
Menjadi topik hangat di perusahaan, itulah yang terjadi saat ini ketika Virgo bekerja di sana. Virgo yang begini dan Virgo yang begitu. Virgo yang pintar, Virgo yang tampan, dan masih banyak pujian yang diberikan kepada lelaki itu.
Mengingat bakat yang dimiliki lelaki itu tentang IT yang bahkan membuat semua orang kagum.
“Siapa sih nanti yang dapet orang kaya Virgo itu, masa dapet paket kok komplit banget.” Itu adalah salah satu komentar yang diberikan kepada Virgo.
Memang hanya beberapa orang saja yang tahu jika lelaki itu sudah menikah. Bahkan Nino saja terkaget ketika Virgo mengatakan statusnya. Terlalu tak menyangka. Virgo, yang memiliki semuanya, harus berakhir dengan menikah muda dan bekerja sebagai asisten, itu sungguh tak pernah masuk dalam dugaan Nino sebelumnya.
Namun Virgo hanya menanggapi santai saja ketika Nino bertanya banyak tentang kenapa dan bagaimana dia bisa menikah bahkan usianya masih sangat muda.
Virgo – Aku sebentar lagi pulang, sambut aku dengan cintamu
Itu adalah chat yang dikirimkan kepada Libra untuk memberitahukan jika dirinya sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia sudah ada di lift dan akan turun ke lantai bawah. Bibirnya terus membentuk senyuman ketika bertukar chat dengan sang istri. Bahkan yang satu lift dengannya pun harus melirik karena rasa penasarannya. Bukan hanya lirikan saja yang didapatkannya, pandangan terang-terangan juga tak luput dari dirinya.
‘Wifu’ itu adalah nama yang tertera di layar ponselnya tanda sang istri menghubunginya.
“Hem.” Masih dengan senyum yang mengembang, Virgo mengangkat panggilan itu. Tubuhnya bersender di dinding lift dan dengan santai berbicara dengan Libra di line telpon. “Mau aku beliin sesuatu?” tawarnya kepada sang isri. Kalau Libra harus terus memasak, dia yakin perempuan itu akan kelelahan, karenanya dia memiliki inisiatif untuk menawarkan sesuatu kepada Libra.
“Kalau gitu nanti jalan aja.” Entah apa jawaban yang diberikan Libra di seberang sana karena Virgo hanya terkikik geli, “Bahasamu terlalu cantik lah, Yang.” Masih dengan terkekeh dia mengatakan itu.
“Kalau ketemu aku nanti pasti nggak galau lagi. Ya udah, aku pulang dulu, habis itu kita kencan.” Panggilan diakhiri dan dia keluar dari lift karena memang sudah ada di lantai satu. Berjalan santai dengan tas di punggungnya bak seorang model. Sapaan-sapaan dia dapatkan dari karyawan-karyawan lain.
Memang takdir orang tampan seperti itu. Dimanapun dia berada, dia akan selalu mendapatkan perhatian dan tatapan kagum dari banyak orang.
Entah berapa kali dia menganggukkan kepalanya untuk menyapa orang-orang di sana. Meskipun dia adalah calon penerus dari perusahaan tersebut, tak ada perasaan sombong atau merasa dia adalah bos. Posisinya sekarang ini adalah sama, bahkan dia merasa berada di bawah mereka.
“Bagaimana bekerja di hari pertama?” ayahnya datang dan menepuk punggung Virgo pelan. Virgo menoleh dan mendapati ayahnya berdiri di sampingnya.
“Semua berjalan dengan lancar, Pa.” jawabnya dengan senyum, meskipun bisa dibilang hari ini dia hanya menghabiskan waktunya untuk sedikit belajar dan banyak obrolan tentang pernikahan kepada Nino karena lelaki itu mendesak agar Virgo bercerita.
“Bagus!” acungan jempol di berikan kepada Virgo karena jawaban putranya, “Kamu harus banyak belajar, agar kamu bisa mewujudkan cita-citamu. Kamu ingin membangun perusahaanmu sendiri kan?” Virgo mengangguk. Cita-citanya itu masih melekat kuat di dalam otaknya. Bayangan itu tak akan pernah luntur dari fikirannya. Apalagi dia sekarang sudah memiliki Libra. bukan tak mungkin perusahaan itu akan berdiri atas kerja sama yang baik bersama sang istri.
