
“Sepertinya kamu memilih lelaki yang tepat.” Hoshi dan Odel sudah berada di jalan untuk pulang. Jalan-jalan yang dikatakan kepada Al tadi tentu hanya bualan saja.
“Dia emang keren.” Odel benar-benar berbinar ketika mengatakan itu. Wajahnya seolah berseri dan dia merasa hatinya masih begitu bahagia. Gadis itu bisa menyimpulkan jika Al bukannya lelaki yang akan mengekangnya dan membatasi pergaulannya hanya karena dia memiliki kekasih.
“Senyum-senyum lagi.” Hoshi menatap geli adiknya dan mencubit pipi gadis itu namun tak ditanggapi berlebihan oleh Odel.
“Mama Papa udah kenal sama dia?”
“Udah. Apalagi dia adalah orang yang selalu nyelamatin aku ketika aku selalu mendapatkan masalah.”
“Tanggapan mereka? Mereka tahu kalau kamu pacaran sama dia?”
“Tahu. Al kan udah sering datang ke rumah. Dia itu emang tanggung jawab banget orangnya, Bang.” Kalau boleh dibilang, dicintai oleh Al adalah sebuah keberuntungan bagi Odel. Bagaimana tidak, selain lelaki itu adalah populer di sekolah, dia juga sangat peduli dengan dirinya.
“Tapi waktu kejadian sampai aku masuk rumah sakit itu, aku sama El emang belum pacaran.”
“Tresno jalaran soko kulino,” kata Hoshi yang mentang-mentang sekarang tinggal di Surabaya lantas dia menggunakan pepatah Jawa.
“Aku pernah dengar itu, Bang. Tapi lupa artinya apa.”
“Cinta itu tumbuh karena terbiasa,” kata Hoshi cepat. Mereka berdua yang memang sudah lama tak bertemu mengobrolkan banyak hal. Lampu merah yang entah berapa kali menyala itu tak menjadi mereka merasa bosan karena ada asyiknya mereka bercerita. Menceritakan apapun.
Mereka sampai di rumah dan Odel langsung masuk ke dalam kamarnya. Biasanya, dia akan bertukar chat dengan Al setelah berganti baju. Tapi sekarang lain cerita. Menatap ponselnya, dia akan mengirim pesan kepada kekasihnya tapi dia menahannya.
Odel : El!
Alih-alih mengirimi chat kepada Al, gadis itu justru mengirim chat kepada kembaran kekasihnya.
El : Hmmm
Jawab El cepat.
Odel : Gimana reaksi Al tadi?
El : Biasa aja. Tapi gue nggak tahu juga, biasa aja itu karena apa. Bisa saja karena dia menyimpan bom dan akan diledakkan kalau dia marah, atau memang benar-benar menanggapi dengan santai.
Odel : Gue sebenarnya kepikiran dengan itu. Dan takut kalau dia tiba-tiba tahu dan marah karena dikerjai.
El : Al nggak seperti itu. Marah pun dia nggak akan berlebihan. Lo tenang aja.
Odel memeluk guling sambil menatap ponselnya tersebut. Dia tak membalas apapun chat El dan ingin sekali mengirimkan pesan kepada Al tapi lagi-lagi diurungkan.
Sedangkan Al yang ada di seberang sana, lelaki itu sedang asyik bermain basket di rumahnya. Inilah yang dilakukan Al jika tak latihan di sekolahnya, dia lebih memilih bermain sendiri di rumah.
“Hai! Boy.” Sudah sore, kedua orang tuanya baru saja pulang dari kantor ketika mendapati dirinya sedang asyik dengan bola basketnya dengan tubuh diliputi keringat.
“Hai! Yah, Bun.” Lelaki itu mendekat dan mengambil tangan kedua orang tuanya.
“Udah sore. Udahan dulu. Udah sholat?” Virgo yang bertanya.
“Udah dong, Yah.” Al mundur, “Aku jauh-jauh ah, bau.” Katanya sadar diri. Libra terkekeh mendengar itu.
“Mana Adek?” tanya ibunya.
“Noh.” Tunjukkan pada balkon El, “Dari tadi ngunyah nggak berhenti-berhenti. Nanti kalau perutnya penuh ngerasa gendut, semua orang dibuat pusing sama keluhannya.” Beginilah Al kalau di rumah. Dia bisa mencibir juga bukan?
