
El keluar dari toilet ketika ada seseorang yang menyegatnya. Kepalanya terangkat untuk menatap siapa pelakunya dan matanya mendapati seorang lelaki sedang tersenyum tipis ke arahnya.
"Hai!" sapanya dengan ringan. El sama sekali tak merubah ekspresinya dan melihat penampilan lelaki tersebut. Dia memakai seragam taekwondo dan memang terlihat sangat gagah.
"Kita bertemu lagi kan?" katanya masih dengan senyum. El tak menanggapi dan berlalu begitu saja dari hadapan lelaki tersebut namun tangan El dicekalnya.
"Lepasin!" kata El tak terima ada orang yang menyentuhnya. Tatapan matanya terlalu tajam dan lelaki tersebut langsung melakukan apa yang El katakan.
"Sorry!" katanya, "Lo nggak lupa sama gue kan?" lanjutnya lagi. Dan El benar-benar tak mempedulikan lelaki tersebut. Namun bukannya marah diperlakukan seperti itu, lelaki itu justru tersenyum dan merasa ini menjadi sangat menarik.
El kembali duduk di bangku penonton dan melihat ke arah lapangan. Dia memang sedang menonton pertandingan taekwondo bersama tiga orang yang lain. Rigel juga mahir dalam olahraga tersebut bukan? Benar, tapi dia tidak mengikuti pertandingan tersebut.
Bagi Rigel, dia sama sekali tak perlu menunjukkan kemampuan yang dimilikinya dan menjadi penonton baginya lebih seru.
Tepuk tangan riuh ketika pertandingan dimulai. El bisa melihat lelaki yang tadi mencegatnya berdiri di sana dan akan segera beraksi. El menonton dengan sungguh-sungguh.
"Dia juara bertahan selama tiga tahun berturut-turut." Rigel mengatakan kepada Al, "Gue suka lihat aksi dia." Lanjutnya lagi.
Al juga konsentrasi menonton tanpa banyak bicara. Awalnya memang hanya Rigel yang akan menonton pertandingan tersebut, tapi El ikut, Al yang tak mau pulang sendiri, akhirnya memutuskan untuk ikut serta dan tentu saja Odel juga 'diseretnya' untuk ikut.
Hanya menonton sebentar saja, karena Rigel memutuskan untuk mengajak yang lainnya balik. Dia tak menunggu sampai pertandingan itu selesai. Dan mereka hanya menurut saja.
Keluar dari gedung, mereka memutuskan untuk makan terlebih dulu sebelum pulang. Namun lagi-lagi laki-laki tadi kembali menghadang El.
"Tunggu!" katanya. Bukan hanya El saja yang menoleh, tiga orang bersamanya juga melakukan hal yang sama. Rigel mengernyit ketika dia melihat seseorang yang tadi dirumpikan olehnya dan juga Al berada di depannya.
Al yang melihat itu juga mengernyit, namun tanpa menunda, lelaki itu bertanya. "Kamu kenal sama dia?" karena tatapan itu diberikan lelaki asing itu untuk El, karenanya dia bertanya kepada kembarannya.
"Sorry!" katanya lelaki itu, "Waktu itu gue hanya memperkenalkan diri dengan terburu-buru," tangan lelaki itu kemudian terulur di depan El, "Gue, Orion." Tatapan datar yang diberikan kepada lelaki itu benar-benar membuat Orion merasa benar-benar tertarik. Karenanya dia bertahan di sana untuk menunggu sampai gadis itu menyambut tangannya.
"Gue, El." El menyambut tangan Orion.
"El?"
"Elara." Senyum Orion kembali terbit.
"Elara. Bulan di Jupiter, benar kan?"
Dan Orion adalah orang pertama yang mengartikan namanya di pertemuan kedua mereka. El mengangguk mengiyakan karena memang itulah arti namanya.
"Orion, konstelasi paling terang dan paling terkenal di langit. Apa nama lo menunjukkan itu?" senyum Orion tak lagi bisa dikendalikan. Lelaki itu tersenyum sangat lebar dan matanya seperti penuh dengan jutaan bintang. Terang benderang.
