
Kemunculan Virgo sang kapten basket memang membuat suasana riuh itu semakin nyata terlihat. Wajah-wajah mendamba dari gadis-gadis di sana sama sekali tak bisa dipungkiri betapa Virgo adalah idola sekolah. Bahkan teman-teman Libra juga tak merasa perlu menutupi rasa kagumnya kepada lelaki itu.
“Ini kadang yang gue suka ketika Virgo keluar dengan dandanan seperti itu.” Ucapan yang dimaksud Sam adalah Virgo selalu memakai bandana di kepalanya untuk menyingkap rambutnya. Ada pelindung lutut dan siku yang selalu dikenakan, dan tentu saja seragam basket yang begitu cocok melekat di badannya.
“Kenapa?” Itu adalah pertanyaan Riska.
“Dia terlihat seperti manusia yang patut dilestarikan.” Sam tersenyum menatap gadis di sampingnya bahkan tatapannya mampu membuat gadis itu bersemu merah.
“Memang biasanya dia nggak seperti manusia?” Sepertinya Riska tak ingin terus terusan membiarkan rasa kikuknya menguasainya, karena itu dia segera mengingatkan dirinya agar tak lupa diri hanya karena tatapan dari seorang Sam.
“Kalau kamu tahu, dia bisa lebih gila dari pada kami, teman-temannya. Dia bahkan pernah menggoda adik kelas sampai cewek itu wajahnya udah kaya kepiting busuk. Merah banget.” Kekehan itu keluar dari bibir Sam dan membuat Riska ikut teresenyum.
“Dia menjadi idola di sekolah, tapi dia sama sekali nggak pernah sok kegantengan.” Sepertinya Sam ingin ‘mempromosikan’ temannya sekarang. “Tapi…?” Ucapan Sam tak langsung berlanjut dan hanya mengambang sampai Riska membuka suara.
“Tapi?”
Sam menatap Riska serius. “Tapi harusnya aku nggak usah bilang itu ke kamu, urusan kita lebih penting daripada harus bercerita tentang cecunguk satu itu.” Senyuman tertahan Riska benar-benar menandakan jika gadis itu suka dengan ucapan yang baru saja Sam katakan kepadanya.
Suara peluit menandakan jika permainan akan segera di mulai. Semua pemain berkumpul di tengah lapangan. Mereka melakukan ‘ritual’ apapun yang memang selalu dilakukan sebelum permainan basket dimulai dan setelah itu kedua kapten basket sudah berhadapan, lemparan bola basket awal permainan dilakukan oleh wasit.
Gemuruh suara penyemangat dari dua kubu langsung terdengar. Mereka bersorak, memanggil nama pemain, seolah dengan melakukan hal itu adalah kepuasan tersendiri bagi mereka. Ketika pemain mencetak skor, suara supporter begitu terdengar lebih bersemangat lagi.
“Ini yang gue suka dari menonton pertandingan.” Ule bebicara dengan semangat. “Gue bisa meluapkan apapun dengan cara seperti ini. Berteriak pun nggak akan ada yang ngelarang.” Senyum gadis itu bahkan terlihat cerah sekali dan itu membuat kedua temannya yang mendengarnya saling pandang. Libra dan Ersya memang menyetujui dengan apa yang dikatakan oleh temannya barusan, karena mereka benar-benar merasakan betapa menjadi supporter tim adalah menyenangkan. Libra bukannya tak pernah menonton ini sebelumnya, tapi memang tak selalu mengikuti.
Libra kembali menatap ke depan karena pertandingan masih berlangsung. Bisa gadis itu lihat jika kedua tim benar-benar ingin memenangkan pertandingan persahabatan ini. Satu tembakan dari Virgo masuk ke dalam ring dan menimbulkan keriuhan yang luar biasa. Virgo pun langsung memutari lapangan sebagai uforia kebahagian yang dirasakannya.
Entah sengaja atau tidak, lelaki itu menatap Libra yang Libra pun juga telah menatap kearah Virgo. Virgo menaikkah alisnya dengan bibir tersungging seringaian tipis. Libra tak bisa melakukan apapun kecuali hanya diam dengan mata masih menatap lelaki itu. Bahkan ketika Virgo sudah kembali melajutkan permainannya dia masih terdiam.
