Blind Love

Blind Love
Kisah 47



“Ini hanya permulaan. Kita akan lakukan lagi nanti ketika kita ada waktu.” Al berjongkok di depan Gadis itu sambil menyeringai. Harusnya, lawan ini sama sekali tak seimbang. Al dan Rigel adalah lelaki, jadi tak mungkin mereka melakukan hal lebih keji lagi dari itu. Ini adalah pembalasan yang dilakukan dengan cara main-main.


“Kita pergi!” ajak Rigel dan menarik tangan El namun gadis itu meolak.


“Kalian keluar dulu, gue harus membawa orang ini keluar dari sini. Otaknya mungkin akan merencanakan hal yang lebih keji setelah ini.” Jawab El dengan santai. Dia memilih mendekati lawannya, mengangkat tubuh gadis itu, dan menuntunnya untuk bisa berjalan keluar.


Dan itu membuat Al tersenyum tipis. Mau balas dendam, bisa-bisanya menempatkan kebaikan untuk lawannya, kira-kira seperti itulah yang difikirkan sekarang. Namun lelaki itu sama sekali tak menghalangi apa yang dilakukan oleh kembarannya.


Dalam perjalanan ke depan sekolah, El terus mengatakan kalimat yang membuat gadis yang di gandenganya itu merasa kecil.


“Nanti setelah lo sampai rumah, lo harus mempersiapkan diri lo untuk mendapatkan kejutan yang lain. Mungkin agak lebih tragis dari ini.” Seperti seorang teman, El mengatakan hal itu, “Ya, lo pasti tahu lah kalau kami tidak akan melakukan hal yang setengah-setengah. Kita ini totalitas.” El yang merasakan tubuh gadis itu menegang, bahkan merasa senang.


Ingin sekali gadis tersebut berlari dan meninggalkan El, tapi dekapan El terlalu keras. Bahkan tak ada kata yang keluar dari bibir gadis itu untuk memabalas apa yang dikatakan oleh El.


El mendudukkannya di kursi di kursi lobi sekolahnya, dan dia pun ikut duduk di sana. “Gue akan tungguin lo sampai ada yang menjeput lo.” El menyandarakan tubuhnya di sandaran kursi, “Lo berat juga ya. Diet kenapa.” El tahu jika gadis itu sedang mengepalkan tangannya karena merasa dihina.


“Tapi boleh juga lah, ya usaha lo buat deketik si Al. sampai diet segala sampai sekeren ini. Sayangnya Al sama sekali nggak peduli sama lo. Haruskan gue bertepuk tangan bangga dengan apa yang dilakukan oleh saudara gue itu?” ocehan El ini memang tidak biasanya terlontar. Namun karena situasinya, dia jadi suka berbicara melantur sekarang.


Sebuah mobil datang dan seorang lelaki paruh baya mendekati mereka. “Naura, ayo pulang.” Katanya yang membuat gadis di samping El itu berdiri. El ikut berdiri dan menyapa lelaki tersebut.


“Siang, Om.” Katanya, “Naura sedang sedikit tidak enak badan,” lanjutnya.


“Oh ya?” lelaki itu menatap wajah Naura dan menempelkan telapak tangannya di dahi gadis itu.


“Nggak panas, tapi memang agak pucat. Terima kasih ya, Nak, sudah menemani Naura.” El tersenyum dan menampilkan ekspresi yang tulus.


“Sama-sama, Om. Naura cepat sembuh ya. Biar kita bisa ‘main’ lagi.” Menegaskan kata main, pasti Naura tahu apa yang dimaksud oleh El.


Setelah mereka pergi dari sana, Al dan Rigel datang. “Bisaan banget, lo.” Kata Rigel dengan takjub.


“Gue bisa melakukan apapun. Makanya, jangan buat gue marah.” Ucapannya itu seolah mengancam Rigel. Membuat Al bersuara,


“Antagonis sekali adik gue siang ini.” Sambil membuntuti El karena mereka harus segera pulang.


Si kembar sampai ke tempat kakek Firman. Mereka berdua sudah berjanji akan datang siang ini untuk mengunjungi kakek neneknya setelah lama tidak datang. Odel memang masih di rumah sakit dan orang tuanya sudah kembali, jadi gadis itu sudah ada yang menemani.


