
Firman menatap putranya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan lebam biru menutupi wajahnya. Ibu Virgo berada di kursi samping ranjang dan mengelus lengan putranya.
“Kamu harus cari tahu siapa yang melakukan ini, Pa.” katanya membuka obrolan, perempuan itu tak akan melepaskan orang yang sudah melakukan hal sekejam itu kepada Virgo.
“Aku udah tahu siapa yang melakukan ini.”jawab ayah Virgo dengan tenang. Dan Sintya langsung berdiri untuk menata sang suami.
“Siapa?” terlihat sekali jika perempuan tersebut merasa sangat penasaran. Kalau memang karena yang melakukan itu adalah preman, dia tak akan segan-segan menjebloskan mereka ke penjara.
Namun satu nama membuat Sintya mengetatakan rahangnya. “Aku akan membuat perhitungan kepada lelaki itu. Kalau memang dia nggak mau putrinya itu pacaran sama Virgo, aku nggak juga akan membuat putrinya menderita.” Tak ada seorang ibu yang akan membiarkan putranya menderita hanya karena seorang perempuan.
“Tak sedikit perempuan yang mau sama Virgo.”
“Tapi Virgo mencintai putri Ardi.”
“Kita bisa mengirim Virgo ke luar negeri agar bisa melupakan perempuan itu.”
“Jadi apa bedanya kita sama Ardi?” Sintya diam mendengar pertanyaan suaminya. Firman memegang kedua pundak istrinya dan menatap perempuan yang dicintainya itu dalam-dalam, “Kalau Ardi menolak, kita harus menerima gadis pilihan Virgo meskipun itu adalah putri Ardi.”
“Kita nggak bisa melakukan itu.”
“Kata siapa?” Firman mengejar Sintya dengan pertanyaan yang membuat perempuan itu sulit untuk menjawabnya.
“Kita ini bukan orang jahat, Ma.” Katanya, “Bukankah selama ini kita selalu mendukung apapun pilihan Virgo? Kenapa kali ini tidak? Bahkan meskipun aku kecewa dia memilih kuliah IT, aku tetap mendukung pilihannya karena semua itu demi kebahagiaannya. Hidup kita ini demi kebahagian anak kita.”
“Aku akan tetap menemui Ardi.”
“Aku akan ikut bersama kamu.”
“Kita nggak akan mungkin ninggalin Virgo sendirian di sini.”
“Ada, Mama.” Yang dimaksud Firman adalah ibu dari lelaki itu, “Tapi dengan satu catatan kalau kamu mau ke sana. Jangan kehilangan kendali.” Sintya bukan tipe perempuan yang bisa mengendalikan dirinya ketika kemarahan merasukinya.
Namun agar cepat, dia mengangguk saja. Dan setelahnya, mereka benar-benar datang ke rumah Ardi. Waktu memang sudah malam, tapi siapa yang peduli ketika emosi itu sudah tak bisa lagi dikendalikan.
Sintya berjalan cepat ketika sudah masuk ke dalam pelataran rumah Ardi. Sampai di depan pintu, pencetan bel itu terdengar nyaring di dalam rumah Ardi sehingga membuat si pemilik rumah dengan cepat membukakan pintu rumahnya dengan hati yang juga terasa jengkel.
Pintu terbuka, Sintya sudah siap untuk menyerang, dan pemilik rumah pun sama. Hanya saja mereka memikirkan hal yang berbeda mereka memikirkan hal yang berbeda.
Jihan yang membuka pintu tersebut. Wajahnya tak bisa di menutupi oleh rasa kagetnya. “Sintya?” katanya dan kembali dibuat kaget ketika Firman berada di belakang istrinya, “Firman?”
“Ada yang mau kami bicarakan, Ardi ada di rumah?” Sintya tak ingin mengulur waktunya lebih lama lagi, karena dia ingin segera menyelesaikan semuanya.
“Ada. Masuklah.” Karakter kedua perempuan itu memang tak jauh berbeda, tapi entah kenapa jika Jihan bertemu dengan Sintya, perempuan itu seolah mengecil.
Kedua orang tua Virgo itu masuk ke dalam rumah Ardi dan menunggu seorang asisten rumah tangganya memanggil Ardi di ruang kerjanya.
