Blind Love

Blind Love
Kisah 50



“El!” El sedang bersama Al dan Odel di depan kamar mandi perempuan ketika Rigel baru saja datang. Dia sempat mengirim Al chat untuk menanyakan keberadaan mereka, “Gimana kepala lo?” meskipun ketika El tadi dijambak dan Rigel belum ada di sana, tapi dia sudah mendapatkan informasi itu dari orang yang memanggilnya untuk melerai ‘perkelahian’ El dan kakak tingkatnya tadi.


“Gue nggak papa.” Kata El, wajahnya masih terlihat kaku dan marah yang berusaha ditahannya.


“Kenapa akhir-akhir ini ada banyak sekali masalah buat kita ya?” pemikiran yang tadinya hanya Rigel batin kini dipertanyakan oleh Odel.


“Gue tadi juga mikir kayak gitu, tapi gue nggak dapat jawaban.” Rigel menghela nafas.


“Kita pergi.” El lebih dulu berjalan dan diikuti oleh yang lainnya. Namun belum sampai dia di kelas, seorang guru menghadang langkah mereka.


“Kalian ikut saya!” titahnya. El tahu, mungkin masalah ini akan sampai ke meja guru dan diadili. Mau tak mau, mereka ikut bahkan Odel.


Sampai di ruang BP, sudah ada lawan dari El yang ketika El dan gerombolannya datang, mereka menatap El dengan tajam. Guru yang tadi memanggilnya tersebut memperlihatkan rekaman yang diambil dari CCTV. “Apa ini?” pancing guru tersebut, “Kalian mau jadi jagoan semua?” tak ada ada nada tinggi yang beliau keluarkan.


“Rania, bisa kamu jelaskan kenapa kamu harus membuat masalah terlebih dulu?” di video tersebut terlihat jelas jika Rania menyenggol El sampai apa yang dibawanya tumpah dan mengenai Sebagian seragamnya.


“Saya nggak sengaja lakuin itu, Pak.” Dalihnya, “Namanya orang berjalan kan ada kesandungnya juga.” Bukannya merasa bersalah, dia justru mengatakan hal yang tidak perlu.


“El! Kenapa kamu nggak bisa kontrol emosi kamu?” beralih ke El sekarang.


“Bagian mana saya nggak bisa kontrol emosi saya, Pak? Apa di sana terlihat kalau saya membalas mereka? Bahkan saya sama sekali tidak menyentuh mereka. Sedikit pun.” Lanjutnya.


“Saya ngerti kamu, kamu pasti mengatakan yang tidak-tidak sampai mereka menjadi marah.”


“Jadi menurut Bapak, saya harus diam saja ketika saya diperlakukan seperti itu?” El mana takut membantah dia, apalagi dia berada dipihak yang benar di sini, “Ini masalah harga diri, Pak. Nggak akan ada seorang pun yang bersedia diinjak harga dirinya. Dia kakak kelas saya, seharusnya dia lebih paham untuk tidak membuat masalah.” El bisa menjawab panjang jika dia mau, tapi dia tak melakukannya.


“Kalian ini kan, bla… bla…. Bla…” El dan yang lainnya hanya mendengarkan saja apa yang guru tersebut sampaikan, dan ditengah itu pasti El akan menyanggah ucapan lelaki paruh baya tersebut.


“Kalian di skors.” Kata guru tersebut, “Melakukan pembulian di sekolah adalah terbilang kasus yang berat.”


“Tapi ini nggak adil buat saya, Pak. Saya di sini korban, kenapa pula saya harus mendapatkan hukuman seperti itu?” El jelas saja tak terima. Dengan keputusan El, Rania dan kawan-kawannya di skors selama tiga hari.


Kenapa Al dan Rigel tidak? karena mereka berdua memang tidak ikut andil dalam masalah ini. Hanya yang terlibat perkelahian saja.


El menatap Rania di depannya dengan mata tajamnya. Dia sebetulnya tak terima dengan keputusan ini. Tapi guru tersebut tak peduli dengan pembelaan yang diberikan untuk guru tersebut. El benar-benar merasakan kemarahan di dalam hatinya sekarang.


