Blind Love

Blind Love
Episode 41



Melemparkan tasnya ke atas ranjang, Libra berusaha membasahi tenggorokannya dengan ludahnya namun rasa kering itu masih terasa nyata dan menyakitkan. Mencengkram erat sandaran kursi, Libra berusaha mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh. Semua itu jelas sia-sia, karena tidak terasa cairan bening itu benar-benar keluar dari netranya.


“Vir!” panggilnya kepada satu nama yang berhasil menyakiti hatinya dengan kata-katanya. Libra merasa kakinya tak bisa lagi menyangga tubuhnya untuk berdiri, maka dengan sangat menyedihkan dia berjongkok dan berpegangan pada kaki kursi. Meremas dadanya dan memukulnya atas usahanya agar hatinya tak merasa sakit.


Semua itu hanya hal yang sama sekali tak akan menghasilkan apapun. Menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan yang berada di atas lututnya, dia meraung di sana. Bukan jenis raungan keras, karena dia tak ingin orang-orang tahu dia semenyedihkan ini sekarang.


“Kenapa kamu melakukan ini ke aku, Vir? Kenapa kamu berubah menjadi seperti ini? Apa kata sayang kamu bilang waktu itu sudah hilang sama sekali? Semudah itu?” pertanyaan itu dilayangkan Libra kepada dirinya yang jelas-jelas sama sekali tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut.


Hati gadis itu terasa lemah dan Lelah. Maka lebih menyedihkan lagi, dia meringkuk di bawah kursi dan memeluk dirinya sendiri. Sampai terlelap di alam mimpi.


Sedangkan Virgo yang masih ada di lantai bawah bersama teman-temannya, moodnya benar-benar tak bisa tertolong lagi rasanya. Tugas kelompoknya sudah terselesaikan dengan baik, dan dia bersiap untuk pulang. Sayangnya, tak akan semudah itu melakukannya.


Karena baik Tere maupun Edo tak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja. Maka setelah satu temannya yang anggota kelompoknya pamit untuk pulang, mereka beraksi.


“Lo kenapa jadi begitu sama Libra, Vir?” Edo yang bertanya lebih dulu ketika lelaki itu berdiri untuk segera balik dari kos tersebut, “lo tahu kalau itu akan menyakitkan banget bagi Libra kan?”


Virgo menatap Edo dengan datar. Namun sama sekali tak merespon ucapannya. Karena dia sudah berdiri untuk mengikuti temannya yang tadi lebih dulu pergi. “Biar itu jadi urusan gue. Lo nggak perlu memikirkan apa yang gue lakukan.” Katanya tak kalah datar.


Tere bereaksi, “Kalau memang lo nggak bisa sama dia, seenggaknya jangan buat dia sakit hati, Vir. Karena lo nggak pernah ada di sana ketika dia menangis dengan menyedihkan. Lo memang nggak memiliki kewajiban buat membahagiakan dia, tapi lo nggak berhak untuk menyakiti dia.” Tere mengatakan itu dengan nada rendah tapi mengena di hati Virgo.


Tapi Virgo justru menanggapi dengan santai, “Terima kasih atas sarannya, gue balik dulu.” Katanya dan tak perlu lagi berbasa-basi dia keluar dari tempat itu dan meninggalkan Tere yang mengomel karena tindakan yang dilakukan kepada Libra. bahkan Edo pun menggelengkan kepalanya keheranan yang luar biasa.


Virgo memacu motornya dengan kencang seolah dia tak memiliki waktu lagi untuk melakukan sesuatu. Virgo sepertinya memang kehilangan kendali dirinya. Perasaan lain muncul ketika Libra tertawa bersama lelaki lain di depannya. Itu sangat buruk sekali baginya, dan dia tak bisa untuk tak marah. Dan karena hal itulah dia melampiaskan kepada gadis itu yang adalah sumber kekesalannya.


Alih-alih pulang ke rumahnya, lelaki itu malah bermain-main di jalanan. Dia terus memacu motornya untuk terus berjalan tanpa berhenti. Inginnya melampiaskan dan membuang rasa marah yang setia bergelayut di dalam hatinya, sayangnya dia tak bisa.