“Ada apa? Apa ada masalah besar sampai kalian menyempatkan waktu kalian untuk mendatangi kami?” namun Sintya sama sekali tak menjawab.
“Biar kami menunggu Ardi lebih dulu.” Begitu jawab Firman.
“Saya sudah di sini,” Ardi datang dengan wajah datarnya. Sintya seketika berdiri dan mendekati lelaki itu.
“Apa alasan kamu membuat Virgo sampai babak belur dan sekarang dia terbaring di rumah sakit sekarang?”
Suara pecahan kaca terdengar dari balik ruang tamu. Fokus mereka teralihkan dan mendapati Libra berdiri dengan tegang di sana. Gadis itu tengah menguping ketika dia melihat ayah Virgo masuk ke dalam pelataran rumahnya bersama seorang perempuan. Tebakannya adalah perempuan itu ibu Virgo.
Maka dengan rasa penasaran yang memenuhi hatinya, gadis itu turun ke lantai satu untuk mengetahui tujuan kedua orang tua Virgo datang ke rumahnya.
Dan kini dia sudah mengetahui jawabannya. Virgo masuk ke rumah sakit karena ayahnya, bagian mana dari dirinya yang bisa membiarkan itu begitu saja? Tak ada. Karena perasaan di hatinya begitu hancur.
“Dia sudah berani kurang ajar kepada Libra.” Suara Ardi kini terdengar. “Dia menjalin hubungan Libra diam-diam, membawanya ke tempat sepi dan melakukan hal yang tidak-tidak di sana.” Jelasnya.
“Yang tidak-tidak gimana maksud kamu?”
“Dia mencium Libra. Apa dia kira ini drama korea? Yang bisa dengan seenaknya mencium anak gadis orang sembarangan?” Ardi mendecih sinis mengatakan hal tersebut.
“Virgo memang salah, tapi apa kamu harus menghajarnya sampai babak belur seperti itu?” Firman bersuara. “Toh Libra juga tidak menolak.” Ardi diam karena mendengar apa yang dikatakan oleh Firman itu masuk di akal.
Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Tidak bisa begitu saja menyalahkan satu pihak. Virgo memang salah karena dia yang mengawali, tapi Libra juga tidak menolak.
“Dia sudah mengotori bibir Libra dengan memberikan ciuman itu. Virgo bukan lelaki yang bisa dipercaya. Sekarang berciuman, bukan tidak mungkin kalau mereka akan melakukan hal yang lebih dari itu. Itulah kenapa saya sama sekali tidak merestui hubungan mereka. Virgo sudah menyisai suami Libra di masa mendatang.”
“Kamu benar-benar bukan ayah yang baik, Ardi.” Begitu Sintya bilang setelah mendengarkan ucapan ayah Libra itu. “Kalau memang kamu merasa jika Libra sudah dinodai oleh Virgo, maka biar dia yang bertanggung jawab.” Lanjutnya.
“Bertanggung jawab dengan apa? Kamu lucu sekali.’
“Menikahkan mereka berdua,”
“Mama!” suara bernada peringatan itu keluar dari bibir Firman. Entah dari mana asal muasal pemikiran tersebut, tapi bukan hanya Ardi dan juga Jihan yang terkaget, Libra pun tak kaleh kagetnya.
“Kamu juga dulu bukan lelaki yang suci yang tak pernah melakukan kesalahan, Ardi. Bahkan kelakuan kamu di masa lalu itu lebih parah dibandingkan Virgo. Nikahkan mereka.” Tegasnya lagi.
“Kamu pikir aku akan bersedia memiliki menantu seperti Virgo?”
Sintya mengeratkan giginya mendengarkan penolakan yang tak tanggung-tanggung dari Ardi.
“Kamu keterlaluan Ardi.” Begitu kata Firman merasa jengkel karena putra satu-satunya dihina. Mata Firman menatap Libra yang tak jauh darinya, kemudian dia bilang, “Libra, kami meminta maaf atas nama Virgo. Dia sudah berbuat kurang ajar kepadamu sampai ayahmu murka seperti ini. Ardi sudah menolak putra saya di depan kamu. Demi kebahagiaan Virgo, kami tidak akan menghalangi kalian menjalin hubungan. Tapi setelah kejadian ini, setelah Virgo yang sudah menodai kamu, maka om rasa semuanya tak akan sama lagi.”
