Blind Love

Blind Love
Kisah 46



“El, pulang!” Al datang ke kelas El tak lama setelah Odel pergi. El masih ada di dalam kelas dan akan keluar ketika saudara kembarnya itu mendekatinya.


Ada kernyitan yang diberikan El kepada Al ketika gadis itu menatap kembaranyannya. “Kok cepet?” tanyanya sambil berjalan.


“Mau ngapain lagi, lagian kan mau ambil motor.” Katanya dengan santai tak menyadari apapun.


“Naik apa kita? Taxi kan?”


“Ya.” Masih santai saja mereka berjalan dengan Rigel di belakang mereka.


“Odel pulang duluan?”


“Lah, kok tanya aku, yang sekelas sama dia kan kamu.” Mendengar jawaban dari AL, El seketika berhenti dan menatap Al.


“Kan kan tadi kamu ngobrol sama dia?”


“Ngobrol kan tadi, waktu istirahat, El? Lah kamu tanyanya sekarang. Ada-ada aja kamu ini.” Katanya dengan santai. Sama sekali tak menyadari sesuatu.


“Kamu kan barusan panggil dia?” El jelas ngotot karena dia tahu jika teman sekelasnya yang mengatakan kalau Al menunggu Odel di gedung olahraga.


“Enggak!” Al menolak, “Kalaupun aku butuh sama dia, aku yang akan datang untuk menemui dia.” El menatap Rigel dengan wajah pucat.


“Kita cari Odel dulu,” tanpa menunggu siapapun, El lari untuk mencari Odel di tempat yang temannya tadi bilang. Masuk ke dalam gedung dan hanya mendapati orang-orang yang duduk di lantai sepertinya mereka ingin bermain basket.


“Lo lihat Odel?” sekarang, tidak ada yang tak mengenal Odel karena dari gelar ‘Ratu’ yang diberikan kepadanya.


“Dari tadi nggak ada. Kami sejak tadi di sini.” Di susul Al dan Rigel, lelaki itu ikut bertanya.


“Ada?”


“Nggak ada.” El melarikan tatapannya ke penjuru ruang besar tersebut dan memang tak mendapati sahabatnya itu berada di sana.


Mereka bergerak dan mencari ke tempat-tempat tersembunyi pun tak ada. Bahkan murid-murid lain yang juga teman basket Al juga ikut mencari.


“Nggak ada, Bro.” Salah satu dari mereka mengatakan kepada Al. El sama sekali tak peduli, dia keluar gedung dan mencari Odel dimananpun.


“Odel!” teriaknya agar gadis itu bisa mendengarnya.


“Gue yakin terjadi sesuatu sama dia.” Al sudah kembali menyusul dan El mengatakan dugaannya, “Kita pencar.” Setelah mengatakan itu, El langsung berlari kesana kemari, untuk menemukan sahabatnya.


Al percaya jika apa yang dikatakan El memang benar. Pasti ada yang mengerjai gadis itu, pikirnya. Tak pandang bulu, dia mencari kemanapun tempat yang sekiranya tidak banyak dijangkau oleh orang lain.


“Odel!” Al mendapati Odel yang menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan mata memejam. Gadis itu memang sudah siuman, tapi dia tak kuat untuk berdiri. Ulu hatinya terasa sakit sekali akibat tendangan tersebut. Bahkan ketika Al memanggilnya pun, dia hanya membuka matanya dengan lemah.


“Shit!” umpat Al ketika melihat dari dekat wajah Odel yang memar. Tanpa banyak bicara, lelaki itu mengangkat Odel ke dalam gendongannya, setelah menyandang tas gadis itu.


“El!” teriak Al ketika melihat El masih dengan kekalutannya mencari Odel. Gadis itu menoleh dan langsung berlari ketika melihat Al membawa seseorang di dalam gendongannya,.


“Del!” wajah panik El benar-benar terlihat.