Dengan badan yang penuh peluh, rambut yang basah karena keringat, membuat Virgo terlihat lebih menawan. Bintang di lapangan, bersinar terang seolah tak ada hal apapun yang bisa meredupkan sinar itu. Virgo benar-benar sanggup menawan hati semua orang.
Pertandingan selesai, skor yang didapatkan hanya berbeda 1 angka, dengan kemenangan di tim Virgo. Ada senyum tipis yang diberikan kepada suporternya ketika dia dan timnya membungkuk untuk mengatakan terima kasih secara tak langsung. Hal itu memang selalu dilakukan oleh Virgo dan team ketika kemenangan itu mereka dapatkan. Bagaimanapun, suporter mereka sudah memberikan dukungan kepadanya dan tim agar mereka bisa melakukan yang terbaik.
Yang dilakukan pertama kali ketika menang adalah, makan-makan. Virgo dan teman-temannya merayakan kesuksesan mereaka dengan cara mengisi perut mereka dengan kenyang sebelum mereka pulang ke rumah masiing-masing.
Alih-alih sebuah kafe dengan pelayanan yang bagus, mereka lebih memilih tempat biasa di depan sekolah mereka. Hanya sebuah warung sederhana dengan penjualnya adalah sepasang suami istri paruh baya yang pasti sudah mengenal mereka saking seringnya mereka nongkrong di sana setelah pulang sekolah.
Ada tanah agak luas di belakang warung itu dan di sanalah mereka merayakan kemenganan itu. Beraslkan tikar, di bawah pohon meja pendek dengan berbagai pesanan, itu sudah lebih dari cukup untuk mereka. Bahkan jika ada yang tahu hanya dengan seperti itu saja mereka bersenang-senang mereka tak akan pernah peduli.
“Selamat makan!” Mereka mengatakan dengan berbarengan dengan suara yang bisa dibilang keras. Libra dan kawan-kawan tentu juga ada di sana karena Sam yang mengundang mereka ikut serta.
“Gue suka cara mereka.” Ule berkomentar. “Biasanya, mana mau anaka-anak basket merayakan kemenangan mereka di tempat super sederhana seperti ini.” Begitu katanya sambil memakan makanan yang sudah dipesannya. Mie kare dengan irisan cabe ditambah taburan ayam goreng di atasnya.
“Ini beneran nikmat.” Lanjutnya. Tak mempedulikan seandainya teman-teman Virgo ilfil kepadanya. Libra juga memesan makanan yang sama dengan Ule dan dia juga menikmatinya.
“Gue telat.” Virgo yang baru datang bersama seorang gadis menarik perhatian Libra dan kawan-kawannya kecuali tim dari lelaki itu.
“Jangan mojok aja lah, bro.” Virgo menyeringai sambil menaik turunkan alisnya seolah membenarkan apa yang menjadi dugaan dari teman-temannya.
Duduk di depan Libra, melihat makanan yang berada di depan gadis itu kemudian berkomentar. “Enak?” Libra menatap Virgo seolah lelaki itu berasal dari planet lain dari luar angkasa. Jawabannya pun tertahan di dalam tenggorokan.
“Go!”
“Hem.” Go, adalah panggilan dari seorang gadis yang tadi datang bersama Virgo.
“Gue mau sosis punya lo dong. Satu aja nggak banyak-banyak.” Katanya sambil mendekatkan tubuhnya di samping Virgo. Kini bukan hanya Libra yang seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ketiga teman gadis itu juga sama herannya.
“Elah, Yan, mepet terus pantang menyarah.” Bukan lagi menjadi rahasia jika Yana, nama gadis itu, menyukai Virgo sampai dia rela menjadi bagian dari tim basket dengan Virgo menjadi kaptennya untuk mengurus apapun keperluan dari tim tersebut.
Dan ketika Edo mengatakan hal itu, mereka semua terkekeh sambil menggelangkan kepalanya. Ada yang mendukung jika Virgo menjalin hubungan dengan Yana, tapi ada juga yang hanya bersikap biasa saja. Yana memang sudah menebalkan muka dengan sindiran seperti itu, baginya itu sudah biasa.
