
“Kamu ikut pulang sama ayah!” itu adalah kalimat perintah dari seorang lelaki bernama Ardi yang sejak tadi sudah menunggu Libra datang, karena satpam kos bilang jika putrinya sedang keluar bersama temannya.
“Kenapa? Aku belum libur panjang yang mengharuskan aku untuk pulang.” Jawab Libra yang memang sudah melakukan perjanjian kepada kedua orang tuanya jika tak akan pulang ke rumah kalau tidak dalam keadaan mendesak ataukah memang sedang liburan panjang.
“Karena memang kamu harus pulang. Kalau memang perlu, nggak ada lagi kos. Kamu akan kuliah diantar dan dijemput oleh supir.”
“Aku nggak mau.” Libra menolak mentah-mentah apa yang dikatakan oleh ayahnya. Memang perjanjian itu tidak tertulis dalam sebuah bukti hitam diatas putih, tapi jelas harusnya mereka sama-sama tahu jika perjanjian itu dibuat buat untuk ditepati bukan untuk diingkari.
“Kenapa kamu suka sekali membantah?” jelas sekali jika lelaki itu merasa terpengaruh dan takut akan apa yang dikatakan oleh Virgo beberapa saat lalu. Dan itu sama sekali tidak bagus bagi perasaan Ardi.
“Karena memang harus seperti ini, Yah.” Libra menjawab pelan, “kita sudah menyepakati tentang masalah ini sebelum aku menerima keputusan yang Ayah buat. Kenapa sekarang Ayah mengingkarinya?”
“Ayah khawatir sama kamu.”
“Khawatir tentang apa? Aku baik-baik aja seperti yang Ayah lihat kan? Aku sehat dan gemuk.” Libra meyakinkan ayahnya dengan sungguh-sungguh agar semua kesepakatan ini tak diingkari oleh satu pihak.
Ardi menatap putrinya dengan serius. Sampai Libra saja keheranan karena sikap ayahnya yang menurutnya begitu aneh kali ini. Maka dengan sabar Libra mencoba untuk bertanya kepada lelaki itu, “Ayah nggak ada punya musuh sampai akan membahayakan aku kan?” pertanyaan itu dilontarkan dengan hati-hati.
“Mungkin ini lebih dari seorang musuh,” gumamnya dengan nada rendah, tapi tetap didengar oleh Libra dengan sangat jelas.
“Siapa?” Libra tak akan menunda untuk mengetahui apa yang sedang ayahnya katakan kali ini.
“Dengarkan saja ayah, Li,” masih berusaha meyakinkan, lelaki itu berusaha membujuk putrinya, “Ayah khawatir dia akan lebih menyakiti kamu.” Begitu lanjutan kalimatnya yang membuat Libra semakin kebingungan.
“Aku bingung dengan apa yang Ayah bicarakan sekarang,” katanya dengan mengernyit heran, “Ayah membicarakan tentang siapa? Dan kenapa dia harus menyakiti aku?” bedebah bernama Virgo ini memang benar-benar kampret.
Dia mampu membuat seorang Ardi yang dulunya bahkan bersikap keras dengan dirinya kini malah berbalik takut dengan apa yang dikatakan olehnya. Begitulah kemahiran seorang Virgo dalam berucap. Jangankan Libra tak menangis, Ardi saja merasa terancam.
“Udahlah, Ayah nggak perlu memikirkan hal yang nggak akan pernah terjadi. Aku akan baik-baik saja. Sekarang Ayah pulang saja. Ayah pasti kelelahan.” Libra tak ingin semakin memikirkan ‘musuh’ dari ayahnya yang sekiranya bisa menyakitinya. Dia yakin ayahnya adalah orang baik di luar sana, maka musuh itu pastilah tidak akan pernah mendekat.
“Pulang sama ayah, Li!” tegasnya lagi dan Libra tak kalah tegas saat menggeleng.
“Aku nggak mau, Yah.” Libra sekarang tak akan menurut begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh seseorang meskipun itu ayahnya.
“Tapi, Li.”