Maka dia lebih dulu berhenti di restoran untuk mengisi perutnya. Lapar tidak dirasakan oleh perutnya, tapi dia ingin sekali menelan banyak makanan. Setelahnya, nanti dia akan pulang dan tertidur karena kekenyangan. Bukankah itu suatu ide yang menakjubkan bukan?


Duduk di salah satu meja di dalam restoran dan memesan makanan. Sebelum masuk ke dalam restoran tadi, dia mengecek dompetnya untuk memastikan jika dia bisa membayar makanan yang dipesannya. Karena tidak lucu kalau aksi marahnya berakhir dengan dia mencuci piring.


“Silahkan, Mas.” Seorang pelayan mengantarkan makanan di hadapannya. Dan dia melihat dengan menyeringai.


“Calon penghuni perutku,” katanya setelah mengatakan terima kasih kepada pelayan tersebut.


Memakan steak daging lebih dulu, dan meresapi betapa nikmatnya makanan tersebut. Tak mempedulikan apapun di sekitarnya dan hanya menikmati saja kudapan yang ada di depannya dengan suka cita.


Steak daging sudah sepenuhnya masuk ke dalam perutnya, dan kini beralih dengan spaghetti. Memakan mie panjang itu dengan tenang dan menambah penghuni perutnya. Dia memang suka sekali makan, tapi biasanya memang tak sebanyak ini. Bahkan saking sibuknya dengan makanannya, dia tak menyadari jika sedari tadi seorang pria paruh baya sedang menatapnya dengan pandangan yang aneh.


Dua makan itu sudah berpindah sepenuhnya di perut Virgo dan damai di dalam sana. Virgo bahkan mengangguk-angguk puas dan langsung memanggil seorang pelayan untuk meminta bill makanan yang dipesannya.


Transaksi selesai, dan memilih untuk kembali ke rumahnya. Sayangnya itu tak bisa langsung terealisasikan begitu saja karena dia terhalang oleh seseorang yang sedari tadi menatapnya.


“Om!” sapanya dengan sopan. Entah takdir seperti apa yang Tuhan berikan kepadanya sampai dimanapun dia selalu mendapati orang-orang ini.


“Ya.” Begitu jawabnya, “sepertinya kamu sedang dalam suasana hati yang baik.” Itu hanyalah dugaan tak berdasar dari lelaki tersebut. Maka Virgo menangguk menyetujui.


“Begitulah. Untuk apa membuat suasana hati menjadi buruk kalau bisa membuatnya terus baik.” Mereka mengobrol di dekat parkiran seolah tempat itu adalah tempat yang paling nyaman yang bisa digunakan untuk mencurahkan segala hal.


“Saya salut dengan kamu, santai sekali kamu menjalani hidup?”


“Untuk apa membebani hidup sendiri, Om,” katanya sambil tersenyum.


“Jadi, selama ini kamu juga tidak memiliki beban ketika berpisah dengan putri saya?” Virgo menatap lelaki itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Bagaimana tidak jika baginya itu adalah pertanyaan yang begitu aneh bahkan dia saja tak pernah berpikir Ardi akan menanyakan hal semacam itu kepada dirinya.


Berhasil menguasai dirinya, Virgo menjawab dengan santai, “Memikirkannya pun, nggak akan merubah apapun. Om nggak akan mengijinkan Libra bersama saya karena saya lelaki berandalan. Om pasti akan mencarikan lelaki yang pasti sesuai dengan keinginan Om meskipun mungkin itu tak akan disenangi oleh Libra.” itu adalah kalimat sindiran sekaligus jawaban yang mewakili hatinya, dulu dia tak banyak bicara dan hanya manut saja dengan apa yang dikatakan oleh ayah Libra tersebut.


Tapi sekarang berbeda. Dia tak akan tinggal diam jika lelaki itu ‘menyerangnya’.


“Baguslah kalau kamu memang memahami cara kerja saya. Saya tidak perlu menjelaskan lagi.”


