Blind Love

Blind Love
Seri 16



Kali ini kita akan kembali ke dalam kisah Virgo – pemuda yang bahkan tak tahu apa yang dirasakan di dalam hatinya terkait Libra. Keterlibatannya dengan kehidupan Libra sepertinya benar-benar membuat dirinya kelabakan karena tidak tahu jawaban atas pertanyaan di dalam hatinya sendiri. Dia memang tidak pernah abai dengan apa kata hatinya, apa yang hatinya inginkan, dia selalu melakukannya.


“Vir!” Entah kenapa Rai berlari seperti orang kesurupan seperti itu. “Lo di cari pacar lo.” Dan suara Rai tak bisa dibilang rendah karena semua orang di koridor kelasnya menatap ke arah mereka karena rasa ingin tahunya.


“Pacar gue?” Virgo tak paham apa yang dimaksud oleh Rai, karena itu dia hanya bersikap biasa saja. “Libra ada di depan.” Mungkin tak ingin berbasa-basi, karena itu langsung mengatakan saja maksud ucapannya.


Virgo melihata jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan mengangguk. Masuk ke dalam kelas, mengambil tas miliknya dan keluar kelas, kemudian duduk kembali di depan kelas. “Bentar lagi pulang.” Begitu dia bilang ketika kawan-kawannya meliahat dirinya dengan ekspresi bertanya. Di jam terkahir, dan jam kosong pula, membuat siswa-siswa bukan main senangnya.


Para guru sedang rapat, dan membiarkan anak didiknya ‘belajar’ sendiri. Begitu kalau mengutip kata bapak dan ibu guru. Padahal kenyataannya adalah, mereka justru keluar kelas, ada yang bernyanyi di depan kelas, bahkan sambil menggoda siswi perempuan yang terkadang berjalan di depan mereka.


Tak lama setelah itu, bel benar-benar berbunyi nyaring dan menandakan waktu pulang dan tanpa basa-basi lagi Virgo berjalan cepat untuk menemui Libra. Dia tentu tak tahu apa yang sedang Libra lakukan di sekolahnya, entah ada hal lain atau memang dia memang sengaja ingin menemui Virgo, itu masih menjadi sebuah misteri.


Sampai di halaman depan sekolah, Virgo berusaha mencari keberadaan Libra yang kata Rai ada di depan. Dan ternyata benar, dia melihat dari jauh seperti sosok Libra berdiri di depan gerbang sekolahnya. Maka dengan lari kecil dia mendekati gadis itu.


“Libra!” Panggilnya dengan nada rendah. Ketika gadis itu menoleh, ada senyum lega yang diperlihatkan kepada Virgo. “Hai!” Begitu sapanya. Namun tak ada kalimat lanjutan. Gadis itu seolah kebingunan dengan apa yang akan dia keluarkan.


“Kamu kenapa di sini? Maksud aku, kamu pulang lebih dulu tadi?” Virgo tak tanggung-tanggung, di tariknya tangan gadis itu pelan dan diajaknya Libra ke bawah pohon yang teduh. Bukannya Libra tadi di tempat yang panas, hanya saja masih ada sinar matahari yang menyorot tubuh gadis itu.


Pandangan penasaran keluar dari para siswa-siswi lainnya ketika melihat keberadaaan Libra di sana. Apalagi bersama Virgo. “Aku sengaja ke sini buat ketemu kamu.” Libra menatap terang-terangan ke mata Virgo.


“Ada yang penting?” Pasalnya, terakhir mereka bertemu tak ada masalah apapun yang terjadi diantara mereka. Keduanya baik-baik saja dan bahkan haha hihi ketika bertukar pesan.


Gelengan kemudian diberikan kepada Libra untuk menjawab. “Enggak.”


“Oke,” Kata Virgo. “Aku ambil motor dulu, kamu di sini dulu ya!”


“Iya!” Virgo meninggalkan Libra berdiri sendiri di depan sekolahnya dengan pandangan orang-orang yang seolah bertanya, ‘Hei! Kamu siapa?’ kepada dirinya sehingga membuat dirinya sama sekali tak nyaman.


“Ikut aja deh.” Virgo kembali dan menarik tangan Libra untuk diajaknya ke parkiran sekolah.


“Kenapa, Vir?”


