
Jihan menggandeng dua cucunya untuk masuk ke dalam rumahnya. Ini adalah kali pertama bocah-bocah itu datang ke kediamannya setelah terakhir kali mereka datang kesana bersama orang tuanya beberapa tahun yang lalu. Mereka lebih sering datang ke rumah Firman karena sebuah alasan yang tentu saja sudah diketahui. Jihan pun juga tak pernah mengajaknya untuk datang ke rumahnya. Namun kali ini entah kenapa dia meminta izin kepada Virgo dan Libra untuk melakukannya.
Dia juga mengatakan kepada kedua besannya. Awalnya mereka berdua, maksudnya Firman dan Sintya memang tak menyetujuinya karena Ardi, tapi Jihan meyakinkan mereka jika tak akan terjadi apapun kepada dua bocah itu. bagaimanapun Ardi tetaplah kakeknya, dia bisa memukul Virgo sampai masuk rumah sakit, tapi tak akan mungkin melakukannya kepada Al dan El.
“Selamat datang!” Jihan tahu jika sebentar lagi suaminya akan segera kembali dari kantor, karena itulah dia ingin membuat lelaki itu terkejut dengan kedatangan cucu-cucunya.
Kedua bocah itu berjalan pelan karena masuk ke dalam rumah yang bagi mereka adalah rumah asing. Keduanya saling berpegangan tangan setelah Jihan melepaskan pegangannya.
“Ini rumah Oma, Sayang. Kalian belum pernah kesini kan?” Jihan berjongkok di depan dua bocah itu dan meyakinkan jika rumah asing ini tak akan menyimpan bahaya.
“Gusti, ini si kembar, Buk?” Bibi datang dari arah dapur ketika mendengar suara Jihan. Asisten Jihan itu mendekat dan melihat bagaimana wajah bocah-bocah itu, “Lucunya,” perempuan itu tak tahan untuk tidak mencolek pipi Al dan El.
“Mau nginap di sini, Buk?” tanyanya masih dengan menatap si kembar yang masih diam sejak tadi.
“Kayaknya enggak lah, Bik, nanti biar dijemput sama Libra.”
“Udah lama Non Libra nggak datang ya, Bu,” perempuan yang sudah bekerja dengan orang tua Libra sejak Libra kelas enam SD itu memang sudah mengetahui masalah keluarga yang dihadapi oleh majikannya.
“Ya, karena di rumah ini ada singa-nya, Bik. Virgo aja udah capek kesini.” Bibi hanya terkekeh saja ketika Jihan mengatai suaminya meskipun secara tak langsung.
Jihan kembali menggandeng cucu-cucunya agar mereka tak terus berdiri dengan bergandengan tangan sejak tadi. “Bik, tolong ambilkan mainan ya,” Jihan memang sudah menyiapkan banyak mainan untuk persiapan jika mereka datang ke rumahnya.
Bibi menggelar karpet di tengah ruangan keluarga dan meletakkan mainan kesana agar si kembar bisa segera bermain. Jihan ikut duduk di karpet dan menemain cucu-cucunya bermain. Al dan El langsung tenggelam dengan dunia mereka. Al yang memainkan mobil remotnya, sedangkan El bermain boneka dan masak-masakan.
“El nunpan mobil Al.” Bahasa cadel El selalu membuat orang yang mendengarnya gemas. Bahkan mengatakan numpang saja belum jelas.
“Abang, Dek.” El memang tak mau jika diminta untuk memanggil Al dengan ‘abang’ tambeng memang bocah itu.
Bahkan ucapan Jihan sama sekali tak dihiraukan. Jihan geleng-geleng kepala melihat kekeras kepalaan cucunya itu.
Membiarkan mereka bermain, Jihan ke dapur untuk membuatkan susu dan kudapan. Jangan sampai bocah-bocah merasa lapar ketika di rumahnya. Perempuan itu sibuk dengan kegiatannya ketika Ardi merasa jantungnya seperti melompat saat melihat dua bocah yang dia sangat tahu jika mereka adalah cucu-cucunya.
Lelaki itu diam di tengah ruangan sambil menatap si kembar yang sedang asyik dengan kegiatannya. Bahkan Al dan El sama sekali tak menyadari jika ada orang datang dan sekarang sedang menatap ke arahnya.
