
Teman-teman Virgo datang setelah mendengar jika dirinya di rawat di rumah sakit.
“Lo beneran kaya orang yang habis tawuran, Vir.” Itu adalah Sam yang berbicara. Karena sedang liburan panjang, makan ada Riska juga di sana. Jadi Tere pun sudah berkenalan dengan gadis itu.
“Ya, namanya juga cowok. Nggak ada bengkak nggak rame.”
“Kampret.” Rai mengumpati lelaki itu karena mendengar jawaban konyol dari temannya itu. Virgo terkekeh ketika melihat teman-temannya mencibir dirinya.
“Gue akan temui Libra di rumahnya. Gue rasa dia benar-benar hancur.” Riska tahu pasti jika temannya itu sedang mengalami hari yang sulit setelah mendengar cerita dari Virgo.
Sam mengelus pundak kekasihnya itu sebagai dukungannya. “Nanti biar ku antar.” Katanya dengan sabar.
“Gue juga mau ikut.” Tere yang berbicara. Teman tersayang Tere kini sedang merasa sedih, dan dia perlu menghiburnya.
Virgo diam mendengarkan apa rencana yang akan dilakukan oleh teman-temannya. “Terima kasih.” Katanya, “Tolong sampaikan kepada Libra, semua ini akan berlalu. Gue akan berusaha untuk mencari cara untuk mengakhiri konflik ini.”
“Lo manis banget sih, Vir.” Tere menatap lelaki itu dengan penuh pujian di matanya. Dan Edo meraupkan tangannya ke wajah kekasihnya.
“Nggak usah berlebihan kenapa, Yang. Buat orang keki aja.” Tere nyengir mendengar teguran dari kekasihnya dan berkata, “Kamu yang terbaik,” sambil bergelayut manja di lengan lelaki itu.
Adegan sok romantis itu hanya mendapatkan dengusan dari semua orang di sana. Dan membuat Virgo merindukan Libra, gadisnya yang manja dan terkadang suka sekali membuatnya menjadi sebal. Tapi bagaimanapun dia mencintai gadis manja itu.
“Vir!” panggilan itu keluar dari bibir Baro, “kita balik lah ya. Besok kita main lagi.” Lagi Pula waktu memang sudah sore dan mereka harus melakukan hal lain.
“Thanks udah dateng, gue sebenarnya udah nggak betah di sini. Tapi gimana lagi.”
“Lo jangan keluar minta pulang sampai bener-bener sembuh,” itu adalah peringatan yang Baro berikan kepada temannya. Si calon dokter itu memang sudah menunjukkan aura menjadi seorang dokter.
“Gue tahu calon dokter,” jawab Virgo dengan santai. Mendapatkan kekehan dari teman-temannya yang lain, bukan karena itu hal yang lucu, tapi karena ekspresi mengejek Virgo yang benar-benar menggelikan.
Ketika semua teman-temannya sudah keluar dari kamarnya dan kembali pulang, maka dengan kesendirian itu Virgo memikirkan tentang pernikahan yang seandainya benar-benar terjadi antara dirinya dan juga Libra. Akan segempar apa dunia persilatan mendengar berita tersebut.
Namun pikirannya tak bisa dikendalikan sama sekali. Rumah minimalis di perumahan yang tak tergolong mewah. Kemudian di waktu senggangnya selesai kuliah dia bekerja. Pulang bekerja dia sudah ditunggui Libra di rumah. Sedangkan Libra sendiri berusaha keras untuk membuat masakan yang enak namun terasa hambar. Tawa dan canda selalu terjadi di dalam keluarga kecilnya bersama Libra.
Tak terasa dia melebarkan bibinya karena senyuman. Hanya sebuah bayangan, tapi terasa menyenangkan.
Sisi hatinya yang lain mengingatkan jika khayalannya itu tak akan berjalan sesuai kenyataannya. Maka senyuman itu hilang. Benar, tak kita menghayal sesuka kita, tapi jika kenyataan itu tak sejalan, maka kekecewaan itu akan terjadi.
