
Deringan alarm membuat kedua orang yang masih bergelung nyaman satu sama lain itu merasa terganggu. Bukannya bangun, Love malah memeluk semakin erat sang suami. Pun dengan Aksa yang melingkarkan kakinya ke kaki istrinya, dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Love kepadanya.
Alarm itu semakin meraung seolah ingin segera membuat kedua orang itu cepat membuka matanya dan melakukan apapun yang akan dilakukan. “Bangun, Yang.” Mata Love masih terpejam, tangannya masih membelit tubuh Aksa tapi dia tetap membangunkan lelaki itu.
“Sebentar lagi.” Katanya dan menyamankan tubuhnya. “Ngantuk sekali aku.” Lanjutnya yang disetujui oleh sang istri.
Gaungan suara adzan sudah terdengar dan seharusnya yang mereka lakukan adalah membuka matanya dan bangun dari tidurnya. Meskipun keinginan untuk tidur itu masih sangat menggebu, Love melepaskan tangan Aksa
dari tubuhnya dan duduk di kasur. Tangannya membelai rambut suaminya dengan sayang.
“Bangun lah, Yang. Ke masjid sana, udah adzan itu.” Memang tak selalu, tapi Aksa sebisa mungkin sholat di masjid.
“Hem.” Hanya gumaman saja yang diberikan kepada sang istribuntuk jawaban. Menarik selimut dan kembali tidur. Love menggelengkan kepalanya dan turun dari ranjang. Nanti dia akan membangunkan lagi suaminya setelah dia
mandi.
Kebiasaan Love memang, kalau bangun tidur dia akan langsung membersihkan badannya. Hanya butuh waktu sebentar saja Love menyelesaikan ritual paginya, keluar kamar mandi dan melihat Aksa masih setia dengan mata terpejam.
Sholat lebih dulu, barulah membangunkan Aksa yang seperti orang pingsan itu. “Udah siang, ayo bangun. Nanti tidur lagi.” Goncangan itu diberikan Love untuk suaminya agar lelaki itu merasa terganggu.
“Yang.” Masih dengan goncangan, perempuan itu terus membangunkan suaminya agar segera membuka matanya.
Aksa membuka matanya. Masih sayu tapi dia berusaha agar terjaga. Menatap Love, lelaki itu tersenyum kecil. “Seger banget sih pagi-pagi.” komentarnya dengan suara masih parau.
“Mandi sana. Nanti kalau mau tidur, tidur lah lagi.” Persetujuan Aksa tak dikatakan, tapi lelaki itu langsung berdiri dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Love yang tak memiliki ide untuk melakukan apapun, hanya duduk diam di sofa sambil membaca majalah.
Ponsel, satu benda itu belum berani Love sentuh sejak pertengkaran terjadi. Dia baru saja berbaikan dengan Aksa dan tak ingin rusak kembali karena ponsel. Jadi biarlah benda itu tergeletak di nakas samping tempat tidurnya.
“Kok laper ya.” Masih pukul 05.15 dan Aksa sudah merasakan lapar. Mungkin saja karena semalam dia tak mengisi perutnya jadilah seperti itu.
“Mau aku buatin apa?” Aksa ikut duduk di sofa kamarnya dan menyenderkan kepalanya di kepala sofa. Terlihat sekali lelahnya.
“Nggak ada ide.” Matanya kembali memejam. “Cari ide lah, Yang, kamu mau kasih aku makan apa?” Love berdecih karena ucapan lelakinya. Meskipun begitu, Love sangat lega sekali. Lebih baik dia disibukkan mencari ide makan dibandingkan dia diabaikan seperti berhari-hari lalu.
“Ini masih pagi untuk makan. Kalau makan berat, kamu pasti akan mual. Shandwich?” Bukannya menjawab, lelaki itu menatap sang istri sambil berkedip pelan.
“Pecel, Yang. Enak sekali kayaknya makan itu.” Ada nasi pecel favorit Aksa tak jauh dari komplek perumahannya. Dan lelaki itu selalu bilang kalau makan pecel itu afdolnya di tempat itu.
