
Akhir-akhir ini, Libra merasa kelelahan. Entah apa yang dilakukannya selalu membuatnya cepat lelah. Virgo pun yang melihat memang merasa ada yang berbeda dengan istrinya kali ini. Wajahnya sering terlihat pucat bahkan hanya melakukan hal yang sederhana.
Kali ini pun sama. Ketika dia baru keluar kelas, badannya terasa lemas bahkan hanya duduk saja. Dan itu membuat teman-temannya khawatir.
“Li! Lo nggak papa?” tanya Shila ketika melihat wajah Libra yang pucat dan tenaganya seperti tersedot habis.
“Gue lemes banget, Shil. Nggak tahu kenapa. Padahal gue juga nggak lapar.” Adunya kepada Shila dan dua lelaki di depannya, Zidah dan Rion.
“Darah rendah nggak?” Zidan berjongkok di samping Libra dengan ekspresi wajah yang serius.
“Gue nggak tahu.” Ini sudah berjalan tiga hari, dan Libra menganggap apa yang dialaminya ini hanyalah kelelahan biasa. Tapi hari ini begitu berbeda. Lemas itu sama sekali tak bisa ditahannya.
“Tolong bilang sama Virgo ya, biar dia antar gue pulang.” Libra menyerahkan ponselnya kepada Shila agar gadis itu menghubungi suaminya. Shila menyerahkan kepada Zidan agar lelaki itu bisa mengambil alih.
“Libra lemes banget. Dia pucet banget__” belum Zidan menyelesaikan ucapannya, tapi dia lelaki itu sudah mendengar suara langkah kaki yang berjalan cepat.
“Oke.” Kata Zidan ketika mendengar apa yang dikatakan Virgo di seberang sana. “Virgo akan segera datang, lo tunggu dulu ya.” Katanya setelah panggilan itu terputus. Ada banyak pertanyaan yang diberikan oleh teman sekelasnya ketika melihat Libra yang seperti tak memiliki tenaga sambil menyederkan kepalanya di dinding dengan duduk berselonjor.
Namun Rion menghalau mereka dan meminta mereka untuk tak perlu ‘mengkhawatirkan’ Libra. Dan mereka pergi dari sana tanpa lagi mengatakan apapun lagi.
Virgo datang dengan nafas terengah karena berlari dari fakultasnya sampai ke fakultas Libra. Dia bahkan melupakan jika ada lift yang akan memudahkan dirinya saking paniknya. “Kita ke rumah sakit.” Putus Virgo ketika melihat istrinya yang seperti tak memiliki daya sama sekali.
“Biar aku gendong.” Virgo akan mengangkat istrinya ketika perempuan itu menahannya.
“Jangan digendong deh, Yang. Malu sama orang-orang.” Katanya. Lalu berusaha berdiri dengan berpegangan lengan Virgo. Kepalanya berputar dan matanya berkunang-kunang namun tak sampai pingsan.
“Biar digendong Virgo aja deh, Li.” Shila sepertinya juga ngeri sendiri melihat temannya yang seperti itu. Namun Libra keras kepala untuk menolak karena merasa malu jika banyak orang yang melihat. Karena tak ingin lebih lama lagi menunggu, Virgo segera bergegas untuk memapah sang istri agar bisa segera pergi ke rumah sakit.
Masuk ke dalam lift diikuti teman-temannya, Libra menyenderkan kepalanya di dada Virgo.
“Gue nggak bisa ikut buat kelas selanjutnya, nanti tolong kalau ada tugas ya.” Shila mengangguk.
“Lo tenang aja. Nggak perlu mikir itu dulu, yang penting sekarang lo sembuh dulu.” Lanjut Zidan.
Masuk ke dalam mobil, Virgo langsung memacu gasnya dan berlalu dari sana. Sesekali melirik istrinya yang pucat sekali. Dia khawatir akan banyak hal, pikiran buruk juga melayang-layang di kepalanya. Namun berusaha berfikiran positif saja.
Selama perjalanan, Virgo terus menggenggam tangan Libra tanpa mengatakan apapun karena merasa panic.
