
El berdiri di depan gerombolan itu dan menatap mereka satu per satu. Menandai wajah mereka dan akan mengingatnya jika mereka adalah pembuat masalah dengannya. “Jadi menurut kalian, Rigel ini letoy?” pertanyaan itu dilayangkan untuk memulai.
“Karena dia manut banget sepertinya sama lo.”
“Sepertinya?” alis El terangkat, “Jadi lo masih menduga?” anggukan diberikan.
“Lalu gue harus memberikan lo sebutan apa?” kedua tangan El bersidekap seolah dia sedang mengobrol ringan dengan lelaki yang banyak bicara.
“Jelas gue jantan!” serunya dengan bangga.
“Nggak ada pejantan yang suka ngerumpi dan mengurusi urusan orang lain.”
“Gue bukan suka urusi urusan orang lain, tapi itu adalah fakta.”
“Bukan fakta kalau tanpa bukti.”
“Semua orang tahu kalau dia itu hanya terus mengikuti cewek-cewek di depannya. Dan itu adalah faktanya.”
Al berjalan bersama gerombolannya dan mendekati El sebelum gadis itu membalas ucapan lelaki itu. “Kenapa? Sebentar lagi masuk. Ngapain masih di sini?” tatapan Al penuh perhitungan diberikan kepada El.
“Aku masih punya urusan sama mereka.”
“Sepenting apa sampai harus menunda masuk kelas?”
“Dia mengatakan hal yang membuat aku geram.”
“Apa itu penting?”
“Itu nggak penting tapi aku jengkel.” El menatap Al dengan tegas. Jika sudah seperti itu, Al menyerah. Lelaki ikut menatap lelaki yang ditatap El dengan datar. Sedangkan yang lain hanya diam saja.
“Apa yang lo bilang sama El sampai dia seperti ini?” Rigel meringsek maju dan melerai.
“Lo nggak perlu mengurusi masalah ini, Al. El maju karena gue.” Katanya di samping Al. Jika ini ada di adegan drama, maka mungkin penontong akan merasa dimanja pandangannya karena perkumpulan orang-orang tampan ada di sana.
Al dan Rigel memiliki tinggi yang sama, wajah rupawan mereka benar-benar sedap untung di pandang. Tatapan mereka sama-sama tajam, dan lidah mereka mengeluarkan racun jika sudah berucap.
Dan seharusnya ini tak baik bagi si pembuat masalah. Bel masuk sudah berbunyi, dan seperti biasanya, mereka pasti tak akan langsung masuk ke dalam kelas. Bahkan kantin saja masih banyak pembeli.
“Berarti itu penting.” Jawab Al dengan tepat, “Jadi?” Al mengatakan itu untuk meminta penejelasan.
“Rigel seperti banci. Dia letoy karena berteman dengan cewek dan menjadi pengikut gue sama Odel.” Jawab El dengan mata masih menatap lelaki yang bahkan dia sama sekali tak tahu namanya.
“Waw!” seru Al, “Bagus juga sebutannya.” Katanya dengan santai yang membuat El langsung menoleh ke arah Al, namun Al menyeringai. “Kalau Rigel banci, bukankah dia lebih banci lagi?” ditatapnya lelaki itu. “Dia ngerumpi, kumpulannya sama ccewek-cewek, membahas orang lain yang nggak ada sangkut pautnya dengan diri dia, bukannya itu banci yang sesungguhnya?”
Al menggelengkan kepalanya sambil menatap lelaki itu, “Bung! Kalau lo ragu dengan kejantanan Rigel, lo bisa adu jotos sama dia.”
“Al!” Rigel memang sejak tadi hanya diam. Odel pun sama. Dan dia tak ingin masalah yang sangat sepele ini benar-benar tak menjadi panjang.
“Gue nggak ada waktu meladeni mereka.” Ucap Rigel, kemudian menatap lelaki itu dengan tajam, “Dan lo,” tunjuknya pada lelaki tersebut, “Gue diam bukan berarti gue nggak punya sanggahan. Tapi meladeni omongan sampah macam itu bukanlah level gue.”
