Blind Love

Blind Love
Seri 2



Ixy semakin berat di dalam gendongan Virgo karena tidurnya sudah sangat lelap sekali. Entah berapa kali Virgo membenarkan tubuh Ixy agar bocah itu tak melorot di dalam gendongan tersebut. “Avez bisa pegangi adek nggak nanti?” Meskipun ragu, Virgo tetap menanyakan hal tersebut.


“Bisa, Bang.” Meskipun dia akan berat menahan tubuh Ixy, tapi Avez tentu tak akan menolak untuk tetap melakukannya. Keraguan itu masih menggelayut di dalam dada seorang Virgo. Kalau terjadi apa-apa dengan anak-anak itu, Aksa dan Love tak akan pernah memberikan maaf kepadanya.


“Avez naik taxi aja ya, temenin adek. Abang akan ikuti dari belakang.” Itupun juga dikatakan dengan keraguan yang luar biasa. Bagaimana kalau sopir itu adalah penculik? Dia pasti tak akan selamat hidup di dunia ini karena Aksa akan membantainya dengan Love yang bersiap menggorengnya di atas wajan panas. Percayalah, otaK Virgo pun minus jika menyangkut hal-hal seperti ketakutan tersebut.


“Abang!” Bahkan dengan tidak sengaja dia terdiam untuk memikirkan cara agar bisa membawa dua adiknya itu pulang ke rumah dengan selamat.


“Ayo!” Begitu kata Avez karena dia pun ingin segera pulang ke rumah.


“Ya, kita cari taxi dulu. Kita naik taxi aja pulangnya.” Putusnya tanpa ada lagi keraguan sekarang. Dia akan kembali mengambil motornya setelah dia memulangkan dua anak itu dengan selamat.


Kedua tangannya menyangga bokong Ixy dan dia memerintahkan Avez untuk memegangi bagian bawah bajunya agar bocah itu tak ketinggalan, mereka mencari taxi. Harusnya dia hanya perlu membuka aplikasi yang dimilikinya dan memesan satu mobil untuk mengantarkan mereka pulang, tapi dia tak melakukannya.


“Virgo!” Panggilan itu kembali didengarnya dan dia menoleh. “Mau pulang?” Libra lagi. Gadis remaja itu masih bersama teman-temannya dan mendekati di mana Virgo berdiri.


“Iya.” Senyum tipis itu diberikan kepada Libra. “Mau pulang juga?”


“Iya. Kamu bawa dia pulang dengan motor?” Virgo menggeleng.


“Nggak lah, aku cari taxi ini mau antar mereka pulang.” Lagi-lagi membenarkan Ixy yang melorot dari gendongannya.


“Duluan ya. Udah sore.”


“Biar aku yang antar.” Ini benar-benar mainstream sekali memang, bahkan Virgo pun merasa jika dia sedang shooting sinetron saja.


“Nggak usah. Kamu pulang aja, lagian kan udah sore, nanti kamu telat pulang ke rumah.” Itu bukan sebuah ucapan kepedulian, tapi entah kenapa teman-teman Libra justru berbisik-bisik satu sama lain dengan bibir yang tersenyum lebar.


“Nggak papa. Kasihan adeknya yang kayaknya kelelahan sekali.” Libra sepertinya benar-benar tak ingin membiarkan Virgo membawa kedua bocah itu seorang diri.


“Oke.” Virgo mengangguk sebagai persetujuan. “Kamu bawa mobil?”


Dan gelengan Libra membuat Virgo mengernyit heran. “Biar adek itu aku yang pegangi di belakang, adek satu lagi duduk di depan kamu.” Virgo benar-benar tak habis pikir dengan semua ini.


“Tapi motorku nggak akan muat kalau kita berempat naik itu.”


“Bisa.” Keyakinan itu benar-benar membuat Virgo sakit kepala tiba-tiba. Dia menyetujui bantuan yang ditawarkan oleh Libra karena dia berpikir jika gadis itu membawa mobil, dan dia salah besar.


“Udahlah.” Putus Virgo. “Aku pulang dengan taxi aja. Kamu pulang aja.” Bahkan ketika Virgo memutar tubuhnya untuk berjalan, Libra mencekal tangannya.