“Kita bawa ke rumah sakit,” Al langsung berjalan cepat diikuti oleh El dan Rigel di belakang. Suasanaa sekolah masih ramai, dan melihat Al sedang menggendong seseorang, mereka semua dibuat terbelalak. Mungkin dalam benak mereka bertanya apa yang terjadi? Sedangkan orang yang tadi ‘mengerjai’ Odel masih di sana dengan santai menatap ke arah rombongan Al sambil menyeringai. Dia lupa, setelah ini balasan itu pasti akan mereka dapatkan.


“Gue bawa motor. Kita bawa ke rumah sakit dr. Riyard aja yang dekat.” Rigel bersuara. Rumah sakit tersebut memang rumah sakit yang dekat dengan sekolah mereka. Odel harus segera mendapatkan penanganan.


“Oke!” Al menyanggupi. Al dan El masuk ke dalam taxi dan membawa Odel ke tempat dimana dia harus mendapatkan perawatan. Sedangkan Rigel berlari ke tempat parkir untuk mengambil motornya. Mereka belum membahas tentang siapa, dan kenapa si pelaku melakukan hal ini. Karena menyelematkan Odel lebih penting sekarang.


Al yang masuk dan menunggui Odel di UGD alih-alih El. Sedangkan El menunggu di luar ruangan sembari menunggu Rigel datang.


Pemeriksaan sudah dilakukan dan Odel langsung dimasukkan ke dalam kamar rawat inap. Al menatap Odel yang sedang menutup mata dan mengggenggam tangan gadis itu. Ini adalah kali kedua Odel masuk ke rumah sakit karena sebuah tragedy. Dan dua kali juga, Al yang membawanya.


Al tentu tak akan memikirkan hal yang tidak-tidak, tapi entah kenapa ada yang berbeda di dalam hatinya. Ada perasaan jengkel, sebal, dan marah dalam waktu yang bersamaan. Kenapa ada orang yang tega melakukan hal yang merugikan orang lain.


“Orang tua Odel di luar kota.” El datang bersama Rigel dan mendekati Odel yang sejak tadi masih menutup mata.


“Kita harus melaporkan kepada pihak sekolah.” Rigel bersuara, “Mereka harus mendapatkan sanksi berat.”


“Gue menolak!” Al menatap Rigel dengan datar, “Gue yang akan membalas mereka. Gue memang belum tahu siapa pelakunya karena Odel masih belum bisa mengatakannya, tapi gue yang akan bertindak.”


Rigel balik menatap Al, “Kalau lo yang bertindak, akan lebih parah, Al. Kejadian ini ada di dalam lingkungan sekolah, nggak ada salahnya kita melibatkan guru.”


“Tentu kita akan melibatkan guru, tapi setelah gue melakukan sesuatu kepada mereka.” Katanya dengan tegas tanpa ada keraguan sedikitpun.


“Tapi lo akan melakukan apa?” tanya El.


“Untuk saat ini gue belum tahu apa yang harus gue lakukan kepada mereka, kita akan lihat nanti.” Al sepertinya memang benar-benar akan melindungi Ratu nya. Ini adalah pembulian, dia benci orang-orang yang suka sekali bermain keroyokan dan menganggap diri mereka kuat.


“Kalau lo mau ‘bermain’ kepada mereka, bermainlah dengan cara cantik.” Begitu lanjut Rigel dan mendapatkan seringaian dari Al. Tentu lelaki itu akan melakukannya, Al bukanlah orang yang ceroboh. Dan permainannya akan dibuat secantik mungkin.


Odel mengerjap ketika kesadaran sudah menariknya dalam alam mimpi. Perutnya terasa ngilu dan wajahnya pun sama. Tiga orang itu belum mengatakan apapun dan memilih menunggu Odel benar-benar sadar.


“Hai!” suara parau itu keluar dari mulut Odel. El bahkan mengeluarkan nafasnya lega ketika Odel menyapa mereka. Al tersenyum kecil ketika Odel menatapnya, “Orang tua gue di luar kota, ada acara keluarga. Lo pasti tadi hubungi mereka kan?” Odel sebenarnya hanya memaksakan untuk berbicara dan terlihat baik-baik saja agar teman-temannya tak khawatir. Namun Al tahu ketika gadis itu mengeluarkan kalimat, benar-benar terlihat jelas di matanya jika Odel menahan rasa sakitnya.


