Blind Love

Blind Love
Kisah 59



El menatap Rigel sambil mengeluarkan napas keras, benar-benar menunjukkan jika dia memang malas dengan lelaki tersebut.


“Ayo, Yon. Gue emang mau pulang sih tadi.” Katanya sambil mendekat ke samping lelaki itu. Orion yang masih belum memahami situasi seperti ini tak langsung menurut.


“Yon!” panggil El memberi tanda jika dirinya ingin segera pergi dari sana.


“Gue yang antar lo, El.” Rigel mencekal tangan El agar gadis itu tak pergi bersama Orion.


“Terima kasih. Tapi gue nggak mau diantar sama lo. Gue mau sama Orion.” Tegasnya dan tak ragu menatap mata lelaki itu menantang. “Lo lebih baik sekarang pulang, dan selesaikan saja urusan penting lo.” El melepaskan cekalan itu dan menarik tangan Orion.


“Ayo!” ajaknya kepada Orion namun tak diijinkan oleh Rigel.


“Please! El.” Katanya, “Gue nggak bisa lepasin lo sama orang asing.”


“Gue bukan orang asing.” Orion yang sejak tadi hanya diam akhirnya berbicara, “El memilih pergi sama gue, jadi hargailah keputusan dia.”


“Dan lo nggak perlu ikut campur urusan kami.” Rigel marah, matanya memicing dan seolah tak terima jika Orion ikut berbicara.


“Gue nggak akan ikut capur selama lo nggak nyentil gue.” Orion balas menatap Rigel dengan tajam seolah siap dengan tantangan yang diberikan oleh Rigel kepadanya, “Gue bukan tipe orang yang akan menyakiti orang yang gue sayang.” Lanjutnya. Dan kemudian menarik El begitu saja kemudian membukakan pintu mobil, kemudian pergi begitu saja dari sana. Meninggalkan Rigel yang diam mematung.


Entah karena merasa tersentil hatinya atau apa, tapi Rigel benar-benar merasa jika ucapan Orion memang sedang mengarah kepadanya. Dengan kecewa, lalaki itu kemudian berbalik dan kembali ke rumahnya. Memberikan waktu kepada El untuk mengembalikan moodnya agar mereka bisa berbicara satu sama lain.


Sedangkan EL dan Orion yang ada di dalam mobil sekarang, keduanya hanya sama-sama menutup bibir mereka dengan rapat tanpa ada yang berbicara satu sama lain. Orion yang sadar diri jika dirinya tak boleh terlalu ikut campur dengan urusan El, dan El yang memang sedang mengalami penurunan mood yang sungguh drastis.


Orion tahu dia memang harus mengantar El pulang dan tak perlu lagi menawari gadis itu untuk pergi kemanapun. Mereka sampai di rumah El dan tak ada dari dua orang itu yang turun dari mobil. El masih betah duduk di sana, sedangkan Orion tak merasa perlu mengingatkan El jika gadis itu harus segera keluar dari mobilnya.


“Thanks, Yon.” El menatap Orion yang tangannya masih memegang stir mobil dengan pandangan fokus ke depan.


“Sama-sama,” Orion tersenyum, “Gue nggak tahu apa yang terjadi sama lo dan Rigel, gue juga nggak merasa harus tahu tentang itu. Tapi kalau lo memang membutuhkan teman untuk mengembalikan mood bagus lo, gue selalu siap untuk itu.” El merasa jika Orion adalah lelaki yang baik sekali.


Dia tak bertanya tentang apapun, padahal dia ada di sana ketika El dan Rigel sedang ‘cek-cok’. Tatapan El yang diberikan kepada Orion tanpa putus, “Sekali lagi, terima kasih. Lo paham akan kondisi gue.” Orion hanya mengangguk.


“Gue masuk dulu. Tapi sorry, gue nggak akan nawari lo masuk. Gue butuh istirahat.” Ucapan blak-blakan itu benar-benar membuat Orion terkekeh.


“Gue paham.” Katanya, “Masuklah. Wajah lo menunjukkan kalau lo benar-benar kelelahan sekarang.” El menyetujui. Rigel benar-benar menguras emosinya memang.


