
Waktu serasa merangkak lambat saat kita kehilangan seseorang paling berharga dalam hidup. Tapi toh aku berhasil melewati semuanya walau tidak mudah. Kesibukan di pekan UTS sedikit menyita perhatianku dari bayang-bayang Rifa. UTS berakhir, aku kembali memikirkannya.
Kini seantero sekolah tahu berita berakhirnya hubunganku dengan Rifa. Bahkan sebagian Rifa Maniac mulai terang-terangan mencemoohku. Katanya aku kegenitan lah, bodoh lah, dan ungkapan lain yang membuat telinga panas.
Awalnya gerah, tapi untunglah lama-lama aku jadi terbiasa.
“Ngomong-ngomong, kenapa mereka masih sirik sama lo, ya?” tanya Cilla saat kami berduaan di toilet. Perjalanan menuju tempat ini tidaklah semulus biasanya. Aku mesti berusaha menahan diri mendengar cemooh di sana-sini. “Padahal kan, lo udah bukan pacar Rifa lagi.”
“Jangankan lo, Cil. Gue aja gak paham apa alasan mereka,” jawabku seadanya.
Terdengar suara lembut nan manis diiringi desahan khas cewek-cewek genit di luar toilet. Dari percakapan yang tak kunjung tuntas, jelas sekali mereka tengah bergosip ria. Tak lama tiga orang cewek berpenampilan modis—demi Tuhan, mereka sungguh keren padahal hanya mengenakan seragam sekolah—muncul dari pintu toilet, salah satunya kukenal cukup baik: Nadine.
“Eh, ada Alexa,” sapa Nadine sinis. Kedua temannya memperhatikanku dengan saksama.
“Sampai detik ini gue gak paham apa yang ngebikin Rifaldi suka sama dia. Bertahan sampai setahun lebih malah!” Teman Nadine menudingku. Ia tak memedulikan tatapan tersinggung yang kutujukan padanya.
“Ya, sama gue juga,” timpal temannya yang berambut pendek namun tampak stylish. “Mungkin dia pakai pelet atau semacamnya gitu.”
“Bisa jadi!” seru Nadine. Tak ayal tawa ketiga cewek tersebut berderai. “Untung sekarang Rifa udah sadar. Eh guys, cewek ini belum apa-apa udah ngegaet cowok baru, lho.”
“Oh ya? Siapa?” Si Rambut pendek pura-pura kaget. “Si Raka, bukan?”
“Bukan! Si Raka itu cuma tetangga cewek ini. Secara logika gak mungkin lah cowok seganteng Raka jatuh cinta sama dia. Cukup Rifa yang punya gangguan penglihatan,” jawab Nadine. “Maksud gue itu lho, Andre yang sekelas sama kita!”
“Oh, dia!” Temannya menyahut nyaring. “Pantesan minggu lalu gue lihat mereka duduk berduaan di kantin.”
“Bertiga, Bodoh!” Cilla yang emosinya sudah tersulut meralat tegas.
Nadine melotot, nampak tak terima dikatai bodoh.
Seketika didorongnya bahu Cilla dengan kuat hingga temanku terjengkang cukup jauh. “Ada juga lo yang bodoh mau-maunya temanan sama cewek sialan yang anehnya punya hoki selangit itu!”
“Cukup!”
Aku menghela napas berat, susah-payah menahan emosi yang tengah bergejolak. Jika hanya aku yang disakiti mungkin tak apa. Tapi ini Cilla. Satu-satunya teman paling setia yang kumiliki di dunia.
Teriakanku membuat ketiga cewek cantik itu bergeming. Setelah menatap tajam ketiganya, aku berjongkok membantu Cilla berdiri, kemudian menuntunnya menuju pintu ke luar.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut, aku berbisik tepat di samping telinga Nadine. “Lo mau ikutan di-DO, hah?!”
Tidak ada tanggapan. Sepertinya Nadine terlalu kaget dengan ucapanku barusan.
***
Pukul 20.00 keeseokan harinya keluarga kecilku beserta Cilla dan Raka makan malam bersama di rumah kami. Acara kali ini sedikit lebih istimewa dari biasa. Kami mengadakan farewell party kecil-kecilan untuk Nenek dan Jono. Rencananya besok pagi mereka akan kembali ke Bandung. Waktu cuti Jono telah berakhir. Lagipula, ia sudah tidak punya tugas untuk mengawasiku lagi. Nenek yang sebenarnya masih ingin berlibur di Purwakarta pun terpaksa ikut pulang karena Kakek sangat merindukannya.