Fiman dan Sintya memeluk kedua cucunya itu dengan sayang secara bergantian. Melihat si kembar sudah tumbuh menjadi remaja yang luar biasa, membuat mereka bangga.


“Nginap kan?” tanya Sintya.


“Kayaknya enggak deh, Oma, kami masih harus menyelesaikan sesuatu.” El yang menjawab.


“Sesuatu apa?” kini Firman yang bertanya.


“Teman kami ada yang masuk rumah sakit, Kek. Jadi kami harus menjenguk.” Al menjawab karena tidak ingin El mengatakan semuanya dan melantur kemana-mana.


“Kalian kalau datang ke tempat-tempat seperti itu, kalian hati-hati. Ada banyak penyakit di sana.” Sintya datang dan membawakan buah yang sudah dikupasnya ke depan mereka. Mangga, durian, avocado, semangka, dan buah-buahan yang lain. Perempuan itu sudah sangat hafal jika cucu-cucunya itu sangat menyukai buah.


“Iya, Kek.” El langsung mencomot buah-buahan tersebut dan melahapnya banyak-banyak. Bahkan Firman dan Sintya terkekeh melihat itu.


“Udah ke rumah Kakek?”


“Belum, Opa. Di jadwalkan yang selanjutnya lah kayaknya.” Ardi memang sudah sempat mengomel karena mereka tak kunjung datang, namun El selalu bisa membuat banyak alasan dan menenangkan lelaki tua tersebut dengan janjinya.


“Ngomel nanti,” kata Sintya.


“Udah ngomel, kok.” Jawab Al, “Tapi El selalu bisa menjadi tameng. Bisaan banget dia buat Kakek diam.” Firman dan Sintya terkekeh mendengarnya. El memang selalu bisa diandalkan dalam hal seperti ini. El diam saja dan lebih menikmati makanannya.


“Ini namanya makan banyak tapi nggak buat jadi gendut.” Komentarnya setelah menyelesaikan makannya. Buah-buah itu masih ada tapi sepertinya dia sudah tak lagi bisa memakannya karena perutnya yang merasa sudah kenyang.


Melihat jam yang ada di dinding, memberi isyarat kepada Al untuk segela balik. Dan Al mengangguk.


“Kami balik ya, Oma, Opa. Malas ke rumah sakit kalau kemaleman.” Al meminta ijin.


“Nggak ganti baju dulu?” tanya Firman,


“Enggak. Nanti aja sekalian kalau udah sampai rumah.” Mengobrol sebentar, sebelum si kembar benar-benar pergi dari sana dan menuju rumah sakit.


*.*


Semua sudah kembali normal. Odel sudah keluar dari rumah sakit, dan sudah kembali ke sekolah. Naura dan kedua temannya sudah mendapatkan sanksi akibat ulah mereka. Rigel masih dengan kekasih yang hanya dijadikan tameng agar tak memiliki perasaan lebih kepada El, nyatanya perasaan itu sepertinya sudah mulai mengembang namun tentu diabaikan saja.


Rigel tak tahu kapan hal itu mulai terjadi, tapi dia benar-benar sudah merasakan jika perasaan itu adalah cinta.


Sahabat jadi cinta. Itu adalah kalimat yang pantas menggambarkan semuanya. Dia sudah berusaha menepis rasa itu, tapi nyatanya tak sanggup untuk melawan.


“Lo sendirian?” El sedang berada di mall, dan masuk ke dalam toko aksesoris ketika seseorang menarik tangannya. Dan ketika dia melihat, ternyata Rigel adalah pelakunya.


“Bisa dibilang begitu.” Jawabnya. Tak ada ekpresi antusias yang diperlihatkan El di wajahnya.


“Lo?” Rigel salah tingkah ditanya seperti itu namun tak ayal menunjuk seorang gadis yang membelakanginya. “Sama dia.” Katanya dan membuat El paham.


El mengangguk paham. “Oke!” katanya, “Sok, dilanjutin.” El sama sekali tak merasa kecewa karena memang dia tak memiliki hak untuk itu. Rigel sudah membuat keputusan untuk tak ingin membuat persahabatan mereka pecah karena urusan asmara, dan dia menghormati itu.