“Biar aku ikut antarkan.” Inilah yang dibilang Virgo tempo hari jika Libra adalah gadis yang kekanakan. Seolah apa yang dia inginkan harus dia dapatkan.


*.*


Love sudah menunggu kedatangan anak-anaknya bersama Virgo dengan Aksa di sampingnya. Waktu sudah semakin sore meskipun matahari masih belum tenggelam sepenuhnya. Entah sudah berapa kali Love melihat jam di pergelangan tangannya karena yang ditunggunya tak kunjung datang. Aksa sudah mengatakan agar dia tak perlu khawatir karena Virgo akan membawa pulang anak-anak mereka dengan selamat.


Suara mesin motor mendekat dan masuk ke pelataran halaman rumah Love dan membuat perempuan itu seketika memicingkan matanya. Apalagi ketika melihat bagaimana satu motor dengan jok yang pendek dan dinaiki oleh empat orang, kepalanya seperti berasap saja.


Menahan kekesalannya, Love menatap dengan mata tajam. Menunggu orang-orang itu turun terlebih dahulu.


Terlihat seorang gadis yang menggendong Ixy dan turun dengan kesusahan, kemudian Avez yang berada di depan Virgo menyusul, barulah Virgo sendiri yang sudah memarkir motornya mendekat ke arah mereka.


Aksa dengan cepat mengambil alih Ixy dari gendongan Libra, sedangkan Love masih tak bereaksi apapun.


“Kakak pasti akan marahi aku.” Virgo sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini, karena itu dia lebih dulu mengatakan hal tersebut. “Aku minta maaf karena ini, aku….”


“Masuk!” Itu adalah perintah dan tak ada yang berani membantahnya. Love sudah mengeluarkan taringnya, dan belum ada yang berani untuk mendebat.


Maka dengan patuh, semua orang mengikuti langkah Love tak terkecuali Libra. Gadis itu memberi isyarat kepada Virgo dengan menanyakan yang tidak dimengerti. Namun Virgo juga memberi isyarat agar dia mengikuti saja.


Sampai di ruang keluarga, Love menatap Virgo seolah dia akan membantai lelaki itu. Aksa yang sudah turun kembali setelah menidurkan Ixy di kamarnya, duduk di sofa yang sama dengan Love. Sedangkan Avez sedang membersihkan tubuhnya.


“Ixy ketiduran karena kelelahan.” Dibandingkan dia akan mendapatkan omelan yang tak berhenti dari Love, dia memilih untuk menjelaskan terlebih dahulu. “Tadinya aku mau antarkan mereka naik taxi baru nanti aku akan kembali mengambil motor, tapi Libra menawarkan diri untuk mengantarkan. Aku nggak mungkin bawa Ixy naik motor dalam keadaan tidur, Kak.” Entah apakah Virgo nanti akan menjelaskan lagi atau tidak, tapi dia memang harus mengatakan hal yang dianggap benar.


“Kamu tahu bahanya membawa mereka di motor kamu yang dudukannya hanya sejengkal itu?” Love benar-benar marah sepertinya, karena ekspresi wajahnya sangat tidak bersahabat.


“Ixy nggak terjepit kok, Kak. Aku mengangkat badan dia.” Libra sepertinya tak mau hanya diam saja tanpa mengatakan apapun melihat Virgo yang seperti terdesak. “Aku memang menawarkan diri untuk mengantarkan anak-anak karena Virgo terlihat kesusahan melihat dia menggendong adik yang tertidur.”


Bukan Love kalau langsung merespon baik ucapan Libra. Hal itu sama sekali tak membuat dia merasa harus menyanjung gadis tersebut. “Apa susahnya memanggil taxi dan kalian bisa mengantarkan dengan tenang tanpa kerepotan seperti tadi?” Tatapan Love mengarah ke Virgo.


“Kamu jangan keganjenan mengajak anak-anak keluar lagi sekarang.” Keputusan itu final dan Love langsung meninggalkan ruangan keluarga untuk naik ke lantai dua.


Aksa tak mengatakan apapun tentang apa yang dikatakan Love barusan. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya. Sejak kejadian Ixy yang tenggelam waktu itu, Love memang sangat protective sekali dengan anak-anaknya.


“Ibu anak-anak memang seperti itu. Tak perlu diambil hati.” Itu ditujukan kepada Libra karena mata Aksa menatap ke arah gadis tersebut.


