Blind Love

Blind Love
Kisah 51



Mereka berakhir di tempat ini. Sebuah lapangan luas yang ada banyak anak kecil sedang bermain layangan.


“Lo tahu, El? Ini adalah tempat paling asyik yang gue temui. Gue bisa bermain sama mereka dan menikmati kesederhanaan.” Orion sedang memegangi benang layangan dan mengendalikan layangan tersebut agar tidak terbang terlalu tinggi dan akhirnya nanti terputus.


El tersenyum. “Ini keren, gue pernah diajak sama Ayah nonton orang nerbangin layangan pas tujuh belasan, gue seneng banget. Tapi sekarang udah nggak pernah lagi.” El berdiri di samping Orion dan ikut mendongak melihat layangan yang terbang bebas namun dengan pengendalian di tangan Orion.


“Sekarang ini permainan kayak gini masih ada, tapi jarang banget dilakukan. Semua orang sudah sibuk sama hp. Jadi yang asyik begini tertinggalkan begitu saja.” Benar apa yang dikatakan oleh Orion, di zaman yang serba modern, permainan-permainan jaman dulu sudah terlupakan. Meskipun lelaki itu tak sepenuhnya terus menerus memainkan ini, tapi dia tahu jika permainan peninggalan nenek moyang mereka itu sudah tergerus.


“Gue juga setuju, padahal cuma kayak gini aja asyiknya bukan main.” Jawab El.


“Wooooi, layangan putus!” jeritan anak-anak kecil itu membuat Orion justru ikut heboh dibuatnya. “Lo pegangin ini, El.” El yang tak siap itu tentu kaget.


“Nggak ah, takut terbang makin tinggi dia.”


“Udah nggak papa.” Antusias yang Orion tunjukkan itu benar-benar luar biasa bagi El. Dan ketika gadis itu memegangi benang layangan Orion, lelaki itu tanpa basa-basi langsung berlari mengikuti anak-anak yang heboh tadi.


El hanya menatap bodoh kepada Orion yang masih bisa dilihatnya dari belakang. Dia sama sekali tak paham dengan apa yang dilakukan oleh lelaki tersebut. Apa yang dikejarnya sampai begitu sekali. El menatap layangan yang sedang terbang dengan tenangnya di atas sana.


“Dia itu adalah, aku. Aku bisa terbang kemanapun aku mau. Dan benang yang sedang aku pegang ini adalah Ayah dan Bunda. Mereka yang mengontrol dan mengendalikan aku.” Gumaman itu untuk dirinya sendiri. Itulah perumpamaan yang selalu dia dengar dari orang-orang. Dan juga dari orang tuanya.


Orion datang dengan nafas yang memburu dan berkeringat. Lelaki itu terkikik sambil menatap El. “Sorry! Gue tinggalin lo.” Katanya. Duduk di dekat El, dan membaringkan tubuhnya.


“Darimana lo?” El tak memiliki clue kemana perginya Orion beberapa saat lalu.


“Habis ngejar layangan.” Kekehnya dengan santai tanpa beban apapun, “Lo tahu? Ini adalah salah satu hal yang mengasyikkan bagi kami yang suka bermain layangan. Layangan putus, itu adalah tantangan bagi kami.” Katanya masih dengan senyum miliknya.


“Lo kan udah punya layangan, ngapain masih ngejar layangan putus?” El memang awam sekali dalam hal ini, karenanya dia merasa heran.


“Kan tadi gue udah bilang, layangan putus itu adalah tantangan. Itu asyik.” El masih mengernyit dan tak paham dimana letak keasyikan itu. Tapi dia tak mau mendebat dan menyerahkan gulungan benang itu kepada Orion.


“Nih.” Ulurnya kepada lelaki itu.


Orion kemudian bangun dan menerima gulungan benang tersebut dari tangan El. “Gue emang suka hal-hal yang nyeleneh kayak gini, El,” Orion menginjak gulungan benar tersebut di kakinya agar dia tak perlu memegangi benda tersebut. “Saat teman-teman gue mencicipi dunia malam, gue justru berkutat dengan hal-hal yang bagi mereka membosankan.” Lelaki itu menatap ke depan dimana bocah-bocah cilik yang sedang asyik dengan layangan itu berada.