“Mamam dulu, cucu-cucu Oma.” Jihan sudah membawa dua botol susu dan juga kudapan yang dibawanya menggunakan nampan. Dan seketika perempuan itu menyadari Ardi sedang berdiri di depan pintu yang menghubungkan antara ruang keluarga dengan ruang tamu.
“Kenapa berdiri di sana?” Jihan menyadarkan Ardi yang terpaku. Karena merasa bukan mereka yang diajak berbicara oleh Jihan, karenanya si kembar menatap neneknya namun kemudian beralih menatap apa yang ditatap oleh nenek mereka.
“Tatek?” dengan reflek El berdiri dan memanggil Ardi. Jihan yang memang tak mengetahui apapun itu kaget dibuatnya. Tak ada yang mengajari bocah itu memanggil Ardi dengan kakek, toh mereka baru pertama kali bertemu, begitulah pikir Jihan.
Baik Virgo maupun Libra tak ada yang menceritakan kejadian dimana El bertemu dengan kakeknya waktu itu. Karenanya Jihan sama sekali bingung dengan situasi kali ini. Sayangnya dia tak mau mengatakan apapun.
“El! mobilnya tablak.” El tadinya berdiri untuk mendekati Ardi, tapi tertahan karena Al berteriak keras karena mobilnya menabrak kaki kursi.
“Ayo, bantu!” Dengan semangat El berlari bersama Al mendekati mobil yang rodanya sudah berada di atas itu. Melupakan apa yang akan dia lakukan sebelumnya.
El, memang memiliki ingatan yang bagus meskipun dia baru saja berusia dua tahun lebih sedikit saja. Al malah tak mempedulikan Ardi yang baginya memang asing sama sekali. Dia sibuk dengan mainan yang dipegangnya.
Jihan mendekati dua cucunya dan menyodorkan botol susu, “Susu dulu, Sayang.” Sudah waktunya mereka meminum asupannya. Al menerima dan langsung berjalan ke tempat mainannya berada, bukan untuk kembali bermain, tapi bocah itu berbaring dan langsung meminum susunya dengan telentang.
Jika Jihan tak akan asing dengan itu, maka Ardi mematung melihat hal tersebut. “Dia mirip sekali dengan Libra waktu kecil, minum susu harus terlentang, kemudian memejamkan matanya, setelahnya tidur.” Ardi dengan tak sadar mengatakan hal tersebut karena mengingat bagaimana Libra dulu.
Jihan tahu jika suaminya sangat tersentak dengan kloningan Libra itu. Tak menjawab apapun, Jihan mengangkat El yang terkantuk-kantuk bersandar di kaki sofa. Kembar itu memang memiliki kebiasaan yang berbeda. Dan keduanya sama-sama terlihat menggemaskan.
“Cucu oma.” Jihan mencium El yang mulutnya masih menyedot dot susunya. Ibu Libra itu menggendong El agar bocah itu bisa berbaring di kasur. Meninggalkan Ardi yang menatap Al yang sudah setengah tidur juga diatas karpet.
Setelah memastikan jika El sudah tidur, Jihan mengambil Al yang sudah tertidur sepenuhnya. Siang tadi memang mereka asik sekali bermain sebelum dibawa ke rumahnya. Dan sekarang mereka kelelahan.
Selesai dengan tugasnya, Jihan keluar dari kamar dan mendapati Ardi sudah duduk di sofa ruang keluarga. “Nanti Libra dan Virgo datang, bersikap baiklah.” Jihan memberi tahu untuk sekedar mengingatkan suaminya jika lelaki itu harus merubah sikapnya.
“Kenapa aku harus melakukannya?” tanyanya dengan santai, “Aku nggak perlu berbasa-basi dengan mereka dan sok baik sedangkan hatiku tak menginginkannya.” Memang bisa sekali lelaki itu berdalih. Munafik sekali.
“Aku pikir kamu akan berubah ternyata tidak.” Lama-lama Jihan sebal juga dengan suaminya, “Aku sabar sekali selama ini, tapi kalau kamu sudah keterlaluan, aku pun juga akan melakukan hal sama.” Jihan tak kalah santainya mengatakan hal itu.