Virgo dan Libra tertawa saja. Kemudian masuk ke dalam rumah dan meninggalkan putranya yang masih asyik dengan kegiatannya.
Al yang kelelahan berbaring di atas rumput dan menatap langit. Otaknya memikirkan Odel tapi dia tahu dia belum boleh menghubungi gadis tersebut. Dia memang lelaki yang selalu menepati janjinya. Harga diri seseorang adalah tergantung dari apa yang diucapkan. Begitulah pemikiran Al.
“Minum.” El datang dengan membawa jus jeruk dan air putih. Meletakkan di meja dekat dengan Al yang berbaring, dan dia ikut duduk di sana.
“Jangan ketiduran. Udah sore.” Peringatan El.
Al melirik El yang ada di sampingnya, dan terlihat sekali matanya sayu karena kantuk. “Aku tiba-tiba ngantuk ya, El?”
“Duduk sini.” El menarik tangan Al agar lelaki itu bangun. Kemudian mereka berdua duduk berdua di sana.
“Kamu beneran nggak hubungi Odel?’
“Aku kan udah janji kalau nggak bakalan ganggu dia jalan-jalan.” Katanya dengan jujur, “Aku harus menepati janji itu bukan?” El diam tapi mengangguk.
“Benar, orang itu harus bisa dipegang kata-katanya. Jangan pagi kedelai sore tempe.” Al seketika menoleh ke arah sampingnya,
“Wah! Istilahnya keren, nemu dari mana?” itu adalah sebuah sindiran dari Al, namun El sama sekali tak peduli.
“Kalau dia jatuh cinta sama lelaki itu, gimana?” El mencoba memancing.
Al tak langsung menjawab dan untuk beberapa saat dia hanya diam. Otaknya sepertinya memang sedang berpikir seandainya itu benar-benar terjadi.
“Nggak perlu membahas seandainya,” jawabnya, “Karena itu akhirnya akan menjadi panjang.”
“Halah, bilang aja kalau kamu nggak punya jawabannya kan?”
“Seseorang yang berbicara pengandaian, itu adalah orang yang nggak punya kerjaan, dan orang yang nggak mau menerima kenyataan.” Jawab Al dengan sungguh-sungguh, “Makanya kenapa seseorang itu dikasih akal pikiran oleh Tuhan? Agar mereka bisa memikirkan semua hal yang akan dilakukan. Keputusan yang diambil itu haruslah melalui proses pemikiran terlebih dahulu, bukannya asal mutusin sesuatu tapi akhirnya nanti nyesel. Dan jauhnya, ‘seandainya’ itu akan selalu ada di dalam pikirannya.”
“Kok aku jadi keinget seseorang ya?” begitu kata El.
“Rigel.” Al tak merasa perlu menutupi pemikiran yang mungkin sama dengan El.
“Kok jadi Rigel?” El dibuat bingung.
“Aku udah tahu semuanya antara kamu sama Rigel. Dia yang cerita karena otaknya kebingungan.” Al memang belum mengatakan kepada El jika dirinya pernah berbicara empat mata dengan Rigel terkait hubungan lelaki itu dengan kekasihnya.
“Itulah kenapa dia pernah aku katai *****.”
“Dan aku pun mengatakan hal yang sama.” El terkekeh mendengar Al. Sepertinya dia membayangkan bagaimana kedua lelaki itu berbicara serius.
*.*
El sedang bersiap-siap untuk pergi malam minggu ini. Orion lah yang mengajaknya dan mengatakannya kemarin. Penuh pertimbangan ketika dia menerima ajakan lelaki itu. Bahkan dia mengatakan kepada kedua orang tuanya meminta saran.
“Adek cuma takut dia mikir hal yang lebih ketika adek menerima ajakannya, Bun.” Itu katanya kepada ibunya.
“Kalau begitu tanya diri Adek, Adek ingin atau enggak.” Libra dan Virgo tak pernah melarang kedua anaknya berpacaran. Mereka memberikan kebebasan untuk itu, namun ada peraturan dan batasan yang harus mereka pahami.
