
Setelah pertemuan Libra dengan teman-teman Virgo waktu itu, memang menunjukkan dampak kurang baik bagi kehidupan Libra. Ketika akhirnya kini dia mengetahui jika pertemuannya dengan Virgo waktu itu mungkin saja adalah lelaki itu baru saja selesai kuliah dan memang sengaja mampir di minimarket untuk menghabiskan waktunya di sana.
“Li!” Libra terkejut ketika ada seseorang memanggilnya. Dia tidak fokus dan melamun seorang diri di kursi yang berada di bawah pohon fakultasnya.
“Re?” Libra tentu saja ikut terkejut dengan kedatangan Tere ke fakultasnya. Temannya itu bahkan nyengir seperti kuda ketika melihat keberadaan Libra, “Ngapain lo?” tanyanya untuk memastikan.
“Nggak ada, gue mau print tugas. Print di TF kelamaan. Ngapain lo bengong di sini sendirian?” sudah sejak tadi sepertinya Tere melihat Libra duduk sendirian di sana. Namun tak langsung mendekati gadis itu. menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu.
“Nggak ada,” jawabnya dengan santai, “Lo sendirian ke sini?”
Tere menggoyang-goyangkan kakinya dengan santai kemudian menjawab, “Iya, gue nggak sabar nunggu si kampret,”
“Pacar sendiri lo bilang kampret.” Libra menegur karena Tere suka sekali mengatai kekasihnya itu.
“Habisnya lama, lho, Li. Sebel gue,” bibir Tere bahkan cemberut ketika mengatakan hal itu.
Hanya sebuah informasi saja, jika Libra belum mengetahui jika kekasih Tere adalah Edo. Tidak pernah sekalipun Tere menyebut nama kekasihnya di depan Libra. Libra pun sama sekali tak ingin mengetahui hal itu.
Tere memiliki kekasih, bahagia, dan baginya itu adalah hal yang baik bagi Libra. Masalah di luar itu bukanlah hal yang harus dia ketahui.
“Nanti kuliah lo sampai tengah hari aja kan?” tanya Tere.
“Iya.”
“Jalan lah ya. Gue pengen ke karaoke. Tugas gue numpuk dan kepala gue butuh refreshing terlebih dahulu.” Tere menatap Libra dengan penuh harap dan senyum yang merekah.
“Nanti lo kasih tahu aja dulu ya, soalnya si Shila minta antar jalan-jalan katanya,” Tere hanya melirik Libra tak setuju kemudian berdiri dari sana. “Balik lah gue, lo mah gitu.” Katanya dengan malas-malasan.
“Balik sana. Berani sendiri kan?” Tere hanya memeletotkan matanya kepada Libra tanpa menjawab dan berlalu begitu saja dari fakultas ekonomi.
Fakultas ekonomi dan fakultas teknologi memang hanya di batasi oleh seruas jalan dan taman kecil saja. Maka sebetulnya memang tak jauh. Dan jika sedekat itu, kenapa di antara Virgo dan Libra belum pernah bertemu? Padahal mereka juga sering sekali berada di kantin pusat? Maka karena memang takdir belum mempertemukan mereka di kampus.
Takdir lebih memilih mempertemukan mereka di luar kampus. Dan kita tidak bisa menyalahkan hal itu.
“Lo jadi nggak jalan-jalannya, Shil? Gue ada urusan lain kalau lo nggak jadi pergi.” Ini sudah jam 12.15 dan Libra sudah siap-siap untuk keluar kelas setelah dosennya pergi dari sana.
“Lo mau kemana?” Shila balik bertanya karena penasaran. Belum juga menjawab, panggilan masuk sudah muncul di ponsel Libra.
“Ya, Re?” Libra sambil berjalan mengangkat panggilan temannya itu, “Jadi?” matanya melirik Shila dan bertanya kepada gadis itu tanpa repot-repot memelankan suaranya, “Lo jadi nggak sih minta temenin?” tanyanya.
Dan ketika Shila menggeleng, dia langsung memberi jawaban kepada Tere, “Ya udah gue ikut! Jemput gue di fakultas gue.” Katanya. Kemudian dia memutuskan sambungan teleponnya setelah mendapatkan jawaban dari Tere di seberang sana.
