Blind Love

Blind Love
Seri 27



Pertemun itu tak terduga. Tapi keduanya merasa memang Tuhan sudah merencanakan apa yang sedang terjadi kali ini.


"Pak Wondo!" Lelaki yang berjalan dengan diikuti oleh stafnya itu menoleh dan mendapati seseorang yang di kenalnya.


"Hirmawan!" Lelaki tua itu tersenyum lebar melihat ayah dari Libra tersebut. Meskipun dipanggil seperti itu tak ada keinginan lelaki itu untuk marah. Biasanya memang orang-orang lebih memilih memanggilnya Ardi, dibandingkan Hirmawan. Karena nama Hirmawan adalah nama dari ayahnya yang memang sudah meniggal beberapa tahun yang lalu.


"Bapak terlihat sehat sekali." Bagi Ardi, Pak Wondo adalah pengganti dari ayahnya, karena betapa akrabnya Pak Wondo dengan ayahnya.


"Syukurlah," Masih tak melunturkan senyumnya, Pak Wondo menatap Ardi. "Mau makan siang bersama?" Itu adalah penawaran yang biasanya memang tak akan bisa di tolak oleh siapapun. Pak Wondo terlalu di segani oleh orang-orang hanya untuk menolak tujuan baikknya.


"Boleh." Pun dengan Ardi yang akan tetap mengiyakan meskipun dia harus mengcancel jadwalnya.


Mereka berjalan untuk mampir di sebuah restoran, meminta seorang pelayan menyiapkan ruangan VIP agar mereka lebih leluasa mengobrol. Di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua, karena stafnya berada di tempat biasa.


"Bagaimana anak-anak?" Ardi terlalu tahu jika yang dimaksud oleh pak Wondo adalah Libra.


"Baik, Pak. Saya juga baru ketemu dia semalam karena saya baru pulang dari luar kota." Jawabnya, 'Dan udah di suguhkan adegan yang tak menyenangkan sama sekali' itu di katakana di dalam hati.


"Mereka sudah kelas dua belas sekarang. Sebentar lagi kuliah, bagaimana dengan perkembangan hubungan mereka?" Pasti hal ini akan di bahas.


"Saya rasa mereka masih sibuk dengan kegiatan mereka, Pak." Ardi tak mengatakan kebenaran kepada lelaki tua itu jika sebenarnya Libra dan Virgo memang sedang menjalin hubungan.


"Biarlah mereka santai dulu sekarang. Lagi pula juga masih muda. Kalau masalah pertunangan, mungkin kita akan bahas lagi nanti." Ardi lega dengan itu bahkan dia menghela napas untuk rasa itu namun berusaha tak terlihat oleh pak Wondo.


"Ya, mungkin itu akan lebih baik, Pak. Membiarkan mereka dengan masa mudanya sepertinya akan lebih baik."


"Kamu benar. Tapi saya akan tetap berharap jika kedua anak itu bisa berjodoh."


Jadi, rencana itu sebenarnya adalah rencan yang di buat oleh pak Wondo dan Hirmawan sebelum Hirmawan meninggal dunia. Mereka ingin persahabatan mereka menjadi ikatan keluarga jika menjodohkan Virgo dan Libra.


Hal itu awalnya mendapat protesan dari Ardi namun bukan protesan keras dan menolaknya mentah-mentah. Ketika Hirmawan mencoba membujuk putranya itu, akhirnya Ardi menyetujui. Bukan hanya memangku tangan saja Hirmawan yang dilakukannya setelah muncul rencana tersebut.


Dia mencari tahu bagaimana kehidupan Virgo di luar sana. Dan hasilnya 50:50. Apapun prestasi yang di dapatkan di sekolah, berbanding lurus dengan kenakalannya. Virgo mampu belajar cepat, pandai, dan membanggakan sekolah dengan prestasi di bidang olahraga. Tapi juga membuat guru di sana pening dengan kelakukannya.


Memang kenakalan itu tak dilakukan setiap hari, tapi itu tak membuat semua baik-baik saja. Karena sekalinya berulah, guru BP pun rasanya ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke bak mandi.


Itu adalah beberapa hal yang diketahui oleh Ardi tentang Virgo. Karena itu kenapa semalam dia terlihat tak bersahabat dengan remaja tersebut.