“Ya, saya mengerti.” Dan hanya itu juga jawaban Libra. “Saya pamit dulu.” Libra berdiri.


“Udah mau magrib, di sinilah dulu. Nggak baik magrib-magrib di jalan.” Begitu cegah Aksa. Tapi Virgo lebih dulu bersuara.


“Kakak sedang nggak baik sama aku, Bang. Kami pulang aja.” Aksa memicing menatap Virgo.


“Kamu mau antarkan dia langsung pulang?”


“Ke rumah dulu. Setelah magrib aku antarkan pulang.”


Masih tak merubah raut wajahnya, Aksa kembali berbicara. “Di rumah kamu ada siapa?”


“Oke. Jangan pernah merusak kepercayaanku.” Begitu katanya mengijinkan kedua orang remaja tersebut meninggalkan rumahnya.


*.*


“Kalau mau sholat, ada mukena di mushola.” Virgo dan Libra sudah tiba di rumah Virgo ketika adzan magrib berkumandang.


“Aku sedang nggak sholat.” Virgo mengangguk mengerti karena memang begitulah perempuan. Tuhan sayang lebih.


“Yang penting beneran nggak sholat, bukan karena ‘nggak’ sholat.” Kemudian Virgo meninggalkan Libra seorang diri di ruang keluarga setelah mengatakan itu. Mencari asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman kepada tamunya, dan dia sendiri pergi ke kamarnya.


Pukul setengah tujuh, Virgo turun dari kamarnya dan menemui Libra yang sedang memainkan ponselnya. Gadis itu mendongak medengar langkah kaki Virgo dan menatap sungguh-sungguh lelaki tersebut.


“Ayo, kuantar pulang sekarang.” Begitu kata Virgo sambal duduk di sofa depan Libra. “Atau kamu mau makan dulu?" Inilah yang dikatakan Virgo waktu itu, mereka memang sudah saling mengenal tapi tidak seakrab itu.


“Kamu nggak punya sesuatu yang bisa dimakan?” Pertanyaan itu jelas membuat lelaki itu menatap kearah Libra dengan serius.


“Aku nggak tahu, aku jarang makan di rumah.”


“Jadi, yang tadi itu siapa?” Sepertinya rasa penasaran Libra tak bisa lagi dipendam lebih lama. Maka pembahasan masalah makan di kesampingkan saja.


“Mereka keluargaku.” Jawaban Virgo memang sama sekali tak salah, Aksa dan Love sudah menganggap Virgo adalah adik mereka.


“Dari pihak mana?”


“Keinginan tahuanmu bener-bener mengerikan. Kamu mau berperan menjadi calon tunangan yang posesif?” Lemparan bantal sofa mengenai wajah Virgo.


“Kita kan belum membahas masalah pertunangan itu.” Dengan bibir mengerucut, Libra mengatakannya kemudian menyenderkan punggunya ke senderan sofa.


Kekehan Virgo terdengar. “Udahlah, ayo pergi.” Kemudian lelaki itu berdiri dan mau tak mau diikuti oleh Libra.


Tentang pertunangan yang direncanakan oleh keluarga mereka tak membuat mereka langsung menolak, keduanya hanya menaggapi dengan santai.


“Ayo naik!” Libra naik di bocengan motor tersebut dan duduk di belakang Virgo. Virgo langsung menyalakan mesin motor dan menjalankan motor sportnya. Dia tak memerintah Libra untuk berpegangan atau sejenisnya, dia beranggapan kalau memang gadis itu takut jatuh juga akan berpegangan sendiri. Seringan itulah pikiran Virgo.


Keluar dari komplek perumahan, riuhnya kendaraan langsung terlihat. Klakson-klakson kendaraan saling bersahut, polusi yang dihasilkan dari kendaraan tersebut langsung tercium, kendaraan-kendaraan saling berhimpit mencari jalan sesempit apapun itu dan menyalip kendaraan lain untuk segera sampai ke tujuan masing-masing.


Dan si sanalah, dengan reflek Libra melingkarkan tangannya ke pinggan Virgo. Dia terlihat canggung, tapi dia melakukannya karena betapa pengendara lain begitu agresif di sekelilingnya.


Reaksi Virgo? Tak perlu ditanya lagi, karena lelaki itu hanya santai saja menanggapi hal tersebut.