Dengan mengetatkan rahangnya, El keluar dari ruang BP dan meninggalkan tempat tersebut. Dibandingkan dia menunjukkan emosinya di sana lebih baik dia keluar saja. Meskipun ‘rapat’ tersebut belum selesai. Dia sadar jika dia tak sopan sama sekali, tapi dia benar-benar merasa marah sekarang.


Masuk ke dalam kelasnya, El menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangannya. Salah satu temannya mendekat, “El! Lo nggak papa?” tanyanya.


El mendongak, “Gue nggak papa. Tolong jangan ganggu gue dulu.” Tersenyum kecil, gadis itu kembali ke posisi menelungkupkan kepalanya lagi. Dan teman satu kelasnya itu mengerti dan meninggalkan El.


“Aku beneran mau jambak dia aja rasanya, Bun.” El mengadu kepada ibunya setelah dia baru saja duduk di sofa. Seragam masih melekat di tubuhnya dan dia belum sempat menggantinya karena kemarahan yang dirasakan di dalam hatinya.


“Nggak papa, Bunda nggak marah kamu di skors, yang penting kamu nggak cari masalah duluan.” Tanggapan Libra mencoba menenangkan, “Sekarang ganti baju, makan, terus istirahat.” Libra mengelus kepala putrinya dengan sayang.


Sedangkan El sendiri merasa hatinya belum terima dengan apa yang terjadi sekarang. Tapi bertindak bar-bar pun tak akan menyelesaikan masalah. Dia juga bukan orang yang memiliki cara kampungan dengan mencegat musuhnya di jalan kemudian diajaknya tawuran.


El menyetujui apa yang dikatakan oleh ibunya dan naik ke lantai dua untuk masuk ke dalam kamarnya. Melemparkan tasnya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur kepalanya dengan air agar otaknya terasa lebih adem.


Setelah berendam selama setengah jam, dia keluar dari kamar mandi. Memakai baju, kemudian keluar dari kamar. Sampai di lantai bawah, dia menatap Rigel yang sudah duduk dengan tenang di ruang keluarga sambil menatapnya sejak dia turun dari tangga.


“Udah di sini aja lo.” Katanya. Namun tak ayal dia duduk di sofa yang berhadapan dengan lelaki itu.


“Gue hanya mau memastikan kalau lo baik-baik aja.”


“Nggak bisa dibilang begitu, karena ubun-ubun gue rasanya terbakar.” El tak perlu menutupi apapun yang dirasakannya. Apalagi dengan Rigel, “Bukannya ‘Rigel yang dulu’ melarikan diri ya? Udah kembali dia?” sindir El dengan terang-terangan.


“Nggak usah dibahas.” Rigel menatap El dengan datar.


El mengedikkan bahunya dengan tak acuh, “Makanya jangan suka ngambek. Cowok apaan suka sekali merajuk.” El selalu bisa membuat Rigel sebal karena ucapan gadis itu, tapi dia memutuskan untuk diam tak menanggapi ucapan gadis itu.


“Keluar aja, ke gazebo, siapa tahu kalau kena udara segar otak gue bisa baik-baik saja.” Langsung berdiri dan meninggalkan Rigel yang masih duduk dengan santai.


Rigel menarik napasnya panjang sebelum menyusul El. Lelaki itu juga pening dengan masalahnya dengan Liondra. Dia ingin bisa menyelesaikan hubungan itu, tapi Liondra seolah menghalangi niatnya.


Rigel ikut merebahkan tubuhnya di gazebo ketika melihat El yang sedang berbaring lebih dulu. Mereka berdua berbaring terlentang beradu kepala dengan menggunakan satu bantal. “Gue terjebak dengan permainan gue sendiri.” Rigel sepertinya ingin memulai berbicara tentang masalahnya.


El masih mendengarkan tanpa mau menanggapi lebih dulu. “Gue ingin menghindari sesuatu, tapi gue terjebak dengan jalan yang gue pilih. Dan nyatanya, sesuatu itu nggak bisa gue hindari.”


“Sesuatu itu apa?” tanya El, “Bukannya lo ahli banget dalam menghindar?” Entah itu sindiran atau apa tapi Rigel tak mau mendebat apa yang El katakan tersebut. Namun Rigel juga belum siap untuk mengatakan ‘sesuatu’ yang ditanyakan oleh El kepadanya.