“Nggak ada. Dari pada kamu nggak nyaman berdiri sendiri, lebih baik ikut aku aja.” Mungkin bagi Virgo, akan lebib baik Libra ikut bersamanya ketimbang harus mendapatkan hujanan tatapan aneh dari teman-teman sekolahnya.


Sampai di tempat parkir, sudah ada keempat sahabatnya yang sudah duduk-duduk di atas motor mereka sambil mengobrol ringan. Mereka menyapa Libra dan Sam langusung bertanya. “Lo nggak sama Riska, Li?”


“Nggak, dia langsung pulang tadi.” Jawabnya. Libra terlihat sekali masih kikuk berada diantara teman-teman Virgo. “Kalian kok belum pulan?” Tanya balik Libra kepada mereka.


“Kalian beneran udah sah ya?” Baro sepertinya tak ingin menahan rasa penasarannya.


“Sah?”


“Ayo!” Virgo lagi-lagi manarik tangan Libra agar gadis itu segera naik ke atas motornya dan mereka bisa pergi dari sana dan sahabat-sahabatnya itu tak menggodainya.


“Eeee, busyet,” Edo bersuara. “Gitu sekarang lo ya, Vir?” Ekspresi menggelikan, namun Virgo tak peduli.


“Gue pulang dulu.” Hanya begitu saja ucapan Virgo dan kemudian asap motor sudah melayang di udara meninggalkan keempat temannya yang mencibirnya.


“Kita beli helm dulu ya!” Virgo agak berteriak ketika mengatakan itu agar Libra bisa mendengarnya. Menghentikan motornya di toko helm, keduanya turun dari sana.


“Kayaknya nggak usah deh, Vir.” Kernyitan itu keluar di dahi Virgo.


“Demi keselamatan, Li,” Lagi-lagi tangannya menggandenga tangan Libra untuk di ajak segera masuk agar gadis itu bisa memilih helm yang disukainya. “Kamu pilih aja mana yang kamu suka.” Virgo juga melihat-lihat dan menunjukkan kepada gadis itu.


“Bagus ini, Li.” Mengambil satu helm berwarna pink dan menunjukkan kepada Libra. “Cewek kan biasanya suka warna pink.”


Namun Libra menggeleng. “Aku nggak mau,” Libra menggeleng. “Bagus sih, tapi nggak suka.” Virgo mengangguk dan melanjutkan acara memilihnya.


Sepertinya Libra memiliki pemikiran lain. Gadis itu melihat helm Virgo yang diletakkan di ujung spion, dan dengan serius mengamati. “Ada yang versi ceweknya nggak helm kaya punya kamu itu?” Virgo ikut menatap helm miliknya dan kemudian menatap Libra.


“Biar ku tanya abangnya dulu.” Mendekati penjualnya, Virgo kemudian menyampaikan apa yang diinginkan.


“Ada helm yang kaya punya saya itu, Bang, yang versi ceweknya?” Libra sudah berada di belakang Virgo.


“Saya lihat helmnya dulu, boleh?”


“Boleh.” Sambil menunggu, Virgo juga masih melihat-lihat.


”Ada, Bro, tapi nggak sama persis. Merknya pun sama, mahal sih ini.” Mungkin menutu si penjual hanya memberikan informasi saja dengan mengatakan itu.


“Biar kami lihat dulu, Bang.” Penjual tersebut kemudian mengambilkan helm yang dimaksud dan memberikannya kepada Virgo. “Ini memang bagus, Bro, nggak terlalu berat juga.”


“Kamu coba dulu.” Libra menerima dan memakainya di kepala kemudian tersenyum. “Enak kok, Vir.” Tanggapannya.


“Kamu udah suka kan?”


Mengangguk. “Iya, aku suka ini.” Terliahat sekali jika gadis itu senang dengan hal tersebut.


“Kaluu gitu ambil ini, Bang.” Penjual itu mengatakan harganya dan mengajaknya ke kasir untuk bertansaksi.


Transaksi selesai, barang sudah di tangan, kemudian Virgo dan Libra keluar dari toko tersebut.


“Vir, harusnya kan nggak usah aja. Mahal lho itu.” Siapa tadi yang meminta helm itu, dan siapa sekarang yang protes karena harganya kemahalan menurutnya? Itu benar-benar menggelikan.


