Blind Love

Blind Love
Episode 40



Libra merenungi ucapan Tere sore tadi. Kini waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi dan dia belum sanggup menutup matanya. Seandainya apa yang dikatakan oleh Tere itu adalah sebuah kebenaran, maka Virgo adalah lelaki yang benar-benar memikirkan dirinya. Sejujurnya, dalam hatinya pun dia tak pernah menyalahkan lelaki itu dalam putusnya hubungan yang terjadi di antara mereka. Tapi sayangnya dia kecewa karena Virgo tak mau memperjuangkan dirinya di depan orang tuanya.


Menghembuskan napas Lelah, kemudian dia mencoba untuk tidur. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan jika besok dia akan terkantuk-kantuk ketika kuliah.


Paginya, Shila menjemput Libra ke kos Libra agar mereka bisa berangkat bersama. Bahkan ketika mereka sudah berada di dalam mobil Shila berusaha untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada temannya itu.


“Mata lo masih agak bengkak, Li. Kayaknya lo terlalu banyak nangis,” Shila membuka obrolan. Libra menoleh ke arah Shila dan mengangguk.


“Gitu deh,” jawabnya enteng, “Cara ampuh untuk kita bisa melegakan hati kan memang menangis.” Lanjutnya dengan santai.


Dan Shila tak lagi menyambung entah karena apa. Mungkin saja gadis itu merasa tak enak hati kalau harus mendesak Libra agar gadis itu mengatakan masalahnya. Mereka memang berteman, tapi tetap saja ada batasan dalam sebuah rahasia.


Sampai di depan fakultas, mereka sudah ditunggu oleh Zidan dan juga Rion. “Dua kampret itu udah ada di sana aja,” tunjuk Shila kepada dua orang itu.


“Zidan pasti nungguin lo,”


“Kita. Dia nungguin kita.” Revisi Shila dengan ucapan Libra. Libra menyeringai ketika wajah malas itu terlihat begitu jelas.


Namun tak lagi mendebat karena mereka sudah berada di depan dua lelaki itu. “Setia sekali kalian,” begitu kata Libra sambil mengangsurkan kepalan tangannya untuk ‘tos’ kepada kedua lelaki itu. Entah sejak kapan kebiasaan itu dimulai, tapi ketika mereka bertemu, selalu seperti itu.


“Karena dua princess ini harus dijaga, bahaya cowok-cowok berkeliaran di sekeliling kalian,” Rion menjawab. Lelaki itu berdiri dan mengikuti kedua gadis itu masuk ke dalam fakultas dan naik ke lantai dua karena kelas pagi ini ada di sana.


Kembali duduk di depan kelas karena belum ada yang datang selain mereka berempa, mereka mengobrolkan apapun. Tawa juga keluar dari mulut mereka.


“Nonton yuk setelah ini.” Ajak Zidan, “Gue yang traktir.”


“Wohooo!” seru Rion dan Libra, “mau lah.” Rion dengan semangat mengatakan itu. “Acara apa ini Dan?”


“Nggak ada, kayaknya kita lama nggak jalan bareng. Sibuk sekali kalian akhir-akhir ini ya?” wajahnya menunjukkan sindiran keras. Dan mendapatkan kekehan dari Rion.


“Gue sibuk, tapi sibuk di dalam kamar karena tidur.” Katanya dengan ringan dan mendapatkan putaran bola mata dari Zidan. Sedangkan Shila hanya diam saja sedari tadi. Dan merasa tak perlu untuk bertanya tentu saja ketiga orang itu karena tahu jika teman mereka satu itu memang memiliki ‘masalah’ dengan Zidan. Jadi tak ada bujukan agar gadis itu tak lagi cemberut.


Tak enaknya berteman antara lelaki dan perempuan memang seperti itu. Pasti ada sesuatu perasaan yang lama-lama akan muncul di hati salah satu dari mereka. Memang tak ada larangan atau peraturan dari empat orang itu jika persahabatan mereka akan pure teman, toh mereka sudah dewasa. Mereka tahu jika mengambil keputusan untuk mencintai temannya sendiri pastilah akan memiliki dampak pula bagi pertemanan mereka.


