
Avez benar-benar berulah dengan tak tanggung-tanggung. Dia meminta ayahnya terus mengikutinya kemanapun dia mau. Karena ketika Aksa dengan diam-diam meminta Mbak Ira untuk menggantikannya menjaga Avez, bocah itu tahu dan mejerit sambil menangis keras.
Kenya pernah mengatakan komentarnya karena sifat Avez itu ketika keluarga Gandendra dan Nareswara berkumpul. Bocah itu berbeda sekali dengan ayahnya, katanya. Dulu, Aksa tak sekeras kepala itu ketika masih seumur Avez. Jika merasa tak suka dengan sesuatu, atau memang sedang tak enak hati, dia hanya memajukan bibirnya dan menangis sesenggukan. Tak sampai bertingkah ‘bar-bar’ seperti itu.
“Karena memang Avez kan anaknya dua orang, Jeng. Jadi pasti sifatnya itu menurun dari ibunya.” Begitu kata Sha menanggapi dengan santai sambil terkikik geli.
“Keras kepala Avez itu memang dari ibunya.” Kata Sha melajutkan. “Love itu cewek, tapi tingkahnya luar biasa ajaib. Kalau kadang saya tegur agak keras sedikit, bapaknya melototo. Meskipun endingnya bapaknya kalah juga sama saya.” Tawa itu kemudian menguar dari mereka. Membicarakan putra-putri mereka ketika masih kecil dulu, memang kesenangan sendiri. Seolah nostalgia.
Kembali di masa sekarang, ketika Avez bahkan tak mau diam ketika Aksa sudah menurutinya dengan menggandeng tangannya untuk berjalan kemanapun dia mau. Aksa bahkan meminta Mbak Ira untuk tetap di ruangannya saja dari pada Avez tak mau diajaknya.
“Ayah gendong, ya.” Aksa mengangkat bocah itu dan menujukkan apapun agar putranya itu tak kelelahan.
Mereka sudah sampai di lantai satu. Aksa yang menggendong putranya seperti itu benar-benar menarik perhatian banyak orang. Sedangkan Avez yang kembali meronta meminta di turunkan itu membuat Aksa menghela napas
panjang. Kini dia berpikir, jika dia tak akan pernah bisa tanpa sang istri.
Tapi kali ini, meskipun berat, dia tak akan meminta bantuan perempuan tersebut. Karena memang ini adalah keputusannya. Kalau bisa memilih, dia lebih baik bekerja seharian di depan komputer dari pada harus kesana-kemari menjaga Avez yang begitu aktif.
Ini masih pagi, karena jarum jam masih menunjukkan pukul sepuluh, dan dia sudah merasa kelelahan. Di lobi kantor memang sedikit lengang karena semua orang sedang bekerja. Tapi sayangnya beberapa resepsionis di sana
tak tahan melihat ayah dan anak itu. Keduanya begitu menawan dan membuat merekagemas.
“Aaaaa.” Teriakan itu membahana di lobi. Bukan-bukan, Avez memang baik-baik saja. Tapi dia sedang berteriak karena dia melihat seseorang yang sedang melambaikan tangannya untuk menyapanya. Padahal, Avez sama sekali tak mengenal orang itu.
Aksa terkekeh dan meminta bocah itu untuk membalas lambaian tangan lelaki itu. Avez sepertinya memang sedang dalam suasana hati yang sangat baik pagi ini, mungkin karena bisa merecoki ayahnya sampai lelaki itu tak
bekerja, atau entah karena apa.
“Sini gendong.” Aksa mengulurkan kedua tangannya untuk Avez. Berjalan tertatih, bocah itu tertawa ketika sudah berada di dalam pelukan sang ayah. Aksa menciumi bocah itu dan dia merasa jika satu hari ini memang harinya
bersama sang putra.
Dia tak akan menyesal kalau memang dia tak bisa bekerja untuk hari ini. Jadi dia memutuskan untuk office tour dengan sang anak dan memperkenalkan secara garis besar tempat apa gedung tersebut.
“Ini tempat kerja ayah.” Aksa sudah berjalan dengan Avez berada di gendongannya, menganggap jika bocah itu paham dengan apa yang dikatakan.
“Nanti juga akan menjadi tempat kerja Avez.” Lanjutnya.