“Langsung pakai aja. Oke!” Libra cemberut dan menatap Virgo dengan wajah protesnya yang sungguh tak main-main.


Maka dengan sabar Virgo menjawab. “Li!” Katanya santai, “Barang mahal, itu akan awet dipakainya dibandingkan barang yang biasa saja. Lagi pula kan ini akan dipakai terus kalau kita keluar, jadi kenapa harus dipermasalahkan?” Beruntung parkiran toko tersebut teduh, kalau tidak, entah akan sekering apa mereka.


Masih cemberut, Virgo melarikan tangannya untuk menarik sudut bibir Libra. Kontak fisik pertama mereka. Ada getaran di dalam hati keduanya namun diabaikan. “Udah lah. Kan udah kebeli juga. Ngapain dipemasalahkan lagi?”


“Tapi aku kan tadi bilang pilih yang lain aja, nggak usah yang itu juga nggak papa.”


“Udah naik!” Perintah Virgo. Mereka tak akan berdebat terus mengenai helm itu bukan? “Kita lanjutkan perjalanan dengan helm balu.” Layaknya seorang anak kecil yang senang ketika mendapatkan barang baru, Virgo menggoda Libra dengan mengganti ‘L’ dari kata ‘baru’.


“Biar aku pakaiin.” Membuka tali helm yang direkatkan di bawah dagu, Virgo memasangkan itu di kepala Libra.


“Bagus.” Jempolnya tak lupa diberikan untuk memberi nilai kepada gadis itu. “Ayo naik!” Meskipun dengan ogah-ogahan, Libra menurut.


“Kamu nggak ada urusan lagi kan setelah ini?” Sebelum motor berjalan, Virgo lebih dulu memastikan.


“Nggak ada.” Jawaban singkat itu mengakhiri sesi ‘perdebatan’ mengenai helm. Mereka pergi dari sana dengan meninggalkan kepulan asap motor di toko tersebut.


*.*


“Kita mau ngapain ke sini.” Pertanyaan Libra ini benar-benar tak berbobot sama sekali. Dan tatapan datar diberikan Virgo kepadanya.


“Memang biasanya kalau orang-orang pergi ke mall itu mau ngapai sih, Li?” Keduanya masuk ke dalam mall tersebut dan naik ke atas escalator. Virgo bersender di pegangan escalator di bagian kiri, sendangkan Libra di sebelah kanan. “Nggak mungkin kan kita di sini mencari ilmu yang bermanfaat?” Geplakan di tangan Virgo membuat lelaki itu terkekeh. “Lagian kamu tanyanya yang enggak-enggak aja.” Namun Libra tak menjawabnya.


“Kita makan dulu, setelah itu nonton.” Lagi-lagi Virgo yang memutuskan tanpa meminta pendapat Libra lebih dulu. Kali ini Libra tak mendebat. Keduanya berjalan santai menuju ‘Food court’ untuk lebih dulu mengisi perut mereka.


Gudek dan es sirup untuk Virgo, chicken teriyaki dan cola untuk Libra. Mereka memesan makanan di tempat terpisah dan duduk di salah satu meja untuk menikmati makan siang mereka.


“Jadi, Li, kenapa kamu tiba-tiba mundul di depan sekolahku sendirian?” Keingin tahuan Virgo sepertinya harus segera dituntaskan agar tidak menjadi beban untuk pikirannya dengan menduga-duga sebuah jawaban.


“Aku cuma mau ketemu kamu.” Jawaban itu diucapkan tanpa beban. “Setelah kamu sembuh, nggak ada sekalipun kamu kasih kabar ke aku.” Protesan lagi dari Libra. Kunyahan Virgo masih berlanjut dan sesekali menatap gadis itu.


Sedangkan Libra menunggu lelaki itu untuk menjawab, tak ada tanda-tanda Virgo mengatakan sesuatu. Libra bahkan menatap lelaki itu serius meminta sanggahan. ”Vir!” Bahkan panggilan itu dikeluarkan namun Virgo masih tetap diam dan mengunyah makanannya dengan santai.


Hal itu membuat Libra jengah dan mengerucutkan bibinya. Dia tak lagi bersuara namun tentu saja merasa sebal. Bahkan ketika dia makan pun, dengan wajah yang masam dan malas-malasan.