Rigel tak kunjung pergi dari hadapan El dan lebih memilih menatap gadis itu. Sedangkan kekasihnya harus menoleh kesana kemari untuk mencarinya.


“Yang!” panggilnya ketika sudah menemukan Rigel. Gadis itu menatap El tak suka, “Kamu kenal sama dia?” tanyanya.


“Dia, El.” Rigel menjawab dengan santai.


“Sahabat kamu kan?” jelasnya lagi. El sama sekali tak terpengaruh dengan nada suara kekasih Rigel dan masih sibuk dengan kegiatannya memilih tali rambut.


El tak mungkin abai dengan itu, karenanya dia bereaksi. “Gue, El.” Gadis itu menyodorkan tangannya kepada Liondra dan bekenalan.


“Liondra.” Jawab kekasih Rigel tersebut. Gadis itu entah sengaja atau tidak, justru semakin mengeratkan lingkaran lengannya di lengan Rigel. Dan itu membuat El hanya menyeringai. Namun bukan ranahnya untuk berkomentar.


“Kalau gitu, gue duluan, masih ada banya barang yang harus gue beli.” El tak langsung berbalik sampai Rigel mengatakan ‘iya’ dan mengijinkannya.


“Kenapa nggak ajak Odel tadi?” kan, Rigel tak akan melepaskan El begitu saja.


“Gue sama Al dan Odel. Gue tahu diri untuk nggak ganggu mereka.” Itu seperti tonjokan di ulu hati Rigel ketika jawaban tersebut keluar dari bibir El. El mengatakan dengan nada biasa saja, tapi Rigel mengartikan berbeda.


“Udah lah, gue sangat oke sekarang. Mood gue sedang baik, karena itu gue mau belanja banyak.” El menaikkan kedua alisnya sebagai candaan, “Gue bayar ini dulu.” El mengayunkan barang yang sudah dipilihnya di depan Rigel dan pergi dari sana.


Melihat kepergian El, membuat Rigel menghembuskan nafas panjang. Sampai kekasihnya bertanya, “Kenapa?”


“Apanya yang kenapa?”


“Kamu sepertinya berat banget mengabaikan dia?” insting Liondra sepertinya memang tak bisa dibohongi.


“Dia sahabat aku, mana mungkin aku bisa mengabaikan dia.” Jawab Rigel tak terima dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya, “Jangan mengatakan hal yang tidak perlu.” Meskipun dia sedang tak enak hati, tapi Rigel masih tahu diri untuk tak membiarkan kekasihnya.


Lelaki itu menarik tangan Liondra untuk keluar dari toko tersebut.


Sedangkan El? Dia sedang menikmati waktunya seorang diri di sebuah kedai ice cream. Dia tak bohong dengan mengatakan jika dia memang pergi bersama Raja dan Ratu sekolahnya, dan dia juga tak bohong dengan mengatakan tak ingin menggangu mereka berdua.


Kedatangan seorang lelaki dan duduk di depannya, membuat El mengernyit. Gadis itu menatap ke sekeliling dan melihat jika masih ada meja kosong. Lalu kenapa lelaki itu malah duduk satu meja dengannya?


El tentu saja tak akan repot-repot bertanya banyak. Memilih untuk berdiri dan berpindah di meja lain, adalah yang akan dilakukan. Namun cekalan di tangannya membuat El memicing.


“Lepasin tangan gue.” Katanya.


“Tolong lo duduk dulu di sini.” Pinta lelaki itu, “Hanya duduk, please!” wajah lelaki itu menunjukkan keseriusan dan El melakukannya.


“Terima kasih,” katanya ketika El melakukan apa yang dipintanya. “Gue nggak akan ganggu lo. Gue janji.” Lanjutnya yang sama sekali tak dipedulikan oleh El.


El asyik memainkan ponselnya dan menikmati ice creamnya. Dia sungguh mengabaikan lelaki itu. sedangkan lelaki itu menatap El seolah sedang menikmati indahnya karya Tuhan.