“Mau kemana sih lo, Li?” tanya Shila lagi ketika dia belum mendapatkan jawaban dari Libra sejak tadi.
“Gue juga nggak tahu, Tere mau karaokean. Biarlah gue temenin bocah malang itu.” mereka sudah berada di depan fakultas dan duduk di di lantai untuk menunggu Tere datang.
“Pengen ikut lah, Li.” Tiba-tiba saja gadis di sebelahnya berceletuk, “Gue juga kan pengen ademin otak gue.”
“Jadi, alasan lo sakit kepala itu kenapa? Banyak sekali beban hidup lo?”
Shila mengangguk, “Iya, apalagi kalau bukan masalah si Zidan. Hancur mina rasanya.” Tak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan, begitulah kata orang. Begitupun dengan Zidan dan juga Shila. Entah berapa lama mereka saling suka-sukaan, yang Libra tahu adalah ketika Shila datang ke kosnya ketika dia hampir terlelap malam itu dan Shila mengeluarkan rasa sebalnya karena Zidan lebih menemani teman lelaki itu menonton bioskop di bandingkan pergi bersamanya.
Libra tak pernah ikut campur dalam masalah mereka. Karena itu bukan ranahnya.
Tere datang seorang diri sambil tersenyum, menyapa Libra dan juga Shila. Tere memang belum mengenal Shila karena mereka hanya bertemu sekilas-kilas saja ketika gadis itu datang ke kosnya.
“Cabut, yuk!” katanya dengan semangat, “Sama temen gue, kebetulan dia bawa mobil,” Libra hanya mengangguk saja, “Lo ikut aja, makin banyak orang makin seru.” Tere mengatakan itu kepada Shila.
Shila tentu tak langsung menjawab. Gadis itu menatap Libra lebih dulu untuk meminta pendapat. “Ikut aja, kan jalan-jalannya nggak jadi.” Libra memberinya usul.
“Bener!” kata Tere menyetujui.”
“Boleh.” Ucap Shila, “Gue bawa mobil tapi, lo berangkat aja duluan, nanti lo kasih tahu tempatnya.” Begitu kata Shila dan mendapatkan persetujuan dari Tere
“Tapi, bisa nggak kalau Libra sama gue aja? Gue kan nggak punya nomor lo.”
“Tentu.” Tere terlihat bahagia sekali sepertinya, “Kalau gitu biar gue duluan ya.” Dijawab anggukan dari kedua gadis itu Tere meninggalkan fakultas ekonomi.
Tere – Fun Melody, kita karaokean di sana. Libra masih berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil Shila, sebuah pesan dari Tere sudah masuk ke ponselnya.
“Kita ke Fun Melody, Shil.” Beritahu Libra kepada Shila. Masuk ke dalam mobil, keduanya langsung meluncur ke tempat tersebut. Tempat karaoke memang tak jauh dari kampus, mungkin saja Tere memang memilih tempat tersebut agar tidak macet dan waktunya habis di jalan.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di tempat tersebut. Libra turun dari mobil dan melihat Tere dan gerombolannya sudah sampai di sana. Dia sangat mengenali jika lelaki di samping Tere itu adalah Sam. Yang belum dipahami oleh Libra adalah dari mana gadis itu mengenal Sam dan kawan-kawannya?
Pertanyaan itu hanya menggaung saja di kepalanya namun sama sekali tak dia ucapkan.
Sam bahkan menyeringai melihat Libra yang kebingungan. Tak mengatakan apapun, tapi ada penuh tanda tanya di kepalanya.
“Lo pasti bingung.” Tak tahan dengan kelakuan Libra yang diam saja, Sam membuka suara. Sayangnya bukan hanya Libra yang kebingungan, tapi juga Tere yang berada di sana.
“Ya.” Begitu kata Sam, “Lebih lanjutnya, lo tanya aja sama Edo.”
“Edo?” Libra secara langsung mengatakan nama itu.
“Iya, Edo. Edo yang kemarin lo tanyain juga itu,” Sam sepertinya senang sekali mengerjai dua gadis di depannya itu.