Dan ketika sudah sampai di rumah sakit, dia bergegas untuk mendaftar dan menuggu agar Libra bisa segera mendapatkan penanganan. Menunggu satu menit saja rasanya lama sekali. Bahkan entah sudah berapa kali dalam lima menit dia mengecek jam.
“Kamu minum dulu.” Libra menerima air mineral itu dan meneguknya. Namun itu sama sekali tak bisa menambah tenaganya.
“Sabar ya.” Virgo merangkul Libra dengan erat seolah takut jika Libra akan terjatuh jika dia mengendorkan rangkulannya. Dan ketika nama Libra dipanggil, Virgo langsung memapah istrinya untuk masuk ke dalam ruangan dokter dan ingin segera tahu apa yang terjadi pada istrinya.
“Kalian sudah menikah?” pertanyaan itu dilontarkan oleh dokter setelah melakukan pemeriksaan.
“Iya, Dok. Kami sudah menikah.” Dokter tersenyum ketika mendengar hal itu.
“Kalau kalian sudah menikah, mungkin ini adalah berita yang bagus buat kalian,” katanya, “Saya perkirakan jika Mbak Libra ini sedang mengandung.” Bukan hanya jantung Libra yang berdetak jumpalitan, tapi Virgo pun sama. Tidak ada dari dua orang itu yang memikirkan hal ini sebelumnya.
“Saya tidak bisa menjelaskan dengan detail seperti apa, berapa minggu usia kehamilannya, dan hal-hal lainnya karena itu bukan tugas saya. Kalian bisa ke dokter kandungan jika kalian ingin mengetahui lebih jauh.” Dua orang itu sama-sama tak berkutik dan tak mengatakan apapun kecuali hanya saling diam.
Bahkan dokter tersebut kebingungan dengan apa yang dilihatnya sekarang. Senang atau tidak sebenarnya dua orang di depannya itu, mungkin begitulah yang difikirkan.
“Maaf, Mas, Mbak. Kalian baik-baik saja?” dokter tersebut harus menyadarkan pasangan tersebut agar segera tersadar.
Virgo lebih dulu merubah ekspresinya. Sepertinya kesadaran lelaki itu sudah kembali lagi sekarang.
“Apa ini benar, Dok?” tanyanya untuk sekedar meyakinkan jika apa yang didengar ini bukanlah bualan belaka.
Dokter tersebut tersenyum sebelum menjawab, “Benar, Mas. Karena itu biar lebih jelas kalian harus ke dokter kandungan. Kalian bisa mendapatkan penjelasan lebih banyak dan detail.” Begitu kata dokter tesebut.
“Kalau begitu, tolong kami, rekomendasi dokter terbaik, Dok.” Virgo kini sudah tersenyum dan wajahnya berbinar mendengar hal ini. Dokter tersebut menyetujui dan masih di rumah sakit yang sama, Virgo langsung memeriksakan ke dokter kandungan tersebut.
*.*
Libra berbaring di dada Virgo ketika malam sudah datang. Virgo memeluk istrinya itu dengan lembut takut melukai Libra dengan bertindak bar-bar seperti sebelum-sebelumnya. Keduanya tak ada yang mengatakan apapun namun saling mencoba meresapi apapun yang sekarang ini sedang terjadi.
Masih dalam diam, Libra kembali memiringkan tubuhnya dan memeluk pinggang suaminya. Memejamkan matanya dan bersiap untuk tidur. Sejak mereka pulang dari rumah sakit tadi, tak ada dari mereka yang mengatakan apapun. Tindakan mereka saja yang cenderung lebih intens.
Virgo tak bertanya kepada sang istri apakah perempuan itu bahagia dengan kabar yang mereka dengar atau tidak. Karena Virgo jelas sangat menyukai kabar ini.
Pagi kembali datang dan Libra masih saja tak mengatakan apapun. Setelah Virgo selesai membersihkan diri, Libra masih dengan melamun di atas ranjang.
“Yang!” panggil Virgo, “Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan lembut. Seharusnya mereka hari ada kuliah tapi tak ada dari mereka yang datang ke kampus. Mereka juga belum memberitahukan berita ini kepada orang tua mereka.