Dia harus bisa mewujudkan semuanya untuk pembuktian kepada dirinya sendiri jika dia mampu. Karena itu dia harus berusaha mulai dari sekarang. Tak ada lagi main-main.
Virgo membuka pintu gerbang rumahnya. Mobil yang tadi di bawa oleh Libra sudah terparkir di sana dan dia yakin jika istrinya memang sudah ada di dalam. Masuk ke dalam rumah, lelaki itu mencari keberadaan sang istri. Tak ada di ruang keluarga, di dapur tak ada, maka dia mencari Libra ke dalam kamar.
Benar saja, dengan posisi meringkuk, Libra berada di atas kasur dengan mata masih terbuka. Melihat suaminya yang sudah sampai, bibirnya tersenyum dan menggapai-gapai tangan lelaki itu. Virgo menyambut tangan Libra dan menggenggamnya. Di ciumnya pipi perempuan itu dan ikut naik ke atas kasur.
“Kenapa?” tanyanya ingin memastikan apa yang terjadi pada istrinya karena tadi mengatakan jika dia sedang bad mood.
Libra meringsek maju dan memeluk sang suami sebelum mengatakan apa yang terjadi. “Kasihan Tere lho, Yang.” Adunya, “Kami tadi nangis-nangis karena dia sedih aku nggak kos di sana lagi.” Libra mengusek dada Virgo untuk mencari kenyamanan.
“Kamu sedih juga kan?” Virgo memastikan.
“Iya.” Jawabnya, “Namanya kan kita udah berteman sejak semester awal.” Lanjutnya dengan manja.
“Jadi, apa yang bisa mengembalikan kebahagiaan sayangku ini?” Virgo merapikan anak-anak rambut Libra yang menempel di wajah perempuan itu.
“Katanya mau jalan-jalan.” Tagih Libra sambil menatap Virgo. Lama mereka saling pandang, sampai akhirnya Virgo kembali ‘nakal’ dengan mengecup bibir gadis itu kemudian bangun.
“Habis magrib nanti kita keluar. Aku sekarang mandi dulu.” Katanya sambil berlalu dari sana. Sedangkan Libra masih setia dengan kasurnya karena masih terlentang di sana.
*.*
“Aku masih butuh box besar untuk barangku yang akan di bawa pulang, Yang.” Mereka sudah ada di kafe untuk berkencan seperti yang Virgo janjikan kepada Libra.
“Kan waktu kita pindahan itu ada box besar, Yang. Isinya kan udah masuk ke lemari semua kan?” sepertinya Libra memang melupakan hal itu karena dia hanya terfokus pada barang yang akan dikemasi.
“Iya, ya. Lupa aku kalau ada box di rumah.” Fikiran Libra kemudian melayang ke kamar kosnya yang beberapa barangnya masih setia di tempatnya, “Aku tadi udah bawa pakaian aku aja, Yang. Barang yang lainnya belum. Berat soalnya.”
“Besok kita ambil. Kalau memang nggak sempet, sabtu kan bisa.” Usul Virgo karena memang jika weekdays, Virgo pasti tak akan sempat untuk mengambil barang sang istri karena dia harus bekerja. Libra mengangguk saja.
“Aku belum pamit sama Bu Na, nanti aja lah ya sekalian.” Karena tadi dia harus menangis-nagis bersama Tere, dia lupa tujuan lain ke sana.
“Tadi Tere juga udah ngeluh sama aku karena kamu udah nggak tinggal di kos.” Libra menghela nafas saja mendengar itu.
“Emang berat lho, Yang. Tapi mau bagaimana lagi kan. Memang beginilah yang harus terjadi.” Pasrah Libra.
“Yang penting kamu nggak nyesel aja nikah sama aku, Yang.” Masih dengan cemberut, Libra menatap sang suami karena ucapan lelaki itu.