"Sangat menarik." Kata Orion, "Bukankah kita berdua seperti berada di luar angkasa?"
"Bukan hanya kalian berdua." Rigel sepertinya sedikit panas melihat pemandangan di depannya, "Gue Rigel, bintang paling terang di rasi bintang Orion." Orion benar-benar tak habis fikir sekarang, kenapa dia dipertemukan kepada orang-orang yang memiliki nama diambil dari gugusan nama bintang.
Banyak orang tua yang akan memberikan nama anaknya dengan menggunakan nama benda di langit, tapi tentu mereka tak berkelompok. Dan sekarang? mereka berkumpul menjadi satu. Mungkin bagi Orion itu adalah hal yang luar biasa.
"Wah!" Orion, mungkin jika terdengar dari namanya, lelaki itu akan memiliki sifat yang sama dengan Al maupun Rigel. Kaku, tajam, dingin, namun sedikit berbeda dengan Orion. Dia memiliki kepribadian yang hangat.
"Ini keren." Kata Orion lagi. Al diam saja sejak tadi. Tak membuka suara atau masuk ke dalam obrolan. Orion menatap Al dengan wajah yang agak kaget. Kemudian kembali melihat El dan balik lagi menatap Al.
"Kalian kembar?" tanyanya setelah mendapati jika wajah Al dan El terlihat sangat mirip.
Al mengangguk, namun sama sekali tak mengatakan apapun. Orion kembali mengurukan tanganya, "Gue, Orion," lelaki itu kembali memperkenalkan dirinya kepada Al.
"Al." Seperti El yang hanya mengatakan nama panggilannya saja, Al juga melakukan hal yang sama.
"Aldebaran, Altair, Aludra__"
"Altair." Jawab Al sebelum Orion mengabsen nama-nama bintang di ruang angkasa.
"Ini sungguh luar biasa." Katanya Orion dengan menggelengkan kepalanya, "Gue senang ketemu kalian dalam ketidak sengajaan seperti sekarang. Gue berharap, gue bisa menjadi bagian dari kalian." Katanya dengan ucapan yang memang benar-benar terdengar tulus, "Gue pergi dulu, maaf menghalangi jalan kalian." Kemudian lelaki itu berlalu dari sana dengan berlari kecil.
"Ganteng, El." Kata Odel setelah Orion tak lagi terlihat di matanya.
"Gue punya pemikiran sama kayak lo." Jawab El santai, kemudian menarik Odel untuk segera berjalan dan pergi dari tempat itu.
"Gue udah lapar." Katanya dengan suara agak keras memberi kode kepada dua lelaki di belakangnya agar mereka segera mengikutinya.
El dan Odel masuk ke dalam salah satu rumah makan yang ada di depan gedung olahraga, dan duduk di salah satu meja. Setelah memesan. Diikuti Al dan Rigel.
"Kamu kenal sama dia sejak kapan?" itu pertanyaan dari Al.
"Waktu di mall." El mengambil sebungkus kerupuk, menyobek bungkusnya, kemudian memakan isinya.
"Kok aku nggak tahu?" menjadi orang yang protective si Al kali ini. El menatap kembarannya itu dengan datar.
"Dan tentang Orion, aku nggak sengaja ketemu dia. Dia tiba-tiba duduk di depanku ketika aku makan ice cream, dan ya__, hari ini kami kembali bertemu." Jelasnya kepada Al dan secara langsung jelas di dengar oleh dua orang temannya.
Dan akhirnya Rigel tahu siapa orang yang duduk di depan El waktu itu. Lelaki itu memang tidak tahu wajah lelaki asing yang bersama El ketika dia melihatnya karena dia hanya melihat dari arah belakang.