“Kalian tidak bisa bertemu.” Sintya meneruskan ucapan suaminya, “Kami akan dengan senang hati menikahkan kalian kalau memang itu perlu. Nyatanya ayahmu menolak mentah-mentah. Maka ikatan antara kamu dengan Virgo jangan lagi diteruskan. Saya___”
“Kalau begitu nikahkan kami, Tante,”
Jihan juga bersuara, “Kalau begitu biarkan mereka bersama.” Katanya dengan jelas. “Merek hanya membutuhkan restu dari kamu.” Lanjutan itu langsung di tolak mentah-mentah oleh Ardi.
“Jadi kamu juga mendukung keinginan Libra?” tanya Ardi kepada istrinya.
“Kenapa aku harus menolak Virgo sedangkan kita tahu betul dia terlahir dari keluarga yang baik-baik. Kamu juga paham akan hal itu bukan?”
“Tidak!” Ardi masih kukuh dengan keputusannya dan kekeras kepalaannya. “Kalian pergilah.” Usirnya kepada dua tamunya itu.
“Kamu benar-benar akan menyesal, Ardi.” Begitu peringatan Sintya kepada lelaki itu. Namun tak urung mereka keluar dari rumah Ardi membawa kejengkelan yang luar biasa.
*.*
Virgo membuka matanya ketika malam sudah terlalu larut. Badannya terasa remuk. Meskipun wajahnya yang dipenuhi lebam, namun rasa sakit itu rasanya merembet kemana-mana. Memegangi wajahnya dengan pelan dan meringis sakit ketika jarinya tak sengaja menekan luka yang cukup parah.
Melihat ke sekelilingnya tak menemukan kedua orang tuanya. Sudah pukul dua belas malam, dan entah kemana perginya mereka. Matanya kembali tertutup dan alam mimpi kembali menariknya.
Keesokan harinya, ketika Virgo kembali membuka matanya, barulah mendapati ibunya yang sibuk dengan makanan yang dibawanya dari rumah. Virgo pasti akan menolak memakan makanan dari rumah sakit, karena itu Sintya meminta asisten rumah tangganya membuatkan makanan untuk putranya itu dan diantarkan oleh supir.
“Udah bangun?” senyum itu mengembang ketika melihat Virgo membuka matanya dan sedang memandangi.
“Mama semalam kemana?”
“Mama ada urusan sebentar.” Katanya belum ingin berterus terang, “Mau makan dulu?”
“Sikat gigi aja belum, Ma. Udah makan aja.” Sintya terkekeh mendengar jawaban putranya itu, “Kalau gitu sikat gigi dulu. Mama ambilkan kursi roda dulu ya.”
“Aku kan nggak sedang patah kaki, Mama.” Menurut Virgo, ibunya itu sungguh berlebihan sekali.
Turun dari ranjang rumah sakit, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dan barulah dia bisa melihat bentuk wajahnya ketika dia berdiri di depan cermin yang terpasang di dinding atas wastafel.
“Parah.” Tanggapannya terhadap wajahnya itu. Lelaki itu menggelengkan kepalanya karena itu.
Tak lama waktu yang dibutuhkan olehnya untuk membersihkan badannya. Hanya lima belas menit, Virgo keluar dari kamar mandi dengan badan yang lebih segar. Meskipun tak ada perubahan dari wajahnya. Tetap bengkak, tetap membiru, dan tetap jelek.
Jelek? Pikiran itu membuatnya menghela napas. “Tak ada lagi Virgo yang tampan ya, Ma?” tanyanya kepada ibunya yang sedang menunggu dirinya di kursi samping ranjangnya.
“Kata siapa nggak ganteng lagi? Masih ada sisa-sisa gantengnya kok.” Hanya bercanda saja tentu saja ibunya mengatakan itu. Tapi Virgo hanya memanyunkan bibirnya mendengar hal itu. Maunya dia tetap tampan meskipun kebiruan itu membuat ketampanannya harus tersisih sebentar saja.
“Anak mama itu yang paling ganteng pokoknya, nggak perlu khawatir.”
“Ya emang paling ganteng. Kan aku satu-satunya anak mama.” Sintya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh putranya itu. Menyerahkan makanan itu kepada Virgo agar lelaki itu segera mengisi perutnya.