Setelah berjuang dengan kemacetan kota Jakarta, Virgo menghetikan motornya di sebuah kafe. Dia lapar dan membutuhkan asupan makanan. Sayangnya semua itu tak semudah yang dibayangkan, karena ketika dia ingin segera turun, belitan di pinggangnya malah tak mau terlepas. Menepuk tangan tersebut, dia memanggil Libra.


“Libra!” Tak hanya tangannya, lututnya di tepuk pelan agar gadis itu terbangun. “Libra!” Panggilnya lagi. “Tidur ya?” Dia tahu kalau orang yang berada di boncengannya itu memang tertidur, tapi masih saja menanyakan hal tersebut untuk meyakinkan.


“Hem.” Dan ketika gadis itu menjawab dengan gumaman, Virgo menarik napas lega.


“Ayo turun, aku lapar.” Kini bukan hanya tepukan yang dilayangkan di tangan Libra, tapi juga meremasnya. “Kamu mau aku tinggal di sini?” Entah karena ucapan Virgo yang begitu atau memang kesadarannya sudah kembali sepenuhnya, Libra langsung melepaskan pelukan di pinggang Virgo dan menegakkan punggungnya, kemudian berdehem karena merasa canggung.


Virgo turun dari motornya, dan melihat eksprei Libra yang masih setia duduk di boncengan motornya. Bibirnya tak tahan untuk tak terkekeh. Padahal jika orang lain melihat itu, tak ada sama sekali hal yang terlihat lucu.


“Ayo turun, aku laper asal kamu tahu.” Tak ada hal romantis yang dilakukannya, misalnya dengan mengambil tangan Libra untuk memegangi gadis itu agar bisa turun dari motornya. Virgo membiarkan saja Libra turun seorang diri dan dia hanya menungguinya saja.


“Mau pesan apa?” Attitude seorang pria dikeluarkan oleh diri Virgo ketika berhadapan dengan seorang perempuan, yaitu dengan mendahulukan Libra memesan terlebih dulu baru dirinya.


“Aku laper, aku mau pesan banyak.” Itu yang dikatakan oleh Libra ketika dia diizinkan untuk memesan makanan.


Anggukan itu ringan diberikan oleh Virgo, tapi menegaskan jika pria itu menyetujui permintaan Libra.


“Pesan aja.” Dan senyum Libra jelas saja semakin merekah setelah mendengarkan hal tersebut.


“Chicken finger, kryspi chicken, omelet, dan kentang. Minumnya jus avokad sama air mineral.” Diakhiri senyum kembali, setelah mengatakan semua pesanan yang sebentar lagi akan menjadi penghuni perutnya.


“Mas nya?” Pertanyaan itu dikeluarkan oleh pramusaji yang melayani mereka.


“Chicken finger, Krispi chicken, jamur goreng. Minumnya jus nanas dan air mineral.” Setelah mengulang pesanan kedua orang tersebut, pramusaji tersebut berlalu dari sana.


“Aku mau tanya kamu lagi.” Libra yang bersuara.


“Tentang apa?”


“Tentang rencana orang tua kita.” Menegakkan punggungnya, Virgo bersiap untuk mendengarkan apapun yang akan dikatakan oleh Libra.


“Apa itu adil buat kita kalau kita mengiyakan permintaan mereka?” Libra benar-benar serius menatap Virgo yang belum mengatakan sanggahannya. “Kita ini kan masih sekolah, mereka udah rundingin masalah perjodohan? Beneran gila menurutku.” Libra bersedekap sambil menatap Virgo yang masih saja diam.


“Jangan bilang kamu mau menerima perjodohan ini?” Mata Libra melotot dengan wajah bodohnya, sepertinya otaknya sudah mencerna hal yang tidak-tidak.


Kedikan bahu Virgo membuat Libra mengernyit. “Aku belum mengambil keputusan apapun ataupun memikirkan masalah ini.” Santai Virgo. “Seperti yang kamu bilang tadi, kita masih sangat muda hanya untuk memikirkan apa yang sudah dibahas oleh orang tua kita, jadi untuk apa kita capek-capek memikirkan itu.” Dan lagi-lagi ucapan Virgo mampu membuat Libra menutup mulutnya.


*.*