“Avez!” seorang wanita paruh baya yang menyapa bocah itu.
“Kok bisa ikut Aksa? Ibunya kemana?” perempuan itu adalah karyawan juga di sana, tapi memiliki jabatan yang lumayan tinggi.
“Ada, Bu. Memang saya pengen ajak dia ke kantor. Eh, nggak tahunya nggak mau diajak sama Mbaknya.” Kedua orang itu tertawa karena melihat bagaimana tingkah Avez.
“Kalau begitu saya pergi dulu, Bu.” Anggukan itu perempuan itu berikan dan Aksa langsung berlalu dari sana. Beberapa karyawan yang melihat Aksa juga menyapa sebagai tanda hormat mereka kepala calon penerus perusahaan besar tersebut.
*.*
Aksa duduk di sebuah taman kecil di dalam gedung GN group sambil menyuapi Avez makan. Di dalam gedung tersebut memang di buat taman kecil di setiap lantai, jadi jika istirahat banyak yang menggunakan taman tersebut
untuk bersantai. Mbak Ira juga berada di sana namun duduk agak jauh dari ayah dan anak itu.
“Diem dulu lah, Nak.” Aksa tak bisa memegangi bocah itu karena tangan kirinya membawa wadah makan Avez dan tangan kanannya memegang sendok berisi makanan. Sedangkan putranya terus bergerak kesana-kemari.
“Aaaa, mamam dulu.” Katanya. Avez membuka mulutnya dan Aksa langsung memasukkan sesendok makanan itu ke dalam sana. Aksa lagi-lagi terkekeh ketika melihat Avez mengangguk-anggukkan kepalanya. “Enak ya?” begitu tanya Aksa. Dan hal itu membuat orang-orang yang melihatnya merasa gemas. Entah gemas
dengan ayahnya atau dengan bocah kecil itu.
Waktu memang belum menunjukkan jam makan siang, tapi tak sedikit orang yang berlalu lalang. Entah selesai meeting, mengantarkan berkas ke devisi lain, atau melakukan hal lainnya. Dan tak ada dari mereka yang tak
tersenyum melihat bagaimana Aksa ‘ngemong’ anaknya.
‘Cinta’ ada sebuah panggilan masuk di ponsel Aksa dan tertulis nama tersebut. Diangkatnya telpon itu dan memberi isyarat kepada Mbak Ira agar perempuan itu mendekat.
“Aman terkendali kan?” pertanyaan itu langsung terlontar dari bibir Love setelah Aksa mengatakan ‘halo’.
“Aman terkendali.” Begitu jawab Aksa. “Kamu nikmatilah waktumu.” Lanjutnya.
“Aku video call.” Tanpa menunggu sang suami mengatakan ‘iya’ Love sudah mematikan panggilannya untuk beralih ke panggilan video.
Namun bukan Aksa namanya kalau dia akan menerima begitu saja perlakuan sang istri. Maka ketika panggilan video kembali masuk, Aksa tak mengangkatnya. Dua kali, tiga kali, Aksa masih membiarkan saja deringan itu
mengalun. Bibirnya menyeringai ketika dia harus mendapatkan brondongan pesan dengan nada geram.
Kemudian panggilan kembali masuk, dan barulah Aksa mengangkatnya dan wajah Love yang sedang memberengut itu terlihat dengan rambutnya yang entah sedang diapakan Aksa tak paham.
“Bisa nggak, kalau nggak buat orang sebel sekali aja? Suka sekali ngerjain orang?” Aksa menatap istrinya itu dengan wajah datar. Dia belum ingin bersuara karena perempuan itu sudah lebih dulu ‘berikicau’. “Mana, Avez?”
tanyanya.
“Sama Mbak Ira.”
“Serius mau?” Love sepertinya memang tak percaya dengan apa yang sang suami katakan. “Aku nggak percaya. Karena kalau dia mau sama Mbak Ira, Ayah nggak akan di taman gedung sekarang.” Seiringaian itu tercetak di
wajah Love dengan terang-terangan.
Dan itu membuat Aksa mendengus. “Kamu menang.” Kata Aksa. “Coba lihat.” Aksa mengarahkan kameranya dimana Avez sedang berdiri dengan tangan memegangi kursi dan di temani oleh Mbak Ira. “Hanya begitu saja dia
maunya sama orang lain. Dari jarak segitu aja.” Love pasti bisa melihat jika jarak Mbak Ira dan Avez memang tak terlalu dekat.