“Gue nggak minat dengan sesuatu yang akan nyelakain diri gue.” Lanjutnya lagi, “Untungnya mereka masih mau berkawan sama gue.” Entah kenapa Orion justru mengingatkan dirinya dengan cerima orang tuanya.


El tentu sering mendengarkan dongeng dari ayahnya yang menceritakan tentang bagaimana kehidupan lelaki itu saat masih muda dulu. Santai, tapi penuh perhitungan.


“Kalau lo, El?” Orion yang menatap El dari samping terlihat takjub dengan gadis itu. Matanya seperti tak bisa beralih dari sana.


“Gue nggak bisa mendeskripsikan diri gue seperti apa.” Suara El membuat Orion mengalihkan tatapannya dari gadis itu, “Selama ini hidup gue terlalu baik-baik saja dan aman. Gue punya orang tua yang luar biasa hebat, kembaran gue yang keren, dan sahabat-sahabat gue yang peduli dan sayang sama gue,”


“Sebelum lo melanjutkan, gue mau tahu sesuatu dari lo.” Orion sepertinya mengingat akan sesuatu.


“Apa?”


“Rigel. Dia itu siapa lo?”


“Dia sahabat gue.”


“Tapi gue tahu dia sayang sama lo.”


“Dia memang sayang gue. Dia bisa melakukan apapun jika gue disakitin sama orang lain.”


“Bukan sayang seperti itu, El.” Orion berusaha meluruskan pemikiran El tentang Rigel yang menyayangi dirinya layaknya sahabat, “Sayang antar cewek dan cowok, sayang yang berarti cinta. Gue bisa melihat betapa dia nggak suka ketika ketemu gue waktu di sekolah lo.”


El sama sekali tak merubah ekspresinya. Namun di dalam hatinya sedikit merasakan jika itu memang benar, maka dia akan menyukainya.


“Gue nggak tahu.” El mencoba netral, “Yang gue tahu dia sekarang udah punya pacar, dan artinya dia sama sekali nggak ada perasaan cinta sama gue.” Orion mencoba mengartikan ekspresi wajah dari El yang ditutupi oleh gadis itu.


“Lalu lo? Lo suka cinta sama dia?” Orion sepertinya ingin membuat semua menjadi jelas.


“Jadi kenapa rupanya dengan semua pertanyaan ini?” nada tak suka dikeluarkan oleh El.


“Gue hanya perlu memastikan jika gue nggak sedang mendekati cewek yang sedang naksir cowok lain.” Keterusterangan Orion membuat El takjub. Meskipun bukan hanya Orion yang tak menutupi pemikirannya, tapi masih merasa heran.


Orang yang ingin mendekatinya itu sepertinya memang tak suka melakukan aksinya dengan sembunyi-sembunyi. Menjadi secret admirer, atau apapun itu sebutannya.


“Jadi ceritanya, lo mau deketin gue?”


“Jelas,” kata Orion dengan pasti, “Gue udah tertarik sama lo ketika pertemuan pertama kita,”


“Dan sebelum lo melanjutkan, gue perlu tahu sesuatu dari lo.” El menirukan kalimat Orion tadi. Bahkan meskipun tak tertawa, lelaki itu terkekeh geli.


“Apa?”


“Kenapa lo waktu itu tiba-tiba duduk di depan gue, padahal masih ada tempat kosong di sana?”


“Lo serius mau tahu?” ucapnya misterius.


“Tentu.” Bukan El namanya kalau mengalah begitu saja.


“Karena gue dikejar sama penagih hutang.” El sama sekali tak kaget karena memang dia tahu itu hanyalah bualan dari Orion, “Gue dikejar mantan.” Akhirnya Orion berterus terang.


“Mantan sahabat, kemudian menjadi mantan pacar, dan akhirnya menjadi mantap napi.” Orion dengan santai menggabungkan kata –kata itu menjadi satu. Yang membuat El menghela nafas dan kemudian bersiap berdiri.