Selesai makan, Libra sepertinya tak puas, karena dia meminta Virgo untuk membelikannya jagung bakar. Virgo hanya menyetujui saja apa yang diminta oleh Libra tanpa ada bantahan sedikitpun. Moment-moment seperti ini adalah hal paling membahagiakan. Semua orang yang tahu pasti menganggap jika mereka masih pacaran, tapi mereka sudah sah dan tak perlu takut akan apapun.
Begitulah indahnya halal. Bahkan Ardi saja tak akan sanggup memisahkan mereka. Ngomong-ngomong soal Ardi, Virgo jadi mengingat lelaki itu. Dan otaknya memiliki ide untuk disampaikan kepada sang istri.
“Gimana kalau datang ke rumah kamu, Yang? Sejak kita udah sah menjadi suami istri, belum sekalipun kita datang berkunjung.” Libra tak langsung menjawab dengan ide yang diberikan oleh sang suami. Dia takut jika ayahnya akan kembali berbuat ulah.
“Aku nggak yakin, Yang.” Katanya dengan wajah sendu. “Ayah pasti nggak akan mau nemuin kita.” Lanjut Libra dengan sedih.
“Kita hanya perlu menunjukkan etikat baik untuk beliau. Ini adalah tata cara kita untuk menghormati beliau. Kalau memang sambutan dari beliau nggak baik, mama pasti akan melakukan yang berbeda.” Inilah Virgo, dendam itu seolah tak pernah ada di dalam hatinya. Bahkan ketika dia pernah mendapatkan luka fisik, dia masih tak jera.
“Kamu nggak dendam sama ayah?” pertanyaan itu diberikan Libra karena merasa jika suaminya ini sungguh tak bisa diprediksi.
“Kenapa aku harus membenci orang yang sudah memberikan putri cantiknya ke aku? Bukannya aku harusnya berterima kasih?”
“Tapi dia memberikannya dengan cara tak iklas.” Jawab Libra dengan miris.
“Bukan masalah. Karena memang di sini akulah yang salah. Mencuri barang miliki orang lain aja udah berhadapan sama polisi, apalagi mencuri anak orang.” Santai sekali lelaki itu. Beginilah Virgo yang sesungguhnya. Virgo yang santai menjalani hidup, tanpa ada beban.
“Lama-lama aku bisa tertular kamu, Yang.” Jawab Libra, “Kamu santai sekali menghadapi dunia ini.”
“Kamu memang harus tertular, Yang. Karena kamu terlalu serius menghadapi hidup.” Begitu katanya.
Jagung bakar sudah tersaji di depan mereka. Hanya ada dua buah karena memang mereka tak akan makan banyak. Virgo mengambil satu jagung bakar dan menyerahkannya kepada Libra. “Makan dulu, kalau kamu banyak berfikir, nggak kemakan nanti jagungnya.” Dengan malas-malasan Libra menerima dan kemudian menggigit jagung tersebut.
Libra sedang berfikir tentang bagaimana suaminya itu bisa tak dendam sama sekali dengan ayahnya setelah apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Bisa dibilang sangat keji sekali terhadap Virgo. Tapi Virgo malah merasa jika semua yang terjadi ini adalah kesalahannya.
“Yang!” panggilan itu kembali dilayangkan oleh Libra untuk suaminya, “Kamu beneran nggak benci sama ayah? Atau kamu mau balas dendam ke aku dengan membuat hidup aku menderita hidup sama kamu?” Virgo sampai tersedak dengan jagung yang dimakannya karena ucapan yang diiringi ekspresi sungguh-sungguh Libra.
Meminum air di dalam botol, kemudian menatap Libra dengan mata melotot. Sedangkan Libra malah mundur karena merasa takut.
“Yang, kamu nggak serius kan mengatakan itu?” tanya Virgo dengan sungguh-sungguh. “Kamu berfikir kalau aku sejahat itu?”
“Bukan kaya gitu, Yang, cuma biasanya kalau di novel atau di drama kan jalan ceritanya seperti itu.” Libra masih saja memasang wajah takutnya untuk Virgo. Hanya saja Virgo tak tahu istrinya itu takut karena hal yang mana. Dengan ekspresinya yang melototi Libra, ataukah tentang pemikiran yang baru saja dikatakan kepada Virgo.