El masuk ke dalam rumah tanpa melihat lagi ke belakang meskipun telinganya mendengar deruan suara mobil Orion yang meninggalkan rumahnya. Kakinya berjalan dan kemudian duduk di sofa ruang keluarga. Motor Al sudah ada di rumah dan itu menandakan jika kembarannya itu juga ada di rumah.


“Bik!” panggilnya kepada asisten rumah tangganya.


“Ya, Mbak?” entah sedang melakukan apa si Bibi, perempuan tersebut mendatangi El.


“Bibi ngapain di belakang?”


“Lagi beres-beres aja sih, Mbak. Kenapa memangnya?”


“Kakiku capek banget, Bik. Bisa minta tolong di pijitin?” wanita paruh baya yang ada di depannya itu mengangguk. Seperti biasa, El tengkurap di atas kasur lantai setelah Bibi mengambilnya dari belakang dan mulai perempuan tersebut langsung memijat majikannya itu.


“Kakinya keras banget, Mbak, kayak habis jalan jauh aja.” Komentar Bibi.


“Emang dari jalan jauh, Bik.”


“Kenapa nggak naik ojek atau minta jemput sopir tadi?”


“Nggak, Bik, emang lagi pengen jalan aja tadi.” El dibuat keenakan karena pijatan asisten rumah tangganya itu. Matanya memejam dan kantuk itu terasa sudah ada di pelupuk matanya. Sayup-sayup dia mendengar Al berbicara entah kepada siapa.


Tapi jika mendengar nada suaranya, lelaki itu pasti sedang melakukan panggilan telpon dengan Odel. Suara Al semakin dekat dan El sama sekali tak mempedulikan lelaki itu. Bahkan ketika decakan itu terdengar di telinganya, dia abaikan saja kembarangnya tersebut.


“Dari kerja rodi di mana dia itu, pulang-pulang minta pijat?” komentar Al melihat El yang sudah menutup matanya namun telinganya masih mendengar dengan jelas suara lelaki itu.


“Ini si El, coba kamu lihat.” Tak perlu membuka matanya untuk melihat jika Al pasti sedang melakukan panggilan video dengan Odel sekarang. Dan tak lama setelahnya, suara Odel benar-benar terdengar memanggil dirinya.


“El!” panggil gadis itu di seberang sana, “Gimana tadi? Lo masih marah sama Rigel?” karena El yang tadi menghubungi Odel dengan mengeluarkan keluh kesahnya karena tingkah Rigel, karenanya Odel kembali bertanya. Mungkin gadis itu hanya memastikan saja.


Mata El terbuka, tapi lambaian tangannya memberikan isyarat kepada Al agar mengalihkan kamera ponselnya kemanapun yang peting bukan pada dirinya.


“Mood gue lagi berantakan, jangan ganggu gue.” Katanya kepada Al dan dituruti oleh lelak itu.


“Nanti aja kamu ngomong sendiri sama dia. Dia lagi nggak mood. Nanti bukan cuma kamu yang kena semprot, tapi aku juga.” Kata Al yang sambil berlalu dari sana meninggalkan El dan Bibi di ruang keluarga.


Al sepertinya memang tak ingin mengganggu El dengan membuat bising di sana. Jadi lebih baik dia pergi saja.


El sudah menyelami alam mimpinya ketika kedua orang tuanya sudah datang ke rumah. Libra dan Virgo saling pandang melihat putrinya yang masih belum mengganti seragamnya itu tengkurap dengan bibi yang masih setia memijit El.


“Lagaknya sengak sekali sih, Yang, bocah satu ini.” Libra bersuara namun dengan senyum merekah, “Kayak habis kerja rodi aja.” Lanjutnya dengan mendekati El dan melihat wajah putrinya dari dekat. Mengelus kepalanya dan menciumnya.


“Duh, putri bunda. Manjanya nggak hilang-hilang.” Libra memang kadang dibuat gemas sendiri dengan kelakukan anak kembarnya entah apa saja yang dilakukan mereka.


