak mau mengakui kesalahannya juga si Alex ini. Dengan keras kepalanya dia tetap tak mau melakukan apa yang diperintahkan oleh guru kepadanya.
“Alex harus janji kalau dia nggak boleh begitu lagi sama adek, Bu.” Avez sepertinya sudah sebal sekali dengan Alex. Tak masalah kalau dia harus meminta maaf terlebih dahulu, dia akan melakukannya. Yang penting adiknya tak ‘diganggu’.
“Udah, Abang minta maaf kepada Alex ya. Abang juga salah karena sudah memukul Alex.”
“Tapi Alex duluan yang memukul abang, Bunda. Abang kan tadi cuma bilang jangan bilang ke adek cinta-cinta itu.” Ibu guru yang mendengarkan itu pusing sepertinya, karena perempuan itu menggelengkan kepalanya dan menarik
napas berkali-kali.
“Ayah pernah bilang kan ke Abang kalau meminta maaf terlebih dulu itu bukan berarti Abang mengakui kalau Abang yang salah, tapi Abang adalah lelaki yang hebat karena mau mengalah. Abang paham?” Avez mengangguk tapi dia tak langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada Alex.
“Tapi abang mau dia berjanji dulu kalau dia nggak akan ganggu-ganggu adek aku, Bunda.” Astaga, entah berapa lama yang mereka butuhkan untuk saling bernegosisasi. Jadi mengetahui putranya yang kukuh seperti itu, Love tahu kalau kata maaf tak akan keluar dari bibirnya selama Alex tak mau berjanji.
“Alex! Alex janji dulu, Nak.” Ibu Guru sepertinya memang tak memiliki kesabaran yang cukup banyak lagi dengan masalah yang muncul sekarang ini. “Alex!” ulangnya lagi.
“Ayo, Dek, janji sama Avez kalau adek nggak akan ganggu adeknya lagi.” Akhirnya ibu Alex membuka suara dan meminta putranya untuk melakukan apa yang diminta oleh Avez setelah diam sedari tadi.
“Tapi aku nggak mau, Ma.” Begitu kukuh Alex yang membuat guru tersebut memijat pelipisnya. Mereka masih anak SD, tapi cara bernegoisasinya seperti mereka ini sudah pakar di bidang ini.
Memang membutuhkan waktu lama setelah Alex mendeklarasikan janjinya kepada Avez agar dia tak lagi mengganggu Ixy. Dan Avez lah yang meminta maaf terlebih dahulu sesuai apa yang diperintahkan oleh ibunya.
*.*
“Jadi, Abang berkelahi karena adek?” Avez sudah menjelaskan kepada sang ayah kenapa dia berkelahi dengan Alex.
Tadi, setelah Aksa pulang dari kantor dan sudah hilang lelahnya, Love menceritakan apa yang terjadi siang tadi denga putra mereka. Avez memang tak berani keluar kamar ketika sang ayah sudah sampai di rumah, dan itu
aneh sekali bagi Aksa. Karena biasanya ketika dia pulang bekerja, Avez akan mencium tangannya bersama dengan adiknya.
“Iya, Yah.” Jawabnya dengan tegas.
“Abang tahu kan kalau berkelahi itu nggak bagus, dan ayah nggak suka.”
“Iya, Yah.” Avez menunduk karena dia tahu dia bersalah.
“Kenapa, Abang sampai berkelahi hanya karena Alex mau bilang suka sama adek?” Itu adalah pancingan dari Aksa. Dan reaksi Avez sungguh terlihat. Bocah itu menatap ayahnya dengan sopan tanpa ada kilatan kemarahan
sama sekali.
“Karena abang sayang adek, Yah. Adek kan masih kecil, Alex juga masih kecil, mereka kan nggak boleh cinta-cinta.”
“Kalau adek mau?”
“Nggak boleh, Yah.” Kukuhnya tanpa gentar sama sekali.
“Kalau udah besar nanti?” Sepertinya Aksa memang sengaja membuat putranya itu bingung karena Avez tak kunjung memberinya sanggahan kembali. Menyudahi ‘mengerjai’ putranya dengan pertanyaan berputar-putar, Aksa
melanjutkan.
“Abang, berkelahi itu sangat dilarang di keluarga kita. Abang jangan ulangi lagi ya.” Avez tak ingin langsung menyepakati apa yang dikatakan oleh ayahnya.
“Kalau adek diganggu sama Alex lagi gimana, Yah?”
“Diganggu seperti apa?”
“Bilang cinta-cinta itu, Yah.” Kekawatiran di dalam hati Avez sepertinya memang masih meraung keras.