Dan hari ini mereka benar-benar merealisasikan rencana yang diusulkan oleh Zidan kepada teman-temannya. Keluar dari kelas, mereka langsung menuju parkiran untuk mengambil kendaraan mereka. “Gue bawa mobil,” begitu kata Zidan, “Bawa mobil gue aja ya.” Pasalnya Shila juga membawa kendaraan beroda empat itu.


“Nggak ah, gue mau langsung pulang nanti.” Tolah Shila atas usul Zidan.


“Kalau gitu motor lo di titip di kos Libra aja, Yon. Nanti gue antar kalian pulang.” Dan langsung disetujui oleh mereka.


“Yuk, Yon, ikut lo aja gue.” Dan langsung naik ke atas boncengan lelaki itu. Motor besar itu memang menjadi pilihan anak-anak muda jaman sekarang. Virgo juga menggunakan motor yang seperti itu, batin Libra kembali mengingat. Tapi berusaha ditepis oleh hatinya.


Sampai di kos Libra, Shila juga ikut turun. Rion memasukkan motornya ke dalam garasi besar yang sudah disediakan kos Libra. Dan dimintakan izin kepada bapak satpam yang memang menjaga kos tersebut.


“Nonton film apa?”


“Hantu?”


“Nggak mau gue, hantu kaya apa dulu nih, kalau hantu pocong-pocongan gue mending tidur.” Bukannya takut, namun bagi Rion, hantu yang seperti itu sama sekali tak menakutkan dan kebanyakan ‘menjual’ kulit mulus artisnya. Entah apa saja nanti yang di sorot.


“Romance kalau gitu.” Pasti itu adalah pilihan dari para gadis, karena memang mereka lebih menyukai kisah cinta-cintaan dibandingkan memacu adrenalin


“Malas!” tolak Zidan, “action aja lah. Nggak berhantu dan memacu adrenalin.” Jujur saja, obrolan mereka ini bising sekali dan sepertinya mengganggu orang-orang yang ada di balik pembatas tembok di sebelahnya. Mereka masih di parkiran dan belum masuk ke dalam ruang tamu.


“Li!” Tere muncul dengan kening mengernyit, “Lo mau jalan?” tanyanya dengan tatapan yang entahlah tak bisa diartikan sama sekali.


“Iya. Mau ikut?” tawarnya dengan santai.


“Hai, Li!” Edo muncul di belakang Tere dengan senyum merekah.


“Hai! Pacaran aja sih.” Melihat Edo yang ada di sana membuat dirinya mengingat tentang Virgo. Tapi lagi-lagi ditepisnya pemikiran itu. Lelaki itu tak mungkin ada di sana dan tak akan sudi menjadi obat nyamuk.


“Namanya juga punya pacar, ya pacaran lah, emang yang jomblo, kasihan nggak bisa pacaran.” Dan dihadiahi geplakan oleh Libra.


“Kampret lo emang.” Yang mendapatkan balasan tawa dari Edo.


“Udahlah, berangkat dulu kami,” pamit Libra kepada pasangan yang ada di depannya.


“Have fun.” Edo melambaikan tangannya, “Semoga lo ketemu sama Virgo,” jelas saja itu dikatakan dengan nada rendah dan hanya Tere saja yang mendengar. Dan itu mendapatkan cubitan dari gadis di sampingnya.


“Kalau nanti dia nangis lagi, kamu mau tanggung jawab?” di pelototinya lelaki itu dan dibalas dengan cubitan pipinya.


“Uh, sayangku,” katanya sambil tersenyum lebar.


*.*


Libra keluar kosnya dengan diiringi senyum karena Rion yang berada di sebelahnya menceritakan hal yang mungkin terdengar lucu. Mereka akan menggunakan dua mobil alih-alih satu mobil. Karena itu, Rion akan satu mobil dengan Libra, dan Zidan bersama Shila.


“Kira-kira mereka di mobil akan tengkar nggak ya, Li?” Zidan dan Shila sudah masuk ke dalam mobil Shila. Dan Rion mulai bertanya.


“Nggak deh kayaknya. Paling si Shila cuma cemberut aja sih.” Keduanya saling terkekeh. Tahu sekali dengan tabiat Shila yang suka sekali memanyunkan bibirnya.