Jadi mau bagaimana lagi, Love mengangguk saja. Kemudian berangkat untuk mengisi perut lapar Aksa. Mereka pergi naik motor bebek Love yang biasanya selalu dipakai oleh asisten rumah tangga mereka ke pasar. Dan Aksa pun tak pernah sekalipun menaiki motor tersebut karena dia memiliki motornya sendiri yang selalu di pakai bersama Love ketika perempuan itu ingin berkencan menggunakan motor.
Dan itupun sekarang jarang dipakai karena memang mereka sudah memiliki dua anak dan tak mungkin mereka akan menaiki kendaraan beroda dua.
“Serius mau pakai ini?” Begitu tanya Love tadi karena perempuan itu merasa aneh saja dengan lelaki di depannya itu.
“Santai kayaknya kalau pakai ini.” Dan begitulah jawaban Aksa. Kemudian Love langsung membonceng di belakang Aksa dan benar-benar membonceng dengan duduk miring dan tangan kanannya memeluk perut Aksa,
sedangkan tangan kirinya memegang dompet.
“Aku ngerasa kaya gadis desa loh, Yang, kalau kayak gini. Ampun, keren banget coba.” Love terkekeh kesenangan karena itu. Tak pernah sekalipun dia melakukan hal seperti ini sebelumnya bahkan sebelum mereka menikah. Karena Aksa tak pernah membawa motor bebek. Dan motor ini pun Love yang membeli untuk memudahkan asisten rumah tangganya jika dia meminta tolong untuk membelikan sesuatu.
“Asyik kan?” Aksa menimpali. “Bahagia itu sederhana, Yang. Nggak usahlah dengan barang-barang mewah, makan di tempat yang mahal. Seperti ini aja kamu udah seneng.” Kalau di lihat, kedua orang itu memang seperti pasangan muda yang belum memiliki anak. Dan mereka masih sangat cocok untuk melakukan hal picisan seperti sekarang ini.
Tempat yang Aksa dan Love datangi sekarang ini memang bisa dikatakan begitu nyaman. Mak Cel, begitu orang-orang memanggil penjual nasi pecel itu karena mereka memang tidak mengetahui siapa nama asli perempuan paruh baya itu, berjualan di bawah pohon besar dengan meja pendek, di atasnya berjejer jualannya mulai dari bumbu pecel dan sayuran sampai gorengan. Jadi pembelinya biasanya makan di sekitar pohon tersebut dengan beralaskan tikar yang di sediakan oleh penjual, ada juga yang makan sambil berjongkok. Sesederhana itu, tapi semua itu bukan masalah bagi pelanggannya, karena yang diburu mereka bukan karena tempatnya, tapi rasa masakannya yang jempolan.
“Eh, Mas dan Mbak cakep. Kok lama nggak ke sini?” Itu adalah panggilan yang ditujukan oleh Aksa dan Love. Perempuan itu memang belum mengetahui siapa nama dari pasangan tersebut.
“Iya, Mak. Lagi sok sibuk.” Begitu jawab Love. Karena memang dia tak memiliki kesibukan. “Dua ya, Mak.” Yang dimaksud Love adalah dia memasan pecel itu dua piring.
“Kamu makan juga?” Pertanyaan Aksa ini sungguh tak berbobot sama sekali.
“Jadi aku nggak boleh makan?” Love memang tak merasa tersinggung, tapi dia merasa jengah juga kan.
“Gitu aja manyun.” Dicubitnya bibit Love sambil terkekeh. “Aku nggak kerja, Yang.” Sontak saja Love menatap suaminya itu dengan heran.
“Kenapa?” Ini adalah berita baru buat Love, dan mengagumkan. Seorang Aksa bilang tak masuk kerja adalah hal yang luar biasa.
“Di pohon ini nggak angker kan?”
“Enggak kok, Mbak. Aman sekali.” Mak Cel yang menjawab karena mendengar suara Love.
“Tapi kok suami saya jadi ngaco ya, Mak.” Perempuan paruh baya itu tertawa pelan.
“Mungkin lagi capek, Mbak.” Mak Cel memang mendengar percakapan dari dua orang itu. Dan Love kembali menatap suaminya.
“Iya, Ayang capek?” Love hanya memastikan saja.
“Iya. Mau tidur aku seharian, siapa suruh semalem ngomong terus.” Seperti tak berdosa saja Aksa mengatakan itu. Love membiarkan saja lelaki itu berbuat seenaknya. Bahkan orang-orang yang makan di sampingnya pun
ikut terkekeh mendengarnya.