“Aku bingung.” Setelah makanan di piring Virgo tandas, barulah lelaki itu bersuara. “Aku bingung dengan perasaan dan hatiku.” Di tatapnya Libra dengan terang-terangan. “Mana diantara tiga rasa ini yang betul-betul jawaban yang benar.” Kedua tangan Libra masih memegang sendok dan garpu, tatapannya pun jatuh di mata Virgo, mulutnya mengunyah dengan pelan dan mencerna maksud dari ucapan seorang Virgo kepadanya.


“Maksud kamu?”


“Suka, sayang, dan cinta,” jari-jari Virgo menekuk ketika mengatakan itu. “Diantara tiga kata itu, mana jawaban yang benar untuk hatiku. Mana yang benar-benar aku rasakan terhadap kamu, dan apa yang harus aku lakukan setelah mengetahui jawabannya.” Obrolan ini sepertinya serius. Bahkan piring di depan Libra pun masih ada makanan yang belum habis, namun gadis itu tak melanjutkan makannya.


Jantung Libra bahkan terasa tak bisa dikendalikan lagi ketika ucapan Virgo meluncur begitu saja.


“Jadi?” Libra berusaha untuk memastikan, “Apa jawaban yang benar?” Terbata Libra bertanya. Mungkin dia pun juga merasa penasaran dengan jawabannya.


“Aku nggak tahu.” Jelas saja kekecewaan itu muncul begitu saja di wajah Libra. Gadis itu kemudian meminum minumannya untuk mengairi tenggorokannya yang terasa kering. “Karena itu aku berusaha mencari tahu kebenarannya.” Lanjut Virgo. “Tolong bantu aku memecahkan misteri ini, Li.” Tatapan pengharapan diberikan lelaki itu kepada Libra.


“Caranya?” Mengikuti permainan Virgo sepertinya lebih mudah dibandingkan memendam rasa aneh yang ada di dalam hati. Cinta itu memang belum muncul di hati keduanya, tapi rasa tertarik satu sama lain sudah tersemat di sana.


Virgo kini berfikir keras untuk mencari cara di dalam otaknya. Menatap Libra dalam dan kemudian sebuah ide muncul di dalam otakya. “Satu bulan dari sekarang, kita tidak perlu bertemu.” Wajah Libra terlihat kaget dan hatinya tiba-tiba berdetak tak terkendali.


“Apapun yang diputuskan oleh hati kita, kita akan ungkapkan di tempat ini satu bulan lagi.” Suara Virgo mantap tanpa ada kebimbangan sama sekali. Namun Libra tak memiliki jawaban atas itu. Dia merasa ada yang tak benar di dalam hatinya. “Sebelum itu, kita akan menghabiskan waktu kita di tempat ini. Setelah aku antar kamu pulang, baik aku atau kamu jangan dulu bertemu kecuali kalau bertemu secara tak sengaja.” Itu adalah ide yang Virgo buat secara spontanitas entar inspirasi dari mana.


Libra masih tak menjawab dan terus diam. Pikirannya melayang kemana-mana dia tak tahu apa yang akan dilakukan. “Li!” Panggilan itu kembali di dengarnya dari Virgo.


“Oke.” Putus Libra. Memang seperti inilah yang harus dia jalani. Lagipula mereka juga bukan sepasang kekasih. Tapi kalau Libra boleh jujur, maka dia akan mengatakan jika itu membuatnya merasa tak bersemangat.


Berdiri, gadis itu bilang, “Ayo, kita mulai petualangan.” Sambil terenyum yang diusahakan se sumringah mungkin.


Virgo ikut tersenyum dan berdiri. “Ayo!” Katanya dengan semangat.


Jika kalian melihat ini di dalam sebuah adegan film, maka kalian akan mendengarkan kata hati mereka.


‘Aku nggak tahu apakah ini suatu hal yang benar, tapi aku sudah merasa kehilangan kamu bahkan ketika kamu masih ada di sini, bersamaku.’ Libra


Atau


‘Ini adalah keputusan yang harus aku buat. Kebimbangan ini harus aku musnahkan sampai habis agar kita tak saling menyakiti suatu saat nanti.’ Virgo


*.*