“Pacar adalah hubungan yang lebih dari pertemanan tapi dia bukan halal buat kalian. Kalian tidak boleh lebih dari berpegangan tangan.” Itulah yang dikatakan oleh Virgo. Kejadian masa lalunya membuatnya dia tak ingin anak-anaknya mengulangi apa yang dulu terjadi kepadanya.
Tapi sayangnya, Al pernah ‘melanggarnya’ ketika berkencan dengan Odel. Lelaki itu memeluk kekasihnya yang memang seharusnya tidak dia lakukan. Petuah itu memang sering dikatakan oleh Virgo, tapi jiwa muda Al memang sedang mengalir deras di tubuhnya. Maka hal itu dirasa sudah wajah ketika menjalin hubungan dengan seseorang.
Kembali pada curhatan El pada ibu dan ayahnya ketika mengatakan kebingungannya tentang Orion. Dia mengatakan jika ajakan lelaki itu memang bukan sebuah desakan. Orion mengatakan jika memang El mau, dia akan menjemputnya, tapi kalau memang El menolak, dia tak akan memaksanya.
Maka dengan pemikirannya, El menerima. Dia yakin jika dirinya menerima ajakan lelaki itu tak lantas Orion langsung merasa jika dirinya sudah selangkah lebih maju dibanding lelaki lain yang mungkin sedang mendekati El.
Pukul tujuh malam ketika bel rumah El terdengar. Beberapa saat lalu, Orion memang mengatakan jika sebentar lagi dia akan sampai ke rumah El dan El yakin yang memencet bel rumahnya itu adalah Orion.
El sudah siap di ruang keluarga sambil memainkan ponsel dan ada kedua orang tuanya juga di sana. Al sudah pergi sejak tadi, dan berpamitan akan malam mingguan bersama kekasihnya.
“Ada temannya datang, Mbak El.” Asisten rumah tangganya memberitahu El. Gadis itu menemui Orion yang ada di ruang tamu.
El tak mengatakan apapun dan duduk di depan lelaki itu. “Udah siap?” tanya Orion. Lelaki itu terlihat santai tapi tetap tampan. Hanya menggunakan kaos putih dengan jaket berwarna navy. Simple but elegant.
“Udah. Berangkat sekarang?”
“Bisa ketemu sama OM, dan Tante dulu? Gue harus minta ijin sama beliau.” El hanya mengangguk dan berdiri untuk memanggil orang tuanya. Tak lama setelah itu, gadis itu kembali bersama ibu dan ayahnya di belakangnya.
Orion berdiri melihat Libra dan Virgo dan tersenyum. “Selamat malam, Tante, Om.” Mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan disambut dengan baik oleh dua orang tersebut.
“Saya mau mengajak El jalan-jalan malam minggu ini.” Pamitnya.
“Iya. El sudah mengatakannya tadi. Kamu sudah tahu aturannya kan?”
“Iya, Om. Pulang harus tepat pukul sepuluh.” El memang sudah mengatakan kepada Orion jika jam malamnya ketika malam minggu memang sedikit agak panjang. Jika di hari biasa, dia memiliki jam malam sampai pukul sembilan malam, namun jika malam minggu mundur selama satu jam. Tanpa alasan apapun, peraturan itu tak boleh dilanggar. Dan selama ini, El tak pernah sekalipun melanggarnya. Atau orang tuanya akan mendudukkannya di ruang keluarga dengan ceramah sampai malam.
“El keluar dari rumah, berarti tanggung jawabmu karena memang dia pergi bersama kamu. Dia pulang harus dalam keadaan baik-baik saja seperti ketika dia berangkat.” Virgo mewanti-wanti.
“Saya mengerti, Om.” Orion tak akan banyak bicara.
“Kalau begitu kalian pergilah, jangan sampai kemalaman.” Libra memberi ijin. El dan Orion keluar dari rumah setelah berpamitan.
“Lo nggak ada motor, ya?” tanya El kepada Orion ketika mereka sudah berada di jalan. Malam minggu seperti ini memang jalanan akan lebih macet.
“Gue ada motor, tapi gue udah lama nggak pakai.” Orion fokus menyetir, “Lo lebih suka naik motor ya?” tanyanya balik kepada El.