Nasi pecel dan teh hangat, benar-benar sudah masuk ke dalam perut pasangan itu. Sarapan sederhana di pagi hari dengan ditemani oleh angin segar belum terjamah oleh polusi, membuat Love merasa ketagihan.
“Nanti, kapan-kapan ke sini lagi ya, Yang. Oke banget coba.” Aksa hanya menyetujui saja permintaan istrinya.
“Udah kasih tahu ayah kalau Ayang nggak masuk kerja?” Sebenarnya Aksa masuk tak masuk kerja tak perlu mengatakan kepada ayahnya, tapi memang biasanya Daka mencari putranya itu untuk diajak diskusi.
“Udah.” Dan seperti yang Aksa katakan sebelumnya jika dia akan tidur seharian, lelaki itu mulai melakukannya. Sepulang dari sarapan, dia kembali ke kasur dan memeluk gulingnya. Membuat Love berkomentar.
*.*
“Abang nggak kerja?” Si perusuh Kla datang dengan Avez dan Ixy. Mengembalikan kedua anak itu ke tangan yang berwenang, begitu katanya tadi. Kla memang sedang mengandung, dan dia suka sekali jika kedua keponakannya
itu berada di sekitarnya.
“Dia kecapekan.” Ixy sudah terlelap di gendongan Love sedangkan Avez sedang menggambar sesuatu di bukunya.
“Semalem lembur?” Bahkan suara Kla seperti bisikan ketika menanyakan itu.
“Iya. Ampe lima puluh ronde.” Love sinis menjawab, yang membuat Kla tertawa. Dua peremuan itu memang cocok sekali jika disatukan. Sama-sama bermulut pedas.
“Aku pulang lah. Capek juga.” Masa kehamilan Kla, memang mudah sekali lelah. Karena itu, Jier selalu melarang istrinya itu untuk tak melakukan apapun yang di rasa akan membuatnya lelah.
“Hati-hati.” Kla langsung keluar dari ruang keluarga Love untuk kembali ke rumahnya.
Sepulangnya Kla, Love mengajak Avez untuk istirahat siang seperti biasa. Rutinitas itu selalu dilakukan oleh Love.
“Abang diajak jalan-jalan sama Ate ya?”
“Iya, Bunda. Kami naik odong-odong sama Om Jier juga.” Raut wajah Avez begitu senang menceritakan hal itu. “Naik gajah juga, Bunda.” Avez memang sering sekali di ajak ke kebun binatang. Dan menaiki binatang-binatang
besar seperti gajah dan Kuda juga tak sekali dilakukan. Tapi bocah itu selalu senang dengah hal tersebut.
“Nanti kita jalan-jalan lagI ya.” Terakhir mereka jalan-jalan berempat adalah beberapa bulan yang lalu. Dan sepertinya Love harus mengajak mereka untuk melakukan hal itu lagi. Menunjukkan hal-hal yang baru agar mereka bahagia.
Sorenya, ketika mereka sudah segar sehabis mandi dan duduk-duduk manis di halaman rumah mereka yang luas, Avez ‘menunjukkan’ sesuatu yang belum disadari oleh kedua orang tuanya. Memang bocah itu tak sengaja
melakukannya, tapi hal tersebut membuat Aksa dan Love mempunyai pemikiran yang sama.
Bocah itu meliukkan tubuhnya ketika telinganya mendengar ada suara musik. Music yang di putar agak kencang itu dari rumah tetangga mereka. Avez benar-benar melakukan gerakan dance sesuai dengan dentuman music yang
didengarnya.
Memang tarian itu tak sempurna, tapi kedua orang tuanya benar-benar takjub dengan itu. Avez tak pernah menunjukkan keahliannya sebelumnya. Love merekam sebentar putranya itu melakukan tarian tersebut.
“Kita sepemikiran nggak?” Itu Love juga yang berbicara. Menatap suaminya,karena Avez sudah melakukan hal lain.