Namun dicegah oleh Orion, “Oke! oke, gue serius sekarang.” Lelaki itu menyerah, “Mantan pacar gue mergoki gue jalan sendiri di mall, dan dia mengejar gue nggak tahu tujuannya apa. Makanya gue langsung gerak cepat buat duduk di depan lo. Sedangkan di sana yang bisa gue jadiin tameng, cuma lo.”


“Kampret.” El misuh tentu saja. Bagaimana bisa bukan hanya Rigel yang membuat kekasihnya tameng, tapi dirinya juga dijadikan tameng oleh orang yang bahkan baru dikenalnya. Apa kabar orang-orang ini sebetulnya?


“Gue minta maaf karena itu, gue reflek dan gue nggak tahu harus lakuin apa. Karena yang gue tahu kalau di tivi-tivi itu pasti caranya ya seperti itu.” Penjelasan Orion tanpa aling-aling sama sekali.


“Sayangnya niat gue beneran nggak cukup sampai di sana setelah beberapa saat gue lihatin lo, lo terlalu bersinar di mata gue?”


“Lo lagi gombalin gue?”


“Iya. Tadi itu cuma basa-basi aja sih.”


El langsung mengangkat tasnya untuk memukul Orion namun Orion menghindar dan tertawa-tawa. El tak pernah seperti ini jika berdekatan dengan seorang pria. Dan Orion? Entahlah, kenapa dia bisa membuat El bertingkah tak biasa.


“Jadi, El, menurut lo, apa yang harus gue lakukan sekarang? Tetap bisa deketin lo atau gue mundur alon-alon?”


El menyeringai tapi seringaian itu bukan seringaian sinis, seringaian yang terlihat itu adalah jenis senyum yang tersembunyi. “Selama ini gue nggak pernah mendorong orang lain untuk ngejauhin gue, atau menarik orang lain untuk deketin gue,” jawab El santai, “Dan dalam kasus lo, gue nggak mau memberi jawaban. Terserah lo mau terus deket atau mau ngejauh, itu adalah pilihan lo. Tapi gue perlu tahu, niat lo buat deket sama itu apa? Berharap suatu saat nanti lo bakalan jari pacar gue, atau emang lo mau berteman, kemudian bersahabat?”


“Berteman, kemudian pacaran.” Tak memikirkan jawabannya terlebih dulu, lelaki itu mengatakan secara langsung, “Gue tertarik sama lo dan lo tahu itu. Gue mau berproses secara pelan-pelan. Gue nggak mau lo ngerasa risih ketika sama gue, dan gue nggak mau akhirnya lo ngejauhin gue.”


Bagi El, jawaban Orion ini memang masuk akal. Dia itu tak mau membuat El tak nyaman karena keberadaannya. El merasa simpatik sama Orian, meskipun semua pemikiranya diucapkan secara gamblang, tapi penuh dengan pemikiran.


*.*


El turun dari mobil Orion ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. “Apa gue harus nawarin lo mampir dulu?”


Bukannya tersinggung, Orion justru berlagak berpikir. “Boleh sih tawarin gue, gue pasti mau.” Katanya sambil tersenyum.


“Oke! Masuk kalau gitu.” Katanya seperti tak berminat sama sekali. Orion memarkirkan mobilnya di depan rumah El dan dia mengikuti El dari belakang untuk masuk ke dalam rumah. Namun bukannya masuk ke dalam rumah, El justru mendekati Al yang ada di gazebo bersama Rigel dan Odel.


“Widih! habis jalan-jalan ini kayaknya,” Odel yang berbicara terlebih dulu. Al menatap El dengan datar dan El tahu jika lelaki itu meminta penjelasan.


Meskipun Al sudah pasti mendengar apapun yang dikatakan oleh El seharian ini, tapi penjelasan itu jelas sangat perlu bagi lelaki itu.


“Gue nggak sengaja ketemu sama Orion, dan gue seharian ini sama dia.” Itulah penjelasan awal yang dikatakan kepada Al.