“Om tahu?” Virgo menatap Ardi terang-terangan tanpa sungkan sama sekali, “Kalau saya tidak bisa mendapatkan sesuatu yang sudah saya cintai begitu dalamnya, saya mampu membuatnya sakit hati sampai siapapun tidak akan bisa menyembuhkannya jika bukan saya orangnya.” Pandangan kaget diberikan oleh Ardi kepada Virgo.


“Dan Om bisa bayangkan sesakit apa hati Libra sekarang karena saya?” Virgo menyeringai seolah menantang lelaki itu dengan terang-terangan, “sayangnya dia tak akan bisa melakukan apapun kecuali diam dan menerimanya. Karena saya tahu, dia masih mencintai saya begitu besar. Seperti saya mencintai dirinya.”


Rahang Ardi mengetat mendengar perkataan lancang dari Virgo, “Dan itu adalah cara saya untuk mewujudkan keinginan Om yang tidak menyukai jika kami bersatu. Dan Om pasti juga tahu kalau kami sekarang berada di kampus yang sama bukan?” alis Virgo terangkat Dengan menyebalkan. “Dan kesempatan saya untuk bertemu dengan dia terbuka lebar sekali. Tapi Om nggak perlu khawatir, karena saya bukan orang yang akan bertindak di luar kendali saya. Libra akan tetap aman dari saya karena saya tidak akan bersatu sama dia selama Om tidak mengijinkan. Tapi putri Om yang saya cintai itu, akan terus merasa sakit hati dengan apa yang akan saya lakukan.”


Virgo menghela napas dan tersenyum, “Sepertinya itu akan sangat menyenangkan. Bukan begitu, Om?” tanyanya dengan lembut seolah dia tak baru saja mengatakan hal yang buruk.


“Om mempunyai cara kerja sendiri, saya pun juga memilikinya,” Virgo tak berhenti untuk menantang lelaki di depannya, “jika seorang ayah mampu menyakiti hati putrinya, maka itu artinya dia memberikan peluang kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama. Bukankah begitu, Om?”


“Saya melarang Libra karena semata demi kebaikannya.”


“Meskipun Libra tak bahagia dengan kebaikan itu?”


“Dia akan mengerti suatu saat nanti.” Virgo mengangguk-angguk seolah sangat paham dengan apa yang dikatakan oleh Ardi, namun hanya wajah mencemooh yang keluar dari sana.


“Oke!” putus Virgo dengan santai, “Om memang tahu yang terbaik bagi Libra, apa yang harus dan wajib dia lakukan. Tapi Om harus lebih memperhatikan Libra, karena tadi, saya sudah membuat luka baru di dalam hatinya. Om harus bisa menyembuhkan luka itu dengan obat terbaik yang Om punya. Tapi saya rasa obat itu tak ada di luar sana, karena saya yang menciptakan luka itu, maka saya jugalah pemilik penawarnya. Karena saya tidak bisa melindungi orang yang saya cintai dari kejahatan diri saya sendiri, maka itulah tugas, Om, untuk melakukannya.”


Bukan hanya rahangnya yang mengetat, Ardi juga mengepalkan tangannya siap untuk menghantamkan kepalan tangannya itu ke wajah tampan Virgo. Tapi sepertinya Ardi memang menahannya. Semua hal itu tak luput dari pandangan Virgo dan dia merasa berhasil mengibarkan bendera perang dengan Ardi.


“Saya permisi dulu, Om. Saya capek sekali. Om hati-hati kalau pulang nanti. Assalamualaikum.” Kemudian berlalu begitu saja dari sana. Ardi yang tak siap dengan serangan yang diberikan oleh Virgo menahan geram yang bergemuruh di dalam hatinya.


*.*


“Lo nggak papa kan?” Tere sudah ada di dalam kamar Libra dan memastikan jika temannya itu baik-baik saja.


“Gue nggak tahu apa yang hati gue rasakan sekarang, Re. Sakit sekali melihat Virgo yang seperti itu ke gue.” Memang tak ada lagi air mata yang keluar karena dia sudah mengeluarkannya siang tadi.