Al mendengar itu menyeringai, melirik Rigel yang ada di sebelahnya. Sepertinya lelaki itu bangga dengan apa yang didengarnya. “Tapi benar apa yang Al bilang, kapan saja lo perlu menantang gue baku hantam, gue akan ladeni. Tentukan saja kapan dan dimana tempatnya. Gue akan terima.” Lelaki itu hanya mengetatkan rahannya.
Karena jika dia kembali bersuara, bukan tak mungkin si kembar itu akan benar-benar membantainya, tapi jika tidak sepertinya dia sakit hati dengan ucapan mereka.
Rigel masih menunggu tapi tak ada kata yang terucap dari mulut lelaki itu. Karenanya dia menarik tangan El kemudian menarik tangan Odel untuk berjalan ke kelas mereka. Meninggalkan Al dan kawan-kawannya di sana.
Al tak langsung ke kelasnya namun masih di sana untuk mengatakan kalimat terakhir sebelum menyudahi basa-basi ini. “Rigel, dia sabuk hitam taekwondo. Hati-hati saja, siapa tahu dia akan menyerang lo waktu lo sendirian di jalan.” Diakhiri dengan seringaian lagi, barulah Al pergi dari sana diikuti teman-temannya.
Entah dari mana mereka memiliki sifat yang seperti itu. Maksudnya adalah Al dan El. Jika Virgo, dia adalah orang paling santai menghadapi hidupnya. Virgo muda memang cerdas, tapi tak pernah membuat orang lain merasa takut ataupun tertekan jika melihatnya. Dia hanya sesuka dan semaunya sendiri terkadang tanpa mempedulikan orang lain.
Libra? ibu si kembar itu bahkan tak pernah memiliki masalah jika ada di sekolah dulu. Dia akur dengan teman-temannya dan sikapnya cenderung biasa sekali.
Dan ketika Virgo dan Libra bersatu dan keluar si kembar, kedua anaknya itu justru bertolak belakang dengan sifat orang tuanya. Mereka seolah bisa mengendalikan apa yang mereka ingin kendalikan. Tegas, dan kuat dalam pemikiran. Ditambah memiliki Rigel yang memiliki sifat dan pemahaman akan sesuatu tak jauh beda dengan mereka. Maka inilah yang terjadi.
*.*
Al duduk di kelas sambil memainkan ponselnya. Guru yang akan mengajar di kelasnya belum datang padahal ini sudah hampir setengah jam berlalu.
“Menurut lo dia akan berani nantangin Rigel, Al?” tiba-tiba teman satu bangkunya kembali membahas ini lagi.
“Mungkin, kalau dia mau babak belur.” Enteng Al.
“Gue kayaknya perlu belajar sama si Rigel deh.” Celetuknya. Namun tak ditanggapi oleh Al. Al tahu jika Rigel tak akan melakukan itu.
Tak lama setelahnya, guru datang untuk mengajarnya. Beliau mengatakan karena ada rapat mendadak, karenanya telat. Untuk semua murid tak akan mempermasalahkan hal tersebut. Dan kelas berjalan seperti biasa. Guru menerangkan, murid mendengarkan, kemudian setelahnya diberikan tugas untuk dikerjakan. Selalu seperti itu kan alurnya.
Al menghela nafas ketika kelas akhirnya selesai. Menyenderkan punggungnya ke senderan kursi, lelaki itu memejamkan matanya. Matanya sepertinya memang mengantuk, dan tak lama setelah itu lebih menyamankan lagi untuk menempelkan wajahnya di meja.
Hampir dia terlelap, goncangan di badannya terasa. Salah satu temannya memanggilnya. “Al!” katanya, “Ada yang cariin elo.” Adunya. Al yang merasa masih mengantuk tak menghiraukan sama sekali apa yang dikatakan oleh temannya.
“Bangun, elah. Lo dicariin sama orang.” Dan tak sungkan sama sekali, temannya itu dengan kurang asamnya menarik punggung Al sampai lelaki itu terduduk dengan tegak.