“Kesabaran orang itu ada batasnya, kalau kami semua sudah tak memiliki kesabaran atas semua yang kamu lakukan, maka jangan salahkan kami kalau kami akan menghilang dari kehidupan kamu. Kamu hiduplah dengan kekeras kepalaanmu itu, aku tak akan peduli lagi.” Setelah mengatakan itu, Jihan pergi begitu saja meninggalkan Ardi sendirian.
*.*
Ardi ragu-ragu akan masuk ke dalam kamar dimana Al dan El berada. Tapi hatinya meminta untuk tetap masuk, namun pikirannya menolak. Tangis dua bocah itu benar-benar membuatnya bimbang setengah mati. Sedangkan Jihan tak ada disana entah kemana perginya wanita itu setelah percakapan mereka beberapa saat yang lalu.
Ayah Libra itu sudah ada di depan pintu dan hanya perlu satu langkah lagi, dia sudah bisa mengetahui apa yang terjadi dengan Al dan El. Tapi kakinya seolah tertanam di sana dan berat untuk melangkah.
Asing. Satu kata sederhana itu tiba-tiba memukul keras perasaan Ardi. Bukankah bocah-bocah itu seharusnya tak asing dengan tempat itu? Bukankah seharusnya si kembar sudah terbiasa berada disana? Lalu kenapa ada kata asing di dalam hubungan darah diantara mereka?
Namun lamunan itu tersentak ketika suara tangis Al dan El semakin keras dan mengagetkannya.
“Bunda!” jerit salah satu dari mereka.
Dan dengan reflek. Ardi membuka pintu kamar dan masuk ke dalam sana. Mendekati dua bocah itu, dan mencoba peruntungannya untuk menenangkan keduanya. Dan ini adalah kali pertama dia menatap Al secara dekat dan benar-benar detail. Bocah itu benar-benar perpaduan dari Virgo dan Firman. Tampan sekali.
Netra Al yang masih basah karena air mata membuatnya menelan ludah susah payah. Mata bocah itu seolah menariknya dalam dunia yang belum pernah Ardi rasakan. Keterikatan itu sepertinya tak bisa diabaikan begitu saja, karena dia terbelit dengan sangat kencang.
“Al, kenapa?” satu nama sederhana, diucapkan dengan nada rendah, terasa mengoyak batin Ardi tanpa ampun, “Ayo, biar kakek gendong.” Diulurkannya kedua tangan Ardi di depan Al dengan gemetar. Wajah Ardi pucat pasi menghadapi bocah kecil yang bahkan sama sekali belum mengerti tentang kerasnya dunia ini.
Bukannya langsung menerima uluran tangan tersebut, Al justru mundur dan menjauh dari Ardi. Duduk di sudut ranjang masih dengan menangis. Berbeda dengan Al yang menolak Ardi, El justru memanggil lelaki itu.
“Tatek?” suara tangis El sedikit mereda sejak melihat Ardi. Lelaki itu menoleh ke arah El, dan memberikan senyum tipis.
“El?” masih dengan ragu lelaki itu memanggil si kembar yang satunya.
“Bunda.” El bermaksud menanyakan keberadaan ibunya,
“Nanti bunda kesini, El sama kakek dulu. Mau?” tawarnya.
El mengangguk dengan ragu. Kemudian menoleh untuk melihat kembarannya, dia bilang, “Al, sini.” Dengan lambaian tangannya.
Tapi Al menggeleng dan tetap pada posisi semula. Dan entah kenapa Ardi terasa mendapatkan pukulan berkali-kali melihat Al yang sepertinya memang antipasti sekali dengan dirinya.
Entah kenapa dia merasa tak terima, maka dengan percobaan kembali, Ardi berbicara dengan Al. “Sini, sama Kakek. Nggak papa.” Dan gelengan itu kembali terlihat.
Dan entah kenapa, Ardi merasa benar-benar begitu mengharapkan Al dekat dengannya. Seharusnya dengan wajah perpaduan antara Virgo dan juga Firman, dia membencinya. Tapi sayangnya, tidak. Dia justru terlihat sedang jatuh hati dengan bocah itu. Ada sesuatu yang membuatnya merasakan itu. Entah apa Ardi tak tahu, tapi hatinya benar-benar menyukai bocah itu.