“Lo nggak perlu ngomong dulu. Gue tahu rasanya masih sakit.” Al menggenggam tangan Odel dan seolah dengan melakukan itu dia bisa memberi kekuatan kepada gadis itu.


Odel tersenyum, namun wajahnya tiba-tiba berubah merah, matanya mengembun, dan dia menahannya.


“Keluarkan saja. lo nggak perlu malu.” Kata Al. Odel langsung menutup matanya dengan tangan yang bebas dari genggaman tangan Al, namun tedapat infus di sana.


Gadis itu menangis bukan hanya sakit fisik yang dirasakannya, tapi di dalam hatinya juga merasa sakit. El mengelus tangan Odel dalam diam.


“Sorry, karena lagi-lagi gue ngrepotin kalian.” Masih sesenggukan, Odel mengatakan itu karena merasa sungkan dengan teman-temannya.


“Nggak ada yang direpotin dan nggak ada yang merepotkan. Lo nggak usah membicarakan masalah yang tidak penting seperti itu.” Rigel menjawab dengan suara kaku karena tak suka dengan ucapan temannya tersebut.


*.*


Tiga orang itu sudah mengantongi nama-nama orang yang membuat Odet sampai masuk rumah sakit. Odel sempat membaca name tag mereka dan mengingatnya. Mereka ada di tingkat yang sama yaitu kelas sebelas. Tidak perlu mencari orang-orang itu dengan susah ketika Odel mengatakan nama tersangka.


Bukan hanya Al yang akan turun tangan, El pun akan melakukan balasan. Memang tidak terencana balasan tersebut, tapi kapanpun El memiliki kesempatan, dia akan membuat urusan dengan mereka.


Seperti saat ini misalnya, ketika dia bertemu si ketua dari geng tersebut di koridor, El menyeringai. “Apa kabar!” sapa El dengan senyum. El yang sama sekali tak pernah memperlakukan orang lain seperti itu, membuat gadis tersebut heran.


“Baik.” Jawabnya.


“Bagus lah,” kemudian dengan santai, El kembali berjalan dengan wajah menyeringai. Meninggalkan dulu rasa penasaran tersebut di dalam hati gadis tersebut.


Namun ketika El sengaja menghadangnya, wajah El seperti pembunuh berdarah dingin. “Gue perlu berbicara sesuatu sama lo.” Katanya to the point.


“Gue ada urusan.”


“Gue nggak peduli.” El dengan angkuh menjawab, “Lo akan ikut dengan suka rela, atau gue perlu menyeret lo.” Katanya.


“Gue nggak perlu menuruti ucapan lo kan?”


Seringaian El muncul, “Begitukah?” tanyanya dengan maju untuk lebih mendekati gadis tersebut, “Kalau begitu berarti lo memaksa gue buat bertindak lebih kasar sama lo.”


“Gue nggak takut.” Gadis itu kukuh dengan keputusannya.


“Gue percaya kalau lo nggak takut, apalagi keroyokan. Benar kan?” gadis itu sudah terlihat terintimadasi, tapi sama sekali tak menyerah.


“Dua temen lo udah sama Al dan Rigel, jadi mereka saja yang akan menanggung balasannya?” wajah gadis itu pucat namun masih kukuh dengan keputusannya.


“Lo nggak bisa bohongi gue, mereka udah pulang sejak tadi.”


“Tapi Al dan Rigel membawa mereka. Dan mereka menunggu kedatangan lo sebagai ketua yang baik.” Sebetulnya El sangat tidak sabar dengan basa-basi ini, tapi apalah daya. Lawannya itu belut, karenanya dia harus menjadi ular.


“Kalau lo nggak datang, artinya kedua pengikut lo akan menanggung semuanya.” Kemudian El memutar tumitnya dan berniat pergi, sayangnya gadis itu mengatakan persetujuannya.


“Gue datang.” Katanya dengan ragu. El tak merasa perlu berbalik, gadis itu menyeringai dan berjalan begitu saja dengan gadis itu ikut di belakangnya.