Virgo menatap mereka dengan senyum, “Udah sore. Udahan dulu pijitnya, Bik. Bangunin, Yang. Nggak bagus tidur mau magrib begini.” Perintah lelaki itu. Libra menurut, dan melakukan apa yang suaminya itu perintahkan.


*.*


“Kamu kemarin sempat ketemu sama Bang Hoshi ya, Al?” Al dan Odel masih berbicara lewat panggilan video.


“Kamu sering telponan sama dia, atau dia datang ke rumah kamu?” Al sudah mulai curiga sekarang. Entah apa maksdud dari Hoshi yang mengatakan masalah sepele seperti itu.


Sedangkan Odel yang mendapatkan pertanyaan tersebut justru seperti kebingungan untuk mejawab. Gadis itu salah tingkah dan tak mau menatap Al.


“Del!” panggil Al.


“Dia sempat kirim aku chat kemarin, jadi dia juga bilang kalau sempat ketemu kamu waktu itu.” Kejadian di mana Al bertemu dengan Hoshi, memang sudah berlalu selama satu minggu. Bagi Al, dia juga tak perlu mengatakan itu kepada Odel karena memang bukan masalah penting. Tapi Hoshi justru mengatakannya kepada Odel.


Tak mendapatkan jawaban dari Al, Odel menatap mata Al yang tengah menatapnya juga. “Kenapa?” tanya gadis itu mulai heran.


“Ada yang ganjal di sini,” jawab Al, “Kamu sering chat sama dia?”


“Bukan!” Odel cepat menjawab karena tak ingin dicurigai, “Emang kebetulan dia chat aku, Al. Tapi nggak sering kok.” Katanya dengan takut. “Kamu nggak marah kan?”


“Tergantung.” Al juga menjawab cepat, “Aku emang nggak mau ngekang kamu hanya karena kamu pacar aku, tapi aku juga nggak suka kalau interaksi kamu kepada cowok lain menggangguku.”


“Kamu cemburu?”


“Aku nggak pernah merasa rendah diri dengan mencemburui pacarku dengan orang lain. Aku cemburu, artinya aku sedang merasa rendah di depan orang itu.” Odel merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Al, “Tapi aku nggak suka pacarku deket dengan lelaki lain. Jangan sampai nama kamu menjadi jelek hanya karena itu.” Odel berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Al kepadanya.


“Tapi, gimana perasaan kamu ketika ada Bang Hoshi yang datang ke sekolah dan ngajak aku jalan.” Odel masih memancing.


“Karena dia nggak berbuat macam-macam, aku anggap dia adalah kakak lelaki kamu. Beda lagi kalau dia menunjukkan hal yang berlebihan. Pegang-pegang kamu misalnya? Aku nggak akan diam aja.”


“Ada rasa was-was gitu nggak?”


“Dengarkan aku baik-baik.” Al mendekatkan wajahnya pada layar ponsel miliknya dan dengan otomatis di layar ponsel Odel di seberang sana, terlihat wajah Al yang begitu dekat. “Kata orang, cemburu itu tanda sayang. Mungkin iya, tapi kalau aku mau cemburu, lihat dulu siapa yang dicemburui.”


“Contohnya?”


“Kalau kamu dekat sama orang yang lebih ganteng dari aku.”


Odel terkekeh mendengar itu, “Jadi kamu ngerasa kamu ganteng?”


“Enggak juga sih. Tapi kalau aku nggak geteng, kenapa pula seisi sekolah kalau lihat aku kayak cacing kepanasan?” Al menaikkan alisnya menggoda sang kekasih. Wajahnya terlihat serius dan sungguh-sungguh.


“Jadi menurut kamu, Bang Hoshi itu nggak lebih ganteng dari kamu?”


“Dia ganteng, tapi belum bisa mencapai level yang buat aku cemburu.” Al menatap Odel di layar ponselnya yang menghindari tatapannya. “Kenapa diam?” tanyanya kepada gadis itu.


“Aku jadi mikir dua hal sekarang.” kata Odel, “ Yang pertama, kamu memang laki-laki baik banget yang nggak mau mengekang aku sebagai pacar kamu, atau yang kedua, cinta kamu sama aku memang nggak sebanyak itu.” Al tak langsung menanggapi.