“Dia memang tadi sejak dia datang dan duduk buat mulai diskusi bareng, lebih banyak diam. Tapi gue tahu dia usaha sekali buat tertawa bareng kami. Dan setelah lo datang, semua hal yang dia pendam kaya keluar ke permukaan. Gue juga nggak paham kenapa dia menjadi seperti itu.” Tere berusaha menjelaskan sesuai yang dia tahu.


“Mau jalan-jalan? Biar gue temenin?” Tere tak tega dengan apa yang terjadi dengan Libra. Dia berusaha untuk menghibur sebisanya.


“Gue tadi udah jalan-jalan, gue rasa gue malas.”


“Nongkrong aja di Mc D,” tambah Tere, “atau mau shopping? Beli make up, parfum, atau belanja yang lain?”


Penawaran itu terdengar menggiurkan, maka Libra mengangguk. “Toserba ya?” Tere mengangguk dan meminta agar Libra bersiap-siap karena dia juga akan bersiap-siap juga.


“Pinjam motor siapa?” Libra tahu jika Tere jelas tak membawa kendaraan ke kosnya.


“Arin,” jawabnya dengan santai, “Gue booking ini motor untuk menghibur lo. Nanti gue minta ayah buat kirim motor kesini, biar kita nggak kerepotan kalau mau kemana-mana.” Merepotkan memang jika tak memiliki kendaraan sendiri. Awalnya Libra juga merasa repot jika kemana-mana harus jalan kaki atau menggunakan ojek online, tapi setelah beberapa bulan dalam satu semester ini dijalani, dia sudah terbiasa dengan serba kekurangan anak kos.


Troli sudah di dorong oleh Tere dan mereka siap untuk berbelanja apapun kebutuhan di kos yang sekiranya sudah mulai menipis persediaannya.


Mulai dari deterjen cair, pasta gigi, bahkan sampai barang-barang kecil yang sekiranya dibutuhkan di kos dibelinya. Tak memikirkan jika mungkin belanjaan mereka akan membuat dompetnya menipis. Baginya itu tak masalah sama sekali.


“Wangi nggak?” Libra menempelkan lubang sprey sebuah parfum ke hidung Tere dan meminta pendapatnya gadis itu.


“Wangi. Enak, kaya manis campur seger gitu,” layaknya komentator, Tere mengatakan pendapatnya.


“Oke! Gue ambil ini aja.” Putus Libra, memberikan kepada Mbaknya untuk digantikan menjadi nota merah.


“Mau beli apa lagi ya, Li?”


“Pengen lihat baju-baju,” katanya dan tentu saja mendapatkan anggukan dengan semangat oleh Tere. Dan mereka langsung ke arah di mana baju-baju itu tersusun dengan tapi.


“Wah! Ada diskoN, Li.” Heboh Tere.


Dan dalam hitungan detik, mereka sudah berhasil melupakan apapun yang sedang terjadi sebelumnya, termasuk Libra. meskipun setelah ini nantinya akan terpikir lagi dengan masalahnya, setidaknya dia sudah merasakan senang untuk sekarang ini.


“Li!” Tere datang dengan membawa sebuah sweater panjang berbeda warna namun dengan model yang sama. “Beli ini yuk, kita kembaran.” Usulnya dengan binar mata yang begitu terang.


“Boleh. Ambil lah, gue mau warna coklat ya.” Yang mendapat anggukan dari Tere.


Kalau bukan karena Tere yang memberinya ide untuk melakukan semua ini, maka dia pasti akan tetap diam di dalam kamar tanpa melakukan apapun dan merenung sendirian.


Dua kantong sudah ada di tangan mereka setelah keluar dari toserba. Dan itu sangat memuaskan sekali bagi seorang perempuan. “Mau kemana lagi?” Tere menanyakan lagi, siapa tahu temannya itu masih ingin berjalan-jalan keluar.


“Langsung pulang aja,” kata Libra. Dia Lelah dan ingin beristirahat.


Sayangnya lagi-lagi itu tak akan teralisasikan, karena entah karena angin apa, sang ayah datang dengan wajah kakunya.


*.*