“Benar, dia jalan di depan sekolah gue, dan kebetulan gue lagi ada di depan. Makanya kita bisa bareng sekarang.” Orion ikut menjelaskan. Tatapan Orion kini beralih pada Rigel yang hanya diam saja dan memasang wajah kakunya. Orio tak terpengaruh dan dia justru menyapa lelaki itu,


“Hei! Gel!” begitu katanya. Orion tidak memiliki masalah apapun dengan lelaki itu, jadi dia tak akan menganggap jika lelaki itu adalah rivalnya.


“Hei!” Rigel sepertinya juga mencoba untuk menutupi gejolak yang dia rasakan ketika melihat Orion dan El. Seharusnya, Rigel memang tidak boleh serakah. Dia yang mencoba ‘menghindari’ El lebih dulu takut dengan sesuatu yang belum pasti. Dan ketika sekarang El sudah mencoba peruntungannya membuka hati untuk orang lain, dia justru merasa cemburu.


Tapi, semua yang dirasakan oleh Rigel itu tak pernah disampaikan kepada siapapun. Dia menyembunyikannya dan mengkonsumsinya seorang diri.


“Gue harus balik, El.” Belum sempat duduk, Orion sudah berpamitan pulang.


“Lah?” begitu heran El, “Nggak mau santai dulu?” tanyanya.


“Udah sore, lagian gue ngantuk. Tapi besok gue nggak bisa temeni lo ya. Nggak ada pulang pagi lagi.”


“Its oke.” Ya, kenapa Orion bisa menemani El hari ini adalah karena seperti biasa, sekolah lelaki itu sedang pulang pagi.


“Gue balik ya.” Pamit Orion dan kemudian berlalu dari sana setelah mendapat anggukan dari El dan yang lainnya.


Orion pergi dan El langsung merasa dihakimi sekarang karena tatapan kedua lelaki yang ada di sana. “Apa maksudnya ini, El?” Al lebih dulu bertanya.


El menatap kembarannya itu sebelum menjawab, “Orion laki-laki yang baik sepertinya. Beberapa jam aku sama dia, seperti aku bisa melihat sisi lain dari diri nya. Dia bukan lelaki kolot tapi penuh pertimbangan. Nggak papa kan kalau aku deket sama dia?” El tentu tak akan begitu saja mengambil keputusan tanpa melibatkan Al.


“Kalian sama-sama tertarik satu sama lain?” Al kembali bertanya.


“Apa yang aku pikirkan tentang kepribadian dia yang hanyat memang benar adanya. Dia nggak membosankan.” Cerita El secara gamblang. “Aku nggak mau terus-terusan menutup diri dan bersikap tak acuh kepada cowok, selama dia worth it untuk tak diacuhkan.” Ini sepertinya keputusan yang El buat bukan tanpa pertimbangan.


“Al!”


“Bukan masalah.” Jawab Al, “Aku hanya perlu tahu tentang apa yang akan kamu lakukan dengan cowok itu, karena aku perlu tahu juga tentang dia.”


“Kamu memang harus melakukan itu. Kamu harus cari tahu tentang cowok itu. Dan aku akan menuruti apapun yang kamu katakana nanti.” El sepertinya memang merasa lega karena Al sudah memberinya lampu hijau.


“Satu catatan,” kata Al, “Kalau kamu memang mau sama dia, maka jangan permainkan dia. Itu nggak baik.” Wanti-wanti Al kepada El.


“Aku ngerti.” Ini adalah babak baru kehidupan El. Mencoba menjalin hubungan dengan seorang lelaki, dan itu benar-benar lelaki asing yang baru dikenalnya.


Dukungan yang diberikan Al sepertinya berbanding terbalik dengan perasaan Rigel yang merasa tak terima dengan keputusan yang El pilih. Rigel tahu ini bukan ranahnya untuk ikut campur dalam urusan pribadi El, tapi dia juga merasa ingin masuk kesana.


“Diem aja lo.” Mereka masih berada di gazebo dan hanya berdua karena Al dan Odel sedang melipir ke tempat lain.


“Gue rasanya nggak punya kalimat yang bisa gue katakan ke elo. Gue merasa hancur sekarang.” Rigel mengatakan itu dengan nada kecewa dan sedih. El hanya bisa menatap Rigel dari samping mencoba mencerna ucapan lelaki itu.


*.*