“Eh, ati-ati, Yan, lo bisa dibantai ceweknya kalau lo mepet-mepet kaya gitu.” Baro menimpali, “Yang di depan Virgo itu pacarnya, sekarang dia diem, tapi dia bisa jadi monster kalau cemburu.” Bukan hanya Yana yang tersedak oleh sosis yang dimakannya hasil dari meminta dari Virgo, Libra yang berada di depan Virgo juga sama.
Minuman yang diberikan oleh Virgo untuk Libra langsung diteguk habis oleh gadis itu. Wajahnya memerah entah karena malu atau rasa sakit karena sedakan itu. Matanya menatap Virgo sebagai tanda jika dia meminta penjelasan. Bukannya mengatakan sesuatu, Virgo justru menyeringai tanpa mengatakan apapun.
Yana bahkan menatap Libra terang-terangan dengan ekspresi kaget yang merasa tidak perlu disembunyikan. Reaksi ketiga teman Libra? Tentu saja biasa saja, karena memang mereka sudah mengetahui semua. Ya, berbeda dengan seorang lelaki yang tidak semua urusan mereka diceritakan kepada teman-temannya, seorang perempuan akan melakukan itu. Jadi, ketiga teman Libra dengan santai melanjutkan makanannya tanpa mau repot-repot kaget meskipun itu hanya berakting.
Bahkan suara siulan juga langsung terdengar untuk menggoda Virgo. “Jadi, Yan, gimana kelanjutan kisah lo sama Virgo?” Pertanyaan kurang ajar itu keluar dari salah satu anggota tim dari Virgo sebagai godaan yang menyebalkan.
“AELAH, dipelototin lagi Libranya.” Rai mengetuk sendok di atas meja. “Tahu gue kalau Libra cantik, nggak usah iri gitu ah.” Lagi-lagi kekurang ajaran itu keluar dari bibir teman Virgo. Bahkan Libra yang akan menyanggah ucapan teman-teman Virgo saja hanya bisa kembali teridiam.
“Gue rasa kisah gue sama Virgo nggak akan berakhir sampai di sini karena Virgo udah punya pacar.” Yana menunjukkan keberaniannya. “Kalau gue kalah di wajah, gue nggak akan kalah di perhatian dan kasih sayang. Gue tahu gue punya itu untuk Virgo.” Sorakan itu tak lagi bisa dihindari. Yana, bukan main sekali dengan mengatakan hal tersebut. Kepercayaan dirinya melampaui batas.
Libra? Dia yang merasa tak terima dengan itu, mengernyitkan dahinya. Dia memang tidak, atau mungkin belum memiliki hubungan apapun dengan lelaki di depannya itu. Tapi mendengar ucapan Yana, sepertinya dia merasa perlu menjawab.
“Mbak bener-bener perempuan luar biasa.” Virgo yang melihat Libra berbicara semakin menikmati ‘drama’ hasil pancingan dari mulut lemes kedua sahabatnya itu. “Mbak nggak berniat jadi pelakor kan?”
“Wow!” Itu adalah seruan dari para lelaki di sana. Mereka sambil mengunyah, sambil menatap ke meja di mana ada pemeran utama dalam drama sore ini.
“Jujur aku nggak suka mbak bilang kaya gitu, itu beneran kaya bilang, ‘Hei, gue punya duit banyak loh, mau beli baju lo’ kepada orang yang memakai baju bagus tapi sayangnya baju itu nggak ada niatan untuk dijual karena memang baju itu masih melekat di tubuh orang tersebut. Itu aneh banget sih menurutku.” Ada kekehan mengejek dari bibir Libra dan sambil menatap Yana.
Yana tak bisa mengatakan apapun mendengar ucapan Libra. Dia hanya bisa berusaha santai tapi sebenarnya sangat geram dengan gadis di depannya. Dia bahkan menatap gerak-gerik Libra dengan matanya seolah bertanya kepada dirinya, magnet apa yang menghubungkan Virgo dan Libra sampai Virgo mencintai gadis itu.
Libra melihat jam tangan di pergelangan tangannya. “Udah hampir magrib.” Dia mengatakan itu sambil menatap teman-temannya untuk memberi kode agar mereka segera pergi dari sana.
“Kita balik?” bahkan ketika mengatakan itu pun matanya sambil memberi isyarat jika mereka harus mengatakan ‘iya’ agar mereka bisa segera pergi dari sana.