“Ya udah kita berangkat lah, mau tengkar kek, mau enggak, urusan mereka. Yang penting kita akur-akur aja,” dengan nakalnya Rion mengerlingkan matanya yang membuat Libra tertawa.


“Playboy merk tupperware,” Libra mencibir tapi tak ayal juga terhibur dengan apa yang dilakukan oleh Rion kepadanya.


Sayang sungguh sayang, karena senyum lebar Libra tak berlangsung sama. Karena dari arah yang berlawanan, Virgo turun dari motornya dengan mata menatap ke arahnya dengan rahang yang mengetat. Tak ada senyum yang diberikan kepada gadis itu.


Tatapannya sama sekali tak bersahabat. Tajam sekali. Libra harus merasakan jantungnya seperti ditekan dengan benda berat sampai terasa sesak. Sungguh, dia seperti kedapatan sedang berselingkuh saja sekarang.


“Li!” panggilan itu tentu saja bukan dari Virgo, Rion lah yang melakukannya, “Ayo, ah, kita berangkat.” Dan barulah gadis itu sadar dari aksinya menatap Virgo yang masih berdiri di sana. Bahkan ketika mobil yang membawa Libra pergi, Virgo masih mematung di tempat yang sama.


Libra tentu saja merasa tak nyaman di dalam hatinya. Bahkan entah apa saja yang dikatakan oleh Rion sejak tadi, dia sama sekali tak menanggapi. Dan sudah berapa kali pun dia mencoba menarik napas agar rasa sesak itu segera pudar, sayangnya tak berhasil.


Tangis itu memang tak keluar, namun kesedihan itu seolah mengejeknya. “Li! Lo oke?” karena tidak ada timbal balik dalam percakapan yang dilakukan oleh Rion, maka lelaki itu bertanya.


Tak ada jawaban, “Li!” panggilnya lagi, “Kalau emang lo nggak enak badan, gue antar lo balik lagi.” Katanya.


“Nggak papa, Yon, gue oke kok!” tak ingin membuat temannya itu khawatir, maka meskipun perasaannya yang tiba-tiba memburuk, dia akan tetap ikut serta dalam rangka jalan-jalan hari ini.


Rion menoleh sebentar memastikan jika apa yang dikatakan oleh Libra adalah sebuah kebenaran, maka dia tak masalah untuk menyetujui ucapan Libra kali ini. Dan tak berusaha bertanya tentang perubahan hati gadis itu.


Shila dan juga Zidan sudah sampai di mall. Dan dugaan Libra memang benar, jika gadis itu memanyunkan bibirnya dengan Zidan yang merangkul bahunya sesekali mengelus rambut Shila. Baik Rion maupun Libra sama sekali tak ambil pusing dengan kelakuan dua temannya itu. Entah hubungan seperti apa yang mereka jalani sekarang ini.


Mereka langsung naik ke lantai dimana bioskop itu berada. “Jadi mau nonton film apa?” Zidan yang kali ini menggandeng tangan Shila kini bertanya untuk memastikan, keempat orang itu melihat poster yang dipasang di dalam bioskop.


“Gue pengen nonton thriller,” jawaban Libra.


“Gue juga sama,” Rion menyetujui.


“Ikut aja.” Shilla yang ditatap oleh Zidan sebagai tanda pertanyaan, menjawab.


“Oke! kita nonton flm thriller aja. Biar ada aderenalinnya dan nggak menye-menye.” Begitu kata Zidan yang memang suka sekali dengan genre film seperti itu.


Sudah mendapatkan tiket, dan sebentar lagi film akan dimulai. Ada yang kurang rasanya jika tak melengkapi tontonan mereka dengan popcorn dan cola. Maka Zidan juga membelikan dua cup besar popcorn dengan empat minuman.


Pertemanan mereka memang seperti itu. Tidak ada yang rugi mengeluarkan uang mereka jika untuk teman-teman mereka. Royal sekali memang.


Menunggu di kursi depan teater, mereka ikut bergabung dengan pengunjung lainnya yang juga sedang menunggu film yang akan ditontonnya.