"Sebetulnya kami nggak pacaran, El." Odel tiba-tiba bersuara. Kunyahan El berhenti sejenak sebelum kembali bergerak, "Waktu itu kami hanya mengerjai lo dan lo sepertinya berasumsi jika itu benar." Odel tak enak hati mengatakan hal itu kepada El.
"Suka sekali ngerjain gue." Masih terlihat santai, tapi tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya.
"Gue minta maaf, El." Bukannya marah, El hanya menghela nafas kemudian bilang,
"Its oke. Bukan masalah besar." Katanya. Al menatap Odel yang tiba-tiba mengatakan hal itu. Meskipun dia tahu jika El mungkin merasa dibodohi, tapi Al mencoba peruntungan dengan bertanya.
"Kenapa kamu nggak marah kalau aku sama Odel?" pesanan mereka datang dan jawaban yang akan El berikan terjeda.
Bukannya melanjutkan, El justru menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. "Mas!" panggilnya kepada pelayan, "Saya mau ayam kremesnya dua potong lagi. Kasih sambal hijau." Pelayan tersebut mengangguk dan mengambilkan pesanan untuk El.
Di piring padahal sudah ada sepotong ayam kari, tapi gadis itu sepertinya memang tidak puas. Mereka memang makan di restoran padang. Dan nasi padang, adalah salah satu makanan favorit El.
"Wah! Enak banget sih." Katanya pada makanan tersebut. tidak mempedulikan tentang teman-temannya yang sedang menatapnya. Mereka cukup tahu diri untuk tidak mengganggu El, mereka tidak tahu apakah El sedang baik-baik saja setelah mendengar keterusterangan yang dikatakan oleh Odel, atau memang dia benar-benar baik-baik saja.
Pesanan tambahannya datang dan tanpa sungkan El langsung menggigiti paha ayam tersebut dengan nikmat. Bahkan ketika teman-temannya belum selesai makan, dia sudah selesai lebih dulu. Menyesap minumannya, dan mengakhiri makan sore hari ini.
Barulah dia berbicara kembali, "Seperti yang pernah aku bilang waktu itu, aku kenal siapa Odel dan aku tahu dia adalah cewek yang sangat baik. Itu sebabnya aku mengijinkan kalau kamu mau pacaran sama dia." Katanya.
"Kalau gitu, gue akan seriusin dia." Jawaban Al itu membuat Odel yang mendengar tersedak. Buru-buru minum, gadis itu menatap Al.
Tak peduli dengan reaksi Odel, Al justru menggenggam tangan Odel, "Aku nggak tahu ini perasaan yang seperti apa, tapi berawal dari sering berinteraksi sama dia setelah kecelakaan yang pertama dan dia masuk rumah sakit, aku merasa harus ada di samping dia. Apalagi ketika kejadian kedua terjadi, niat itu justru semakin kuat."
"Jangan hanya karena itu lo mau sama gue, Al." Odel yang lebih dulu menanggapi alih-alih El, "Orang pacaran itu butuh kasih sayang yang tulus dan cinta."
"Dan gue memang tulus ingin sama lo. Rasa itu sudah ada di dalam hati gue." Niat Odel mengatakan kebenaran itu kepada El adalah agar dia bisa segera menyelesaikan 'keterikatan' yang tidak benar-benar terikat itu dengan Al, tapi justru Al mengatakan sesuatu yang tak pernah diduganya.
El menghela nafas berat sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Terserahlah, kalian mau pacaran bohongan atau betulan, yang penting kalian tidak saling menyakiti. Kalau sampai itu terjadi, gue yang akan bertindak." Dan Odel dibuat takjub dengan keputusan El. Dia menyerah begitu saja dengan keputusan Al memacarinya setelah kebenaran itu terungkap.
Al tersenyum dan semakin erat menggenggam tangan Odel. Ini adalah kali pertama Al memiliki kekasih. Dia tak muluk akan membawa Odel sampai ke jenjang pernikahan. Dia masih terlalu muda untuk memikirkan itu, hanya saja, dia akan berusaha menjadi kekasih yang baik bagi Odel. Itu saja sepertinya sudah cukup untuk saat ini.