“Ayah, aku akan baik-baik aja. Ayah hanya perlu percaya sama aku. Oke!” Ardi, bukan orang yang akan menerima begitu saja dengan keputusan yang putrinya buat. Tapi apa boleh dikata, dia tak bisa melakukan hal dan mengatakan peringatan yang dikatakan oleh Virgo.
“Baiklah,” katanya menyerah, “kalau ada apa-apa, kasih tahu ayah. Jangan dipendam sendiri.” Titahnya dengan sungguh-sungguh. Di jawab dengan anggukkan oleh Libra dan setelah itu Ardi keluar dari kos Libra dan pulang ke rumahnya.
Sayangnya, kekhawatiran itu tak sampai di sana. Karena hal itu menyebabkan runtutan yang lama di dalam hatinya. Bahkan setelah beberapa hari berlalu.
*.*
Libra sibuk dengan buku yang dicarinya. “Li, gue nemu.” Rion menunjukkan buku tebal yang akan digunakan penunjang dalam mata kuliahnya.
“Gue mau. Ada berapa?” Rion mencari dan menemukan dua buku lagi.
“Ada tiga buku lagi,” katanya dengan senyum sumringah. “Jadi kita beli semua, entah Shila atau Zidan nanti yang nggak kebagian, urusan mereka.” Kata Rion.
“Oke kita bayar aja lah,” kemudian mereka mengantri di kasir. Sudah mendapatkan buku seperti ini memang membuat kelegaan sendiri bagi para mahasiswa. Karena mereka tak perlu lagi untuk kebingungan.
Keluar dari toko buku, Libra langsung turun ke lantai satu untuk pulang. Rion tak bisa mengantarkan karena memang lelaki itu ada urusan katanya. Libra sambil melihat-lihat barang-barang yang mungkin nanti akan menimbulkan keinginannya untuk membeli.
“Libra?” gadis itu menoleh dan mendapati Love di sana. Di toko baju seorang diri dan membawa tentengan paper bag di tangannya yang bisa dipastikan selesai berbelanja.
“Kak Love?” Libra mendekati perempuan itu dan bersalaman. Sudah lama mereka tak bertemu.
Love menerima jabatan tangan gadis di depannya itu dengan wajah datar. “Pacar baru?” pertanyaan ini mengarah pada sesosok lelaki yang mungkin Love ketahui tadi.
“Teman, Kak.” Katanya dengan segan. Lama tak bertemu dan Love sama sekali tak berubah di mata libra. Dan Love sama sekali tak merasa berbasa-basi ketika bertanya hal tersebut.
“Mau ice cream?” tawar Love kepada Libra. Mungkin saja perempuan itu akan mengobrol banyak dengan mantan kekasih dari Virgo itu.
Dan anggukan yang diberikan oleh Libra membuat Love memimpin jalan. Tak perlu naik lagi ke lantai atas, karena Love memilih kedai ice cream yang tak jauh dari mereka berdiri.
Love memilih ice cream durian dengan topping coklat, pun dengan Libra. Kedua perempuan masih diliputi keheningan karena Love belum ingin memulai, sedangkan Libra tak tahu akan mengatakan apa.
“Kalian sudah mengakhiri hubungan kalian?” awalnya Love bertanya. Pergerakan tangan Libra yang menyendokkan es krim tersebut harus terhenti karena pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Love kepadanya.
“Iya, Kak.” Jawab Libra dengan wajah yang tiba-tiba sendu. Dan itu tak luput dari pandangan Love.
Love menghela napas mendengar dan melihat perubahan wajah Libra yang bisa terlihat sekali jika gadis itu berduka atas hatinya yang telah patah.
“Kamu masih mencintai dia?” Libra menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab pertanyaan tersebut. inginnya dia berbohong, tapi apa yang akan di dapat dari kebohongan itu?
“Terus terang saja, itu akan membuat beban di dalam hatimu akan terangkat meskipun sedikit.” Libra masih menimbang tentang semua ini. Apakah dia akan benar-benar mengatakan jeritan hatinya kepada perempuan yang dianggap Virgo sebagai kakaknya itu, atau sebaliknya.
“Aku masih cinta sama dia, Kak.” Sepertinya mulut dengan pikirannya sama sekali tak sinkron, karena niatannya adalah dia akan memendam saja masalah itu untuk dirinya sendiri, tapi sayangnya mulutnya berkhianat.