Ketika sekarang dia mendengarkan dengan apa yang dikatakan oleh Pak Wondo kepadanya mengenai pertunangan anaknya yang tak perlu di pikirkan, dia merasa senang luar biasa. Akhirnya dia bisa mencarikan orang lain yang pantas untuk Libra.


Virgo memang belum berubah sepenuhnya. Dia masih suka membuat ulah, membuat kepala guru BP pening, hanya saja dia sekarang lebih rajin beribadah tak meninggalkan kewajibannya. Hal itu pernah membuat guru-guru yang melihatnya ikut senang karena mereka berpikir jika satu anak didiknya itu benar-benar sudah insyaf. Sayangnya itu hanyalah fatamorgana.


Dan obrolan tadi itu langsung dikatakan oleh Ardi kepada keluarganya ketika mereka selesai makan malam, malam ini.


"Ayah tadi ketemu Pak Wondo," infonya kepada sang istri dan juga Libra, "Kami bicara banyak sambil makan siang." Libra tiba-tiba merasa jantungnya berdetak tak karuan. Dia merasa penasaran dengan isi dari obrolan ayahnya dan juga kakek Virgo tersebut.


"Masalah Libra dan Virgo?" Itu adalah suara ibu Libra.


"Salah satunya." Katanya santai sambil sesekali melihat ke arah televise yang menyiarkan berita.


"Pak Wondo sudah tak senatusias waktu itu dengan pertunangan mereka." Itu adalah berita maha dasyat bagi ibu Libra. Dan berdampak buruk bagi hati Libra.


"Kita akan membahas masalah itu nanti. Dan membiarkan anak-anak fokus dulu dengan sekolah mereka." Tak ada yang menanggapi. Tidak ibu Libra ataupun Libra sendiri.


"Sayangnya Libra sama Virgo udah pacaran." Ada nada kurang suka yang dikeluarkan oleh Ardi ketika mengatakan hal itu. "Lagian pacaran remaja kaya gini kan pasti bisa putus." Entengnya kalimat itu membuat Libra langsung bereaksi.


"Ayah kayanya nggak suka sama Virgo?" Ditatapnya lelaki itu dengan terang-terangan merasa tak terima dengan hal itu.


"Bukannya nggak suka, Li, tapi percintaan masa SMA gini kan rentan sekali putusnya. Kalian masih labil dan belum bisa berpikir panjang." Sepertinya ibu Libra juga memiliki pemikiran yang sama dengan sang ayah.


Suasana hati Libra tiba-tiba buruk. Berdiri, kemudian berlalu dari sana meninggalkan kedua orang tuanya. Meskipun ibunya memanggilnya pun dia tak peduli sama sekali. Perasaannya sama sekali tak bisa tenang. Masuk ke dalam kamar dengan bantingan pintu, tubuhnya di lemparkan di atas kasur.


Dia sama sekali tak paham dengan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya itu. Bukankah mereka dulu yang mengatakan sendiri jika dia sudah di jodohkan oleh cucu dari teman kakeknya? Yang dia pun awalnya tak tahu siapa orangnya.


Ketika dia tahu jika Virgo lah orangnya, dia sama sekali tak terlalu antusias dengan hal itu. Beberapa kali ikut dalam acara para pengusaha bekumpul, Libra kenal dengan Virgo. Hanya kenal sebatas itu saja karena memang tak ada hal yang membuat mereka harus akrab.


Kemudian takdir berkata lain sampai mereka ke jalan ini sekarang. Mereka menjalin hubungan dengan rasa cinta di dalam hati mereka masing-masing. Setelah hal itu terjadi, berita tentang 'memikirkan lagi nanti' tentang rencana pertunangan itu terdengar.


Lalu takdir seperti apa lagi yang akan di lewati setelah ini? Libra pusing memikirkan hal itu. Maka kali ini dia tak akan tinggal diam. Kembali ke lantai bawah dimana kedua orang tuanya berada, dia akan menanyakan semuanya.


Pandangan heran itu dikeluarkan oleh kedua orang tuanya ketika dia duduk di sofa yang tadi di tempatinya dan bersiap untuk mendengar jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggaung di pikirannya.


"Tentang?"