“Li?” Tere bahkan menatap Libra dengan kebingungan luar biasa. Sedangkan Shila yang juga berada di sana tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan seperti waktu itu.
“Lo nggak sedang ada sesuatu sama Edo kan?” kini Libra yang merasa bodoh dengan pertanyaan Tere.
“Lo waras nggak sih, Re?” tatapan Libra benar-benar terlihat tak menyangka, “kenapa gue harus memiliki urusan sama Edo coba?” putaran bola mata Libra itu menunjukkan kemalasan yang luar biasa.
“Eh,tapi,” kepalanya kembali menoleh ke arah Tere, “Lo kenal Edo?”
Kini Sam terkekeh dengan benang kusut yang melingkupi suasana ini. Membuat Libra dan Tere menatap ke arahnya. “Kalian ini bener-bener lucu,” kernyitan itu terlihat dari dua gadis tersebut, jadi dia meneruskan, “jadi Libra nggak tahu kalau pacarnya si Tere itu adalah Edo?” Libra benar-benar terlihat bodoh dengan situasi sekarang ini.
“Enggak,” katanya dengan ringan. Tatapan Libra kemudian mengarah kepada Tere, “Lo pacaran sama Edo, Re?” tanyanya dengan serius.
“Iya,” anggukan itu diberikan Tere kepada Libra. Belum selesai kekagetannya, Edo muncul dengan santai, kemudian merangkul Tere yang ada di dekat Libra.
Libra tak bodoh, dia juga tak merasa lupa dengan kenyataan jika Edo mengambil jurusan yang sama dengan Virgo. Dan jelas dengan hal itu, Libra mundur satu langkah. Hal itu membuat Sam seketika tahu jika Libra mungkin sudah menyadari semuanya.
Sayangnya, Libra kini sedang terjebak dengan keadaan yang sama sekali tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dan lebih membuatnya ingin tenggelam saja adalah keberadaan lelaki yang baru datang dari arah berlawanan mendekat ke arahnya dengan memainkan ponselnya. Kakinya terasa tak bisa digerakkan. Tuhan, ini adalah petaka.
*.*
Virgo melangkah pelan ketika netranya menangkap ada seseorang yang dikenalnya tepat di depannya. Tak terhalang oleh apapun. Bahkan dia bisa menatap gadis itu dengan jelas tanpa adanya penghalang. Teman-temannya tak ada yang mengatakan sesuatu dan membiarkan dua orang itu saling tatap.
Libra lagi-lagi melangkah mundur. Jantungnya pun dengan kurang ajarnya tak bisa berdetak normal. Siapapun bahkan tahu jika mata gadis itu memerah namun ditahan mati-matian agar embun yang ada di sana tak jatuh dari mata itu.
Mencoba tenang, Libra akhirnya bisa keluar dari situasi yang hampir membuatnya mati. Dia lagi-lagi berlari menjauh dari Virgo. Namun kali ini Virgo tak tinggal diam. Lelaki itu mengejar Libra di belakang gadis itu.
“Gue nggak paham,” begitu kata Tere ketika dua orang itu menghilang tanpa tahu pergi kemana. “Sebenarnya kenapa, Yang?” tanyanya kepada Edo yang terlihat menghembuskan napas lega.
“Virgo dan Libra, adalah kerumitan yang aku ceritakan waktu itu. kamu pasti sudah lebih dari paham.” Kini Tere hanya bisa meneguk ludahnya berkali-kali karena merasa tak menyangka dengan semua hal ini.
Edo terkekeh. “Kita masuk, yuk! Atau mau makan aja?”
“Gue kayaknya harus balik dulu deh.” Shila membuka suaranya ketika sejak tadi seperti orang bodoh yang sama sekali tak tahu apapun dengan semua hal yang dilihatnya barusan.
“Kita makan aja ya, Shil. Nggak jadi karaokenya, sorry.” Tere meminta maaf karena bagaimanapun dia lah yang mengajak gadis itu bergabung dengannya.
“Mungkin lain kali ya, Re, gue beneran harus pulang.” Katanya dengan senyum kecutnya. Jelas saja Shila merasa tak nyaman berada di tengah-tengah orang yang tak dikenalnya ini. Satu-satunya orang yang paling dikenal adalah Libra, sedangkan Libra saja tak tahu pergi kemana.