“Abang bilang aja sama guru.” Usul Aksa kepada putranya. “Biar guru nanti yang tegur teman Abang. Bisa?” Semua hal yang ayahnya ucapkan itu memang tak ada yang Avez setujui, tapi bocah itu tetap mengangguk dan mengatakan iya tanpa kata.
“Kalau begitu, Abang istirahatlah, memarnya udah di obati kan?”
“Iya, Yah.” Kemudian dia berdiri dan meninggalkan ruangan sang ayah. Aksa sadar jika Avez begitu menyayangi sang adik. Tapi dia tidak ingin jika Avez mendapatkan masalah kembali.
Tak lama setelahnya Love masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung duduk di meja kerja Aksa sambil menghadap ke arah lelaki itu. “Gimana interviewnya, Mas?” Ini terkait masalah putra mereka.
Aksa memutar kursi yang di dudukinya sedikit, bersedekap, matanya menatap Love. “Intinya dia terlalu menyayangi adiknya.” Tatapan Aksa tak bergeser sedikitpun dari istrinya. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
“Aku nggak mau dia lakuin itu lagi, Mas.”
“Aku juga nggak mau anakku menjadi orang yang suka berkelahi.” Tanggapan Aksa cepat. “Tapi masalahnya, kenapa malam ini kamu terlihat cantik sekali?” Love, adalah wanita yang gila pujian dari sang suami, jadi ketika Aksa mengatakan hal itu dia langsung menoleh dengan ekspresi kaget dan cengo. Terlihat bodoh sekali.
“Ini serius Aksa Arion sedang memuji aku?” Itu adalah kata yang dikeluarkan pertama kali ketika dia sadar dari kekagetannya.
Aksa berdiri masih dengan menatap mata Love tajam. Semakin mendekati perempuan itu dan mengungkungnya dengan kedua lengannya. “Kasih aku cium sekali saja di bibir. Kalau aku suka, aku yang akan balik menciummu, tapi kalau aku nggak suka, kamu yang melanjutkan.” Otak kotor Aksa itu entah datang dari mana, Love tak paham sama sekali.
“Tapi Mas selalu suka dengan itu loh.” Mana mungkin Love langsung akan memenuhi apa yang suaminya itu katakan tanpa basa basi terlebih dahulu.
“Mungkin itu kemarin, belum tentu sekarang juga kan? Karena itu aku harus mencicipinya lagi agar aku tahu rasanya.” Benar-benar gila memang putra Aldaka Ganendra ini.
Love mengernyitkan dahinya dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. Tak urung dilakukannya apa yang diminta oleh sang suami. Di kecupnya dengan ringan bibir Aksa dengan waktu yang cepat.
“Udah?”
“Itu bukan dikasih cicip namanya.” Komplain Aksa. “Yang serius.” Perintahnya lagi.
“Tadi itu serius loh, bener.” Kedua orang itu kalau sudah gila memang tak akan ragu-ragu gilanya.
“Jadi yang seperti apa, coba kasih contoh.” Dengusan langsung terdengar dari bibir Aksa.
“Kalau aku yang kasih contoh, nggak kelar malam ini.”
“Tapi kalau udah kaya gini pasti endingnya sama juga kan?” Kedua orang itu sama-sama menatap satu sama lain tanpa ingin menyudahi apa yang sedang mereka lakukan.
“Fine.” Itu adalah keputusan Aksa. “Tapi jangan ngeluh kalau aku udah berbuat yang nggak senonoh sama kamu.” Di pegangnya kedua sisi kepala Love dengan kedua tangannya dan di tempelkannya bibir miliknya dengan bibir
Love. Dia tak akan memberi ampun kepada istrinya itu karena sudah berani bermain-main dengannya.
“Mas!” Love sedikir mendorong Aksa agar lelaki itu memberinya jeda, tapi sama sekali tak diindahkannya.
“Jeda dulu kenapa?”
“Cerewet.” Hanya mengatakan itu kemudian Aksa kembali dengan aksinya dan semakin lama semakin dalam. Bahkan kedua tangannya tak lagi di kepala Love namun sudah berada di pinggang perempuan itu. Memeluk tubuh istrinya dengan lembut dan bibirnya masih aktif dengan aktivitasnya.
Ketika Aksa sudah merenggangkan wajahnya, napas keduanya saling bersahut. “Rasanya masih sama?” pertanyaan Love.
“Makin enak. Jadi aku nggak akan berhenti sampai sini.” Itu adalah salah satu kegilaan Aksa yang tak akan orang lain ketahui. Karena ketika di luar kamar, Aksa adalah lelaki dengan sejuta pesona mematikan. Hal minus itu hanya Love lah yang tahu.
*.*