Libra menatap Virgo dan setetes air mata itu keluar dari netranya. Virgo dengan cepat memeluk dan menenangkan istrinya. “Bicara, apa yang ada di dalam pikiran kamu, kamu katakan saja semuanya. Nggak perlu kamu pendam sendiri.” Virgo bingung harus mengatakan apa melihat istrinya yang seperti menanggung beban yang teramat besar.
Lelaki itu masih setia menunggu Libra selesai dengan tangisnya dan menunggu perempuan itu merasa tenang. Mengelus lembut punggung istrinya, dan apapun yang dirasa bisa membuat istrinya itu tenang, Virgo melakukannya.
Dengan pelan Libra mengurai pelukannya dan menatap sang suami. Di usapnya air matanya dan kemudian barulah mengatakan apa yang sedang difikirkan ketika mereka mendapatkan kabar yang luar biasa tersebut.
“Aku takut, Yang,” adunya, “Takut dengan hidup yang aku jalani sekarang ini.” Tangannya mencengkram lengan Virgo seolah mencari kekuatan.
“Aku baru belajar menjadi istri. Bahkan aku baru belajar memasak dan belum sampai bisa, anak-anak udah muncul di perut aku. Aku berfikir lagi, gimana nanti aku mendidik anak-anak ini nanti ketika mereka sudah lahir dan tumbuh. Gimana aku bisa menjadi ibu dan istri yang baik bagi kalian? sedangkan aku harus melanjutkan kuliah aku sampai selesai.” Mungkin bukan hanya itu saja pemikiran Libra sampai membuat dia murung seperti itu.
Virgo tak langsung menjawab dan menunggu istrinya mengatakan apapun yang ada di kepalanya. “Aku takut aku nggak bisa berperan dengan baik sebagai tempat pulang kalian. Aku takut mengacaukan semuanya.” Lelehan air mata itu tak bisa dicegah dan keluar begitu saja.
Libra kembali memeluk sang suami dan menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. Mengeluarkan semua sesak yang dirasakannya. Mungkin sebagian orang, ini terlalu berlebihan. Tapi percayalah, di usia Libra yang masih terlalu muda untuk menikah dan kemudian memiliki anak, hal ini bukanlah hal yang remeh temeh.
Dan ketakutan ini benar-benar dirasakan oleh Libra sebagai calon ibu. Dia tak bisa mengabaikan begitu saja apa yang dialaminya sekarang. Memang hal ini bukanlah sebagai beban, tapi ketakutan itu tak bisa dihindari begitu saja.
Apalagi hal yang diinginkan oleh Virgo terkabul. Jika mereka akan mendapatkan anak kembar. Itu memang sangat membahagiakan, tapi juga menakutkan bagi Libra.
Perempuan itu sudah sedikit tenang setelah mengatakan isi hatinya, dan kini giliran Virgo yang berbicara. “Kamu bahagia dengan kehadiran mereka di perut kamu?” awalnya. Virgo pun tak tahu harus melakukan apa dengan ketakutan yang Libra alami sekarang ini.
Samar, anggukan itu Libra berikan untuk menjawab pertanyaan sang suami. “Perasaan ini campur aduk menjadi satu, karena itu aku kebingungan.” Katanya dengan suara parau.
“Siap tidak siap, Allah sudah mempercayakan kita untuk memiliki anak. Kita masih sama-sama muda, kita masih sama-sama belajar, dan kita akan sama-sama berusaha menjadi orang tua yang baik untuk mereka.” Virgo ingin melihat ekspresi Libra, karenanya dia mengurai pelukannya, menatap sang istri dengan serius.
“Aku paham ketakutan itu pasti ada dalam diri kamu, tapi jangan buat ini menjadi beban. Mereka hadir untuk melengkapi kebahagiaan kita, bukan untuk menjadi beban kita. Kamu mengerti kan?” Libra tidak menjawab karena memang pikirannya masih buntu. Rasa ketakutan itu tak bisa hilang begitu saja.
“Kamu setuju kalau kita mengatakan berita ini kepada orang tua kita? Mereka pasti akan senang sekali mendengarnya.” Virgo sabar menghadapi Libra. Sifat manja sang istri seolah menguasai diri perempaun itu.