Pikirannya yang melayang memikirkan kekasihnya itu tiba-tiba dia ingin sekali menghubungi gadis itu. Hanya mencoba peruntungan jika memang gadis itu masih mau menerima panggilannya. Karena setelah ‘labrakan’ yang dilakukan oleh ibunya, mungkin Libra merasakan kejengkelan yang luar biasa.
Sayangnya dia harus menelan pil pahit ketika dia mencari ponselnya namun tak ditemukannya ponsel itu. Dia ingin menanyakan kepada ibunya tapi ada beliau di sana. Maka jalan satu-satunya adalah dengan menunggu sampai ibunya datang ke sana.
Terhitung ketika dia masuk ke rumah sakit, dia tak memegang ponsel miliknya sama sekali. Dia juga lupa akan benda tersebut ketika rasa sakit di wajahnya itu terasa seperti di sayat-sayat. Maka memutuskan kembali tidur ketika dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.
*.*
“Libra ada, Tante?” Riska benar-benar datang ke rumah Libra seperti apa yang dikatakan kepada Virgo tadi. Sepulangnya mereka dari rumah sakit, mereka mampir ke rumah Libra terlebih dahulu.
“Ada,” Jihan tersenyum, “Masuk, yuk!” empat orang yang datang ke sana. Sam, Edo, Tere dan Riska masuk ke dalam rumah Libra. Yang lainnya entah pergi kemana karena mereka memang sudah mengatakan jika tidak bisa ikut ke rumah Libra.
“Duduk dulu, biar tante panggilkan.” Kemudian berlalu dari sana dan meninggalkan empat tamunya.
Sayangnya, ibu Libra kembali ke ruang tamu tanpa Libra. perempuan itu pucat pasi ketika mengatakan, “Libra nggak mau bangun. Tolong tante.” Dan empat orang itu langsung berlari mengikuti Jihan ke kamar Libra.
“Li! Bangun.” Riska menggoyangkan tubuh Libra namun tak ada rempon sama sekali. “Li!” panggilnya lagi dengan wajah panik.
“Yang!” giliran Sam yang mencoba membangunkan Libra namun sama sekali tak berhasil, “Kita bawa saja ke rumah sakit, Tante.” Aggukan itu langsung diberikan oleh Jihan. Sam langsung mengangkat gadis itu ke dalam gendongannya dan dengan cepat turun ke lantai dasar. Membaringkan Libra di kursi belakang, dan paha Riska lah yang menjadi bantal libra.
Sam membawa Libra ke rumah sakit yang sama dengan Virgo dirawat tanpa meminta persetujuan dari siapa pun. Bahkan dia tak meminta pendapat kepada ibu Libra dulu mengenai itu. Jihan ikut di mobil Edo yang memang berada di belakang mereka.
“Kamu serius akan bawa ke tempat Virgo, Yang?” Riska hanya memastikan saja.
“Iya. Kalaupun mereka nggak bisa ketemu di luar sana, kita bisa mencari cara untuk mereka bisa ketemuan di rumah sakit.” Tak ada dari sahabat Virgo yang tak mendukung kawannya itu bersama Libra. Maka apapun yang tak bisa Virgo lakukan sendiri maka akan mereka lakukan untuk membantu Virgo.
Dan sekarang ini adalah contohnya. Sam dengan tanggapan langsung memiliki rencana ketika dirasa dia memiliki peluang untuk bisa membantu Virgo dan Libra.
“Tolong, Sus.” Sam mencari petugas UGD untuk segera membantunya membawakan ranjang rumah sakit agar Libra bisa segera ditangani.
Mereka berdua akan masuk ke dalam namun Sam mencegat tangan Riska. “Kamu masuk dulu, biar aku tunggu tante di depan.” Katanya untuk membagi tugas mereka. Riska mengangguk dan langsung menyusul Libra yang sudah dibawa masuk ke dalam ruangan UGD.
Libra adalah korban dari sifat kekeras kepalaan dari ayahnya. Bahkan nafsu makannya benar-benar berkurang sedangkan pikirannya terus berputar tentang masalah yang sekarang ini sedang dihadapi. Tubuhnya lemas, tak ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya dan alhasil yang terjadi adalah pingsan ketika tak ada orang yang tahu.