“Ares sekarang nggak pernah deketin lo lagi kayaknya.” Rigel mengalihkan pembicaraan.


“Mungkin dia lelah,” El menjawab santai, “Kalaupun Ares masih bersikeras buat sama gue, gue rasa gue nggak bisa.”


“Kenapa?”


“Karena gue lebih memilih Orion.” Seperti ada bom yang meledak di jantung Rigel ketika El mengatakan hal itu.


“Apa ini artinya lo akan menerima Orion kalau dia gigih deketin lo?”


“Bisa jadi.” Jawab El ringan, “Kayaknya gue memang harus keluar dari zona nyaman gue dengan bergaul dengan orang yang memiliki kepribadian yang beda dari Al dan lo.”


“Kepribadian kaya apa maksud lo?”


“Yang hangat. Gue memang belum kenal Orion banyak. Tapi gue tahu kepribadian dia beda dengan Al dan lo.” Rigel meneguk ludahnya berkali-kali tanpa tahu apa yang harus dia katakan lagi sekarang. Dia merasa gagal sebelum berjuang.


Memang dia tidak pernah berjuang bukan? Rigel menghindar karena takut dengan hatinya. Dan El yang sempat kecewa akhirnya berfikir dan membuka hati untuk orang lain bukanlah hal yang sulit baginya.


*.*


El menumpukan dagunya di lengan sofa ketika melihat Al yang berjalan kesana-kemari entah melakukan apa El pun tak paham. Lelaki itu berseliweran di depan Al dengan menggunakan seragam dan siap untuk berangkat sayangnya dia tak kunjung berangkat.


“Nggak ada,” katanya, “Emang aku kenapa?”


“Dari tadi kilar-kilir nggak ada tujuan.” Al mengedikkan bahunya dan kemudian duduk di sofa single agar bisa menghadap El.


“Mentang-mentang di skors jangan kemana-mana. Kalau nggak ada yang dikerjakan, ikut Ayah aja sono.”


“Kamu memikirkan itu tadi sampai berjalan kesana-kemari?”


“Nggak juga sih. Cuma sambil mikir aja, enaknya bocah-bocah itu diapain ya?”


“Nggak usah yang aneh-aneh, Bang!” teriakan Libra membuat Al menyeringai.


“Tahu aja sih, Bunda.” Bisiknya pada El dan mendapatkan kekehan dari El.


Virgo datang sudah rapi diikuti Libra di belakangnya. El yang merasa tak memiliki kegiatan, hanya mendengus saja kemudian memunggungi semua orang dan memeluk bantal sofa. Virgo mengelus kepala putrinya, “Kenapa?” Tanyanya, “Jalan-jalan kalau memang suntuk di rumah.


El bahkan semalam sudah membayangkan betapa dia bosan sekali di rumah sendirian. Orang tuanya bekerja, El bekerja, dan dia? seperti tak berguna sama sekali hanya diam sendiri di rumah.


“Nggak ada tempat yang bagus untuk dikunjungi.” Jawabnya sebal.


“Biar sopir yang antarkan Adek mau pergi kemana.” Libra mencoba ikut membujuk.


“Al harus berangkat, Yah, Bun.” Al berdiri dan menyandang tasnya, “El Kalau mau keluar, bilang sama aku.” El yang sudah duduk, memberengut kepada Al dengan lirikan tajamnya. Namun mengangguk juga.


Al keluar rumah sambil berlari kecil setelah bersalaman dengan kedua orang tuanya. Sedangkan Virgo dan Libra juga harus segera pergi bekerja, karenanya dua orang itu pamit kepada Libra.


“Ayah sama Bunda berangkat dulu ya, pokoknya kalau mau kemana-mana, bilang sama bibi, dan sama Ayah atau bunda.” Libra mewanti-wanti. Meskipun El sudah remaja, tapi kontrol itu masih tetap ada pada orang tuanya. Bukan dia sudah merasa dewasa lantas seenaknya sendiri.


“Iya.” Katanya sambil mengangguk, “Ayah sama Bunda hati-hati.” Katanya melambaikan tangannya. Ini adalah hari pertamanya si skors, dan dia sudah merasa bosan.