"Ayah dan Pak Wondo." Kernyitan itu keluar di dahi Ardi entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu setelah mendengar pertanyaan putrinya.


"Ayah dan Pak Wondo?" ulang Ardi meyakinkan jika apa yang dikatakan oleh Libra itu adalah benar.


"Ya," Dengan mantap dia kemudian melanjutkan, "Waktu itu Ayah dan Bunda Mama sendiri yang mengatakan dengan suka citak tentang rencana ini, kenapa tiba-tiba di batalkan dan ayah biasa saja. Sebenarnya kenapa? Ada apa?" Libra benar-benar menunjukkan keseriusannya ketika mengatakan itu terlihat dari raut wajahnya. Jelas saja dia merasa penasaran dibuatnya melihat perubahan dari orang-orang dewasa tersebut.


"Kamu serius mau tahu?" Tanya sang ayah, "Ini bukan masalah besar, Li." Lanjutnya menatap Libra dengan keseriusan juga.


"Iya, Yah. Aku serius." Tak akan ada hal yang perlu di khawatirkan jika dia mengetahui hal yang sesungguhnya. Hubungannya dengan Virgo tak akan menjadi masalah.


"Rencana ini adala sebenarnya bukan atas kemauan ayah, tapi kakek kamu," Awalnya bercerita, "Kakekmu yang memiliki rencan dengan pak Wondo dan ayah yang meneruskan." Lanjutanya kemudian di ceritakan dengan gamblang tanpa ada apapun yang perlu di tutupi dari putrinya.


"Kalau kamu mau pacaran sama Virgo, ayah akan ijinkan. Tapi itu nggak akan menutup kemungkinan jika ayah menemukan lelaki yang lebih baik dari Virgo, ayah akan memintamu untuk meniggalkan Virgo." Ini adalah sebuah petir bagi Libra.


Tubuhnya membeku mendengar penuturan ayahnya. Ini sungguh luar biasa. Hubungannya dengan Virgo masih seumur jagung, tapi sudah dihadapkan dengan hal seperti ini. Dan menurutnya ketidak adilan itu kembali untuk menyerangnya.


Bahkan tanpa kata, Libra perdi dari sana dengan pikiran melayang kemana-mana.


*.*


"Kamu lagi-lagi memikirkan hal ini." Libra sudah mengatakan semuanya yang di dengarnya kepada Virgo. Untuk apa dia menutupi hal ini kan? Berbagi itu adalah hal yang baik, apalagi berbagi masalah. Hei.... Benar-benar otak Libra ini.


"Jadi aku harus apa sekarang?" Mata Libra sudah mengembun dan siap untuk menangis. Tapi sayangnya di tahannya mati-matian. "Aku stress rasanya memikirkan ini." Di usapnya air mata yang menetes dengan cepat dan mengalihkan tatapannya dari Virgo.


Melihat itu tentu membuat Virgo tak tega. Maka di tariknya pelan lengan Libra dan memeluknya dari pinggir. "Bisa nggak kita menikmati saja hubungan kita dibandingkan dengan memikirkan hal yang sama sekali tak terlalu pernting." Hiburnya kepada Libra. Tak terima dikatakan masalah yang mereka dapatkan itu tak terlalu penting, Libra berontak. Tapi di tahannya oleh Virgo.


"Jangan mendebat dulu." Virgo belum selesai berbicara dan dia tak ingin Libra salah paham.


"Kenapa aku bilang ini bukan masalah? Karena memang begitu. Ayah kamu mengijinkan kita berpacaran meskipun endingnya nanti seperti apa kita nggak ada yang tahu. Perasaan orang bisa berubah. Mungkin aja suatu saat kamu bosan dengan aku dan kamu minta putus, siapa yang tahu?" Jeda sebentar, tangan Virgo mengelus tangan Libra yang di genggamnya menggunakan jarinya. "Kita masih remaja, Yang. Masih panjang perjalanan kita untuk masa depan. Kita masih harus mewujudkan mimpi kita, cita-cita kita, kuliah, bekerja, dan barulah nanti kita akan dipertemukan masa dimana kita akan memikirkan tetang sebuah pernikahan dan berumah tangga. Tapi itu nanti, ketika kita sudah dewasa dan paham dengan hal tersebut.