Avez bukan antipati sama orang lain selain keluarganya, tapi memang begitulah bocah itu. Mungkin sifat itu sudah ditunjukkan seperti itu mulai sekarang. “Mbak Ira menjaga agar dia nggak jatuh, kalau dia di dekati,
bisa menjerit dia.” Begitu kata Aksa yang dijawab dengan helaan napas oleh Love.
“Aku kesana setelah ke salon.” Sontak saja, tadi Love yang bisa melihat keaktifan putranya, kini wajah suaminya yang memenuhi layarnya.
“Kenapa?”
“Terserah kamu aja.”
“Kok nggak ngelarang?” dan jawaban Aksa hanya mengedikkan bahunya seperti yang istrinya lakukan tadi. Karena tentu saja Aksa malu akan mengatakan jika dia menyerah kalau harus membawa Avez dan keaktifan bocah itu
juga ikut serta.
Sayangnya dia tak akan mengatakan itu kepada sang istri.
*.*
Love masuk ke dalam gedung GN grup dengan langkah pasti. Tampilannya menawan dengan celana panjang berwarna hitam, atasan kemeja
kotak-kotak berwarna coklat, rambut terurai indah, high heelsnya berwarna senada dengan atasannya, sedangkan tasnya senada dengan celananya.
Wajahnya datar seperti biasa, pandangannya lurus tanpa repot-repot ingin melirik sekitarnya. Dia masuk ke dalam lift dan kotak besi itu membawanya ke lantai dimana ruangan sang suami berada. Sampai di depan
ruangan tersebut, dia mendapati Damar dengan wajah serius. Disapanya lelaki itu
seperti biasanya. “Jangan terlalu serius, cepet tua nanti.” Katanya dengan wajah tanpa senyum miliknya.
“Karena dia nggak bisa kerja, pekerjaanku semakin menumpuk. Kalau ada yang salah, aku bisa-bisa di tendang sama dia.” Bukannya medapatkan pembelaan, Love justru menyeringai.
Dia bilang, “Kalau gitu, bekerja yang benar ya, Pak Sekretaris. Aku masuk dulu.” Yang sontak mendapatkan pelototan dari Damar. Mungkin dalam hati dia menyumpahi perempuan itu.
Masuk ke dalam ruangan, kedua mertuanya sudah berada di sana. Ibu mertua sedang menggendong Avez dengan bocah itu terlelap di sana, sedangkan ayah mertuanya sedang mengobrol dengan Aksa. Love tersenyum dan
menyalami kedua orang tersebut. Kemudian mencium putranya yang berada di gendongan Kenya.
“Biar saya gantiin, Bunda.” Kedua tangannya sudah meminta putranya untuk diambil alih, tapi Kenya menolak.
“Udah nggak papa, Biar bunda aja.” Tolak perempuan paruh baya itu. Dan apa yang bisa Love katakan selain mengiyakan, dan ikut duduk di sofa yang sama dengan sang suami.
“Ajak Avez menginap ke rumah.” Tatapan Daka mengarah ke mata Love. “Udah lama loh kalian nggak datang.” Hanya begitu saja ayah mertuanya berbicara, Love merasa ditampar habis-habisan. Dia menyadari jika memang dia
lalai, sudah tiga bulan ini dia tak menginap di rumah besar Ganendra. Mereka memang sering datang kesana, tapi tidak dengan menginap.
“Iya, Yah. Maaf.” Daka tersenyum. “Nggak papa, ayah hanya mengingatkan.” Entah benar-benar mengingatkan atau memang sedang menyidir, Love juga tak mengerti, karena ucapan lelaki itu ambigu sekali. Apalagi dengan seringaian yang tercetak di bibir lelaki itu. Memang jika orang lain tak melihat itu hanya ekspresi biasa, tapi tidak dengan Love. Dia sudah paham dengan semuanya. Bahkan ekspresi wajah orang-orang disekitarnya.
*.*
“Aku beliin ini, Yang.” Love menunjukkan jam tangan di depan wajah sang suami dengan senyum yang menawan. “Lumayan lah, dapat diskon.” Aksa melirik saja sekilah jam tangan yang ditunjukkan oleh istrinya itu.