“Sayang.” Lamunan Ardi buyar ketika Jihan tergopoh masuk ke dalam kamar. Sama sekali tak menghiraukan keberadaan sang suami, dia langsung mengangkat Al dalam gendongannya dan bocah itu menuruti dengan suka cita. Lengan kecilnya melingkar di leher Jihan, sedangkan kedua kakinya melingkah di perut perempuan tersebut.
“Al, Oke?” tanyanya dengan mengelus punggung bocah itu, “Oma sholat dulu tadi, maaf ya, Oma nggak ada, waktu Al bangun.” Dan anggukan kecil itu terasa di pundak Jihan.
“El, Oke?” kini giliran El yang ditanyai. Masih dengan menggendong Al, Jihan mendekati El yang masih ada Ardi yang berjongkok di depan gadis kecil tersebut.
El mengangguk, “Tapi Al nanis lihat, Oma.” Adunya kepada Jihan. Bocah itu berdiri dan sok tua dia mengelus punggung Al. Dia bilang, “Tatek baik. Ya tan Oma?” Jihan melirik Ardi yang mematung sebelum menjawab.
Jihan tersenyum lembut, “Iya, Kakek baik. Saking baiknya, kalian sampai ketakukan melihatnya.” Tentu saja kalimat terakhir itu ditujukan kepada Ardi. Bahkan Jihan menyeringai melihat Ardi yang menatapnya tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
“Kita keluar ya.” Ajak Jihan kepada dua cucunya. “Al mau turun?” Al mengangguk lagi. Menurunkan bocah itu di atas kasur, Jihan menyeka wajahnya yang masih ada sisa air mata di sana.
“Sebentar lagi bunda sama ayah datang.” Kalimat itu ditujukan kepada Al, tapi Ardi justru merasa jika Jihan memberitahukan kepada dirinya.
“Kita keluar, yuk!” Al da El digandeng oleh Jihan dan lagi-lagi tanpa mengatakan apapun kepada Ardi. Namun sayangnya, ketika bahkan mereka belum sampai di depan pintu, Bibi sudah memberitahukan jika Libra dan Virgo sudah ada di ruang tamu.
Mendengar itu, Al dan El melepaskan gandengan neneknya dan berlari untuk segera menemui kedua orang tuanya. “Senangnya, udah dijemput.” Jihan agak merengut karena sebentar lagi mereka pulang.
Ardi merasa badannya seolah limbung. Berdiri dengan pelan, dia terduduk di ranjang dengan lemas. Tak ada hal yang luar biasa seharusnya, tapi dia merasa benar-benar tak bisa mengendalikan perasaannya.
‘Tatek baik,’ dua kata yang dikeluarkan oleh mulut bocah kecil bernama El, mampu meluluhlantakkan hatinya. Bahkan telinganya seolah terus mendengar dua kata tersebut dan setiap kata itu terputar, jantungnya tak bisa biasa saja ketika berdetak.
Kembali berdiri dari duduknya, dia memutuskan untuk keluar. Berjalan lunglai untuk pergi ke ruang kerjanya.
Hampir dia melangkahkan kakinya di anak tangga pertama, suara panggilan terdengar.
“Tatek!” tubuhnya berputar untuk melihat dan dia mendapati El berlari kecil ke arahnya.
“El, mau pulang.” Disodorkannya tangan kecil itu ke depan Ardi sambil tersenyum, “Calim dulu.” Katanya dengan suara riang nan polos.
Ardi bisa melihat Libra, Virgo, dan Jihan tak jauh dari sana berdiri menatap ke arahnya.
“Kami pamit, Yah. Udah malam.” Begitu kata Libra. sedangkan El masih setia mengangsurkan tangannya di depan Ardi.
“Kami pamit, Tek.” El kembali berucap untuk menirukan apa yang dikatakan oleh ibunya.
Dengan tangan gemetar, Ardi menyambut uluran tangan Libra. Ditariknya tangan Ardi dan dikecupnya tangan tersebut. Hanya hal kecil, tapi mampu membuat Ardi hampir pingsan rasanya.
*.*