“Aku adalah cinta pertama bagi Aksa, dan sebaliknya. Meskipun hubungan kita pernah mendapatkan tantangan dari papa, sampai LDR, kami bisa bertahan.” Dan entah dari mana cairan bening itu berasal, tapi Libra menunduk dengan deraian air mata yang mengalir di pipinya mendengar sedikit cerita dari kisah Aksa dan Love.
“LDR kami bahkan membuat aku rasanya ingin sekali membunuh Aksa karena selama dua tahunan dia nggak bisa dihubungi dan nggak menghubungiku sama sekali.” Love menceritakan sedikit kisahnya kepada Libra dan ditanggapi Libra dengan wajah yang antusias. Gadis itu mendengarkan dengan seksama berusaha memahami situasi yang mungkin sama seperti hubungannya dengan Virgo.
“Masalahku lebih rumit, Kak. Virgo sekarang ini bahkan berubah suka sekali menyakiti hati aku.”
“Menyakiti hati kamu seperti apa?” Love mencoba mengorek informasi.
Dan barulah Libra mengatakan semua kepada Love. Gadis itu mempercayai Love jika perempuan itu akan menilai masalah ini dengan objektif.
“Aku tahu ini nggak adil buat kamu,” dan Love akhirnya menanggapi, “Virgo berbuat seperti itu mungkin dia menutupi rasa sayangnya ke kamu.” Libra tak menjawab, maka Love menjelaskan, “Dia ingin mendekati kamu lagi sayangnya dia sudah berjanji kepada ayah kamu untuk nggak lagi bersama kamu, sedangkan hatinya masih begitu besar menginginkan kamu.”
Libra mengaduk es krimnya yang sudah agak mencair, “Kamu harus menguatkan hati kamu, Li. Virgo bukan Aksa yang bisa berpikir panjang. Aku selama ini memahami bagaimana sikap dia. Dia adalah orang yang santai, kita tahu itu. Dan orang seperti Virgo ini kalau sudah serius, habis sudah.” Love tak bermaksud untuk menakuti Libra, tapi memang seperti itulah kebanyakan orang.
“Jadi mulai sekarang, kamu hanya perlu menguatkan diri kamu sendiri. Itu yang bisa membantu kamu. Mungkin nanti, Virgo akan bertingkah lebih menyebalkan dari sekarang, dan kamu harus bisa ‘melawannya’ dan jangan hanya mengandalkan tangismu saja.”
“Aku akan coba, Kak.” Katanya Libra tak yakin.
Love melihat jamnya dan sudah waktunya dia untuk pulang, maka dia berpamitan. “Aku pulang dulu. Ingat, jangan sampai pengendalian diri kamu terlepas karena Virgo. Jadilah perempuan kuat, Oke!” Love bahkan mengangkat tangannya untuk menyemangati Libra.
“Iya, Kak.” Libra tersenyum dengan lebar dan mengangguk pasti. Meskipun seandainya setelah ini dia akan merasakan perasaan sakit itu kembali lagi, setidaknya dia harus kuat di depan orang lain.
“Aku udah bayar, nikmati harimu,” begitu katanya sambil berlalu dari tempat itu. Meninggalkan Libra disana seorang diri.
*.*
“Bagaimana dengan kuliah kamu?” Virgo sedang di ruang kerja ayahnya di kantor perusahaannya. Dia baru saja menemui kakeknya, dan ayahnya jelas saja meminta dikunjungi juga.
“Semua berjalan dengan baik, Pa.” ayah Virgo sekarang sudah sering berada di rumah dan bekerja di kantor, meminta orang lain mengurus di luar kota jika ada pekerjaan di sana.
“Ayah dengar, perjodohan yang dibuat oleh kekekmu ditangguhkan?” Virgo menatap ayahnya dengan kening mengernyit.
“Kakekmu yang bilang kepada papa.” Lanjutnya ketika tatapan Virgo seolah bertanya.
“Perjodohan ini, Papa nggak ikut campur?” bagi Virgo hal ini memang lah aneh. Ayah dan ibunya memang tak pernah membahas masalah perjodohan dengan dirinya.