Dia pernah mendengar, jika para gadis itu memiliki pemikiran yang rumit. Jadi sekarang, dia menghadapai kerumitan itu dan mencoba memahaminya, kemudian menyelesaikannya. Jangan berfikir kalau ‘menyelesaikannya’ adalah dengan mengakhiri hubungan tersebut. Al tentu tak akan melakukan itu. Odel adalah gadis yang dicintainya, dan dia tak akan begitu gegabah mengambil kesimpulan yang seperti itu


“Apa perlu aku jawab?” Al main-main menanggapi, tapi dia juga serius. Melihat Odel yang cemberut, membuat Al terkekeh.


“Kamu ngerasa nggak kalau kamu cantik?” Odel melotot mendengar pertanyaan kekasihnya.


“Petanyaan macam apa itu?”


“Kamu itu cantik, itu yang aku lihat.” Bukannya menanggapi ucapan Odel, Al justru mengatakan penilaiannya. “Tapi masih ada yang lebih cantik dan dia pernah mengatakan cinta ke aku.”


“Kamu mau pamer?” Odel tak santai mengatakan itu.


“Bukan pamer, aku hanya perlu menjabarkan sesuatu.” Jawab Al lugas. “Aku pilih kamu, karena kamu adalah satu-satunya cewek yang nggak ngejar aku padahal kamu adalah cewek yang paling deket dengan El. Dan karena itulah, aku kemudian jatuh cinta sama kamu.”


“Sejak kapan?”


“Aku nggak tahu sejak kapan. Tapi karena kejadian kamu masuk rumah sakit untuk kedua kalinya waktu itu, aku merasa ingin melindungi kamu. Dan waktu itu, aku sudah merasa jika cinta itu ada buat kamu. Apa itu sudah cukup menjawab pemikiranmu yang kedua?” Odel tentu merasa terharu mendengarnya.


Karena kekasihnya tak menanggapi, maka Al kembali bersuara, “Untuk pemikiran kamu yang pertama akan aku jawab.” Menyamankan duduknya, Al kembali bersuara, “Aku sayang sama kamu, kamu pacar aku dan bisa dibilang jika aku memiliki tanggung jawab untuk menjaga kamu sebagai kekasih. Membatasi ruang gerak kamu ketika masih menjadi kekasih, itu memang tak layak untuk aku lakukan. Mencintai itu bukan mengekang, mencintai itu pemahaman. Aku memahami kamu, dan kamu memahami aku. Bagi aku, itu udah cukup.”


Odel dibuat terpaku akan apa yang dikatakan oleh Al kepada dirinya. Inikah lelaki yang tidak pernah menjalin hubungan selama ini? Tapi kenapa kata-katanya terlalu dalam?


“Bisa nggak aku ketemu kamu sekarang?” tak ada kata yang bisa dikatakan oleh Odel sekarang. Yang ingin dia lakukan adalah bertemu dengan Al.


Al melihat jam di dinding kamarnya, “Kita makan malam di luar?”


Anggukan itu diberikan oleh Odel. “Aku siap-siap dulu.” Dan setelahnya panggilan itu terputus. Sebuah keberuntungan dirinya bisa dicintai dan mendapatakan Al. Bukan hanya tampan wajahnya, tapi hatinya juga begitu baik.


Odel berani melakukannya. Setelah Al sampai di depan rumahnya, dia mendekati lelaki itu dan memeluk lengannya. Memang hanya sebatas itu saja keberaniannya. Karena Odel memang paham, jika Al memang memiliki batasan dan kontak fisik meskipun itu dengan dirinya.


Al mengacak rambut Odel dengan sayang. “Mau makan di mana?” tanyanya.


“McD aja.” Jawabnya dengan langsung.


“Oke. Berangkat kita.” Al memang selalu menuruti apa yang diminta oleh Odel kepadanya. Bagaimana Odel tidak semakin jatuh cinta oleh Al jika diperlakukan dengan sangat baik oleh lelaki itu.


*.*