Orang yang paling memanfaatkan momen ini tentu saja Cilla. Ia tak rela melewatkan satu detik pun tanpa menatap kakak sulungku. Sambil menyuap makanan ke mulut pun matanya tak pernah lepas dari Jono. Kadang aku tak paham apa yang ada di otak Cilla.
Orangtuaku manggut-manggut paham. Orang kaya memang identik dengan kesibukan. Berani taruhan, jika dulu ia tidak menemani neneknya tinggal di luar negeri, Raka pasti tumbuh menjadi anak kesepian yang kurang mendapat perhatian orangtua.
“Silakan duduk,” kata Papa. Tentu saja cowok itu memilih kursi di sampingku. Padahal masih banyak bangku kosong lain yang bisa dipilihnya.
Kami menghabiskan makanan masing-masing sambil diselingi celotehan sesekali. Rupanya Nenek tertarik pada kerajaan bisnis ayah Raka. Beliau bertanya ini-itu sampai Raka kewalahan menjawab. “Ngomong-ngomong kamu berapa bersaudara?”
“Saya anak tunggal, Nek,” Raka menjawab sesantun mungkin.
“Berarti bisnis ayahmu bakal turun ke kamu, ya?”
“Hehe, begitulah.”
Nenek mengerling ke arahku. “Tuh, lihat. Cari suami yang punya masa depan cerah seperti anak ini, Alexa.”
“Harusnya Nenek mewanti-wanti kayak gitu sama Kak Nisa, bukan Lexa,” kataku membela diri. “Dia sudah cukup usia untuk menikah. Kalau Lexa masih jauh untuk ke arah sana, Nek.”
Aku membisu sejenak. "Lagipula, gak baik mencari pasangan cuma karena harta. Walau Rifa tampan dan kaya, tapi dulu aku suka dia bukan karena itu."
Selesai mendengar ocehanku, suasana mendadak sunyi. Semua saling menatap canggung. Mama sampai tersedak. Beliau buru-buru meminum air dengan rusuh, menyebabkannya tersedak lagi.
“Kalian kenapa?” Aku mengangkat sebelah alis.
“Oh … nggak apa-apa, kok.” Kentara sekali Mama salah tingkah. Senyum yang menghiasi wajahnya pun tampak dipaksakan. “Oh iya, mulai besok kamu berangkat sekolah bareng sama Raka lagi, ya? Kemarin Mama udah diskusi sama Raka dan mamanya. Mereka setuju. Kalau pulangnya terserah kalian maunya gimana.”
Kami sudah mendiskusikan perihal itu tadi pagi saat sarapan, yang lain pun ikut menyimak. Herannya, semua tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi.
Tinggal aku bengong seorang diri. Berusaha menyimpulkan apa yang sesungguhnya terjadi.
Belakangan aku pun tahu, ternyata keluargaku mendapat surat ancaman yang sama dari Unknown. Surat yang ‘menganjurkan’ agar kami tidak pernah berhubungan dengan Rifaldi lagi. Bahkan menyebut namanya pun amat-sangat terlarang. Jika berani membangkang, Unknown berjanji akan memusnahkan rumah kami. Beberapa lembar foto yang menampilkan setiap sudut ruangan di rumah ini menjadi bukti kesungguhan si penjahat. Ia benar-benar ada, mengawasi, dan tak segan mengambil tindakan tegas.
Kini aku kembali bertanya-tanya: sebenarnya, siapa yang Unknown incar? Aku, Rifa, atau kami berdua? Lantas mengapa?
***
**Novel ini kutulis sebanyak 27 BAB, 1 PROLOG, dan 1 EPILOG.
Beberapa hari ini aku mulai berpikir, bagaimana kalau kubuat prequelnya di sini?
Tahu maksudnya, kan?
Jadi, setelah Blind Love resmi tamat, aku bakal melanjutkannya ke cerita masa lalu mereka. Bagaimana Alexa dan Rifa bisa bertemu, apa alasan Rifa tertarik pada Alexa, dan lain-lain, dan lain-lain.
Cerita picisannya aja, gitu. Hehe
Tapi entahlah. Apakah masa lalu mereka masih akan menarik setelah kita tahu apa yang akan terjadi di masa depan**?