Namun dibandingkan dia harus berdiam diri di rumah sendirian, dia benar-benar memutuskan untuk keluar setelah meminta izin kepada keluarganya. Tanpa sopir karena dia ingin merasakan bagaimana naik kendaraan umum.


“Ini sepertinya ide yang sangat cemerlang.” Bangganya pada dirinya sendiri. Mengecek tas yang dibawanya agar tak ada yang ketinggalan, barulah dia keluar rumah.


Awalnya dia pergi ke halte untuk naik Trans Jakarta. Dia membeli tiket terlebih dulu dan menunggu bus tersebut untuk mengantarkannya ke tempat tujuan.


Dia masuk ke dalam bus ketika transportasi itu datang dan berdiri sambil memegangi tali yang ada di atasnya. Ini adalah kali pertama dalam hidup El naik trans Jakarta, dan sepertinya memang seru. Bahkan dia hampir tergencet ketika bus tersebut penuh dengan penumpang.


Namun dia sama sekali tak peduli. Dia juga tak mengeluh. Sepanjang perjalanan, dia benar-benar menikmati perjalanan menjelajah kota Jakarta dengan kendaraan umum tersebut.


Sepuluh menit, dia sampai di halte tujuannya. El tahu dia akan kemana, dia juga tahu daerah tersebut meskipun tak hafal.


“Kuliner.” Katanya pada dirinya sendiri. Kakinya melangkah untuk mencari tempat makan. Kalau bukan karena mendapatkan hukuman ini, tak mungkin dia akan bisa berkeliaran seperti sekarang ini.


Melihat tenda mie ayam, El masuk ke dalam sana. Memesan satu porsi dengan minuman, dia menunggu sambil memainkan ponselnya.


Al : Jangan melantak kemana-mana, Kamu di pantau.


Chat dari Al masuk dan membuat El terkekeh dengan apa yang dibacanya.


El : Pantau sesukamu


Balasan El. Toh dia yakin bukan hanya Al saja sekarang yang sedang memantau dirinya, tapi ayahnya pasti juga melakukan hal yang sama. El sama sekali tak heran dengan itu.


Pesanan datang, dan senyumnya mengembang melihat makanan yang menurutnya sangat menggugah selera.


“Terima kasih, Pak.” Katanya kepada penjualnya. Mulai menyendokkan mie tersebut dan mengecapnya.


“Hem.” Gumamnya, “Enak.” Dia menandai tempat ini untuk dijadikan langganan. El benar-benar menikmati makannya dan melupakan hal apapun yang memang tak perlu dia pikirkan.


Selesai dari sana, El pergi dan kembali berjalan. Dia mengikuti nalurinya saja kemana kakinya akan melangkah. Berjalan dengan santai di depan sekolah yang murid-muridnya sedang keluar. El heran, ini masih jam sekolah, dan mereka sudah pulang? Niat sekolah nggak ini? Begitulah kira-kira Yang dia pikirkan.


Namun dia abai saja, berjalan santai meskipun ada beberapa orang memperhatikannya. ‘Gue tahu gue cantik, nggak gitu juga melihatnya’ itu tentu dikatakan di dalam hatinya.


Kakinya terhenti ketika ada kaki lain yang menghalangi langkahnya. Wajahnya terangkat dan mendapati Orion di sana.


“Hai!” sapanya. El kaget, tapi dia tentu tak akan sudi memperlihatkan itu kepada lelaki di depannya itu.


“Hai” jawabnya. Tak sopan kalau dia tak menjawabnya.


“Kok ada di sini? Nggak sekolah?”


“Enggak.”


“Libur? Bolos?”


“Dibolosin.” Orion tak mengerti.


“Maksudnya dibolosin?”


El mengedikkan bahunya tak acuh. “Bisa gue pergi sekarang?”


Orion menyingkir dan memberikan jalan El namun dia mengikuti gadis itu dari belakang.


“Ngapain lo?” Tanpa menoleh, El bertanya.


“Ngikutin elo.” Entengnya jawaban Orion. El lantas diam dan terus berjalan, membiarkan Orion melakukan apapun sesukanya.


*.*