“Iya.” Aksa masih menatap putranya yang sedang berlarian bersama adiknya karena gelembung yang ditiupnya. “Aku akan carikan guru yang bisa membimbing dia.” Tatapan Aksa fokus pada Love. “Apapun untuk anak-anak, harus kita lakukan. Udah nggak diragukan lagi kalau Avez berminat dalam hal ini. Dan kita harus mendukungnya seratus persen.”
“Aku setuju. Tapi kita harus memintanya untuk melakukannya lagi nanti.” Wajah Love berbinar melihat perkembangan anak-anaknya yang luar biasa.
Dan ketika malam sudah kembali menggantikan siang, Love tak menunda lagi untuk meminta putranya menunjukkan keahlian yang dimiliki. “Abang,” awalnya. “Abang bisa kayak tadi itu dari mana?” Avez yang tak paham hanya diam saja sambil menatap ibunya.
“Dance. Yang kayak tadi sore itu.” bahkan Love harus menujukkan dengan gerakan tangannya, takut jika putranya tak mengerti.
“Tivi, Bunda.” Anak itu memang memiliki otak yang encer, sehingga dapat menangkap dengan cepat apa yang dimaksud oleh ibunya.
“Kapan, Abang, belajar?” desaknya lagi karena rasa penasarannya. “Di sekolah?”
Avez menggelang. “Nggak bunda, di Tv.” Meyakinkan sang bunda. Bocah itu mengambil remot tv dan mengganti chanel kesuakaannya dan di sana ada acara yang memang hanya ada orang-orang yang ahli dalam bidang dance.
“Ini, Bunda.” Tunjukkan kepada ibunya. Dan ketika ada lagu yang disukanya dengan dancer yang melakukan gerakan dancenya, Avez mengikuti gerakan tersebut dengan baik. Meskipun ada yang salah-salah, tapi untuk anak
yang tak pernah mempelajari secara sungguh-sungguh, sudah luar biasa.
Tepuk tangan diberikan oleh Love, dan siikuti oleh Aksa yang baru saja turun dari lantai atas. “Abang hebat.” Aksa lebih dulu memuji. “Keren.” Diacungkannya dua jempol di depan putranya dengan senyum, lebar. “Abang tiruin yang ada di tv tadi ya”
“Iya, Yah. Abang suka.” Katanya berusaha menjelaskan.
“Abang mau nggak belajar dance sama guru?” Kini Love yang berbicara. “Abang bisa lebih pintar lagi nanti.” Begitu katanya dan berharap bocah itu menyutujui.
“Baik nggak, Bunda, gurunya?”
“Baik, dong. Abang akan diajari sampai bisa. Mau?” bujuk Love lagi. Bakat yang ditunjukkan oleh putranya itu haruslah dikembangkan. Dia tak ingin bakat tersebut tenggelam begitu saja dan terlupakan. Putranya harus unggul, begitulah prinsipnya.
Avez mengangguk. “Iya, Bunda.” Setuju bocah itu.
“Good.” Aksa menimpali. “Abang akan lebih keren nanti.” Ayah Avez itu tersenyum lebar sekali. Darah seni sepertinya mengalir dengan kental di dalam diri putranya. Dan dia bangga akan hal itu.
Avez sudah sibuk dengan aktifitas lain bersama adiknya. “Mulai besok, kita harus cari guru private ya untuk Avez.” Aksa sepertinya memang tak akan menunda keinginan itu lebih lama lagi.
“Ayah cari, aku juga cari. Kita akan bekerja keras agar anak-anak kita tak tertandingi.” Berapi-apinya Love membuat Aksa menggelengkan kepalanya.
“Perhatikan juga, Ixy. Mungkin dia juga memiliki bakat yang sudah ada tanda-tanda yang muncul.”
“Ayah nggak penasaran, aku punya bakat apa?” Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Love malah mengatakan hal lain. Aksa menatap dengan kernyitan di dahinya.
“Kamu memang pintar, juga bisa nyanyi, suaramu pun bagus. Tapi selain itu kamu nggak ada bakat yang lain.” Begitu ejek Aksa. “Bakat terpendam kamu itu ya menggoda aku, apa lagi.” Yang seketika mendapatkan geplakan di paha lelaki itu.
“Sembarangan.” Kata Love. “Kalau anak-anak tahu kan bisa berabe.” Lanjutnya lagi. Yang hanya dihadiahi kekehan oleh ayah dari dua anak itu.
*.*