“Apa?” katanya dengan mata tak terima.
“Gue lagi nggak mood dengan ajakan lo. Gue ngantuk dan seharusnya lo nggak ganggu gue.” Seingatnya, dia belum pernah sekalipun melihat wajah lelaki itu di sekolahnya. Tapi Al memang tak akan mengambil pusing akan hal tersebut. “Ajakin yang lain aja.” Jika orang lain, mungkin akan tahu jika Al memang benar-benar tak ingin diganggu. Sayangnya lelaki itu sama sekali tak mengerti.
“Gue tandingnya mau sama lo.” Kukuhnya, “Karena gue denger, lo jago dalam hal itu di sini. Kalau memang gue menang, lo harus jadi pengikut gue, tapi sebaliknya, kalau lo yang menang gue yang akan menjadi pengikut lo.”
Sontak saja kekehan Al terdengar. “Gue hanya pengikut Allah, Tuhan gue. Musrik gue kalau harus menjadi pengikut orang macam lo.” Al hampir kembali meletakkan kepalanya di atas meja sebelum salah satu temannya yang tadi membangunkannya itu memberikan salah satu informasi.
“Dia anak baru di sekolah kita, Al. Namanya Antares.” Al mana peduli dengan hal itu.
“Terima kasih infonya, tapi gue sama sekali nggak minat.”
“Atau lo takut?” lelaki bernama Antares itu kembali bersuara.
“Terserah lo mau bilang gue apa. Gue nggak peduli. Pergi sana, gue mau tidur.” Usirnya tanpa perlu pertimbangan.
Ares, begitu lelaki itu dipanggil, menatap teman Al memberikan kode untuk bertanya secara tak langsung.
“Jangan ganggu dia. Dia kalau marah, berabe.” Ares mencoba untuk kembali memancing Al agar lelaki itu tertarik dengan apa yang dikatakan tadi.
“Gue tertarik dengan El.” Pancingnya. Lelaki itu dengan santai menumpukan tubuh tingginya di meja di depan meja Al sambil bersidekap.
Al bangun dengan malas dan menatap lelaki yang sejak tadi membual itu. Merasa berhasil memancing Al, Ares melanjutkan. “Gue tahu dia waktu kalian berdebat dengan teman sekelas gue.” Al menguap seolah dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh lelaki itu.
“Jadi ceritanya lo mau balas dendam karena teman sekelas lo yang selevel dengan banci tadi kami serang?”
“Bukan!” sanggahnya. “Tapi karena gue beneran tertarik dengan kalian. Terutama El.”
“Kalau begitu kejar.” Al santai mengatakan itu. “Lo suka El, maka kejar dia. Jangan ganggu gue.”
“Lo nggak keberatan gue deketin dia?”
“Untuk apa gue keberatan? Gue selama ini nggak pernah melarang siapapun mendekati adik gue. Siapapun.” Tegasnya. “Lo hanya perlu datengi dia, kenalan, dan ya, selanjutnya lo pikirkan sendiri apa yang akan lo lakukan.” Ares sepertinya bingung melihat Al yang seolah tak peduli dengan adiknya.
Bahkan dia diam melihat Al tanpa mengatakan apapun lagi. Setelah itu pergi begitu saja dari kelas Al yang membuat lelaki itu menggelengkan kepalanya saja.
“Dia kayaknya nyalinya besar juga.” Tanggapan teman Al, “Jadi, gue pun boleh deketin El dong Al?” katanya lagi.
“Terserah lo.” Al kembali meletakkan kepalanya di meja sebelum melanjutkan, “Lo dilirik El aja udah gemetaran, mau deketin dia pula. Nyali lo nggak sebesar itu kisana.” Seharusnya itu hanyalah gumaman, tapi dapat di dengar oleh temannya.
*.*
Pulang sekolah, Ares benar-benar melakukan apa yang dikatakan kepada Al. El yang duduk dengan Odel dan Rigel di halaman sekolah didekatinya.
“El!” panggilnya. El menoleh dan mendapati orang asing di depannya.