Gadis itu memang sebelumnya suka sekali makan, tapi setelah tragedi ciuman itu terjadi, maka dia benar-benar kehilangan rasa laparnya. Meskipun seharian dia tak makan tak terasa lapar sama sekali.
“Gimana keadaan Libra, Nak?” ibu Libra turun dari mobil dan menemui Sam dengan wajah paniknya.
“Sudah ditangani oleh dokter, Tante. Tante masuk saja, nanti biar saya yang mengurus semuanya.” Kelegaan terlihat di wajah perempuan paruh baya itu.
“Terima kasih, Nak,” matanya berkaca-kaca ketika mengatakan hal itu, “tante masuk dulu.” Pamitnya kepada Sam. Edo dan Tere memang belum sampai di sana karena sedang memarkirkan mobilnya.
“Maaf, boleh saya bertanya?” begitu katanya yang mendapatkan senyum dari petugas di sana dengan ramah.
“Boleh, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Ruangan VIP di samping kamar 305, apa ada yang menempati? Ada teman saya baru saja masuk ke UGD, sedangkan pacarnya ada di kamar tersebut, karena itu dia ingin ada di dekat dengan kamar pacarnya.” Bual Sam dengan sangat meyakinkan.
“Cinta sekali kayaknya mereka, Mas?”
“Soalnya sebentar lagi mereka akan menikah, jadi nggak mau terpisah.” Sam memang ahli sekali dalam mengarang. Dan sialnya lagi, petugas itu mempercayai saja bualan Sam.
“304 ada yang menempati, dan 306 juga ada. Tapi di 307 kosong. Hanya berjarak satu kamar, mungkin itu bisa, Mas.”
“Boleh.” Virgo mengangguk tanpa berpikir lagi. “Setelah keterangan administrasinya keluar, kami akan mengurusnya. Tapi tolong agar itu tidak ditempati orang lain ya, Mbak.” Petugas tersebut mengangguk dan Sam pergi dari sana untuk kembali duduk di kursi yang berjejer di sana.
Dan ternyata Edo dan Tere juga sudah ada di sana. Kedua orang itu menatap Sam dan menggelengkan kepalanya dengan dramatis. “Lo beneran cerdas sekali. Gue bangga sama lo,” Edo berkata seperti itu entah untuk benar-benar ingin memuji atau hanya bualan saja.
Tapi Sam pun tak mempedulikan perkataan lelaki itu. “Kita harus membantu mereka berdua, gue nggak mau mereka terus-terusan bersedih karena hal yang sama.” Sam memang patut untuk diberikan julukan si setia karena itu.
Riska membawa lembaran administrasi yang diberikan oleh petugas yang menangani di bagian ruangan dalam. Sam mendekati kekasihnya itu dan memberitahu rencananya. “Tante nggak komentar tentang kamar rawat inap kan?” tanyanya.
“VIP.” Riska menjawab sambil menatap kekasihnya, “Emang kenapa?”
Sam yang tersenyum membuat Riska bingung. “Biar aku yang urus. Kamu duduk aja di sana,” tunjuknya kepada Edo dan juga Tere. Riska kemudian mengangguk dan menyerahkan lembaran itu kepada Sam untuk mengambil alih.
*.*
“Terima kasih, kalian sudah membantu tante mengurus semuanya.” Libra sudah di dalam rawat inap. Semua sesuai rencana, Libra mendapatkan kamar yang diinginkan oleh Sam.
“Sama-sama, Tante.” Libra sudah siuman tadi, tapi kembali tertidur karena rasa kantuknya seperti tak bisa dicegah sama sekali.
“Tapi kami harus pamit dulu, Tante. Sudah hampir malam.” Edo yang berpamitan kepada perempuan itu.
“Nggak makan dulu? Biar tante belikan makan.”
