Blind Love

Blind Love
Kisah 30



Sebuah keajaiban ketika Al mau digendong oleh Ardi. Bocah itu ingin bertemu dengan orang tuanya tapi sampai saat ini belum ada dari dua orang tersebut datang menjempunya. Al sempat menangis sesenggukan. Awalnya El yang berteriak menginginkan ibunya, dan kemudian Al ikut serta.


El yang di gendong Jihan untuk ditenangkan itu tentu membuat Al merasa iri hati dan semakin menangis kencang. Maka Ardi mencoba untuk mengulurkan kedua tangannya untuk menggendongnya dan Al menerima uluran tangan tersebut.


Dan sekarang yang terjadi adalah, bocah itu dengan nyaman berada dipangkuan Ardi dengan wajah menempel di dada kakeknya itu. Ardi juga tak tinggal diam, lelaki itu mengelus punggung cucunya dengan lembut. Sesekali mencium rambut bocah itu dengan sayang.


Ardi merasa sangat nyaman dengan keberadaan Al dipelukannya. ‘Cucuku’ itu adalah kata yang diucapkan di dalam hatinya. Dia tentu saja tak akan mengatakan hal itu dengan suara lantang. Bukan karena malu, pasti enggan itu ada di dalam hati.


Bahkan Jihan yang melihat Al yang sepertinya benar-benar nyaman di pelukan kakeknya diam-diam memotret dan mengirimkan kepada Libra.


‘Kamu bisa diabaikan sama dia, tapi kalau sudah cucu yang berbicara, maka tak akan ada kata abai’ begitu isi tulisan yang dikirimkannya tersebut.


Libra sudah di mobil dengan sang suami dan langsung melihat potret dari ayah dan anaknya itu. perempuan itu berseru sama sekali tak menyangka. El mungkin saja melakukan hal itu kepada Ardi, tapi ini adalah Al, bocah dingin yang hanya mau dengan orang yang sudah dikenalnya.


Bertambahnya usia mereka, sifat mereka sepertinya menjadi terbalik. Jika dulu El lah yang antipati dengan orang yang belum dikenalnya, kini Al yang memiliki sifat itu.


Libra menyodorkan ponselnya, “Coba lihat, Yang. Al lho ini.” Katanya dengan mata menatap Virgo seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Virgo menyeringai. “Apa aku bilang kan waktu itu? Ayah bisa nggak terima aku, tapi dia bisa luluh dengan cucu-cucunya.” Dan Libra mengangguk setuju sekarang.


“Kamu bener, Yang.” Libra terharu melihat pemandangan seperti itu. Inilah yang diinginkan, dia berharap agar setelah ini hubungannya dengan sang ayah akan membaik.


Sampainya mereka di kediaman Ardi, Libra dan Virgo masuk ke dalam rumah dan ingin menyaksikan sendiri seorang Ardi yang tengah menidurkan cucunya. Sayangnya itu tak terwujud karena Al ternyata sudah ditidurkan di kamar.


“Kalian memang mau langsung pulang?” Jihan bertanya.


“Iya, Ma. Kasihan Virgo tadi pulang kerja belum sempat istirahat udah aku ajak jemput anak-anak.” Bukan hanya Virgo saja sebetulnya yang lelah, dia pun sama. Karena mereka berdua baru pulang kerja.


“Kalau gitu nginap aja. Besok pagi pulang. Kasihan anak-anak.”


Libra berdiri, “Yang, ayo, diangkat anak-anaknya.” Ajak Virgo ke kamar dimana Al dan El berada. Virgo mengikuti istrinya menuju kamar tersebut. mereka tak tahu jika Ardi juga merasa tak rela jika Al El dibawa pulang oleh kedua orang tuanya. Tapi apalah daya seorang Ardi sekarang.


Kedua cucunya bukanlah hak miliknya. Jadi dia hanya bisa pasrah saja melihat El yang berada di gendongan Libra, sedangkan Al di gendong oleh Virgo.


“Kami pulang dulu ya, Ma. Yah.” Pamitnya kepada kedua orang tuanya. Jihan mengangguk dan mengikuti anak dan menantunya itu berjalan keluar rumah. Namun tak disangka adalah, Ardi juga melakukan hal yang sama.


Bahkan ketika sudah berada di depan pintu, Libra dan Virgo berbalik dan kembali berpamitan. “Besok ke rumah Oma satunya ya, Ma.” Libra hanya mengingatkan jika besok adalah giliran ibu Virgo yang menjaga si kembar. Selama pekerjaan Libra masih banyak di kantor, maka anaknya akan di titipkan secara bergantian kepada orang tua mereka.


“Iya.” Jihan sepertinya memang tak rela, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah aturan mainnya.


Libra terkekeh, “Kalau begitu kami pulang dulu ya.” Pamit Libra lagi. Jihan mengangguk sebelum mencium kedua cucunya yang sedang menikmati alam mimpinya itu.


Dan Ardi? Awalnya mengusap kepala si kembar, tapi tiba-tiba lelaki itu lebih mendekat dan mencium cucu-cucunya. Kemudian berlalu begitu saja dari sana tanpa menunggu mereka pulang terlebih dulu. Hal itu menimbulkan kebingungan bagi mereka.


Namun setelahnya mereka tersenyum seolah mendapatkan kesempatan untuk memperbaki semuanya.


“Tuhan itu tahu jalan seperti apa untuk kita lalui. Dan perjuangan ini tak akan sia-sia.” Virgo membuka percakapan ketika sudah berada di dalam rumah. Anak-anak mereka sudah tidur di box yang lumayan besar di dalam kamar tersebut.


“Iya.” Libra memainkan kain yang dipakai oleh Virgo dengan memelintirnya, “Selama ini kita nggak pernah menyerah kan?”


“Iya. Kita menjauh untuk kembali melompat lebih tinggi.” Jawab Virgo, namun lanjutannya membuat Libra sebal. “Dan bahasaku ini dangdut banget.”


Decakan itu terdengar dan Libra yang melakukannya. “Biarlah dangdut, yang penting kita happy.” Menghadapi Virgo yang seperti itu adalah hal yang menyebalkan. Jadi dia tak boleh naik darah. Maka Libra juga harus menjawabnya dengan santai.


*.*


Saya beneran udah kriting rasanya mikir kelanjutan kisah ini. Macem sinetron aja, berbelit-belit.