
Setelah mendapatkan wejangan dari Love kemarin, Libra berusaha untuk menjadi istri yang lebih baik.
“Kira-kira, aku udah jadi istri yang baik belum ya, Yang?” pertanyaan itu bahkan terlontar ketika mereka akan berangkat ke kampus bersama. Pagi ini Libra membuatkan sarapan mie instan denga telur dadar. Simple dan cepat saji. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar memasak. Dia harus bisa memasak dengan enak.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?” mereka sudah berada di dalam mobil yang berjalan di kompleks perumahan. Ini kali pertama Virgo ke kampus menggunakan mobil.
“Tanya aja sih. Pengen tahu pendapat kamu aja.” Begitu jawab Libra dengan santai.
“Sejauh ini kamu adalah istri yang baik. Dan aku acungi jempol buat kamu.” Dan Virgo benar-benar mengacungkan jempol kirinya Untuk Libra dan setelahnya menggenggam tangan kanan perempuan itu.
“Aku akan berusaha menjadi istri yang lebih baik.” Libra menatap betul-betul suaminya, “Akan belajar memasak agar nggak ngandelin makanan instan dan delivery order.”
“Bagus.” Jawab Virgo, “Aku dukung kamu seribu persen. Dan jangan sakit hati kalau aku komentarnya terang-terangan. Kalau emang nggak enak, aku bilang nggak enak, dan kalau memang enak, aku juga akan bilang enak.”
“Itu lebih baik,” kata Libra, “Karena memang itulah tugas kamu. Karena kalau kamu nggak jujur, aku nggak akan bisa belajar dengan benar.” Jika kesepakatan ini terjadi, maka kedepannya akan lebih mudah.
Sampai di kampus, sejak Virgo dan Libra turun dari mobil, benar-benar menjadi pusat perhatian. Virgo sudah mewanti-wanti agar istrinya itu bisa menanggapi biasa saja dengan hal yang terjadi sekarang. Tapi Libra jelas tak bisa melakukannya begitu saja.
“Bro!” sapaan itu dia dapatkan dari teman satu fakultanya yang memang sudah mengenalnya sejak mereka semester satu.
“Hei!” Virgo tersenyum dan bertos dengan lelaki itu. Kemudian mengobrol sebentar sebelum mengantarkan Libra seperti biasa.
Dan di fakultas Libra pun terjadi hal yang sama. Namun berusaha untuk diabaikan oleh keduanya. Menyalahkan Virgo pun percuma, toh semua sudah terjadi.
“Selamat bro, gue lihat pertandinga lo, dan emang kerena banget.” Rion yang memberikan ucapan selamat kepada lelaki itu dan merasa bangga dengan suami temannya itu.
“Thanks,” Virgo tersenyum, “Lo nggak datang langsung ya?”
“Enggak. Kami nggak ada yang datang waktu itu karena memang ada urusan yang harus diselesaikan. Next, kita bakalan datang. Seru banget gue lihat.” Di jaman sekarang ini, apapun bisa langsung ke media social. Jadi tak kaget jika apa yang terjadi kemarin itu pasti akan masuk kesana.
“Kalau gitu gue balik dulu. Bentar lagi masuk.” Katanya berpamitan karena Libra juga sudah bertemu dengan teman-temanynya.
Libra berlalu dari tempat itu untuk masuk ke kelasnya, dan Shila berbisik dengan pelan. “Lo sekarang memang lagi jadi bahan perbincangan, Li. Jadi artis dadakan lo.” Shila terkekeh sambil menggoda Libra karena memang seperti itulah yang terjadi.
“Gue sejujurnya malu sih, Shil. Gara-gara Virgo lah ini semua terjadi.”
“Nggak akan ngerugiin lo kok, Li.” Tanggapan Zidan. “Kalaupun itu ngerugiin lo, kami siap ngebantu lo buat mrepet ke mereka.” Janji Zidan dan disetujui oleh dua yang lainnya.
“Gue terima kasih sama lo karena sudah mau berteman sama gue. Sering ngerepotin lagi.”