“Nggak perlu, Tante.” Tere yang berbicara. Mana mungkin mereka akan menerima tawaran tersebut, sedangkan terlihat sekali kesedihan ibu Libra tersebut. Setelah mereka pergi dari sana, Jihan mendekati ranjang putrinya dan mengelus rambut Libra dengan lembut. Mengecup dahi putrinya dan setetes air mata keluar.
“Maafkan mama karena belum bisa melakukan apapun.” Bisiknya dengan miris. Menunggui anaknya sendiri tanpa menghubungi dan memberitahu suaminya jika putri mereka berada di rumah sakit. Karena perempuan itu yakin jika suaminya pasti akan tahu dari asisten rumah tangganya.
Dan benar saja, ketika malam menjelang, Ardi datang dengan wajah yang terlihat khawatir.
“Bagaimana keadaannya?” katanya bertanya kepada sang istri.
“Kamu bisa lihat sendiri keadaannya.” Jawabnya dengan suara datar yang membuat Ardi menatap istrinya dengan kening mengernyit. Lelaki itu pastilah paham jika istrinya masih marah kepadanya.
“Kemarahan kamu tak akan berarti apapun buatku,” kata Ardi dengan congkak.
‘’Kalau begitu teruslah seperti itu dan buat Libra lebih menderita lagi dibandingkan sekarang.”
“Seiring berjalannya waktu, dia akan mengerti dan akan berterima kasih karena aku melakukan ini.”
Jihan berdecak sinis, “Kamu terlalu percaya diri sekali sepertinya. Atau justru dia akan menghindari kamu sampai nanti,” jihan tak ingin lagi berdekatan dengan suaminya karena setelah itu dia pergi ke sofa dan duduk di sana. Tak mempedulikan jika Ardi tengah menatapnya dengan tajam.
Libra bangun ketika perutnya terasa lapar. Sayangnya rasa lapar itu berbanding terbalik dengan mulutnya yang malas mengunyah.
Di atas meja nakas, sudah ada beberapa makanan sehat yang dia bisa tahu ada salah satunya dari rumah sakit tersebut.
“Kamu udah bangun?” suara itu terdengar seperti angin surga bagi Libra. Wajahnya mendongak dan mendapati Virgo ada di depannya. Libra tak mempercayai penglihatannya, maka dia menggelengkan kepalanya barangkali kotoran yang ada di kepalanya itu bisa rontok.
“Kamu nggak perlu seperti itu karena aku bukan ilusi.” Kata Virgo yang sudah mendekat dimana Libra berada, “Kenapa kamu masuk rumah sakit? Sam bilang kamu kekurangan asupan makanan, kamu nggak makan?”
Bukannya menjawab, Libra malah melayangkan tangannya ke wajah Virgo untuk mengelus luka-luka yang masih begitu nyatanya di sana. “Kamu benar-benar ada?” katanya dengan tatapan kosong.
“Iya, aku di sini. Aku di rawat di samping kamarmu.”
“Boleh aku peluk kamu?” Libra ingin sekali mendekap Virgo, tapi mengingat apa yang dikatakan oleh ibu lelaki itu membuatnya takut.
Tanpa banyak kata, Virgo memeluk gadis itu dan mengelus punggung gadis itu. “Maafkan aku, sudah memberikan kesakitan luar biasa bagi kamu.” Virgo sampai saat ini memang merasa masih sangat bersalah karena kejadian waktu itu yang mengakibatkan mereka kembali di jauhkan.
“Bagaimana bisa kamu masuk kesini? Dimana mama?” jelas saja Libra penasaran karena hal itu.
“Sam ada di luar. Dia lah si cerdik yang membuat rencana ini. Dia pula yang membuat kita berada di kamar bersebelahan.” Bukannya pulang ke rumah setelah berpamitan dengan ibu Libra, Sam malah kembali ke kamar Virgo yang awalnya muncul kekagetan di wajah lelaki itu. Namun setelah Sam menceritakan semuanya, Virgo barulah paham jika Sam melakukan semua ini agar dirinya bisa menemui Libra dan saling berbicara satu sama lain.
Dan seperti mendapatkan angin segar ketika tubuh berkeringat. Virgo mengangguk dan menyetujui apa yang Sam rencanakan.
*.*