Virgo menerima dan memakan dengan pelan karena sudut bibirnya yang robek menyebabkan perih ketika melakukan aktivitas pada mulutnya.
“Perih?” melihat putranya mendesis, Sintya memastikan.
“Sedikit.” Kata Virgo dengan pelan, “Nggak papa, Ma.” Lanjutnya agar ibunya tak terlalu khawatir.
“Brengsek memang si Ardi itu,” katanya dengan gigi bergemelatuk sebal. Kunyahan di mulut Virgo terhenti karena mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
“Mama udah tahu pelakunya?” Virgo hanya memastikan jika apa yang didengarnya itu bukanlah bualan ibunya saja.
“Ardi. Siapa lagi. Papa kamu nggak akan diam begitu saja melihat keadaan kamu yang seperti ini.” Virgo tak lagi berselera dengan makanannya. Ada banyak hal yang dia pikirkan setelah mengetahui hal ini.
Dengan hati-hati dia kembali bertanya kepada ibunya, “Virgo memang salah, Ma. Jadi pantas saja mendapatkan luka ini.” Virgo bukan orang yang akan mengingkari jika dirinya salah. Maka dia akan berterus terang kenapa dia harus mendapatkan kesakitan ini sekarang.
“Sebuah ciuman yang bukan mahramnya memang dosa besar, tapi bukan berarti dia harus melakukan kejahatan yang seperti ini.” Sintya menatap putranya dengan sungguh-sungguh, “Bahkan kalau dia tidak terima dengan apa yang kamu lakukan kepada putri kesayangannya itu kalian bisa menikah.”
“Menikah?” Virgo melongo mendengar apa yang dikatakan ibunya. Sungguh tak masuk akal sama sekali.
“Mama nggak masalah kalau memang harus menikahkan kamu di usia semuda ini jika memang diperlukan. Toh kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan. Mama nggak akan membiarkan kamu menjadi pengecut.”
Dengan lamas, Virgo menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang dengan menghela napas panjang. Namun itu diartikan lain oleh ibunya.
“Kamu menolak?” dan pelototan itu diberikan kepada putranya dengan senang hati.
“Mama tahu?” tanya Virgo dengan sungguh-sungguh dengan bercampur geli, “kayanya cuma Mama yang mau menikahkan putranya hanya karena sebuah ciuman. Itu menggelikan, dan juga mengharukan sekali.” Virgo terkekeh setelah mengatakan itu.
“Tapi kalau memang benar, aku juga mau kok.” Dan desisan Sintya terdengar.
“Sayangnya kamu ditolak mentah-mentah tanpa pertibangan.” Nada sedih itu keluar dari suara Sintya, “Karena itu mama mau minta maaf sama kamu karena mama tidak mengijinkan kamu untuk bertemu lagi dengan Libra.”
Virgo menatap ibunya terdiam. Tak bisa lagi mengatakan apapun karena shock.
“Kalau aku kangen sama dia gimana, Ma?” pertanyaan itu terdengar sebagai candaan, namun menyimpan kesungguhan dari dalam hatinya.
“Mama nggak punya solusi lain selain mengatakan itu langsung kepada pacarmu. Mama nggak bisa kalau kamu direndahkan oleh Ardi. Kamu adalah anak mama yang hebat. Maka siapapun nggak berhak memberi penilaian buruk ke kamu.”
“Tapi kita nggak bisa buat meminta semua orang untuk menyukai kita, Ma.”
“Kita memang tidak bisa melakukan itu, tapi setidaknya dia nggak perlu merendahkan orang yang tidak disukainya.”
Sintya menarik tangan Virgo yang terbebas dan tergeletak begitu saja, menggenggamnya dengan erat. “Mama rasanya ingin sekali marah dan melampiaskan dan ikut memberikan komentar untuk putrinya tapi mama menahannya. Karena mama tahu, gadis itu adalah gadis yang dicintai oleh putra mama. Dan bukan nggak mungkin kalau suatu saat nanti dia akan menjadi menantu mama. Mama nggak mau nanti dikatai menjilat ludah mama sendiri kan. Dulu dihina, sekarang disayang-sayang. Itu akan melukai harga diri mama.”
Dan Virgo hanya menganga mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
*.*