"Sekarang kita fokus aja sama hidup kita. Aku cinta kamu itu iya. Tapi untuk memikirakan hal yang lebih jauh itu jangan. Tuhan punya rencana yang indah untuk kita." Libra mencerna kalimat demi kalimat itu dengan hati-hati.


Semua yang dikatakan oleh Virgo memang benar, tapi dia tak mungkin tak memikirkannya. "Jangan membebani hati kamu dengan sesuatu yang masih menjadi rahasia Tuhan, Yang." Virgo menegakkan tubuh Libra kemudian duduk di bawah gadis itu, menggenggam kedua tangannya lalu dia bilang, "Hiduplah seperti arus air, Yang, agar kamu nggak ngerasa berat." Itu adalah cara Virgo menenangkan sang kekasih agar tidak terlarut dalam kesedihna.


Namun dia pun ikut serta dalam mencari tahu kebenaran yang di katakana oleh Libra kepadanya langsung ke kakeknya. Maka malam ini yang tak seperti biasanya, dia datang ke rumah lelaki itu. Jelasnya saja kemunculannya secara tiba-tiba itu membuat nenek dan kakeknya kaget. Namun setelahnya tawa bahagia itu menguar.


"Cucuku," Beliau bilang. "Ada angin apa si ganteng satu ini datang ke rumah kakek?" Benar memang apa yang dikatakan oleh pak Wondo, karena Virgo memang jarang sekali datang ke rumah tersebut kalau tidak dengan panggilan dari kakeknya.


"Tentu saja aku ada urusan dengan Kakek." Begitu blak-blakan sekali memang bocah satu itu.


"Nggak berubah ya," Dengan kecepatan kilat, si nenek bahkan sudah mengambilkan minuman dan cemilan untuk cucu kesayangannya itu. Senyum wanita itu lebar sekali karena bahagia.


"Sering-sering lah, Nak, datang ke rumah." Di elusnya punggung Virgo dengan sayang dan mentapnya dengan kasih.


"Nenek tahu nggak, kalau meskipun aku nggak datang, aku selalu mendoakan nenek dan kakek setiap habis sholat." Kalimat itu membuat nenek dan kakek Virgo tertegun kemudian saling menatap satu sama lain. Benarkah apa yang di katakan oleh Virgo? Mungkin begitulah yang di pikirkan.


"Kamu serius, Nak?" Pertanyaan itu merujuk pada ucapan terakhir Virgo.


"Kakek yakin dia nggak bohong." Katanya dengan pandangan yang bangga terhadap Virgo. "Kapan hari itu kakek ketemu sama Aksa dan tidak sengaja dia menceritakan tentang Virgo yang sekarang mainnya di rumah Aksa. Jadi kakek yakin kalau dia tidak melakukan kewajibannya, dia akan di goreng di wajan dengan minyak panas." Suasana hati pak Wondo benar-benar baik kali ini.


"Ehem." Virgo mengiyakan dengan mantap, "Kakek benar sekali. Karena istri bang Aksa itu garang sekali. Jadi jangan pernah main-main sama dia atau hidup kalian akan celaka." Lagi-lagi tawa itu keluar dari bibir nenek yang merasa lega ada orang yang sanggup membuat cucunya berubah.


Obrolan mereka berlanjut kemana-mana. Sampai ada sebuah pembahasan yang bisa Virgo masuki untuk memancing kakeknya mengatakan tentang perjodohan itu.


"Memang aku nggak papa kalau pacaran?" Santai dalam mengucapkan, tapi juga merasa hatinya berdesir harap-harap cemas.


"Nggak masalah. Kamu masih muda, tapi jangan sampai melakukan hal-hal yang tidak-tidak." Hal itu biasa dikatakan oleh orang tua untuk sebuah nasehat.


"Kalau aku pacaran, gimana sama cewek yang akan Kakek jodohkan ke aku?"


"Nggak usah di pikirkan," Jawabnya enteng, "Kamu boleh berpacaran dengan orang lain kalau memang kamu menyukai orang lain. Perjodohan itu akan kita bicarakan lagi nanti."


"Kok gitu?"


"Kenapa nggak gitu? Kakek mau kamu bahagia, tapi kalau pilihan kakek tidak membuat kamu bahagia buat apa?" Virgo tak lagi bisa membantah.


*.*