“Gue nggak denger lo ngomong apa.” Begitulah selalu jawaban Zidan jika temannya merasa tak enak dengan mengatakah hal yang katanya tak penting sama sekali. Zidan selalu bilang kepada teman-temannya jika mereka ini kan berteman, jadi dirasa wajar kalau saling merepotkan. Itu sama sekali tak masalah.
*.*
Virgoku – Aku mau cokelat hangat, Yang. Tapi kamu nanti yang antar ya. Aku mau kerjain tugas.
Libra membaca chat itu dengan kening mengernyit. Pasalnya harusnya setelah kuliah selesai, memang Virgo bekerja bukan? Kenapa malah mandek di kampus dan mengatakan mengerjakan tugas?
Libra – Kamu nggak kerja?”
Daripada penasaran, dia bertanya saja langsung kepada Virgo.
Virgoku – Aku udah izin sama bang Nino dan sama kakek kalau hari ini aku nggak bisa kerja. Tugas mendadak dari dosen.
Maka Libra memahami dan langsung membelikan coklat hangat untuk sang suami. Andalah terpercaya bagi Virgo adalah coklat hangat alih-alih kopi.
Setelah mendapatkannya, dia langsung pergi ke fakultas Virgo. Ditemani dengan teman-temannya, karena dia tak siap dengan tatapan dari orang-orang yang berada di fakultas tersebut.
Di lantai dua, di tengah-tengah antara berjejernya kelas yang saling berhadapan, Virgo berada. Bersama Edo dan juga Tere, serta beberapa temannya yang lain. Virgo dikelilingi oleh mereka sepertinya sedang menjelaskan sesuatu.
“Li!” Tere yang menyadari Libra datang. Pangggilan itu membuat semua orang yang sedang focus dengan apa yang mereka lakukan itu menoleh ke arah Libra secara serentak.
Virgo tersenyum dan memberi isyarat kepada perempuan itu untuk mendekat.
“Aku langsung balik ya. Aku pulang duluan.” Kata Libra karena selain tak nyaman berada di tengah-tengah teman-teman Virgo, dia juga tak enak dengan Shila, Zidan, dan Rion.
“Udah nggak ada kelas kan setelah ini?” tanya Virgo.
“Nggak ada.” Jawab Libra sambil menggeleng.
“Kalau gitu di sini aja. Ya kan, Vir.” Begitulah Tere yang mengatakan isi hati Virgo seolah paham apa yang dimau oleh lelaki itu.
“Ya. Di sini aja temeni aku. Lagian nanti kamu di rumah sendirian.” Libra menggeleng tapi Virgo lebih dulu mengatakan kepada teman-teman Libra agar mereka meninggalkan istrinya itu.
“Yon! Nggak apa kan kalau Libra di sini aja?” kampret memang suaminya itu. Ingin Libra mengumpati Virgo, tapi jelas saja dia tak akan melakukannya.
“Oke! Kami balik kalau gitu. Lo jaga teman kita baik-baik.” Jawab Rion dengan kerlingan menggoda.
“Beres itu mah. Thanks bro!” katanya melambaikan tangannya kepada ketiga teman Libra. Dan apa mau dikata, Libra hanya bisa pasrah saja. Padahal dia sama sekali tak nyaman berada disana.
“Duduk sini.” Virgo menarik tangan Libra dan memberi tempat agar istrinya itu bisa duduk di sampingnya dan berdekatan dengan Tere.
“Kita harus hangout minggu besok.” Kata Tere berbisik dengan pelan dan ditanggapi dengan suka cita oleh Libra. Sudah beberapa bulan ini mereka sudah tak pernah pergi bersama karena libur panjang semester dan dilanjutkan dengan pernikahannya.
“Berdua aja. Nggak usah ajak cowok-cowok.” Bisik Libra balik memberikan ide. Namun dengan kampretnya Edo mendengar dan bersuara,
“Atur aja, Do.” Begitu katanya dengan santai. Dan itu membuat Libra mendengus. Dalam perkumpulan itu jelas tak akan menyia-nyiakan begitu saja interaksi yang terjadi antara Virgo dan istrinya. Mereka semua memang sudah mengetahui jika Virgo sudah menikah tanpa tahu alasannya tentu saja.