“Karena gue pikir motor itu lebih cepat sampai dibandingkan mobil. Bisa menyalip-nyalip kalau sedang macet kayak gini.” Orion diam mendengar apa yang dikatakan oleh El.
“Sorry ya, mungkin kita akan lama di jalan.” Begitu tanggapan dari Orion.
El sebetulnya tidak mempermasalahkan itu, hanya saja dia paling tidak suka terlalu lama di jalan. Ketika bersama Al, lelaki itu memilih motor dibandingkan dengan mobil karena memang transportasi itulah yang cepat. Begitupun dengan Rigel.
“Nggak papa.” Kata El akhirnya menjawab.
“Lo mau makan berat, atau makan ringan tapi kenyang?” dibandingkan berselimut sepi, lebih baik Orion membuka obrolan. Begitulah pikir lelaki itu.
“Gue mau makanan ringan tapi kenyang. Lo pasti tahu makanan seperti itu kan?”
“Pilihan tepat.” Jawab Orion dengan senyum, “Gue nggak tahu sih lo bakalan suka atau enggak. Tapi gue rasa lo perlu mencobanya.” El tahu jika Orion memanglah lelaki yang berbeda dengan lelaki kebanyakan. Setidaknya pemikiran itulah yang tertancap di dalam kepalanya. Toh dia baru mengenal Orion, belum benar-benar memahami sifat asli lelaki itu.
Mobil berbelok di tempat yang tak terlalu ramai. Namun dari jarak yang tak jauh, El bisa melihat satu kedai dengan pengunjung yang banyak.
“Kita sampai.” Kata Orion. Mereka turun dari mobil namun tak langsung mendekati kedai tersebut. Semilir angin menerbangkan rambut El dan melihat raut wajah gadis itu, sepertinya dia memang menyukai tempat tersebut.
“Gue kayaknya bakalan suka tempat ini.” Komentar El sambil melihat sekelilingnya. Bila El mendeskripsikan tempat tersebut, maka tidak ada yang special. Kedai itu memanglah besar, ada banyak karyawan yang bekerja di sana terlihat dari seragam yang dipakaianya. Pencahayaan di tempat itu bukan hanya mengandalkan cahaya lampu, tetapi ada obor yang terbuat dari bamboo. Api-api di obor tersebut membuat terlihat indah.
Lantunan lagu-lagu romantis terdengar dengan suara sedang mengiringi pengunjung yang menikmati makanannya. Suara-suara orang mengobrol, membuat suasana menjadi terlihat meriah.
“Kita akan tetap berdiri di sini, atau mau memesan dan duduk?” Orion menyadarkan El dari lamunannya. Gadis itu mengangguk.
“Ayo!” ajaknya dan dia lebih dulu berjalan dan Orion hanya mengikutinya dari belakang.
“Surabi Banyak Rasa.” El membaca tulisan yang ada di bagian depan kedai.
“Lo mau pesan rasa apa?” mereka sudah duduk di meja pendek dan memilih duduk di tikar dibandingkan di kursi.
“Gue mau rasa coklat keju. Minumnya sirup dingin.” Seorang pelayang sudah berjongkok di samping Orion dan mencatat pesanan El.
“Saya pilih rasa coklat aja, Mas. Minumnya jus jeruk.” Pelayang tersebut berdiri dan mencatat pesanan Orion, mengulanginya lagi untuk memastikan jika apa yang dicatatnya memang benar, kemudian pergi dari sana untuk mengambilkan pesanan mereka.
“Lo selalu tahu tepat-tempat kayak gini ya?” El mulai mengatakan apa yang dipikirkannya, “Ini tempat kayaknya memang tersembunyi, dan lo tahu. Keren juga ya.” Itu adalah pujian pertama yang diberikan El kepada Orion dan membuat lelaki itu tersenyum.
“Gerombolan gue yang biasanya tahu tempat-tempat ini. Ini pun mereka yang tahu dan ajak gue kesini. Dan ya, sekarang gue tahu dan bisa ajak lo.”
“Ya, sepertinya memang gue harus berterima kasih sama lo udah mengajak gue ke tempat-tempat bagus seperti ini.” Jawab El. Mengatakan itu kepada Orion, adalah bentu respect nya gadis itu kepada Orion. Lelaki yang bahkan baru beberapa minggu ini dikenalnya.
*.*