*.*
Orion datang ke sekolah El dan menunggu di depan sekolah tersebut. Orang asing yang tampan pastilah sangat menarik perhatian banyak orang. Lelaki itu tahu sekolah El karena seragam yang digunakan ketika menonton taekwondo waktu itu.
Mencoba peruntungan, itulah yang dilakukan oleh Orion sekarang. Pertemuan waktu itu dia lupa meminta nomor ponsel El, sedangkan El tidak menerima permintaan pertemanan ketika mem follow social media gadis itu. Dan jalan satu-satunya untuk bisa bertemu dengan El adalah dengan mendatangi gadis tersebut.
Lama Orion menunggu di sana, tapi tak ada tanda El keluar dari sekolah. Hampir dia menyerah ketika melihat Al keluar dengan Odel disampingnya.
"Al!" panggilnya. Al menatap Orion dengan mengernyit. Mungkin dalam benaknya bertanya, apa yang dilakukan oleh lelaki itu di sana. Namun Al tetaplah Al yang tak mengatakan apapun dengan kedatangan Orion ke sekolahnya.
"Gue mau ketemu sama El, tapi dari tadi kayaknya dia nggak ada keluar." Orion the point. Namun tak lama. Gadis itu keluar bersama Rigel. Dan, menatap Orion tanpa berkata-kata. Hanya ditatap datar.
"Aku udah dijemput." Kata Odel ketika melihat mobil hitam yang mendekat ke arah mereka, "Pulang dulu ya." Odel berpamitan kepada teman-temannya dan juga Al kemudian masuk ke dalam mobil. Meninggalkan orang-orang itu yang sepertinya akan menyelesaikan sebuah masalah.
"Hai! El." sapanya dengan senyum kecil. Seperti yang dilakukan Al, El pun juga hanya diam tanpa mengatakan apapun. "Kedatangan gue kesini untuk ketemu lo, dan gue harap lo nggak keberatan."
"Tujuannya?" wajah El masih sedatar papan.
"Pengen ketemu, lihat lo."
"Buat apa?"
Orion mengedikkan bahunya tak acuh, "Nggak ada tujuan apapun. Gue udah puas bisa lihat lo sekarang." Diakhiri dengan senyum kecil, "Kalau gitu, gue balik dulu." Masuk ke dalam mobilnya, lelaki itu kemudian pergi meninggalkan sekolah El.
El menghela nafas menatap mobil yang melesat pergi dengan wajah datar. Melirik Al dan mengedikkan kepalanya. "Apa itu maksudnya?" begitu tanyanya pada kembarannya.
"Hanya dia yang tahu." Jawab Al dengan cuek. Sedangkan Rigel yang masih tak berkata-kata itu sepertinya tengah mencerna sesuatu. Sedangkan Orion yang sudah pergi dari sekolah El itu tersenyum di dalam mobil. Entah apa yang dipikirkan dengan dia datang ke sekolah El dan menemui gadis tersebut. sepertinya dia hanya menuruti saja kata hatinya.
El adalah gadis yang menarik bagi Orion, sejak pertemuan pertama, lelaki itu sudah tertarik dengan El. Dan ditambah lagi dengan pertemuan kedua mereka. Dan sepertinya dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Orion kemudian mengernyit, masih ada satu lelaki bernama Rigel. Apa hubungan El dengan Rigel? hanya sebatas teman atau ada sesuatu diantara mereka. Orion bisa merasakan bagaimana Rigel menatapnya sejak pertama kali mereka bertemu. Lelaki itu sepertinya tak suka dia mendekati El. Dia merasa perlu memastikan itu.
"Kalau memang El masih single, gue akan pacarin dia." Gumamnya kepada keheningan. Entah kenapa senyum Orion sepertinya tak surut dan dia seperti merasa jika dirinya benar-benar menemukan seseorang yang cocok untuknya.
"Elara!" ucapnya sambil tangannya sibuk dengan stir.
*.*