Dan lagi-lagi Libra mengangguk untuk memberi jawaban. Menyetujui apapun yang dikatakan oleh Virgo.
Maka ketika Virgo mengatakan kabar gembira itu kepada orang tuanya, ibu Libra, dan kakek neneknya, mereka langsung menyerbu kediamannya. Kebahagiaan itu jelas terlihat sekali di mata mereka. Bahkan nenek Virgo mengeluarkan air matanya sebagai rasa harunya.
“Nenek nggak nyangka kalau akan segera mendepatkan cicit dari kalian,” perempuan tua yang masih terlihat cantik itu mengelus punggung Libra dengan sayang. “Terima kasih ya, Nak.” Dan diciumnya pipi Libra berkali-kali dengan sayang. Senyumnya pun sama sekali tak hilang dari bibirnya.
“Libra kayaknya kecapekan. Kamu antar dulu dia ke kamar, Vir.” Melihat menantunya yang sepertinya sama sekali tak semangat, membuat ibu Virgo merasa ada yang aneh dengan istri Virgo tersebut. Mereka hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Sintya tanpa ada bantahan sama sekali.
Virgo kembali menemui keluarganya yang sedang berkumpul setelah Libra sudah berbaring di atas kasur.
“Libra ketakutan.” Adunya kepada keluarganya, “Sejak dia dinyatakan hamil, dia hanya diam dan nggak bilang apapun. Waktu dia udah mau ngomong, dia bilang dia takut.” Virgo menceritakan semua yang dia obrolkan dengan Virgo semalam dan keluarganya mendengarkan dengan seksama.
“Sekarang tugas kamu adalah meyakinkan dia jika dia adalah perempuan hebat. Masa-masa seperti ini adalah masa dimana dia ingin terus dimengerti apapun kondisinya. Kamu salah sedikit saja bicara, bisa-bisa dia akan meledak marah, tersinggung, dan kamu harus bisa menjaga diri kamu agar itu nggak terjadi.” Sintya menggenggam tangan putranya dengan erat. “Kalian memang masih muda, tapi kalian sudah menikah dan sebentar lagi sudah akan memiliki anak. Kekanakan dalam dirimu harus dikurangi. Mengalah dengan istri nggak akan buat kamu menjadi buruk kok. Percaya sama mama.”
Virgo paham akan hal itu. “Aku pasti nanti kedepannya akan ngerecoki mama berdua.” Virgo tersenyum kecut ketika mengatakan itu.
“Bukan masalah, kalau memang ada apa-apa, kamu hanya perlu menghubungi kami.” Kata Jihan.
“Nenek akan sering mengunjungi kalian. Kalau perlu nenek akan setiap hari kesini.” Sepertinya Ny. Wondo ini sekarang sedang bahagia sekali.
Sebelum pulang, Jihan masuk ke dalam kamar Libra untuk berpamitan. Perempuan itu mengelus rambut putrinya dengan sayang dan menciumnya. “Mama tahu kalau kamu sekarang sedang memikirkan banyak hal,” Libra sudah ada di dalam pelukan ibunya, “Tapi jangan sampai pemikiran kamu itu malah menjadi bomerang bagi diri kamu. Kehidupan itu berproses, Sayang. Nggak ada yang instan sekali kita melakukan kemudian hasilnya bagus. Dan sekarang apa yang kurang dari diri kamu? Kamu sudah menikah, suami ganteng, sayang sama kamu, bertanggung jawab, dan nggak kekurangan dalam segi materi karena dia sanggup memenuhi kebutuhan kamu, dan anak-anak kalian akan segera hadir di dunia ini. Ini adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa ternilai harganya, Sayang. Kamu harus bersyukur. Jangan lagi menganggap jika semua ini beban. Mama sangat yakin jika Virgo akan berperan dengan sangat baik sebagai seorang suami.”
Dalam diam Libra terus mencerna apa yang dikatakan oleh ibunya. Berusaha terus mencerna di dalam otaknya agar dia tak menghancurkan semuanya.
“Iya, Ma.” Jawabnya dengan pasti. Dia akan berusaha menjadi yang terbaik bagi keluarga kecilnya. Tekadnya sungguh-sungguh.
*.*