Tere mengangguk dan pergi meninggalkan tempat itu. Toh dia tak berhak untuk menahan Shila lebih lama lagi.
*.*
Libra duduk di balik dinding dengan nafas yang tersengal karena terus berlari. Di depannya hanya lahan luas ditumbuhi rumput dan angin semilir benar-benar membuatnya sedikit rileks. Menatap sekelilingnya, dia tak mendapati siapapun di sana. Dia beranggapan jika Virgo sama sekali tak berusaha mengejarnya.
Dia memang senang dengan hal itu, tapi ada rasa kecewa di dalam hatinya juga karenanya. Tapi sudahlah, toh dia sendiri yang memilih untuk lari.
Menyandarkan tubuhnya dengan kaki diselonjorkan, matanya memejam menikmati angin yang menyapa kulitnya. Tenggorokannya menelan ludah berkali-kali ketika menyadari ada seseorang yang mendekatinya.
Tak ingin terjebak di sana, maka dia membuka matanya dan mendapati Virgo berdiri tak jauh dari dirinya duduk. Lelaki itu menatap Libra dalam diam dan tegas. Tak lama setelahnya, Virgo mendekat dan duduk di samping gadis itu.
“Kamu sepertinya benci sekali sama aku.” Virgo juga menatap ke depan mengikuti Libra, “Aku tahu tindakanku selama ini memang menyakiti kamu, karena itu kamu berhak untuk benci sama aku.” Virgo kini memilih untuk menatap Libra dari samping.
“Kamu masih sama, cantik,” setelah sekian lama tak bertemu, tak mengobrol, bahkan pertemuan terakhir mereka, Libra melarikan diri karena entah takut karena apa, tiba-tiba mendapatkan pujian seperti itu, maka yang terjadi pada diri Libra kali ini adalah hanya membatu dan mencengkram tali tasnya dengan erat.
“Pasti ada banyak sekali cowok yang deketin kamu.” Lanjutnya masih tengah memandang Libra dalam-dalam.
Libra tak menjawab. Dia sama sekali tak tahu apa yang harus dia katakan untuk membalas ucapan Virgo.
Virgo menghela nafas panjang. “Sepertinya kamu benar-benar membenciku sekarang,” ada senyum miris yang dikeluarkan oleh Virgo kali ini. Berdiri, Virgo kembali melanjutkan ucapannya, “Aku masih sayang sama kamu. Aku juga selalu berharap agar aku bisa bertemu dengan kamu. Dan sepertinya setelah ini aku harus mengucap syukur ratusan kali kepada Tuhan karena sudah mempertemukan aku dengan kamu.” Hembusan nafas panjang itu kembali. “Aku pergi dulu, kamu harus berhati-hati di sini.”
Virgo melangkah pergi dari sana meninggalkan Libra yang masih mencengkram tali tasnya dengan kencang. Air matanya tak bisa lagi dibendung sekarang. Menangis sambil menggigit bibir bawahnya agar tangis itu tak terdengar oleh siapapun.
Gadis itu menoleh ke arah perginya Virgo dan sudah tak menemukan lelaki itu di sana. Tangisnya semakin menjadi. Ditelungkupkannya kepalanya di lipatan tangannya. Tubuhnya bahkan terlihat berguncang karena hal itu.
Dan Virgo melihat hal itu. dia tak mungkin membiarkan Libra di sana sendirian tanpa ada yang mengawasi. Lelaki itu bersandar di balik dinding dengan mata memejam. Detakan jantungnya tak kalah seru dibandingkan detakan jantung Libra. Hanya saja hal itu sama sekali tak membuat mulutnya terkunci dan tak bisa mengatakan apapun seperti yang dilakukan oleh Libra.
Kembali melongokkan kepalanya untuk melihat Libra, hati Virgo benar-benar sakit melihat tangis gadis itu. Sayangnya dia tak bisa melakukan apapun. Atau memang tak ingin melakukannya? Entahlah, biarkan Virgo saja yang tahu.
*.*