“Gue, Orion.” Lelaki asing yang duduk di depan El itu memperkenalkan dirinya, “Nanti, kita pasti akan bertemu lagi, ketika waktu itu datang, gue nggak akan segan untuk mendekati lo.” Seringaian itu terlihat dan El mengernyit. Seolah mengatakan, ‘lo gila?’ begitulah kira-kira.


“Gue pergi dulu. Terima kasih sudah membantu gue.” Senyum tulus itu di keluarkan oleh lelaki tersebut dan kemudian berlalu dari sana sambil berjalan santai. El memang baru melihat lelaki itu, dalam segi wajah, lelaki itu jelas bukan lelaki dari kalangan biasa. Tampannya terlihat nyata dan berwibawa.


Tapi keanehan yang ditunjukkan kepada El, membuat gadis itu sepertinya ilfil melihatnya.


“Gue tadi lihat lo sama cowok. Siapa?” Rigel menghubungi El dan menanyakan hal sepertinya menggangu pikirannya.


El duduk di kursi meja belajarnya sambil berfikir jika pastilah lelaki itu tahu apa yan terjadi di mall tadi. “Gue nggak bisa bilang ke elo.” El sepertinya ingin bermain teka-teki sekarang.


“El!”


“Gue serius, Gel. Gue nggak bisa kasih tahu lo dia siapa,” karena gue juga nggak kenal sama dia, kalimat terakhir itu dikatakan di dalam hati.


El bisa mendengar jika Rigel di seberang sana mendengus. Gadis itu bisa membayangkan bagaimana wajah sahabatnya itu sekarang.


“Oke!” dan setelah mengatakan itu, Rigel mematikan panggilannya tanpa mengatakan apapun lagi. El menatap ponselnya dan merasa aneh dengan itu. Dia merasa sama sekali tak membuat kesalahan kepada Rigel, kenapa lelaki itu harus marah?


El mengabaikan dan tak lagi mempedulikan apa yang terjadi pada Rigel sekarang. Karena gadis itu yakin, Rigel pasti akan baik lagi esok hari.


Dan beralih pada Odel, gadis itu menarik napas panjang berkali-kali ketika dia bertukar chat pada Al. Lelaki itu membuatnya semakin terbawa perasaan karena perlakuannya kepada gadis itu. Al benar-benar memperlakukannya seperti kekasihnya betulan.


Odel : Kenapa lo nggak pernah pacaran?


Satu chat itu dikirimkan kepada Al ketika mereka membahas tentang cinta pertama.


AL : Karena gue ngerasa belum yang mencocoki hati gue, emang lo udah pernah pacaran?


Tanya Al.


Odel : Udah, lo nggak lupa sama cowok yang buat gue masuk rumah sakit itu kan?


Al : Jadi itu pacar pertama lo?


Odel : Iya. Dia sebetulnya baik. Tapi mungkin karena salah pergaulan jadi kayak gitu


Al : Menurut gue, semua itu tergantung orangnya. Kenapa selalu pergaulan yang dipersalahkan? Sedangkan mereka nggak bisa mengendalikan diri mereka sendiri.


Odel : Karena lingkungan itu bisa memepengaruhi seseorang


Al : Itu memang benar, tapi bagi gue, seseorang itu juga harus bisa memiliki prinsip. Mereka bisa begaul dengan siapapun, dari kalangan manapun, tapi mereka harus bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk untuk diikuti.


Odel : Orang itu kan beda-beda, Al. Lo bilang kayak gitu karena memang itulah elo. Tapi nggak semua orang seperti itu.


Al : Ya, itu hanyalah pemikiran gue.


Odel tahu jika Al memang bukan orang yang mudah terpengaruh tentang apapun. Karena El juga sama. Jika bagi si kembar, hal yang dilakukan oleh seseorang itu tidak masuk akal, untuk apa mereka harus terpengaruh?


Odel sudah menyudahi saling bertukar chat dengan Al dan memikirkan sesuatu. Bagaimana caranya dia mengakhiri semuanya? Al benar-benar akan membuatnya jatuh cinta kepada lelaki itu jika dia tak mundur. Sedangkan dia takut dengan Al yang tidak akan bisa membalas perasaannya.


*.*