Masuk ke dalam ruangan, ternyata tak ada siapapun di sana. Al dan Rigel juga tak terlihat. Apalagi kedua temannya.


“Lo bohongin gue?” gadis itu tak terima dengan menatap El dengan tajam.


“Apa itu masalah buat lo?” tanya El dengan santai dan duduk di bangku yang bisa dibilang sudah tak layak karena debu.


“Ini adalah undangan special dari gue, dan lo seharusnya bangga akan hal itu. Lo nggak takut sama gue kan?” sok polos sekali El ini sekarang.


“Gue nggak pernah takut sama siapapun,”


“Bagus!” El mengacungkan jempolnya, “Memang harus seperti itu kan ketua geng?” Mereka saling berhadapan dan saling menatap tajam.


Tatapan El terputus ketika dia mendapatkan chat dari Rigel tentang sesuatu hal. Membacanya, kemudian mengangguk-angguk.


“Jadi, apa tujuan lo melakukan kekerasan kepada Odel? Lo pasti nggak lupa dong, kalau dia itu sahabat gue dan kekasih Al, yang nggak mungkin akan diam aja kalau dia mendapatkan masalah?”


“Lo nggak perlu tahu alasan gue.” Sepertinya gadis itu memang berani sekali.


“Ayolah, kita nggak perlu main tebak-tebakan seperti ini sekarang. Buang waktu.” Kata El dengan malas. Namun gadis itu juga tak kunjung berucap.


“Baiklah.” Kata El merasa bosan, “Gue akan akhiri ini dengan cepat.” El maju mendekat dan bersidekap di depan dada. Kemudian menarik jas sekolah yang dipakai oleh gadis tersebut sampai lawan itu terbelalak.


“Lo mau ngapain?” terpancar ketakutan di mata gadis tersebut yang sama sekali tak dipedulikan oleh El. Justru El dengan menakutkan menatap gadis itu mengintimidasi.


El melepaskan cengkramannya dan mendorong kasar gadis itu sampai terpental ke belakang. El mendekati lagi dengan langkah lebar dan mengempit kepala gadis itu di ketiaknya. Sebisa mungkin meskipun dia melakukan itu, tak ada luka yang dia tinggakan di sana. Ini hanyalah main-main dari seorang El untuk sekedar mengintimidasi.


“Lepasin gue.” Gadis itu berontak.


“Lo memang belum pernah mendapatkan peringatan dari gue selama ini. Karenanya lo bisa melakukan hal memalukan seperti itu dan Odel lo buat sakit sekarang.” Al dan Rigel datang dengan santai mendekati kedua gadis tersebut.


El melepaskan apitannya dan mendorong ke arah Al. Al dengan tangkas menangkap dan mencengkram jas gadis itu. Menatap dengan datar dan tajam.


“Lo nggak berfikir kalau gue akan diam saja ketika Odel lo keroyok kan?” tanyanya dengan datar. Gadis itu pucat pasi mendengar apa yang dikatakan oleh Al.


“Gue…. Gue…” dia tak bisa mengatakan apapun, apalagi tubuhnya sudah bergetar karena tatapan Al kepadanya.


Al melemparkan gadis itu ke arah Rigel, dan Rigel menangkapnya. “Seperti apa pembulian yang lo lakukan kepada Odel?” tatapan Rigel sama tajamnya, “Cara itulah yang kami gunakan untuk mengembalikan apa yang telah lo lakukan kepada Odel.”


“Gue minta maaf.” Tak bisa membendung rasa ketakutannya, gadis itu memutuskan untuk meminta maaf.


“Dan ini bukan waktunya lo minta maaf. Karena semua sudah terlanjur, kami nggak sebaik itu memberikan maaf kepada orang.” Rigel lebih mencengkram erat kerah gadis itu sampai gadis itu wajahnya merah karena sesak.


Melihat wajah gadis itu, sepertinya membuat Rigel semakin marah. Tangan Rigel dengan cepat mendorong gadis itu sampai terlempar dan hampir menabrak dinding. Padahal siapa yang tadi mengatakan untuk melibatkan guru dalam permasalahan ini. Nyatanya, dia sendirilah yang kehilangan kendali.


*.*