“Kenapa?” wajah tak bersahabat gadis itu selalu keluar ketika melihat orang baru seolah mengatakan ‘lo nggak perlu deket-deket gue’ begitu.
“Kenalin, gue Ares.” Lelaki itu mengulurkan tangannya di depan El dan El hanya menatapnya saja tanpa menerima uluran tangan tersebut. Ares menarik kembali tangannya dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Tentu saja dia merasa malu akan hal tersebut.
“Gue bilang ke Al untuk deketin lo, dan dia mengijinkan.”
“Bukan mengijinkan. Gue hanya tak melarang.” Al ternyata sudah ada di sana untuk menjemput El yang akan pulang bersamanya.
El memutar bola matanya malas melihat hal tersebut. Diam-diam Rigel mengamati lelaki itu. sedangkan Ares yang juga sedang menatap Rigel, berucap, “Nggak masalah kan kalau gue deketin El?” tanyanya dengan polos. Atau sok polos? Entahlah.
El melirik Rigel dan Ares bergantian. Kemudian memutar bola matanya malas. “Pulang!” katanya sambil menarik jaket yang dipakai Al sampai lelaki itu tertarik sambil berdesis.
“Bocah ini.” Katanya dengan sebal. Namun tak urung tetap berjalan bersama El menuju parkiran untuk mengambil motor miliknya.
Sedangkan Rigel dan Odel yang masih di sana dengan Ares yang tetap di tempatnya, masih saling diam tanpa mengatakan apapun. Rigel yang awalnya duduk, kini berdiri tepat di depan Ares. “Gue nggak punya hak untuk melarang atau menyuruh El untuk melakukan sesuatu. Kalau memang lo mau deketin dia, deketin saja.” Kemudian pergi begitu saja dari depan Ares tak lupa menarik Odel.
Odel sepertinya memang tak banyak kata. Dia memang tak banyak bicara. Sifatnya sedikit berbeda dengan kedua temannya.
Setelah sampai ke rumah, El menghadang Al yang akan naik ke lantai atas. “Kamu kayaknya nggak ada sayang-sayangnya sama sekali ya sama aku.” Ucap El, “Kamu tahu kalau aku nggak suka orang-orang yang suka sekali SKSD sama aku.”
“Karena aku pengen tahu sebesar apa nyali mereka. Lagi pula aku tahu kalau kamu juga nggak bakalan terima mereka dengan tangan terbuka. Bukan karena aku nggak sayang, tapi biar mereka tahu, orang seperti apa yang akan mereka hadapi.”
El mendengus sambil merengut kesal. “Aku yang menyeleksi cewek-cewek yang suka sama kamu, kenapa kamu enggak?”
“Seharusnya kamu nggak perlu melakukan itu. Kita paham satu sama lain jika kita bisa menghadapi mereka dengan mudah.” Al menaikkan alisnya dan mengatakan secara tidak langsung kesepakatan itu harus segera disetujui.
El mengangguk. “Tapi aku akan tetap mengatakan hal yang menyakitkan jika tebar pesona sama kamu.”
“Fine.” Memang tak terasa waktu secepat itu berlalu. Mereka berdua sudah sama-sama besar dan sudah saling mengerti tentang cinta.
Keduanya memang belum pernah menjalin hubungan asmara dengan siapapun. Tentu bukan karena tak ada yang mau, hanya saja mereka sepertinya belum menemukan seseorang yang bisa menggetarkan hati mereka.
Al punya El dan El punya Al. Jomblo bukanlah sesuatu yang harus membuat mereka berkecil hati. Toh jika El ingin pergi kemanapun bersama Al, lelaki itu selalu siap menemani. Pun sebaliknya. Tidak ada dalam kamus mereka jika keduanya merasa kesepian. Mereka sama-sama saling melengkapi satu sama lain.
Bagaimana dengan cinta pertama mereka? Atau biasa dibilang cinta monyet? Mungkin jika pertanyaan itu dilayangkan kepada mereka, mereka akan merahasiakannya. Entah mereka benar-benar pernah merasakannya atau tidak, belum ada yang tahu.
*.*