“Iya, kita sepertinya harus balik deh.” Ersya yang menjawab. “Thank’s udah undang kami ke acara kalian. Kalian juga luar biasa sekali pas di lapangan.” Gadis itu bahkan berdiri ketika mengatakan itu.
“Yuk, Li.” Ajaknya kepada Libra. Dan bukan hanya Libra yang berdiri, Riska dan Ule juga melakukan hal yang sama.
Dan diikuti oleh Virgo. “Guys, terima kasih untuk hari ini, kalian luar biasa sekali di lapangan tadi. Dan terima kasih atas kemenangan kita.” Itu adalah kata sederhana, tapi tepuk tangan dan acungan jempol diberikan teman-temannya untuk dirinya. Setelah mengatakan itu, dia keluar bersama keempat temannya dan juga Libra dan kawan-kawan.
Membiarkan apapun spekulasi yang mungkin sedang orang-orang itu bicarakan mengenai dirinya. Dia tidak pernah mempedulikan apa kata orang. Hidupnya baik-baik saja itu sudah cukup, dia tak akan mempedulikan apapun pandangan orang lain untuk dirinya.
*.*
“Lo tahu nggak ekspresinya Yana? Pucat pasi bro.” Begitu kata Sam sambil tertawa.
“Kalian nggak suka ya sama Yana?” Riska sepertinya ingin mengulik sesuatu dari Sam. Mereka berjalan kembali ke sekolah untuk mengambil kendaraan mereka karena memang sengaja meninggalkannya di sana.
“Bukan nggak suka sih, tapi gimana gitu kalau lihat dia deket sama Virgo.”
“Tapi kalian nggak perlu lakuin itu seharusnya.” Libra langsung mengatakan unek-uneknya ketika pembicaraan mereka mengangkat tema tentang kejadian barusan. “Dia pasti malu kalian ledek begitu.”
“Tapi lo juga ikut-ikutan loh, Li.” Rai mengingatkan Libra. “Tapi jujur, lo gercep juga ya, salut gue.” Acungan jempol itu langsung diberikan Rai kepada Libra.
Libra tak menjawab. Dia hanya ikut melangkah santai namun sedang memikirkan seandainya dia berada di posisi Yana, entah akan dia letakkan di mana wajahnya sangking malunya.
“Tapi gue akan dukung kalian kalau kalian beneran mau menjalin hubungan.” Edo memulai memancing sepertinya. “Kalau dilihat-lihat, kalian cocok kok.” Begitu katanya dengan ekspresi yang santai.
Virgo hanya menggelengkan kepalnya mendengar itu, seandainya sahabat-sahabatnya itu tahu jika dia dan Libra sebenarnya memiliki ‘hubungan’ entah keramaian apa yang aka terjadi. Karena itu dia sama sekali tak ingin menganggapinya.
“Gue pulang duluan ya, terima kasih sudah ditraktir dan diajak nonton yang seru.” Tak sopan rasanya kalau tidak mengatakan terima kasih kepada orang yang sudah memberimu sesuatu yang menarik.
“Sama-sama. Kalian hati-hati. Kalau nyetir jangan ngebut.” Itu adalah pesan Edo. Riska yang memilih pulang bersama teman-temannya membuat Sam harus menyetujui apa yang diminta Riska.
Mobil sudah keluar sekolah Virgo dan kelima lelaki itu hanya menatap mobil itu dalam diam. “Menurut lo, Libra itu gimana, Vir?” Sepertinya Rai sedang merasa penasaran sekarang.
“Cantik.” Jawaban santai itu membuat si penanya mencibir Virgo.
“Kalau itu sih nenek ompong juga tahu kali. Maksud gue, dia masuk ke dalam tipe lo nggak?” Virgo menyeringai dan meninggalkan teman-temannya.
“Biar tipe gue menjadi rahasia gue.” Virgo berjalan mundur ketika mengatakan itu untuk ‘menggoda’ teman-temannya. Dan hal itu membuat Rai membuka sepatunya dan melemparkan ke arah Virgo. Itu membuat Virgo tertawa. Namun tak menanggapi, dia berlari kecil untuk segera mengambil motornya. Membiarkan saja apa yang dilakukan teman-temannya.
*.*