Ada banyak dugaan yang terjadi, tapi itu sama sekali tak dipedulikan oleh Virgo. Dia bukan artis, jadi tak perlu mengklarifikasi dengan apa yang terjadi. Toh itu bukan urusan mereka kan.
Mereka melanjutkan dengan pekerjaan yang sejak tadi mereka kerjakan. Libra sama sekali tak paham dengan tugas yang dikerjakan oleh suaminya dan teman-teman lelaki itu, karenanya dia memilih untuk memainkan ponselnya.
Diskusi yang terjadi sekarang ini memang didominasi oleh suara Virgo seolah lelaki itu sedang menjelaskan kepada teman-temannya materi yang tidak mereka mengerti.
“Kita jeda sebentar ya. Lima belas menit deh. Kepala gue berasap rasanya.” Begitu kata Virgo karena dia merasa lelah dengan tugas yang diberikan kepada mereka.
Yang lain langsung membaringkan tubuh mereka ke belakang karena sama lelahnya dengan Virgo. Padahal sejak tadi Virgo lah yang banyak berfikir untuk mencari jawabannya.
“Lapar nggak, Yang?” Virgo menanyai Libra.
“Enggak. Tapi aku ngantuk.” Libra bebapa kali hampir tertidur karena bosan menuggu Virgo yang sejak tadi tak kunjung menyelesaikan tugasnya.
Virgo mengelus lengan istrinya dan meminta agar menahannya. “Minum ini dulu” Virgo menyodorkan coklat miliknya agar Libra bisa ikut minum. Dan tentu perempuan itu langsung meminumnya. Meskipun dia tak tahu apakah ada efeknya atau tidak dengan hal itu.
“Re!” panggil Libra kepada Tere ketika dia benar-benar merasa bosan, “Mereka ngelihatinnya kaya gitu banget sih?” ada tiga perempuan lainnya juga yang ikut serta dalam mengerjakan tugas tersebut, dan sedari tadi mereka terus menyempatkan diri untuk melirik, sampai menatap terang-terangan ke arah Libra.
“Lo nggak usah bingung, memang begitulah bentukannya,” Jawab Tere santai, “Bukan hanya mereka aja, banyak orang yang kayaknya penasaran sama lo. Virgo yang popoler udah menikah? Wow! Aku nggak kuat.” Gaya itu diperlihatkan dengan centil namun suaranya berbisik, dan membuat Libra sontak tertawa.
“Kampret lo emang.” Kedua betina itu bahkan harus cekikikan dan membuat orang-orang semakin penasaran dengan apa yang sedang kedua orang itu obrolkan. Itu membuat Virgo juga beraksi.
“Apa sih?” tanyanya dengan penasaran, “Kalau udah kumpul yang nggak-nggak pasti yang obrolannya.” Virgo memang sudah sangat paham dengan tabiat dua orang itu.
“Nggak ada.” Libra menolak untuk memberi tahu karena tak mungkin dia mengatakan rumpian orang-orang itu tentang Virgo.
Dan setelah pukul empat sore, barulah tugas itu selesai. Libra yang tak mau terkurung di sana memang memilih menunggu sambil melihat-lihat fakultas sang suami yang ada di lantai dua tersebut. Memang tak ada apapun sebenarnya yang special, namun dibandingkan harus duduk dan mendengarkan diskusi yang bahkan dia tak mengerti sama sekali, lebih baik dia menyibukkan diri dengan berjalan kesana kemari.
“Pulang!” Virgo menarik tangan Libra dan mengajak perempuan itu untuk turun ke lantai satu dengan diikuti orang-orang yang lain dari belakang karena dia lebih dulu berjalan.
“Nongkrong dulu yuk!” ajak Edo dan ditanggapi dengan anggukan oleh Tere, “Makan-makan apa kek dulu.” Lanjutnya. Sepertinya Edo memang butuh udara segar sekarang karena wajahnya terlihat berantakan sekali.
“Perasaan dari tadi Virgo yang banyak mikir aja biasa aja, Yang. Kok kamu yang jadi macem orang kehilangan banyak darah gitu sih?” Edo merangkul Tere di lehernya sambil berjalan.