“Cewek-cewek ini kenapa sih?” Rion yang bersuara karena merasa malas melihat wajah kedua temannya yang kuyu, “Libra sebelum berangkat tadi tiba-tiba bad mood, Shila juga manyun saja dari tadi. Nggak asik banget kalian.” Libra memasukkan popcorn ke dalam mulut Rion mendengar dumelan temannya itu.


“Di asyik-asyikin aja, nggak usah berisik,” begitu katanya dengan wajah yang sangat menyebalkan sekali. Begitulah memang Libra. Sikapnya tak pernah terduga.


Libra memang tadi suasana hatinya sedang buruk, tapi dia berusaha untuk mengenyahkan perasaan itu karena sekarang dia sedang bersama teman-temannya. Dia tak ingin kesenangan yang lain terganggu karena dirinya.


“Tapi, Li, kenapa lo tiba-tiba kaya gitu tadi? Lo pasti ada sesuatu sama cowok tadi kan?” tebakan yang diberikan oleh Rion membuat Libra langsung menolehkan kepalanya ke samping di mana Rion berada. ‘Lo lihat cowok tadi? Kok lo bisa menebak dengan benar?’ begitulah arti tatapannya. Karena itu dia hanya sanggup diam tanpa menjawab.


“Iya, gue tahu.” Bahkan Rion mengatakan itu dengan santai. Mereka memang berbicara dengan suara rendah, karena tak ingin kedua orang di depannya yang sibuk saling cemberut itu mendengarnya.


Libra menunduk dan melihat sepatunya yang sama sekali tak ada yang menarik. “Lo sebenarnya bisa curhat sama gue masalah apapun, Li,” ucap Rion lagi, menyandarkan tubuhnya di dinding, barulah melanjutkan ucapannya, “gue emang bukan orang yang akan kasih solusi yang luar biasa, tapi paling enggak solusinya bisa kita cari bareng-bareng. Kita ini teman kan?” hati Libra jelas saja terharu mendengar kalimat yang Rion katakana kepadanya.


“Thanks, Yon,” Libra ikut menyandarkan punggungnya di dinding, “gue lega punya temen yang baik kaya kalian ini.” Katanya.


*.*


“Hati-hati.” Libra melambaikan tangannya ke arah Rion dan juga Zidan yang pergi meninggalkan kosnya. Jalan-jalan kali ini memang tak semenyenangkan yang dibayangkan. Tapi Libra merasa jika sesak yang tadi dirasakannya itu memudar, walaupun sedikit.


Memutuskan untuk ke kamar, Libra berjalan lunglai. “Li!” segerombolan manusia itu ternyata Tere dan kawan-kawannya. Dan Virgo masih ada di sana. Menatapnya dengan datar dan tak bersahabat. Tak menyapanya apalagi tersenyum ke arahnya.


“Belum kelar kerjaannya?” kalau seperti ini, pastilah mereka sedang mengerjakan sesuatu. Libra sama sekali tak berani melirik kearah Virgo karena lelaki itu benar-benar menunjukkan seperti ingin menelannya hidup-hidup.


“Belum. Gabung sini.” Ajak Tere yang langsung mendapatkan penolakan dari seseorang.


“Nggak usah!” suara kaku itu keluar dari lelaki yang sejak tadi menatapnya dengan tajam. Tentu saja Virgo pelakunya, siapa lagi.


“Kita dari tadi ngerjain ini nggak kelar-kelar. Jangan menambahi orang lain lagi dan menambah kepala gue tambah pening.” Libra sontak saja menatap ke arah lelaki itu yang belum mengalihkan tatapannya darinya.


Matanya langsung mengembun dengan tenggorokan yang terasa kering. Bahkan tak hanya Tere yang kaget dengan hal itu, kedua orang yang lainnya pun sama kagetnya. Mereka tak tahu hal apa yang melatar belakangi Virgo melakukan itu. Karena sebelum Libra datang, suasana hati Libra masih baik-baik saja.


“Gue balik ke kamar aja, Re.” senyum yang diberikan Libra kepada Tere benar-benar dipaksakan. Hatinya tak lagi terasa sakit, tapi lebih dari itu.


*.*