“Tentu saja ayah ikut campur. Papa masih berhak atas diri kamu. Kamu adalah tanggung jawab papa.” Lelaki itu berucap serius.
“Om Ardi nggak suka kalau aku sama Libra,” ditatapnya sang ayah lurus-lurus mencoba melihat sesuatu perubahan di dalam wajah ayahnya, namun sama sekali tak ada.
“Ayah tahu.” Santainya ayah Virgo.
“Ada alasannya?”desak Virgo.
“Karena kamu adalah anak papa. Laki-laki yang dianggap laki-laki brengsek oleh Ardi sampai sekarang.” Wajah Virgo berubah mendung ketika mendengar hal itu.
“Jadi ada alasannya ketika beliau menentang habis-habisan hubungan kami?”
Anggukan ayahnya menjelaskan semua. Karenanya dia terkekeh merasa lucu dengan situasi seperti ini. Benar apa yang sempat dipikirkan oleh otaknya waktu itu, jika mungkin ada sesuatu sampai dia begitu tak disukai oleh Ardi.
Dan voila, dia benar dengan pemikiran itu. “Bisa Papa ceritakan apa yang terjadi di masa lalu?” Virgo tentu merasakan rasa penasaran di dalam hatinya.
“Mungkin nanti kalau ada sama ibumu, biar kamu jelas.” Sepertinya Virgo memang harus mau mengulur waktu untuk mendengar cerita tersebut.
“Aku benci cerita sedih, Pa, mungkin lebih baik Papa saja yang cerita, karena kalau mama yang cerita akan beda lagi feelnya.” Katanya kurang ajar dan ditanggapi tawa dari ayahnya.
“Ini bukan cerita sedih, Vir. Kamu nggak perlu khawatir dengan itu.” Dan mempercayai apapun yang dikatakan oleh ayahnya. Biarlah ayahnya ataupun ibunya yang bercerita nanti, yang terpenting adalah mereka menceritakan tentang masa itu dengan lengkap tanpa ada yang kurang atau dilebihkan.
Kemudian lelaki itu keluar dari kantor ayahnya dan berjalan ke lantai bawah di mana motornya berada. Virgo yang memang sering terlihat di kantor, menjadi idola baru bagi karyawan ayahnya. Apalagi kalau para karyawan perempuan yang melihatnya, dia pasti akan menjadi bahan gosip empuk bagi mereka.
“Mas Virgo!” itu adalah salah satunya. Perempuan yang memakai rok span selutut dengan kemeja hitam dan rambut tergerai itu memang terlihat menawan. Dia bersama teman-temannya ketika menyapa Virgo.
“Iya, Kak!” katanya dengan senyum yang ramah, “Mau istirahat?” tanyanya sebagai kesopanan yang dimilikinya.
“Iya, Mas Virgo mau pulang?” yang lainnya bertanya.
“Iya.” Mereka masih berada di dalam lift untuk membawa mereka ke lantai dasar perusahaan. Virgo tiba-tiba terpikir tentang apa yang dikatakan oleh ayahnya. Kalau memang bukan masalah besar, kenapa Ardi masih menyimpan rasa benci itu sampai kepada dirinya? Kenapa tidak diakhiri saja rasa kesal yang dimiliki di dalam hati lelaki itu?
Kira-kira seperti itulah pemikiran Virgo. Mau tak mau, dia harus memendam rasa penasaran itu sendirian. Lift terbuka dan dia keluar lebih dulu setelah tersenyum kepada para staf ayahnya itu. Ada bisik-bisik yang terdengar jelas di telinga Virgo.
Entah itu mengatakan jika Virgo yang begitu tampan, atau betapa menawannya dirinya, dan jenis-jenis pujian lainnya yang memang ditujukan kepadanya. Itu bukanlah hal baru lagi baginya, karena Virgo memang selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang di sekelilingnya karena dianugerahi wajah yang tampan.
Memacu motornya membelah jalanan kota Jakarta, Virgo ingin segera pulang ke rumah. Kalau memang memungkinkan, dia ingin menanyakan ‘rahasia’ antara ibunya dan juga Ardi. Itu akan menjadi senjatanya untuk ‘melawan’ Ardi jika memang lelaki itu berulah lagi kepadanya.
*.*