“Mahal itu. Kan keluaran terbaru.” Anggukan itu semangat sekali dari kepala Love.
“Iya, Yang. Baru sekali emang. Karena aku buru-buru masuk, dan belum terlalu banyak yang beli, aku dapat diskon dong, 20%.” Bangganya.
“Terdepan dan terpercaya ya kamu, Yang.”
“Iya lah. Aku kan nggak mau kalau Ayah ketinggalan.” Jawabnya. “Aku beda nggak sih, habis dari salon tadi?” kini Love bebar-benar meminta perhatian sang suami sepenuhnya. Dia tak ingin usahanya untuk cantik itu tak mendapatkan perhatian lebih dari lelaki itu.
Aksa menatap Love dan meneliti ibu anaknya itu dengan teliti. Dia berkomentar, “Alis, masih sama. Hidung masih mancung, wajah pun
masih sama. Apanya yang berubah dan berbeda?” dan komentar itu membuat sang
istri mendengus.
“Emang nggak ada perubahan yang signifikan lah, Yang. Tapi kan pasti ada yang beda.” Ditatapnya lagi Love dengan wajah sungguh-sungguh. Gelengan itu diberikan kepada Aksa untuk sang istri.
“Nggak ada yang beda loh, Yang. Kalau makin cantik iya.” Ekspresi yang biasa saja yang ditunjukkan itulah yang membuat Love geram sekaligus ingin tertawa. Bahkan perempuan itu menahan senyumnya agar tak keluar. Tapi mau bagaimana lagi, jiwa perempuan Love tak bisa diabaikan begitu saja.
Jadi, dia terkekeh dan langsung memeluk suaminya itu dengan erat. “Cinta kamu.” Katanya. Dan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Aksa. “Bisa banget buat orang sekarat gara-gara kemanisan.” Komentarnya.
“Orang sekarat kok karena kemanisan. Bahasamu itu amburadul sekali sih.” Love tak marah dikatai seperti itu, karena pelukan sang suami yang menghangatkan membuat hatinya ikut menghangat pula. Mereka saling berpelukan di
sofa kamar mereka dan merasakan cinta di hati mereka satu sama lain. Cinta mereka terpupuk dengan sangat teratur, dan terawat dengan sangat baik.
“Jadi bagimana dengan seharian bersama Avez?” pelukan mereka sudah terlepas. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan duduk saling berhadapan.
“Aku senang, bahagia juga. Tapi rasanya perlu waktu lagi untuk mengulanginya lagi.” Jawaban blak-blakan itu membuat Love terkekeh.
“Aku tahu ayah nggak akan sanggup. Avez aktif, dan dia hanya mau dengan orang-orang terdekatnya saja.”
Aksa mengangguk. “Aku tahu dan aku paham.” Jawabnya. “Bahkan ketika masih jam sepuluh pagi tadi, aku rasanya udah capek banget.”
Love mengelus lengan sang suami dan berakhir menggenggam tangan lelaki itu. “Karena yang aku tahu, bukan hanya Ayang yang angkat tangan ketika seorang ayah diminta untuk mengurus anak mereka. Tapi ayah-ayah yang
lain pun sama. Mereka pasti akan angkat tangan juga.”
“Dan perempuan sebenarnya adalah makhluk Tuhan yang kuat.”
“Memang.” Anggukan itu semangat sekali Love berikan kepada sang suami. “Ayah benar sekali.” Lanjutnya lagi dengan kedua jempolnya
mengacung di wajah Aksa.
Lelaki itu berdecak. “Padahal aku cuma membual, kamu udah kesenengan.” Yang dihadiahi pelototan oleh Love. Kemudian berdiri dan meninggalkan suaminya itu ke ranjang. Menarik selimut dan menutupi tubuhnya
dengan itu. Tak mempedulikan suaminya yang menyeringai karena berhasil mengusili istrinya.
Perempuan, adalah makhluk Tuhan yang luar biasa kuat. Mereka melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik sejak mata mereka terbuka ketika bangun pagi, sampai mata mereka tertutup untuk tidur kembali. Dan Aksa mengakui itu.
*.*
Note : Kalau tulisannya morat-marit, mohon dimaklumi, karena memang dari word langsung copas ke sini hasilnya berantakan.