Dia bilang, “Karena lihat Virgo yang kebanyakan mikir itu lho, Yang, aku jadi kayak gini. Apalagi kalau aku sendiri yang mikir, bisa-bisa botak aku.” Yang membuat Tere menggelengkan kepalanya. Edo memang selalu bisa menjawab ucapan orang lain kepadanya.
Dan disinilah mereka sekarang. Di mini kafe tak jauh dari kampusnya. Duduk manis di sana dengan memesan kentang goreng, ring chicken, ice cream, dan juga cola. Mereka memesan dengan ukuran jumbo sebagai cemilan.
“Katanya nanti mau buat aplikasi yang akan merubah dunia, tapi kok kamu malas-malasan gitu sih, Yang?” itu adalah bentuk protesan dari Tere untuk Edo karena melihat kejadian tadi. Edo hanya membantu sedikit-sedikit dan tak menuntaskan sama sekali.
“Kan udah ada yang bisa, Yang. Nanti kalau aku ngerjain pasti mereka tanya juga ke Virgo bener apa enggak.” Jawab Edo ringan.
“Padahal kalau lo mau, lo tadi bisa bantuin gue lho, Do. Dan nggak akan memakan waktu selama ini.” Virgo ikut bersuara.
“Gue malas juga lama-lama kalau gitu, Vir. Pasti nanti ujung-ujungnya minta pendapatnya ke elo. Kan mending gue belajar sendiri aja sama lo, jadi nggak ribet. Lo tahu si Yono?”
“Yono?” Tak ada yang bernama Yono di gerobolan mereka diskusi tadi, karena itu Virgo bertanya.
“Yosh, maksud gue. Dia itu dibilang pintar nggak pintar, dibilang ****** tapi dia ngerti apa yang harus dia tanyakan. Dia itu kaya nganggep gue ****** banget gitu. Sampai apa yang gue kasih tahu ke elo itu dia kayanya nggak percaya sama sekali.”
Virgo mencebikkan bibirnya karena mendengar protesan Edo. “Itu kan karena dia punya dendam kesumat sama lo.”
“Kampret, gue nggak punya masalah apapun sama dia ya.”
“Uu,” bibirnya Virgo manyun memberi kode kepada Edo karena siapa Yosh tak suka dengan dirinya.
“Tere?” yakinnya kepada sahabatnya itu.
“Lo serus nggak tahu atau emang nggk tahu sih?”
“Nggak tahu kampret.” Edo sudah tak biasa ketika mengatakan itu. Sepertinya firasatnya benar-benar sudah terpancing.
“Vir!” panggilan Tere itu menandakan jika Virgo seharusnya berhenti mengoceh. Libra bahkan hanya diam saja mendengarkan.
Virgo mengeleng-gelengkan kepalanya karena miris, “Lo gue lihat setiap hari sama Tere, tapi nggak tahu juga kalau Tere itu diicer sama orang? Nggak peka.” Katanya dengan tatapan mencemooh.
Edo yang merasa tak terima kemudian meneguk minuman untuk mendorong makanan yang dikunyahnya agar bisa segera masuk ke kerongkongannya. “Yang!” panggilnya sambil melirik Tere, “Serius?” Tere berusaha untuk menyembunyikannya tapi sayangnya kenyataannya tak demikian.
“Siapa yang mau nikung kamu? Yosh? Serius? Si ****** itu?”
Libra menggelengkan kepalanya ketika dia mendengar kata kasar yang diberikan Edo kepada lelaki yang dia bahkan tak tahu yang mana orangnya. Tak hanya Libra, tapi Tere juga melakukan hal yang sama namun dengan menutup bibir Edo dengan tangannya agar lelaki itu tak mengumpati Yosh lagi.
“Dia itu hanya main-main aja lho, Yang.”
“Jadi bener kan dia suka samamu?” kalau sudah begini, mana bisa lagi Edo di bujuk. Pasti nanti endingnya, Tere lah yang kalang kabut karena menjelaskan banyak hal tentang hal ini. Karena itu Tere menatap Virgo sambil mendesis.
‘Semua ini gara-gara lo.’ Begitulah arti tatapan dari Tere kepada Virgo
*.*