“Mungkin kalau novel penulis lain akan seperti itu. Tapi kisah ini jelas berbeda, Yang. Kita ini kan anti meinstream,” Virgo bahkan harus menggelengkan kepalanya karena benar-benar tak menyangka jika istrinya akan memikirkan yang seperti itu.
Karena Libra tak kunjung mendekat ke arahnya, Virgo kembali menatap perempuan itu sambil bilang, “Jadi, ngapain kamu jauh-jauh? Takut aku pukuli?” bahkan suara Virgo terdengar sinis sekali.
Libra dengan pelan mendekati suaminya, dan menyenderkan kepalanya di lengan lelaki itu.”Maaf,” katanya dengan nada pelan, “Nggak tahu kenapa waktu kamu bilang nggak ada dendam sama sekali dengan ayah, buat aku malah takut. Takut kalau kamu tiba-tiba berbalik benci sama aku.”
Virgo beralih duduk di depan Libra. “Kalau aku mau ngelakuin hal yang buruk, buat apa aku mau nikahi kamu? Aku rusak aja kamu, itu lebih mudah, Yang.” Virgo menggenggam tangan Libra dengan lembut. “Aku tulus cinta sama kamu. Karena itu aku mau mendapatkan persetujuan dari ayah meskipun membutuhkan waktu yang lama.”
“Maaf.” Mata libra mengeluarkan cairan bening bernama air mata mendengar jawaban dari Virgo.
“Udah, nggak usah difikirkan. Tugas kita masih banyak. Meluluhkan hati ayah kamu itu nggak mudah. Fokus aja sama apa yang harus kita lakukan.” Virgo memang selalu berhasil membuat sang istri luluh dengan ucapannya. Seandainya Virgo mau, bisa saja lelaki itu mempengaruhi pikiran Libra untuk membenci ayahnya, tapi itu tidak mungkin terjadi dan tidak akan pernah dia lakukan. Hatinya tak mengizinkan melakukan kejahatan seperti itu.
Dan apa yang dikatakan oleh Virgo untuk berkunjung di rumah orang tua Libra benar-benar mereka lakukan. Beberapa kali Libra menghela nafas karena merasa tegang dan takut akan terjadi hal yang buruk.
Virgo menggenggam tangan Libra dengan erat ketika dia memencet bel rumah Libra. Lelaki itu bahkan bisa merasakan tangan istrinya itu dingin karena merasa ketakutan. “Nggak usah tegang. Kamu bisa melakukannya kan?”
“Kita pulang aja ya, Yang. Aku beneran takut.” Bukannya tenang ketika Virgo mengatakan itu, Libra justru semakin takut dibuatnya.
“Kalau kita nggak mencoba, kita nggak akan bisa membuat keadaan menjadi lebih baik.”
“Tapi dengan kita datang kesini juga nggak akan merubah sesuatu, Yang. Aku yakin___” pintu terbuka ketika Libra belum sempat menyelesaikan ucapannya. Ibu Libra yang membuka pintu tersebut.
“Libra! Virgo!” senyum itu keluar dengan lebar karena mungkin merasa tak menyangka jika anak-anaknya akan datang berkunjung. Jihan bahkan langsung memeluk dua orang itu dengan sayang.
“Kalian baik-baik saja kan?” masih dengan memeluk pasangan tersebut, Jihan bertanya. Air mata bahkan terlihat menetes dari matanya.
“Mama masih belum berkunjung ke rumah kalian. Mama masih sibuk.” Pelukan itu terurai dan senyum itu terlihat meskipun air mata juga tak sungkan untuk keluar.
“Mama jangan nangis dong.” Libra menghapus air mata tersebut dan dia berusaha untuk tak tertular tangis ibunya, “Kami baik-baik aja. Iya kan, Yang?”
“Benar, Ma. Karena itu kami datang. Kami ingin berkunjung untuk yang pertama kalinya setelah kami menikah.” Jihan mengangguk semangat dan menggandeng pasangan itu untuk masuk ke dalam rumah. Saking senangnya, dia melupakan jika Ardi sudah ada di sana sambil menatap Libra dan Virgo dengan pandangan tak sukanya.
*.*